
Keesokan harinya, Azka
terbangun dari tidurnya dengan kepalanya yang sedikit pusing. Ia meraba
ke sampingnya, sudah tidak ada lagi Nagita. Seperti biasanya, ketika ia
terbangun perempuan itu tidak pernah ada di sampingnya. Memang setiap
malam mereka tidur bersama, tetapi ia selalu membelakangi istrinya,
nyaman atau tidaknya ia tetap menerima hal itu. Karena pernikahan mereka
hanyalah sebatas tanggung jawab.
Seperti biasa ia
langsung ke kamar mandi. Segala perlengkapan untuk ke kantor pun sudah
di siapkan dengan sangat rapi di atas ranjang miliknya. Nagita tak
pernah melewatkan satu kalipun tanggung jawabnya sebagai istri. Akan
tetapi Azka sendiri yang selalu mengabaikan tanggung jawabnya sebagai
seorang suami.
Setelah membersihkan
diri dan berpakaian rapi, ia keluar dan menemukan sarapan pagi seperti
biasanya tertata rapi di atas meja. Ia memang menyantapnya, tetapi untuk
menyapa walau sekadar ucapan selamat pagi tidak pernah mampu diucapkan
oleh Azka, dihatinya sudah benar-benar tidak ada perempuan lain lag
selain Deana.
Meninggalkan kartu
kredit dan ponsel baru di atas meja. Tanpa berkata apa-apa ia
meninggalkan itu dan langsung pergi. Ia tak suka berbicara banyak hal,
karena emosinya selalu memuncak setiap kali berbicara dengan Nagita.
Tiba di kantor, Azka
melonggarkan dasinya untuk bisa leluasa bernapas lega dan pundaknya
ditepuk oleh Damar dari belakang, "Kenapa lo? Bahagia dikit kek!"
"Mana bisa gue bahagia kalau keadaannya kayak gini, gue nggak bisa senyum dikit doang,"
"Istri lo lagi?"
"Diam keparat, nanti orang kantor dengar,"
"Akui aja, nggak ada salahnya. Toh lo bentar lagi punya anak,"
"Nggak. Gue nggak
bakalan ngelakuin hal konyol gitu," sekanya dan menyingkirkan tangan
Damar dari bahunya. Ia pun duduk di meje kerjanya. Sementara Damar duduk
di atas mejanya sambil terus menceramahi agar tujuan dari pernikahan
Azka benar-benar jelas. Bukan sekadar tanggung jawab semata. Mereka
memang sama, sering membayar perempuan untuk memuaskan diri, tapi
bedanya adalah Damar sedikit paham tentang tanggung jawab, tidak seperti
Azka yang tak peduli sedikit pun.
"Lo mau gini terus di depan, Dimas?"
"Menurut lo?"
"Seenggaknya lo hargai
Nagita di depan, Dimas! Jangan egois lo doang yang dipikirin. Nasib
perusahaan lo harus dipikirin. Lo nyakitin Nagita sama aja lo itu buat
diri lo hancur sendiri, Dimas nggak tahu kan lo nikah sesaat sama
Nagita?"
Azka menggeleng, "Gue bakal kasih pengertian suatu saat nanti,"
"Sehebat apa pun lo
ngasih pengertian. Cuman dia nggak bakalan pernah ngerti, itu adik
satu-satunya. Keluarga yang dia miliki cuman istri lo, terus gampang
banget lo bilang mau ngasih pengertian ke dia, sedangkan lo maunya
enaknya doang. Nyisainnya sakit ke orang lain, kalau lo ngerasa punya
otak, ya nggak bakalan lo ngelakuin hal yang kayak gini,"
"Damar, gue mau kerja. Bukan dengar tausiyah lo masih pagi buta begini,"
"Semoga lo nggak nyesel
deh suatu saat nanti, Tuhan itu gampang banget bolak balikkan hati
manusia. Cuman lo angkuh, ngerasa bahwa apa yang lo rencanakan akan
berjalan sesuai dengan apa yang lo mau. Tuhan lebih berkehendak,"
"Gue tahu, lebih baik lo kelua deh. Dari pada gue ngamuk nggak jelas nanti,"
"Kalau gitu, gue boleh deketin istri lo?"
"Terserah. Lo mau pacaran kek sama dia, gue nggak peduli."
Damar hanya tersenyum penuh makna pagi itu sebelum meninggalkan ruangan Azka.
Azka menggertakkan
giginya berkali-kali karena kesal dengan ucapan dari Damar yang
menyentuh hatinya. Bukan hanya itu, tapi lebih pada hal menyakiti.
Dalam pikirannya adalah bekerja dan menghasilkan uang, karena dari sana ia yakin Deana akan kembali padanya.
