
“Ma, Mama masak apa?” Rey tiba-tiba datang tanpa mengucapkan salam setelah Nagita baru saja selesai masak. Tidak biasanya putra semata wayangnya itu berlaku demikian. Biasanya ketika datang, Rey selalu mengucapkan salam dan mencium tangannya. Tapi kali ini Rey datang langsung menanyakan perihal makanan dan langsung mencium mamanya.
“Kamu datang-datang nanyain makanan,”
“Abisnya Marwa lama pulang, Ma. Nggak ada yang masakin,” keluh pria itu kepada mamanya. Selama ini dia tidak pernah protes mengenai istrinya.
“Kamu tuh kalau kangen sama istri ya ngomong dong, suruh pulang kek! Tapi, bukannya kamu sendiri yang suruh istri kamu untuk di sana beberapa hari?”
“Itu karena di depan orang tuanya, Ma. Minimal dia peka sama suaminya sendiri. Masa suami ditinggal seminggu lebih,”
“Kamu jemput dong!”
“Males,” Nagita tak menggubris ucapan anaknya barusan. Rey yang selalu saja menceritakan sisi baik istrinya setiap waktu. Barangkali mood anaknya sedang tidak baik hingga membuat Nagita tidak mau bertanya banyak hal. Mungkin anaknya sedang merindukan istrinya yang lama di rumah orang tuanya.
Nagita selaku mama hanya bisa mendengarkan tanpa berkata apa pun lagi. Rey yang tengah mencicipi makan malam itu memang terlihat begitu lapar. “Sekarang kamu mandi terus tunggu magrib bentar lagi. Ngaji, ajarin adik-adik kamu! Mama siapin semuanya, setelah itu kita makan abis sholat isya’”
Rey berpamitan. Kedua adiknya yang sedang menonton televise di sapa hanya sebentar. Melihat keakraban ketiga anaknya Nagita merasa sangat bersyukur. Apalagi Rey, dia begitu bangga terhadap anaknya yang satu itu. Rela meninggalkan urusan pekerjaan demi mempertahankan rumah tangganya beberapa waktu lalu.
Pria itu berpamitan dan langsung meninggalkan kedua adiknya. Nabila kemudian berkata, “Kak, pinjam hp kakak ya?” Rey tahu bahwa adiknya sangat jarang sekali diberikan hp oleh kedua orang tuanya karena keduanya akan malas belajar jika sudah mulai bermain hp.
Rey berusaha untuk mengerti, namun sesekali tak apa baginya, dia langsung memberikan ponselnya dan berlalu ke kamar begitu saja.
Nagita yang melihat Rey memberikan hp untuk kedua adiknya itu hanya terdiam. Dia tidak ingin berdebat dengan anak tertuanya hanya karena ponsel itu. Rey yang mendidik adiknya dengan baik, berbeda dengan Nagita yang terlalu ketat. Sebagai orang tua, berusaha mengerti dengan anak laki-laki tertua itu tidak ada salahnya.
Baru saja dia membuatkan jus untuk anaknya, terdengar suara mobil suaminya memasuki area halaman rumah mereka. Tak berselang lama, suaminya pulang dengan raut wajah yang begitu kelelahan. Suaminya tidak lupa untuk mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah, “Ma, Rey pulang?” tanya Azka yang langsung mencium kening istrinya. Kebiasaan yang sudah lama menjadi kebiasaan bagi mereka berdua sejak lama.
“Iya, dia mau makan malam di sini. Istrinya masih di rumah orang tuanya,”
“Kasihan ya. Punya anak satu-satunya, pas sakit begini cuman satu yang bisa rawat,”
Nagita mengambil barang bawaan Azka dan langsung memberikan minuman kepada suaminya, pria itu duduk di ruang tamu bersama anaknya yang sedang bermain ponsel. “Kakak sama adik jangan main hp sambil tidur! Matanya sakit nanti,” ucap Azka memberi peringatan pada keduanya.
“Eh, Papa pulang,” keduanya bangun dan langsung bersalaman bergiliran. “Papa kapan pulang?” tanya Salsabila.
