RICH MAN

RICH MAN
PENYESALAN ITU IBARAT?



Kembali lagi bersama author. Jangan lupa untuk vote dan juga like ya. Hehehe.


 


“Makan dulu, Nak!” beberapa kali Azka membujuk anaknya untuk makan. Sama sekali tidak ada perubahan dan dokter mengatakan harus menunggu beberapa saat lagi. Menunggu reaksi dari kandungan Marwa di dalam sana. pagi-pagi sekali, Azka menghubungi orang tua Marwa, bagaimanapun juga mereka berhak tahu mengenai kabar anaknya.


Rey yang masih duduk sambil menekuk lututnya dan menyembunyikan kepalanya. “Nanti kamu sakit, makan dulu ya!” tetap saja dia tidak menjawab itu. Dia hanya terdiam di sana. Bahkan orang tua Marwa pun ikut membujuk agar menantunya itu mau makan. Tapi sama saja, Rey tidak berkutik sama sekali sedari tadi. Dia bolak-balik mengurus ini itu. Berharap bahwa istri dan anaknya baik-baik saja.


“Makan dulu, Nak! Nanti bagaimana keadaan dia Mama kabari kamu, sekarang makan ya!” Mama mertuanya yang sudah membujuk beberapa kali dan itu juga permintaan Marwa agar Rey mau makan dulu itu saja sudah cukup. Tetapi pria itu masih dalam posisinya yang seperti itu. Belum terlihat apa-apa dari tadi, dia pun belum tidur sejak semalam karena masih menunggu.


Awalnya Dokter menyarankan agar Marwa melakukan operasi. Tetapi perempuan itu menolak dan memilih untuk melahirkan dengan normal selama dia masih bisa melakukan itu. Meskipun khawatir, tapi sebagai seorang suami Rey tidak bisa menolak karena itu permintaan Marwa. Istrinya pun masih terbaring di sana dan berbicara normal seperti biasanya. Tetapi, sesekali perempuan itu mengeluh kesakitan dan itu akan membuat Rey langsung masuk lagi ke ruangan di mana istrinya dirawat.


Benar yang dikatakan oleh papanya, bahwa semua kesalahan di masa lalu itu akan terulang kembali saat melihat Marwa kesakitan seperti sekarang ini.


“Rey, kamu juga harus makan. Nggak boleh kayak gitu, nanti kamu yang bakalan nemenin dia lahiran loh,”


Pria itu mengangkat kepalanya. “Ma, ini sudah berapa jam? Kenapa belum keluar juga?”


“Kamu pikir begitu sakit, anak kamu bakalan keluar?”


“Ma, nunggu berapa lama lagi? Aku nggak tega lihat dia terus kesakitan di dalam,”


“Rey, masuk! Temenin dia!”


Dengan sedikit langkah yang bergetar, Rey memaksakan diri untuk masuk ke tempat istrinya di rawat. Begitu dia masuk, istrinya menyambut dengan senyuman. Tapi, Rey sudah banjir air mata melihat istrinya sedang berjuang menahan sakit. Belum lagi nanti ketika melahirkan.


“Mas sudah makan?”


Baik orang tua Marwa maupun Rey memilih untuk meninggalkan ruangan dan membiarkan keduanya berbicara.


“Nggak nafsu,”


“Mas, kamu harus makan,”


Rey menggeleng dan menggenggam kedua tangan istrinya. “Gimana aku bisa makan kalau kamu di sini kesakitan dari semalam. Kenapa kamu cuman diam aja dan nggak ngasih tahu aku kalau kamu udah ngerasain sakit itu dari kemarin sore?”


Perempuan itu mengelus pipi suaminya. “Mas, Mas itu sibuk. Jadi aku nggak mau ganggu,”


“Tapi keselamatan kamu lebih penting dibandingkan pekerjaan aku. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?”


“Mas kenapa ngomong gitu?”


“Aku takut kamu kenapa-kenapa,” Rey berdiri kemudian mencium istrinya. “Sehat-sehat ya,”


“Mas, tetap di sini temenin aku!!”


