
Sepulang sekolah, Reynand menunggangi motor kesayangannya membelah jalan kota Jakarta. Seingatnya dia diminta oleh mama-nya untuk membeli makanan dan es krim untuk kedua adiknya.
Rey mampir di salah satu mini market untuk membeli beberapa makanan untuk adiknya, memilih es krim dan juga beberapa makanan ringan untuknya ketika sedang belajar. Walaupun sibuk menemani Fendi di bengkel, akan tetapi tugasnya untuk belajar tidak pernah dilupakan.
Selesai berbelanja dan membelikan adiknya beberapa makanan, Rey pulang sebelum es krim itu mencair. Baru saja ia memasuki area pekarangan rumahnya, Rey sudah disambut oleh kedua adiknya yang tengah bermain di teras depan rumah bersama sang mama.
Rey melepaskan helmnya dan menyerahkan kantong plastik putih kepada adiknya."Rey, jadi beliin adik es krim, kan?"
"Itu udah kok, Ma. Aku ganti baju dulu ya, gerah banget,"
"Ya sudah, Mama siapin makan dulu ya. Ngomong-ngomong Mama sama adik kamu mau ke kantor, Papa. Rey, ikut?"
"Enggak, Ma. Aku mau istirahat,"
Rey berlalu meninggalkan mama dan juga adiknya di ruangan bawah, ia berlari melewati anak tangga. Sebelumnya, ia berjanji akan pergi bersama dengan Bintang ke toko buku nanti sore. Tujuan mereka berdua ke sana adalah untuk mencarikan Bintang beberapa buku referensi untuk belajar karena sudah ketinggalan jauh, agar bisa mengejar materi sebelum ulangan semester nanti.
Selesai mengganti seragam sekolahnya, Rey turun dari kamarnya dan menghampiri adiknya yang sedang menikmati es krim di ruang tamu dengan wajah yang belepotan akibat es krim itu. Rey tersenyum dan menemani kedua adiknya.
"Enak?"
"Enak, kakak mau?" tawar keduanya. Rey pun membuka mulutnya dan keduanya bergiliran memberikan Rey es krim itu.
"Kalian mau ke tempat Papa?"
"Iya, diculuh Papa,"
"Ninggalin kakak di rumah berarti?"
"Kakak enggak ikut?"
"Kakak enggak bisa, kakak mau pergi beli buku,"
"Beliin mainan ya!" ucap Nabila. Rey mengangkat sebelah alisnya, mendengar kata mainan. Padahal mainan adiknya sangat banyak dan bahkan tidak mereka mainkan semuanya, justru semakin terus menambah mainan dan di gudang pun mainan keduanya sangat banyak.
"Rey, makan dulu!"
Rey beranjak meninggalkan adiknya tanpa menjawab perintah adiknya yang menyuruhnya untuk membeli makanan. Di sana Mamanya sedang sibuk di meja makan.
"Mama enggak makan?" tanya Rey sambil menarik kursi yang akan ditempatinya.
"Makan, makanya Mama tunggu kamu pulang,"
Makanan pun tersaji dan siap di santap oleh Rey.
"Rey boleh pinjam Hpnya bentar?"
Rey menyodorkan ponselnya kepada mamanya. Rey tidak pernah menyembunyikan apa pun, tetapi saat menyantap makanan, Rey baru ingat bahwa chatnya dengan Bintang belum di hapus. Bagaimana nantinya kalau mamanya justru curiga dengan chat itu. Karena selama ini Rey tidak pernah chat dengan gadis lain selain Clara dan juga Jenny.
"Ma, aku izin ke toko buku ya? Bilang sama Papa aku enggak bisa ikut,"
Suara notifikasi pesan masuk pun membuat Rey ketakutan, pasalnya dia tidak ingin mamanya tahu mengenai dia yang chat dengan gadis mana pun. Ekspresi mamanya pun berubah seketika menjadi senyum saat mendengar notifikasi itu. Rey menepuk jidatnya sambil menunggu mamanya selesai menggunakan ponselnya.
"Bu-bukan gitu, Ma,"
"Terus gimana?"
"Ya enggak gimana-gimana, cuman Mama jangan salah paham, itu teman sekolah aku. Aku mau bantuin dia belajar, karena dia murid baru di sana,"
"Mama enggak curiga, cuman kenapa kamu takut banget sama, Mama?"
"Apa bedanya Mama sama tante Naura, itu yang buat aku takut, nanti semua malah disita. Kalau Papa bisa belain aku, ini posisinya Papa itu takut sama, Mama,"
"Rey, Papa itu enggak takut sama, Mama. Dia cuman hargai Mama aja, kok,"
"Aku janji enggak bakalan ngecewain kalian, kok,"
"Mama enggak pernah curiga sama kamu. Mama cuman enggak mau dikecewain, tolong jaga kepercayaan, Mama!"