Azka menggeleng pelan melihat anaknya yang semakin tumbuh besar. Tidak pernah menyangka akan memiliki tiga orang anak yang begitu dia sayangi. Andai saja dulu kejadian itu tidak terjadi, barangkali tidak pernah ada keinginan Azka untuk menikah. Tapi kehadiran Nagita mampu membuat pola pikirnya mengenai pernikahan. Dia yang dahulunya sama sekali tidak berkeinginan untuk menikah, apalagi memiliki anak. Itu semua adalah hal yang sangat merepotkan baginya. Akan tetapi masa muda yang kelam itu membuat Azka mengerti, walaupun terjadi kejadian yang tidak diinginkan, tetapi dia tidak pernah menyangka bahwa keluarganya akan sebahagia seperti sekarang ini.
“Papa ditanya diam aja,” protes Nabila yang duduk di sofa bersebelahan sambil bermain game.
“Papa pulang dari tadi sayang. Kalian aja yang terlalu sibuk sama hp kalian, sampai nggak lihat Papa pulang dari tadi,” balasnya kepada anaknya. Kemudian kedua anak itu langsung ber-oh dan melanjutkan aktivitas mereka berdua.
“Rey protes istrinya yang lama di rumah orang tuanya tahu, Mas,”
“Ah masa sih?”
“Iya katanya nggak ada yang masakin. Nggak mau masakan asisten, rindu masakan istri,”
“Kalau orang tuanya sembuh pasti dia bakalan pulang. Mungkin aja sekarang Marwa lagi temani Mamanya untuk menjalani proses penyembuhan,” ucap Azka karena melihat raut khawatir yang ada di ekspresi istrinya itu.
“Ada orang telepon, Nabila mau kasih Kak Rey dulu ya,” Nabila berlari sambil membawa ponsel itu ketika melihat di layar ponsel itu ada seorang perempuan yang sedang berfoto mesra dengan kakaknya.
Ketika melewati tangga, Nabila melihat perempuan yang begitu cantik, akan tetapi itu bukan kakak iparnya. “Dia siapa?” tanya Nabila. Akan tetapi dia lebih fokus untuk mengantar ponsel milik kakaknya ke kamar.
Panggilan itu mati. Rey keluar dari kamarnya dengan menggunakan handuk yang dililitkan pada pinggangnya. “Siapa?”
“Nggak tahu, ya udah nih hp kakak. Makasih ya, Nabila mau turun dulu,” ucap anak perempuan itu.
Nabila tiba di ruang tamu, di mana kedua orang tuanya dan Salsabila membicarakan mengenai liburan mereka nanti setelah semester. “Mana aja, yang penting salah satu dari kalian ada yang juara. Kalau bisa sih kalian harus juara, Papa pengin anak-anak Papa tuh juara,”
“Kayak Kak Rey?” tanya Nabila langsung menimpali.
Azka dan Nagita menoleh, mereka berdua tidak pernah membandingkan kepintaran Rey dengan kedua adiknya. Karena dia tahu bahwa ketiga anaknya pasti memiliki perbedaan. Tidak mungkin jika dia membandingkan anaknya hanya karena nilai di sekolah. Karena itu akan membuat keduanya akan merasa sangat iri kepada kakaknya atau bahkan merasa bahwa orang tuanya berat sebelah dalam menyayang anaknya.
“Hmmm, kalau Papa sih maunya kalian usaha sendiri. Ulangan itu nggak boleh nyontek, harus usaha. Nggak boleh malas, intinya Papa pengin lihat anak Papa itu nilainya bagus-bagus, atau gini deh, enggak masalah kalian nggak juara, yang penting nilainya bagus. Papa nggak mau kalau nilai kalian bagus karena nyontek. Papa pengin lihat sampai mana sih kemampuan anak Papa,”
Keduanya saling tatap, “Oke, Pa. Tapi janji ya kalau nanti kita bakalan liburan ke mana aja?” Salsabila meminta penjelasan dari orang tuanya berharap bahwa mereka akan liburan ke tempat jauh nantinya.
“Tapi, Pa. Kita ada tugas untuk buat cerita apa saja yang kita lakukan selama liburan. Di gambar, terus disuruh ceritain,”
“Terus?”
