RICH MAN

RICH MAN
KEJADIAN SERUPA



Selesai acara resepsi malam itu, mereka berdua diminta untuk bermalam di hotel oleh kedua orang tua mereka masing-masing. Rey yang sebenarnya menolak dan lebih memilih untuk pulang ke rumah.


Akan tetapi, dia ingin mematuhi apa yang diperintahkan oleh mertua dan juga orang tuanya sendiri.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar yang telah di sediakan, baru saja Rey dan Marwa masuk, keduanya terkejut dengan suasana kamar yang sepertinya memang dikhususkan untuk mereka sebagai pengantin baru. Tetapi, siapa yang akan bermalam pertama jika mereka sendiri belum saling memiliki perasaan masing-masing. Terlebih Rey yang tidak ingin egois, dia membiarkan waktu yang akan membuat keduanya jatuh cinta kelak.


Keduanya terpaku di pinggiran ranjang. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Mas Rey,"


"Marwa,"


Keduanya memanggil nama secara serentak dan membuat suasana menjadi lebih canggung.


"Mas yang duluan,"


"Kamu aja yang duluan, Marwa,"


Perempuan itu mengangguk, Rey menoleh ke arah perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Dia kali ini benar-benar merasa canggung berada di samping perempuan. Suara merdu Marwa yang membuat Rey tersipu malu. Bukan hanya itu, dari tatapan mata perempuan itu, Rey sudah merasa sangat gugup.


"Mas, aku mau ganti, bisa minta tolong bukain resleting dibelakang!"


Rey terkejut dengan permintaan istrinya. Hanya mereka berdua yang ada di kamar itu. Mau tidak mau, Rey harus memenuhi permintaan istrinya. Dia langsung membalikkan tubuh istrinya dan mulai mengangkat jilbab besar yang digunakan oleh Marwa. Perlahan dia memejamkan matanya, belum siap melihat tubuh lain dari istrinya.


"Mas, a-aku ke kamar mandi ya,"


Rey merasakan bahwa keduanya benar-benar canggung. "Tunggu!"


"Kenapa, Mas?"


"Kamu yakin kita akan tidur di ranjang yang sama?"


Perlahan Marwa menggeleng, Rey pun paham dengan istrinya, "Kalau begitu mari kita tidur terpisah. Aku akan tidur di kamar lain, tapi jangan pernah cerita sama keluarga kita kalau kita pisah ranjang, aku enggak mau egois, Marwa. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk kita berdua bisa saling mengenal satu sama lain,"


"Tapi, bagaimana kalau nanti kita ketahuan?"


"Percayalah kita bakalan aman selama kita masih bisa jaga rahasia ini, kamu juga harus pandai-pandai jaga rahasia. Aku hanya enggak mau egois, Marwa. Aku tahu kamu hanya berusaha taat sama aku sebagai seorang istri, tapi aku juga mengerti bagaimana perasaan kamu yang belum sepenuhnya yakin sama aku sebagai suami kamu, iya kan?"


Perempuan itu menggeleng pelan, tetapi Rey sudah tahu bahwa perempuan itu memang pemalu. Mereka bersentuhan ketika bersalaman ketika akad tadi. Dan hingga saat ini Rey bahkan sangat menjaga istrinya yang masih malu-malu terhadapnya. Terlebih dia yang begitu pemalu kepada istrinya.


Dia memilih keluar dan meminta kunci kamar yang berbeda. Hotel milik orang tuanya sendiri, tetapi Rey harus pandai-pandai mengatur beberapa orang yang di sana agar tidak melapor kepada orang tuanya.


"Bawain makanan untuk di kamar sebelah ya!" perintah Reynand.


Nampak karyawan itu kebingungan setelah Rey berkata demikian.


"Saya harap jangan ada yang cerita, saya hanya butuh waktu bersama dengan istri saya,"


Mereka mengangguk pelan setelah Reynand berkata demikian. Barangkali mereka paham, mengapa pengantin baru itu tidak satu kamar.


Rey pun membersihkan dirinya dan mengganti baju. Rasanya sangat lelah, tamu kedua orang tuanya sangat banyak, belum lagi tamu pribadi Reynand yang jumlahnya juga sangat banyak. Akan tetapi dia tidak melihat satupun tamu istrinya waktu itu. Ketika dia bertanya mengapa istrinya tidak mengundang teman. Istrinya menjawab bahwa dia tidak memiliki teman.


