
Keesokan harinya, seperti biasa dia melakukan aktivitasnya dengan normal. Di tambah lagi dengan papanya yang berulang kali meminta maaf dengan kejadian itu. Terkadang jika melihat papanya terpuruk lagi, Reynand merasa bersalah karena belum bisa untuk mengenyahkan pikiran itu. Dia masih betah dengan pikiran masa lalu yang hingga kini bahkan belum bisa dia obati dengan sendirinya.
"Rey, berangkat sama Papa?"
"Bawa motor, Pa,"
"Oh, oke,"
"Pa, maaf atas kejadian semalam,"
Reynand yang berjalan beriringan dengan papanya menuju ke bagasi terus berbincang mengenai kejadian malam itu yang di mana Rey terus meminta maaf karena dia telah mengingatkan kejadian dahulu itu kepada Papanya. Tangan kanan pria itu masih bertengger di bahu Reynand.
"Hati-hati ya!"
"Tenang aja, Pa. Ngomong-ngomong nanti aku ke rumah Oma sepulang dari sekolah,"
"Salamin ya!"
Reynand mengangguk kemudian memasang helmnya dan mengendarai motornya meninggalkan rumah terlebih dahulu. Kali ini dia tidak ingin lagi memikirkan hal itu. Dia hanya ingin berpamitan kepada Syakila untuk terakhir kalinya. Dia tidak ingin terpuruk lagi. Apalagi hal itu membuat mama dan juga papanya khawatir.
Beberapa menit setelah berada di sekolah. Reynand duduk di depan kelasnya sambil membaca komik yang sengaja dia bawa dari rumah dan bersandar di tiang depan kelasnya sambil mendengarkan lagu.
"Rey,"
Rey tetap fokus pada bacaannya setelah melihat siapa yang mengganggunya, yaitu Widya yang masih saja terus mengganggu kenyamanannya hingga kini. Bahkan gadis itu tak segan-segan mengganggu Bintang setelah kejadian di mana Rey merangkul Bintang ke kelas.
"Rey, sibuk enggak?"
"Banget," jawabnya ketus. Tidak ingin terlalu diganggu karena dia sudah cukup membuat gadis yang selalu membuatnya bahagia salah paham dengan pemandangan kali ini yang di mana Widya menempel padanya.
Reynand yang melihat sejenak kemudian menyingkirkan tangan Widya dari lengan kirinya. "Bisa enggak usah genit di sekolah? Malu sama orang yang ada di kelas, malu sama yang ada di sebelah dan juga malu sama guru,"
"Kalau kamu sama Bintang boleh aja, masa sama aku enggak?"
Rey memutar bola matanya. "Please, ini suasananya beda banget, Widya. Kamu enggak tahu apa banyak mata yang melihat kita, kalau mereka salah paham nanti gimana? Aku sama Bintang enggak ada apa-apa. Kamu juga jangan salah paham, kita temanan ya temanan aja, tapi aku minta sama kamu, jangan pernah dekat seperti ini. Lagian ya, cukup hukuman waktu itu buat aku kesal sama kamu, kesal sama kejadian di mana kamu tuh buat aku di hukum. Apa kamu enggak bisa baca keadaan kalau aku ini marah sama kamu?"
"Reynand, aku sudah minta maaf,"
Lelaki itu menyingkirkan tangan Widya lagi dan merapikan seragamnya kemudian meninggalkan gadis itu sendirian dan masuk ke dalam kelas. Jam pelajaran belum di mulai, teman-temannya pun baru setengah yang datang. Tapi walaupun begitu, suasana kelas itu selalu saja ramai karena beberapa temannya selalu menghebohkan hal-hal yang tidak terlalu penting. Kelas unggulan yang harusnya menjadi contoh yang baik, justru rusak citranya oleh Widya yang semenjak masuk kelas itu menjadi sangat tidak normal lagi.
Reynand melihat Widya menghampirinya dan segera pergi dari kelasnya. "Rey, tungguin aku dong!"
"Aku mau ke toilet, memangnya kamu mau ikut?"
Gadis itu berhenti seketika saat Reynand berkata demikian. Dia pun segera berlari menuju toilet siswa. Reynand menatap dirinya di cermin yang menggantung didepannya. Dia menyalakan keran air di wastafel dan mencuci wajah. Lelaki dengan rambut lurus sedikit panjang pada bagian depan itu menatap dirinya lekat di cermin untuk kedua kalinya.