“Ya pokoknya gitulah Pa tugasnya,”
“Papa nggak ngerti, jelasin dong!” Azka sengaja berkata demikian karena dia ingin menjelaskan semua itu dengan bahasa mereka masing-masing. Sampai mana pemahaman mereka berdua selama ini.
“Jadi tuh gini, Pa. sebelum semester kita udah dikasih tahu bahwa tugas kita nanti setelah semester, misalnya kita liburan nah kita gambar tuh terus dibawahnya penjelasan dari gambar itu. Misalnya kita liburan, kita renang. Otomatis kita gambar kolam renang sama beberapa orang, nah di situ kita ceritain selama renang kita ngapain,”
Azka tersenyum puas mendengar penjelasan anaknya secara bergiliran meski sempat berdebat karena memiliki pemahaman yang berbeda. “Oke, jadi nanti tugasnya harus dikerjain sendiri-sendiri. Pokoknya kita bakalan liburan ke manapun kalian mau,”
“Papa nggak bakalan bohong, kan?” tanya Nabila yang bersemangat.
“Tentu, Papa bakalan siapin hari libur untuk kalian seperti biasanya,”
Nagita mengelus tangan suaminya yang begitu menyayangi kedua putrinya. Ke manapun keduanya mau, suaminya pasti akan mengajak anaknya berlibur. Namun, satu hal yang tidak boleh terlewat yaitu ke makam kakek dan nenek mereka. Nagita dan Azka selalu membawa keduanya ke sana. Si kembar tidak boleh melupakan kakek dan nenek mereka walaupun belum pernah melihatnya. Mereka berdua hanya pernah melihat di foto, waktu Nagita berfoto berempat bersama dengan Dimas dan juga kedua kakek dan nenek mereka. Itu adalah foto yang dimiliki oleh Nagita dan disimpan begitu baik. Jangankan si kembar, Rey saja tidak tahu siapa kakek dan neneknya dari pihak mamanya.
Ditengah-tengah perbicangan kedua orang tuanya, Nabila ingin sekali bertanya mengenai perempuan yang ada di foto barusan. Ketika perempuan itu menelepon, ada foto kakaknya bersama perempuan lain terpampang dilayar ponsel itu.
“Ma, Pa, tadi Nabila lihat foto perempuan di layar hp kak Rey waktu ada telepon masuk. Perempuannya cantik banget, Ma. Tapi itu bukan, Kak Marwa. Apa Kak Rey nggak sayang lagi sama Kak Marwa,”
Nagita langsung memandangi suaminya kemudian melihat anaknya. “Huuush, nggak boleh bilang gitu, Nabila nggak boleh urus urusan orang dewasa, nggak boleh bilang gitu. Apalagi nanti kalau Nabila tanya gitu di dekat Kak Marwa, bisa-bisa Kak Rey berantem, lain kali jangan bilang gitu lagi ya!”
“Tapi, Ma,”
“Nabila itu masih kecil, nggak boleh ikut campur sama urusan orang dewasa. Terutama sama Kak Rey dan Kak Marwa. Bentar lagi kalian punya keponakan, nggak boleh bilang gitu di depan Kak Rey. Mama sama Papa nggak pernah ngajarin kalian ikut campur,” Nagita berkata demikian agar anaknya tidak terlalu menahu perihal urusan orang dewasa. Perempuan yang dimaksud oleh Nabila barangkali adalah rekan kerja atau karyawan Rey di sana.
“Mama benar sayang. Nggak boleh lagi ya bilang gitu!” timpal Azka.
Nabila tertunduk karena jika orang tuanya sudah berkata demikian. Berarti dia tidak boleh ikut campur lebih dalam lagi. Meskipun beberapa orang di kantor kakaknya dia kenal. Akan tetapi Nabila tidak pernah melihat perempuan itu. Apalagi foto keduanya yang begitu mesra, perempuan itu memegang pipi Rey dan hampir menciumnya.
Meskipun dia masih SD. Tetapi Nabila tahu bahwa kakaknya dengan kakak iparnya saja yang boleh seperti itu.