Rey mengangguk pelan dan menghabiskan makan siangnya. Bukan pertama kali dia ditunggu untuk sekadar makan siang oleh mamanya. Bahkan hal itu sering terjadi saat Rey pulang sekolah.
Selesai menyantap makan siang mereka, mamanya pun berpamitan begitu saja dan meninggalkan Rey sendirian di rumah.
Rey menghela napas berat dan membuka isi chat itu. Ternyata Bintang memintanya untuk menjemput gadis itu ke rumahnya. Walaupun begitu, Rey masih nampak ragu. Rey menoleh sejenak ke bagasi, di sana ada mobil orang tuanya yang terparkir. tidak mungkin membonceng Bintang dengan sepeda motor karena dirinya yang sangat takut jika terlalu banyak melakukan kontak fisik bersama lawan jenis, hal itu juga yang selalu diingatkan oleh Dimas.
Rey keluar setelah mendapatkan kunci mobil dan berpamitan kepada satpam untuk menjaga rumahnya dengan baik. Jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih dan sebentar lagi asar. Rey mampir di bengkel dan menemukan Fendi yang tengah belajar di sana.
"Mau ke mana lo rapi banget?"
"Gue mau ke toko buku,"
Dulu, kekosongan hati Rey tidak pernah sebahagia ini bertemu dengan orang mana pun, bahkan papanya sendiri kadang selalu menanyakan dirinya yang memiliki teman atau tidak. Kebiasaan Rey memang selalu tertutup dengan yang lainnya, sekalipun itu dengan orang tuanya sendiri, biarlah luka masa lalu itu dia yang rasakan. Tak ingin menyinggung hati siapa pun mengenai itu, apalagi orang tuanya sendiri yang menjadi pelakunya.
Menunggu waktu asar dan melakukan ibadah sebelum berangkat menuju rumah Bintang, dia terus bercengkrama bersama dengan Fendi. Setidaknya lelaki itu menjadi lebih rajin dalam proses belajar kali ini, tidak menyibukkan diri seperti dulu hanya demi mencari uang.
"Jenny beneran pacaran sama lo?"
"Gue enggak pacaran, Rey. Tanya aja sama dia! Gue mau jadi orang yang bisa dihargai sama orang tuanya dulu, gue tahu kok kalau dia itu anak orang kaya,"
"Tahu enggak kalau Papa Jenny enggak bakalan ngelakuin hal yang bodoh seperti itu, dia enggak bakalan tuh mau rusak kebahagiaan Jenny dengan cara melarang berhubungan sama lo, cuman pesan gue, jangan pernah ngelakuin hal yang salah kalau memang lo sama dia enggak direstui sama orang tua cewek lo!"
Rey mengingatkan kepada temannya mengenai hal yang tidak seharusnya dilakukan. Rey percaya pada sahabatnya itu bisa menjaga Jenny dengan sangat baik. Lelaki itu bukan tipe orang yang mengambil keputusan dengan begitu ceroboh. Untuk pindah bekerja di bengkel milik orang tua Rey pun dia berpikir keras beberapa kali.
Setengah jam lebih, Rey sudah melaksanakan ibadahnya dan kini tinggal menunggu pesan dari Bintang untuk menjemput gadis itu. Selama ini, Rey tidak pernah berani menatap ke arah mata Bintang, itu karna dia takut merasakan hal yang dia rasakan seperti di kelas kala itu. Rasanya berbeda, Rey pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan berpacaran karena takut dengan kejadian yang menimpa mama-nya itu terulang lagi pada dirinya.
Setidaknya Rey kini berusaha menjaga diri, bukan berarti dia anti dengan perempuan, hanya saja ia ingin menghargai, menghormati perempuan, bukan justru mencampakkan dan menyakiti sana sini seperti yang dilakuka oleh papanya di masa lalu.
Jika bersama degan Bintang, terkadang Rey harus pintar mencari topik pembicaraan yang lain, tidak ingin suasana menjadi canggung dan apa yang dirasakan oleh hatinya mudah terbaca oleh orang lain, dengan hebatnya ia berusaha untuk menutupi perasaan itu, Rey termasuk lelaki yang cukup pandai menyembunyikan rasa. Tetapi jika ditanya apakah yang dia rasakan itu cinta, tentu saja Rey tidak tahu jawabannya karena tidak pernah merasakan cinta sebelumnya.
Jangan lupa like dan komennya ya!