
"Ma, Mama bangun sholat subuh!"
Nagita mengerjapkan matanya dan mendengar adzan subuh yang berkumandang. Rey selalu membangunkannya tepat waktu. Terkadang dia juga yang membangunkan putranya, "Iya, Rey."
Setelah menjawab panggilan Rey. Rey pun tidak memanggilnya lagi, kebiasaan mereka adalah menjalankan ibadah berjamaah.
Nagita membangunkan suaminya yang menutupi tubuh hanya dengan menggunakan selimut. Pasalnya semalam dia tahu bahwa Azka mabuk, tapi tidak separah dulu. Nagita tahu bahwa beban yang dirasakan oleh Azka tidak mudah hingga membuat suaminya bertingkah seperti itu.
"Papa bangun!"
Azka mengucek matanya dan bangun dengan keadaan duduk sambil berusaha mencari kesadaran. Sebelum tidur semalam, Nagita memberikannya obat pereda mabuk.
"Ma, ini udah subuh?"
"Udah, ayo mandi, Pa!"
"Bareng, ya,"
"Papa, ih masih aja kayak gitu,"
"Mama lupa semalam kita ngapain?"
Raut wajah Nagita merona begitu saja mendengar ucapan suaminya yang mengingatkan tentang kejadian semalam yang mereka lakukan. Nagita hanya pasrah karena dia tahu Azka sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Papa masih merasa mabuk enggak?"
"Enggak, Ma. Papa mana mempan sih sama minuman dengan kadar alkoholnya segitu, mau minum satu baskom pun enggak bakalan mabuk,"
"Kita mau sholat, loh Pa. Benar udah sadar?"
"Ma, Papa enggak mabuk. Mama cek aja ke tong sampah, itu minuman yang beralkohol cuman satu yang Papa minum, sisanya enggak,"
"Awas mabuk lagi Mama tinggalin loh,"
"Dari pada Mama ngoceh, mending mandi bareng," Azka langsung mengangkat tubuh Nagita yang hanya mengenakan jubah mandi dan mandi bersama di sana.
Beberapa saat kemudian mereka keluar ke musholla dan sudah bertemu Rey yang di sana sedang mengaji. "Anak Mama rajin banget, sih?"
"Iyalah anak Mama. Bukan anak, Papa,"
Nagita melihat ekspresi suaminya yang langsung berubah setelah Rey mengucapkan kata itu, Azka langsung mendekati Rey dan menjepit leher anaknya. "Mulai berani, hah?"
"Udah, ah Pa. Yuk kita mulai, Papa kelamaan, Papa padahal mandi bareng sama, Mama,"
"Lama-lama Papa ungsikan kamu ke rumah Om Dimas lagi, Rey,"
"Dengan senang hati, Pa,"
Nagita menggeleng pelan dan melihat kelakuan anak dan suaminya di sana. Dia tak berkata apa-apa lagi dan mengambil posisi karena sebentar lagi akan mulai untuk sholat.
"Rey yang jadi Imam!"
Anak itu mengangguk dan menggantikan Azka yang biasanya menjadi imam setiap sholat mereka. Namun, Nagita tahu kebiasaan anaknya yang sangat buruk. Melanjutkan tidur setelah selesai sholat subuh, terkadang dia sengaja mengajak Rey untuk mengobrol agar anaknya mulai membiasakan diri tidak melanjutkan tidur seperti yang diperintahkan oleh suaminya. Azka pun terkadang pergi jalan-jalan mengajak si kembar jika keduanya bangun pagi dan jalan-jalan sekitaran kompleks.
Beberapa saat setelah selesai sholat. Rey mendoakan kelancaran operasi untuk Amanda yang akan dilakukan beberapa jam lagi. Papanya meminta untuk tidak masuk sekolah satu hari, menemani Leo di rumah sakit. Dia juga mengganti uang keponakannya yang digunakan untuk membiayai perawatan Amanda selama di sana. Jika bukan karena pihak yayasan tidak dibuhungi oleh pihak rumah sakit, dia tidak akan tahu bahwa anak asuhnya sedang sakit dan mempertaruhkan nyawa di sana. Namun, dia sangat berhutang budi pada Leo yang sudah membawa Amanda ke rumah sakit.
Nagita yang tahu dengan kejadian yang menimpa anak asuhnya, dia juga dilarang oleh Azka ke rumah sakit karena ada Teddy di sana. Nagita menyetujui itu dan sebagai pengalihan, dia akan mengajak Naura dan mama mertuanya pergi agar tidak mengetahui perjuangan Leo yang ingin melihat gadis itu sembuh. Nagita juga tahu bahwa suaminya khawatir dengan kejadian yang menimpa Amanda.
