RICH MAN

RICH MAN
DISKUSI YANG BAIK



Sebagai orang tua, peran penting yang harus dilakukan adalah mendidik anak-anaknya dengan baik. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menjadi tidak baik. Terlebih Azka, dia tidak ingin Reynand seperti dirinya di masa lalu yang bisa menghancurkan masa depannya kelak.


Seusai Reynand bangun tadi, mereka berdua memilih berbincang di ruang keluarga. Rey yang sebenarnya enggan sekali untuk jujur perihal apa yang menjadi beban pikirannya selama ini, ia hanya malu untuk berkata jujur.


"Sekarang yang kamu incar itu masih hubungi kamu enggak?" tanya Azka kemudian meminum minumannya sambil mendengarkan cerita Reynand. Sengaja Azka meminta Nagita pergi untuk sesaat dan mengasingkan diri, karena dia tahu bahwa Rey tidak akan jujur jika Nagita di sana. Rey sangat takut terhadap mamanya. Dan itu yang membuat anaknya jarang menceritakan tentang siapa yang dia sukai.


Remaja yang sedang jatuh cinta itu barangkali sudah memiliki rasa yang besar untuk memiliki, tetapi takdir bisa jadi berkata lain. Hingga membuat anaknya harus merasakan rasa sakit yang belum seharusnya dirasakan oleh Rey.


"Rey, dia masih hubungi kamu atau enggak?" ulang Azka.


Lelaki itu melirik sejenak kemudian menunduk lagi sambil memainkan kedua tangannya sambil menunduk.


"Sudah enggak lagi semenjak beberapa hari yang lalu, karena aku dan dia memilih untuk tidak saling menghubungi lagi satu sama lain,"


"Seseorang akan merasa cukup bila keberadaannya dihargai, itu saja. Perihal menghindari suatu masalah, bukankah menghindar itu adalah hal yang sangat tidak pantas untuk dilakukan. Kamu dan dia saling menghindari, seolah kalian menjadi asing lagi seperti awal pertemuan. Bukankah orang yang dahulunya begitu asing tiba-tiba dekat? tetapi kedua orang yang sudah dekat tiba-tiba menjadi asing, itu sangatlah tidak baik, itu akan membuat segalanya menjadi jauh lebih sulit lagi, Rey,"


Lelaki itu pun mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh pria disampingnya itu. Tidak menutup kemungkinan bahwa nanti dipertemuannya dengan Bintang, itu akan menjadi pernyataan cinta Reynand yang terakhir dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.


Jika dia lebih dekat dengan Papanya, mengapa tidak dari dulu saja dia bercerita tentang hal itu kepada papanya. Dia bukannya takut terhadap mamanya, akan tetapi dia tidak ingin membuat luka lamanya terulang lagi.


"Rey, pindah sekolah, mau?"


Rey mengangkat kepalanya dan melirik ke arah pria disebelahnya dengan tatapan terkejut, "Kenapa, Pa?"


"Semakin kamu di sana, semakin Papa khawatir, Rey. Mau pindah ke sekolah yang di mana kamu menjadi Rey yang dulu?"


"Papa kenapa bilang begitu? Apa Papa kecewa karena aku?"


"Sebagai seorang anak laki-laki yang Papa punya, ingin sekali rasanya Papa tuh digantikan sama kamu suatu saat nanti bisa membimbing adik-adik kamu, bisa menjaga Mama, kalau terus begini, impian kamu yang dulu bisa hancur hanya karena jatuh cinta, Rey. Boleh kok jatuh cinta, tapi sewajarnya saja, jangan berlebihan. Jangankan cinta, diri sendiri saja bisa mengkhianati kok,"


"Maksud Papa?"


"Mak--" ucapan Azka terpotong.


"Ada Kak Dimas berkunjung sama keluarganya, Pa," ucap Nagita. Azka menarik napas panjang karena lupa dengan apa yang akan dia katakan tadi terhadap Reynand.


Azka pun menyambut kedatangan Dimas bersama dengan keluarganya.


"Tumben, biasanya paling sibuk?" kata Azka yang membuat Dimas mengalungkan lengannya di bahu Azka.


"Adik ipar ini dikunjungi malah bilang gitu, enggak suka gitu sama kakak iparnya?"


