RICH MAN

RICH MAN
HAI



Grand Opening untuk bengkel baru pun telah usai dilakukan kemarin, Fendi yang sekolah seperti biasanya dan waktunya tidak terlalu disita seperti di bengkel pertama tempat dia bekerja. Rey juga merasa sangat bahagia bisa membantu sahabatnya dengan cara yang seperti itu.


Mereka duduk di bawah pohon mangga depan kelasnya, di sana ada Jenny dan juga Fendi.


"Eh, tahu enggak, hari ini ada murid baru," Rista, teman sekelas mereka yang berlarian menghampiri mereka yang tengah asyik mengobrol.


"Anak baru? Di kelas kita?" jawab Rey penasaran.


"Iya, dia bakalan dikelas kita. Tadi gue ke UKS, kebetulan lewat di BK kan, terus di sana ada anak baru, cantik banget, dia anak pindahan dari SMA favorite di sekolah kita,"


"Saingan si Widya nih kayaknya," timpal Fendi.


Mereka pun tertawa saat mendengar jawaban Fendi. Rista juga merupakan teman sekelas mereka yang bergaul dengan siapa saja, namun perempuan itu termasuk perempuan yang sangat lemot dalam berpikir, tetapi bisa masuk ke kelas unggulan karena daya ingatnya yang sangat kuat, dan pintar. Tetapi jika diajak mengobrol, tentu saja dia sangat lemot dalam menanggapi orang lain.


Bel pun pelajaran pertama pun di mulai.


Mereka yang tadinya asyik mengobrol pun akhirnya masuk ke dalam kelas XI IPA 1. Rey duduk seorang diri dibangku nomor empat dari 5 barisan ke belakang. Dia duduk di deretan nomor 3 dari enam deret di sana. Sedangkan di belakangny adalah bangku kosong karena jumlah siswa-siswinya 29 orang, dan jika bertambah 1 lagi, maka akan cukup 30 murid.


Mereka semua masuk ke dalam kelas dan duduk di tempat masing-masing. Ketua kelas memulai untuk memimpin doa sebelum pelajaran di mulai. Seusai berdoa, mereka hening sesaat dan mengeluarkan buku sesuai jadwal mereka.


Mereka bersorak dan Rey menatap sekilas ketika Ibu Wulan selaku guru BK membawa murid baru yang begitu cantik, Rey tak seheboh teman-temannya. Ia hanya berusaha untuk tetap tenang dan memperhatikan Ibu Wulan yang menggandeng bahu murid baru tersebut.


"Selamat pagi!" ucap Bu Wulan dengan nada yang begitu tinggi.


"PAGI BU WULAN."


Mereka menjawab dengan antusias, termasuk juga Fendi yang duduk diseberang kiri Rey. Mereka duduk sendiri-sendiri untuk membiasakan mereka berusaha belajar dengan giat dan mengurangi mengobrol. Hal itu sudah diterapkan beberapa waktu yang lalu. Dan posisi duduk pun sesuai dengan tingkat prestasi mereka. Yang duduk dibangku paling belakang adalah para siswa-siswi yang memiliki prestasi yang cukup baik, sedangkan yang cukup akan duduk di deretan tengah. Sedangkan yang kurang, ada di deretan paling depan.


"Bu, pagi-pagi bikin mata melek aja, Bu. Malah bawa murid baru lagi,"


"Bu sisain malaikat dunia dong!"


"Bidadari tak bersayap,"


"Bidadari yang tersesat dan enggak nemuin Kayangan ini, mah," jawab Fendi. Namun saat itu juga Jenny spontan menjewer telinga Fendi. Rey melihat kejadian itu hanya tersenyum. Keduanya pun nampak bertengkar, dan Jenny ngambek karena tingkah Fendi yang tadi niat bercanda justru membuat Jenny cemburu.


"DIAM!"


Semuanya pun langsung terdiam saat Bu Wulan berkata demikian. Bu Wulan merupakan guru BK yang sudah terkenal dengan ketegasannya, bahkan siapa pun yang berani bertingkah maka siap-siap akan menerima sanksinya, terlebih jika ada yang mewarnai rambutnya dengan warna yang aneh-aneh. Maka Bu Wulan yang akan langsung mencukup rambut mereka.