“Iya, Mas temenin. Mas janji,”


Marwa terdiam, ‘Yang sakit itu hati aku, Mas. Setiap kali kamu di sini, aku nggak bisa nahan rasa sakit aku karena kamu’ ia mengatakan itu di dalam hati sambil berusaha tetap menerima suaminya berada di sisinya. Yang dia rasakan kali ini hanyalah antara hidup dan mati dalam melahirkan. Bagaimana nasibnya jika ia pergi?


“Mas,” panggilnya dan saat itu Rey sedang mengusap air matanya.


“Marwa, kita operasi aja ya? Kalau kamu nggak kuat,”


Marwa tetap menolak. “Kita tunggu saja, Mas,”


Rey tidak tahan lagi melihat istrinya di sana. sejak di bawa ke rumah sakit Marwa sesekali mengeluhkan rasa sakit itu setiap kali berada di sisinya. “Mas makan dikit ya!”


“Kenapa kamu maksa aku buat makan lagi, sih? Aku sudah bilang nggak nafsu makan kalau lihat kamu masih di sini,”


Keduanya terus saja bercengkrama sampai pada akhirnya Marwa benar-benar merasakan sakit yang luar biasa. Pria itu keluar dari ruang rawat istrinya untuk memanggil perawat yang keluar tadi.


Sampai pada akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi karena keadaan Marwa dan juga dokter khawatir air ketubannya diminum oleh anaknya.


Mau tidak mau, Rey harus menyanggupi itu karena tidak tega lagi melihat Marwa jika harus melahirkan dengan normal. Sesuai dengann perintah dokter untuk menemani istrinya. Maka, setelah menunggu beberapa saat operasi pun akan dilakukan setelah obat bereaksi.


“Bapak tenang ya! Jangan buat kekacauan atau buat keributan yang memicu terganggunya operasi. Coba untuk tetap tenang!” ucap salah satu perawat dan akhirnya operasi pun dimulai.


Saat operasi sedang berjalan. Dokter pun memberitahu Rey bahwa bayinya telah dikeluarkan. Karena selama operasi Rey sama sekali tidak melihat proses itu, dia hanya fokus kepada istrinya. Hingga pada saat dia melihat bayi mungil itu, air matanya tidak bisa berhenti keluar dan memilih keluar dari ruangan karena tidak tahan lagi.


Semua kebodohan yang pernah dia lakukan sepertinya memang menghukumnya saat ini. Semua itu seolah terulang di dalam pikirannya. Saat dia keluar tanpa malunya dia menangis begitu saja.


“Rey, Marwa nggak apa-apa?” tanya mama mertuanya. Sekilas dia melihat ke arah mertuanya dan menggeleng pelan. Menjelaskan bahwa sebenarnya istrinya masih di sana dan dia tidak tahan lagi untuk menemani sang istri.


“Kamu kenapa keluar?” tanya mamanya.


“Nggak kuat, Ma,”


Rey pergi begitu saja ke kamar mandi. Sepertinya dia tidak peduli dengan beberapa orang yang melihatnya menangis di sana. tetapi itu tidak seberapa dengan rasa khawatir dihatinya tentang istrinya.


Dia melihat pantulan bayangan dirinya di cermin dan terus merutuki dirinya sendiri. “Lihat kan sekarang? Lihat apa yang pernah kamu perbuat sama dia! Dia sampai mempertaruhkan nyawa hanya untuk melahirkan anak kamu!” ucapnya pada dirinya sendiri yang ada di cermin itu. Tapi, penyesalan akan tetap menjadi penyesalan yang tidak akan pernah bisa diulang dan dihapus lagi di dalam kehidupan.


Seseorang terkadang melakukan apa pun yang dia inginkan hanya untuk membahagikan diri sendiri. Tentang masa depan, terkadang terlalu bersikap acuh. Saat masa itu datang, yang tinggal hanyalah penyesalan yang teramat mendalam. Tidak ada yang bisa mengobati rasa sakit seseorang kecuali dirinya sendiri. Tapi, kali ini Marwa sepertinya tidak memaafkannya dengan tingkah istrinya yang beberapa kali berusaha menghindari dirinya ketika mereka berdua sedang bercengkarama. Tetapi, di dalam tadi Marwa mengajaknya berbicara dan meminta untuk tetap ditemani saat melahirkan.


 


 


‘Disaat seperti ini. Penyesalan seperti sebuah memori yang terus berputar berkali-kali hanya untuk membuat pelakunya di derai dengan semua rasa bersalah itu’