Azka memutar bola matanya. "Dimas dari dulu kamu tuh enggak berubah, ya," ucapnya sambil membalas rangkulan Dimas.


Azka menoleh ke arah Reynand yang sudah meninggalkan ruang keluarga dan membawa Erlangga ke kamarnya.


"Lirik apaan sih?" tanya Dimas ketika Azka mulai melirik ke arah Rey.


Azka mengajak Dimas duduk di sofa. "Rey jatuh cinta,"


"Hadeeeh, didikan Papanya nih pasti," ucap Dimas ketus. Namun ekspresi Azka berubah seketika saat itu juga.


"Enggak, mana pernah aku ngajarin anakku untuk jatuh cinta di usianya yang sekarang ini coba?"


"Mana tahu, Papanya kan playboy banget dulu,"


"Ya elah, Dimas. Ngomong-ngomong masukin ke pesantren aja gih, kalau kamu yang ngomong pasti dia dengarin,"


"Maksudnya mau pindahin, Rey?"


"Iya, daripada gini terus kan. Mamanya loh khawatir banget, dia enggak mau Rey salah pergaulan gitu. Kamu bukannya punya teman ya? Kalau memang ada, ya titip Rey di sana,"


"Nanti aku ngomong sama dia, tadi dia curhatin apa?"


Azka menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, "Dia curhat mengenai perempuan yang nolak dia, Dimas. Jadi kalau terus bertemu, barangkali dia akan terus seperti itu, mungkin memang bukan suatu solusi terbaik karena aku yakin dia sudah besar mungkin bisa selesaikan urusan dia sendiri,"


"Tapi Rey baru pertama kali, Azka. Jadi kalau dia cerita sama kamu itu artinya dia kan udah percaya banget sama kamu,"


"Pindahin ajalah pokoknya, mau gimanapun juga alasan dia nanti. Enggak tega aku lihat Mamanya nanyain kabar dia terus, pernah dia itu bentak Mamanya, Dimas. Karena itu perempuan, kalau emang enggak suka, kenapa ngasih harapan. Tiap hari keluar terus, di larang sama Mamanya, dia langsung bentak Mamanya,"


Dimas mengangguk mengerti dengan maksud Azka. "Kalau dia sudah berani bentak Mamanya, ya sudah bawa ke rumah. Makanya jadi orang tua itu harus keras dikit, kalau dia enggak bisa di lembutin, ya keras. Kalau dia masih bisa berpikir, baru di lembutin. Apalagi udah berani bentak Mamanya, apa itu bukan kurang ajar banget namanya? Kapan dia bentak Mamanya?" tanya Dimas penasaran karena tidak percaya kepada Reynand yang sudah berani untuk membentak perempuan yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkannya itu.


"Beberapa waktu yang lalu. Mamanya niat baik kok, hanya mau dia itu ada di rumah dan jarang keluar, tapi dia dengan lantangnya bentak Mamanya dan nyuruh Mamanya untuk ngerti, tentu saja aku itu kaget karena untuk pertama kalinya dia bersikap seperti itu. Jujur waktu itu aku hampir lepas kendali dan mau main kasar mukulin dia, tapi Nagita selalu ingatin biar enggak mukul, Reynand,"


"Ya sudahlah, kalau sudah begini ya kita pindahin aja. Hanya karena cinta, dia menjadi buta kemudian lupa terharap cinta keluarganya yang jauh lebih tulus dibandingkan perempuan itu," kini Dimas juga memilih setuju dengan apa yang dikatakan oleh Azka.


"Gimana sama Nagita?"


"Gampanglah, nanti aku ngomong sama dia. Walaupun sebenarnya kesepian, tapi mau gimana lagi. Aku enggak mau dia itu semakin kurang ajar bentak orang tua, mungkin ini baru pertama kali, enggak tahu kalau nanti. Mungkin di sana teman kamu bisa didik dia bisa jadi lebih baik lagi,"


Dimas mengangguk, tidak percaya bahwa selama ini Rey yang dia didik dengan begitu baik justru melawan Nagita. "Nanti aku tanyakan aja sama dia, sekalian mau ngomong sama, Rey. Apa pun alasannya, dia harus dipindah, mungkin ini keterlaluan, tapi aku enggak mau dia itu enggak hargai Mamanya."


Dimas geram setelah mengetahui Rey sudah berani melawan orang tua.