Rey tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Mungkin ada hal yang belum bisa diceritakan oleh istrinya. Mungkin nanti, ketika waktu sudah mulai perlahan meluluhkan perasaannya.


Di dalam kamar yang berbeda. Rey mulai merebahkan dirinya di atas ranjang untuk beristirahat.


Tiba-tiba ingatannya dengan sosok perempuan itu membuatnya tersadar dari lamunannya. Rey sangat yakin bahwa Bintang adalah perempuan yang sudah berhasil membuatnya menjadi sangat kacau untuk soal hati, apalagi yang bisa diharapkan dari perempuan yang sudah meninggalkannya dahulu tanpa ada penjelasan apa pun. Kini tugasnya berusaha menghargai istrinya, jika pun Bintang hadir kelak di tengah-tengah rumah tangganya bersama dengan Marwa, hal yang ingin ditanyakan oleh Rey adalah mengapa perempuan itu pergi tanpa ada sepatah kata untuk berpamitan sedikit pun.


Penantian di taman itu juga pernah dilakukan oleh Rey setiap tahunnya, dan hasilnya tetap saja bahwa dia tidak bertemu dengan Bintang. Kelak, jika dia bertemu lagi dengan perempuan itu, maka dia akan mengakhiri rasa itu kemudian benar-benar pergi. Tidak ada gunanya dia bertahan. Jika dia terus saja terjebak dalam ingatan bersama dengan masa lalunya, dia akan merasakan kekecewaan yang teramat mendalam karena sudah menghancurkan perasaan istrinya sendiri.


Jatuh cinta memang dapat mengubah segalanya dalam hidup seseorang. kadang apa yang buruk bisa menjadi baik ketika sedang jatuh cinta. Tetapi apa yang baik juga bisa menjadi buruk ketika seseorang tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.


Perasaan itu diakui atau tidak, Rey akan belajar untuk mencintai Marwa. Melihat mata perempuan itu untuk pertama kalinya ketika bersalaman dan mencium kening perempuan itu tadi, sorot mata yang membuat Rey belajar untuk menerima. Dan sorot mata itu pula yang berhasil membuatnya merasa teduh walaupun tidak seteduh dahulu. Akan tetapi, dia bersyukur bisa merasakan hal seperti itu pada orang asing yang pertama kali masuk ke dalam hidupnya.


Sudah begitu banyak perempuan yang dicarikan oleh kedua orang tuanya, Rey selalu menolak. Namun, kali ini justru dia sendiri yang menerima itu dengan lapang dada. Apalagi yang bisa dilakukan selain menuruti kemauan orang tuanya? Apalagi perempuan itu sudah dilamar terlebih dahulu sebelum memberitahukan hal itu kepada Rey.


Dia percaya, pilihan Om Dimas juga tidak akan sembarangan, dia selalu percaya kepada saudara mamanya itu. Selama ini untuk urusan hidupnya, Rey serahkan kepada Allah.


Delapan tahun dia bagaikan orang yang kehilangan arah tidak menemukan tujuan hidupnya, merasa kacau, merasa seperti orang yang gila akan penantian yang tak ada ujungnya.


Ia sangat ingat sekali kenangan ketika perempuan itu memeluknya sangat erat, seolah tidak ingin melepaskan. tetapi pada akhirnya dia adalah perempuan yang sudah berhasil menghancurkan segala perasaan itu. Baik tentang cintanya, maupun tentang janji-janji yang sudah mereka berdua rencanakan.


Semua rencana itu tersusun rapi. Rey bahkan sempat berpikir bahwa dia tidak akan pernah terpisah dari perempuan itu, akan tetapi justru terpisah sangat jauh, dalam penantian yang tak ada ujungnya.


Menatap mata Marwa, dia menemukan persamaan dengan Bintang. Yaitu merasa sangat teduh dan nyaman. Terkadang kenangan memang sering datang secara tidak terduga. Walaupun dengan orang berbeda, akan tetapi ketika sudah mengalami hal serupa, maka ingatan itu akan kembali lagi.