Mereka pun selesai, dan Nagita bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Akan tetapi Azka menahannya kemudian memeluknya secara tiba-tiba. Ia melihat anaknya hanya tersenyum dengan tingkah Azka.
"Ma, manjain gih!"
Nagita tersenyum dan memeluk suaminya di depan anaknya. Lagi pula Rey sudah terbiasa dengan kemesraan yang mereka tunjukkan, Nagita memeluk suaminya dan langsung masuk ke dalam kamar. "Papa,"
"Sebenarnya Papa ini khawatir atau gimana sih?"
"Papa cemburu, ma. Apa Mama enggak bisa baca keadaan sayang?"
"Papa cemburu karena apa?"
"Ah, Mama. Papa enggak mau Mama ketemu lagi sama mantan suami Mama di sana, makanya papa enggak mau lihat Mama berada di sana,"
"Nanti Mama ke sana bawain makanan,"
"Awas Ma. Mama berani sama Papa sekarang?" Nagita menahan tawa saat melihat tingkah suaminya yang mirip dengan kejadian di mana dulu Azka selalu bersikap demikian setiap kali Teddy datang lagi ke dalam hidupnya.
"Dari pada Papa itu khawatir sama Mama, mending Papa itu sadar kalau anak Papa udah tumbuh remaja dan mulai jatuh cinta,"
"Mama tahu dari mana?" Azka melepas pelukannya.
"Mama kan selalu cek hpnya Rey. Jadi Mama bisa tahu dia chat sama siapa,"
"Papa tahu anak kita sering keluar sama Fendi,"
"Bukannya Papa waktu itu bilang kalau teman Papa lihat Rey?"
"Eh, iya juga ya,"
"Awas kalau Rey mulai main perempuan kayak Papanya, Papa dia yang bakalan Mama hajar,"
"Lama-lama Mama tuh seram juga,"
"Papa bantu awasi, jangan cuman sibuk gombalin istri. Rey itu udah mulai kenal perempuan, Pa. Apalagi Widya itu, Mama enggak suka,"
"Kalau itu urusan gampang, sayang. Mereka kan mau Rey karena harta,"
"masih gitu korbanin anak?"
"Ya Mama pikir aja, pertama itu Leo. Kedua anak kita, lihat aja nanti kalau emang mereka berhasil, itu artinya mereka hebat, Ma. Hehe tapi jangan khawatir, mereka enggak bakalan bisa tuh ambil Rey dari kita. Rey harus punya pasangan yang nurutnya kayak, Mama,"
"Tapi enggak boleh di selingkuhi, itu aja sih, enggak boleh nular penyakit selingkuh dari Papanya,"
"Mulai deh mulai," Azka terlihat kesal. Tetapi Nagita tahu bahwa suasana hati Azka sedang membaik, dia sengaja menggoda suaminya agar lebih perhatian kepada Rey yang sudah mulai tumbuh remaja dan Nagita pernah menemukan chat yang di mana Rey sering jalan dengan perempuan tersebut. Nagita lupa nama perempuan itu.
"Ma, tapi benar kan kalau Rey dekat sama perempuan lain?"
"Rey bukan dekat sama perempuan lain, Pa. Dia dekat sama satu perempuan doang, enggak kayak Papanya,"
"Oh iya, cuman satu. Ralat, cuman satu, ingat itu!"
Nagita memutar bola matanya terlihat bosan dengan Azka yang mulai dengan sikapnya yang lama sekali untuk nyambung diajak berbicara.
"Pa, Mama mau buat sarapan, kali ini apa?"
"Mending nasih deh, Ma. Entah apa yang buat Papa pengin sarapan pakai nasi,"
"Jangan bilang kalau Papa ngidam?"
"Siapa yang ngidam? Enggak, Mama enggak boleh hamil lagi, sudah cukup, Ma. Enggak ada anak lagi, si kembar udah cukup,"
"Tahu enggak Pa? Dulu pengin banget punya anak 6,"
"Kalau kamu lahiran normal, pasti aku bakalan mau juga. Tapi ingat keadaan kamu, Nagita?"
Nagita melihat sorot mata Azka yang berbeda. Bahkan suaminya mengatakan kata 'kamu' yang di mana suaminya sangat jarang menggunakan kata itu. Dan kali ini, Nagita paham bahwa suaminya tidak suka jika dia membahas perihal anak lagi.