Rey mengeringkan wajahnya dengan tisu yang tersedia di sana. Dia hanya ingin menghindar dan juga ingin sedikit saja lebih tenang dari gangguan Widya. Mengingat beberapa hari lagi mereka akan melakukan tour yang dilakukan oleh kelas sebelas.
Ia mengeringkan wajahnya dan merapikan rambutnya kemudian menurunkan lengan seragam yang sempat diturunkan tadi agar tidak basah saat dirinya mencuci wajahnya.
Reynand meraih tasnya dan seolah mengasingkan diri dari yang lainnya. Menghindar dari Fendi, Jenny, maupun Bintang. Bukan tidak ingin bergaul, hanya saja perasaan lelaki itu sedang tidak baik untuk saat ini. Dia butuh sendiri. Dia butuh ketenangan. Dan juga dia butuh waktu untuk bisa bercanda lagi seperti biasanya bersama dengan teman-temannya.
Jika perasaannya sudah seperti sekarang ini, Fendi yang memahaminya. Lelaki itu selalu melarang siapa saja yang mendekati Reynand. Termasuk Bintang, saat dirinya sedang sibuk untuk menulis tugas merangkum. Dari jarak beberapa meter dari tempatnya duduk. Gadis yang nampak ceria dengan rambut yang sesekali beterbangan ditiup oleh angin yang mengembus melalui jendela perpustakaan. Raut wajah yang ceria, guratan tawa dan senyum simpul yang begitu terlihat begitu menarik bagi Reynand. Dia menghentikan sejenak aktivitasnya dan menyangga dagunya untuk terus melihat Bintang yang sedang tersenyum mengarahnya. Karena gadis itu menyadari tatapan lelaki yang sedari tadi memperhatikan, dia pun mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah lain.
Jemari Reynand masih sibuk dengan tugasnya yang dia kerjakan saat ini. Lembar demi lembar dia balik untuk mencari jawaban atas tugas yang diberikan oleh gurunya.
"Kenapa mengasingkan diri?"
Rey mengangkat kepalanya sejenak dan melihat Bintang sedang duduk di depannya sambil mengerjakan tugasnya juga. "Aku enggak mengasingkan diri,"
"Beberapa hari lagi kita bakalan tour, kan?"
"Iya, kita pergi ke tempat di mana kamu mau,"
"Rey, setelah tour kita bakalan semester kenaikan kelas, aku bisa minta sesuatu sama kamu dan yang lainnya?"
Rey menghentikan aktivitasnya sejenak. "Minta apa?"
"Bisakah kita selalu seperti ini?"
"Maksud kamu?"
"Kita selalu bersama seperti ini. Aku enggak punya teman selain kalian. Bila suatu waktu kita terpisah, apakah kamu masih tetap jadi teman aku? Apakah kita akan terus bersama atau justru kita akan berpisah?"
"Kenapa kamu bisa bilang seperti itu seolah kamu mau pergi ninggalin aku sama yang lainnya?"
"Aku cuman tanya, apakah pertemanan kita bakalan awet?"
"Awet atau enggaknya itu semua tergantung dari diri kita, Bintang. Kalau kita menjaga pertemanan kita dengan baik, semua bakalan baik. Jika di antara kita ada yang mulai bermain busuk dibelakang, tentu saja kita akan hancur,"
"Maksud aku, Fendi kan sama Jenny pacaran. Kalau mereka putus, apakah kita bakalan bubar gitu?"
Rey mengangguk sejenak, dia juga memikirkan hal itu dan mulai tertarik dengan topik pembicaraan yang diucapkan oleh Bintang tadi. "Iya juga, sih. Tapi ya doakan saja kalau mereka itu bakalan bisa jaga nama baik pertemanan kita,"
"Rey, lalu kita-"
Rey menatap gadis itu yang menggantungkan ucapannya dan sangat penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh gadis itu. "Apa, Bintang?"
"Ah, itu. Apa sih, Aku cuman pengin tanya,"
"Tanya apa?"
"Ah, lupakan!"
Rey hanya ber-oh ria karena Bintang sudah menggantungkan ucapannya dan tidak melanjutkannya. Bahkan saat Rey bertanya. Gadis itu tak berbicara lagi.
Bersambung.