"Perkenalkan diri kamu, Nak!" perintah Bu Wulan dan membuat gadis itu tertunduk malu.


"Perkenalkan, nama saya Bintang Aira Harista,"


"Jadi bintang hati gue aja gimana?"


"Bintang, namanya aja berkilau, apalagi orangnya, bintang paling terang di hati gue,"


"DIAM!"


Hening sesaat. Beberapa teman sekelasnya memang bertingkah seperti itu. Tidak heran jika kedatangan murid baru mereka akan bertingkah berlebihan. Karena untuk pertama kalinya ada siswi baru yang ada di kelas mereka. Biasanya murid baru akan masuk di kelas XI IPA 2-6. Namun karena semua kelas itu sudah penuh, akhirnya murid baru itu pun di masukkan ke XI IPA 1, yang di mana otaknya sudah tidak diragukan lagi karena kelas itu termasuk kelas unggulan.


"Bintang, duduk di sana. Rey pindah ke belakang!"


Rey beranjak dari tempat duduknya dan berpindah ke belakang sesuai dengan perintah Bu Wulan. Gadis itu pun langsung duduk di tempatnya tadi.


"Rey, sekarang mampu lo bakalan tergoda," goda Fendi.


"Kagak,"


"Kalau lo enggak naksir ini, gue yakin mata lo rabun, Rey,"


"Sialan," Rey melempar kertas yang dijadikan bola untuk melempar ke arah Fendi.


"Saya permisi, siapkan buku kalian untuk jam pertama. Jangan lupa akrab sama teman baru kalian!"


"Siap Bu."


"Baru juga gue ngomong, eh lo udah naksir aja, Rey,"


"Apaan?"


"Enggak ada, apa gue harus pura-pura lupa ya?"


Rey menatap sinis ke arah Fendi dan langsung terfokus ke depan saat guru Matematika mereka datang, yaitu Bu Siska.


"Keluarkan PR kemarin! Sebelumnya saya absen dulu,"


"Anggun Purnawita,"


"Hadir Bu,"


"Ayu Lestari Dewi,"


"Hadir Bu,"


"Bintang Aira Harista,"


"Hadir Bu,"


"Eh, ini murid baru?"


"Iya Bu," jawab Bintang.


Absen pun dilanjutkan dan tugas mereka diperiksa satu persatu. Setelah selesai, materi baru pun dimulai.


Bu Siska mulai menuliskan contoh di papan tulis mengenai materi lingkaran.


Satu yang menjadi pusat perhatian Reynand, yaitu teman barunya yang lebih banyak diam dibandingkan yang lainnya. Hingga jam pertama selesai dan pergantian ke jam pelajaran berikutnya. Hingga jam istirahat, gadis itu hanya diam.


Rey yang ingin menyapa pun menjadi mengurungkan niatnya karena sikap pendiam gadis itu. Dari kantin, Rey memperhatikan gadis itu sedang menuju ke perpustakaan sambil membawa buku.


"Duluan ya, gue ada urusan bentar," pamitnya kepada Fendi, Jenny dan juga Rista, ketiga temannya itu pun langsung mengangguk.


Rey berlari menuju perpustakaan, "Mau ke mana, Rey?" Widya menariknya saat hendak melewati lorong kelas menuju perpustakaan.


"Mau ke toilet, mau ikut?"


"Ih Rey, kok mesum sih?"


"Ya enggak masalah kalau mau ikut, aku mau BAB, kamu tungguin ya!"


"Rey jorok,"


"Jadi mau ikut?"


"Jijik," Rey tersenyum saat Widya berlalu begitu saja, justru saat gadis itu pergi, Rey langsung masuk ke perpustakaan menyusul Bintang. Rey menemukan gadis itu sedang duduk di bangku pojok perpustakaan membaca sebuah buku yang Rey sendiri yakini itu adalah novel.


Dari jauh ia memperhatikan gadis itu sejenak. "Boleh gabung?"


"Um."


Jawaban singkat membuat Rey tersenyum dan duduk di depan gadis cantik itu.


Pemeran BINTANG AIRA HARISTA


Like ya 😂😂😂😂



Gambar lain menyusul ya.