Azka merenggangkan
tubuhnya dan bangun dari kursinya. Tiba-tiba suara dering telepon
membuatnya sedikit terganggu. Ia pun langsung menjawab telepon tersebut.
"Siapa?"
"..."
"Oke, aku segera ke sana."
Dengan memasang raut
wajah yang gembira. Azka menutup teleponnya dan berlari melewati lorong
kantor untuk segera bertemu dengan orang yang baru saja menghubunginya.
Beberapa saat kemudian
Azka tiba di salah satu kafe yang tidak terlalu jauh dari kantornya,
tempat perjanjian pertemuannya dengan orang yang menghubunginya tadi.
"Azka!" perempuan itu langsung berhamburan ke pelukannya. Tentu saja ia begitu bahagia menyambut pelukan itu.
"Deana, kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa. Aku kangen sama kamu,"
Azka mengernyitkan
dahinya, rindu. Dari perempuan yang beberapa waktu yang lalu sempat
membuatnya frustrasi kini tiba-tiba datang lagi dan membuatnya tersenyum
bahagia.
"Maafin aku yang waktu itu udah ninggalin kamu,"
"Yang penting kamu sekarang kembali sama aku,"
"Az, kamu masih bisa ngasih aku kesempatan kan? Kita ulangi semuanya, kita perbaiki semua kesalahan yang pernah terjadi,"
Dengan senang hati, Azka
tersenyum dan mengelus punggung Deana. Bagaikan mimpi, perempuan yang
akan dikejarnya justru datang kembali tanpa pernah dicarinya.
Sesungguhnya hati Azka benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh Deana.
Perempuan yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Deana, ada yang mau aku omongin, kita duduk dulu!" tubuh perempuan itu mulai menjauh darinya.
Azka duduk berhadapan
dengan Deana, ia pun berencana untuk mengatakan hal yang sejujurnya
kepada perempuan yang sangat ia cintai itu.
"Deana, kalau aku melakukan kesalahan masa lalu. Apa kamu bisa terima?"
"Kesalahan?" Deana memiringkan kepalanya seperti orang kebingungan.
"Aku mau kali ini kita serius menjalani hubungan ini kalau kita kembali. Dalam arti, aku ingin menikahimu,"
"Az, kamu serius kan?"
raut wajah berbinar dari Deana begitu jelas terbaca dari ekspresinya.
"Cuman kamu harus terima anak aku nantinya,"
"Anak. Maksud kamu, kamu sudah menikah?"
"Iya, tapi aku akan
berpisah setelah anak itu lahir, itu semua karena kesalahan. Kamu ingat
waktu kita bertemu waktu itu? Aku benci sama kamu, mabuk. Sesuatu hal
terjadi antara aku sama perempuan yang aku bawa waktu itu, tapi jujur.
Aku sama sekali tidak mencintai dia, aku hanya tanggung jawab untuk anak
itu, nggak mungkin aku gugurin. Sama aja aku ngebunuh dia, aku takut.
Mau tidak mau aku harus tanggung jawab,"
"Azka, maksud kamu aku jadi ibu tirinya dia gitu?"
"Iya, itupun kalau kamu
mau. Jika tidak bisa, aku nggak maksa. Cuman aku nggak mau dia sampai
terlantar. Seorang anak dari Azka nggak boleh tersiksa hidupnya. Aku
janji, apa pun yang kamu mau. Rumah, apartemen, mobil, perhiasan, aku
beliin. Asal kamu bisa terima dia, De,"
"Aku janji, bahkan aku
akan bawa kamu langsung ke hadapan orang tua aku, kita buktikan sama
mereka. Tapi kamu juga harus janji, nggak ada pria lain lagi yang bisa
miliki kamu selain aku!"
"Oke, aku terima perjanjian kamu."
****
Selang beberapa minggu
kemudian, Azka dan Deana benar-benar resmi untuk kembali lagi. Tanpa
disangka-sangka hal itu bisa terjadi bagi Azka. Ia pun begitu senang
ketika Deana selalu menyempatkan waktu utnuk bertemu dengan dirinya.
Tetapi tetap saja, Deana tidak boleh menginjakkan kaki di kantor. Sebab
di sana ada Dimas, kakak iparnya. Tidak mungkin ia membawa perempuan
dengan seenaknya meski tidak mencintai Nagita.
Setelah kembali, Azka
membelikan apartemen dan mobil baru untuk Deana yang berkisar milyaran
rupiah. Tetapi tidak pernah masalah bagi Azka, nominal itu tak seberapa
dibandingkan rasa cintanya pada Deana. Sementara untuk Nagita apa? Untuk
membelikan sehelai pakaian pun ia tidak pernah.
Azka mampir ke apartemen
Deana, untuk pertama kalinya ia masuk ke apartemen Deana. Biasanya ia
hanya mengantarkan hingga depan saja. Namun kali ini karena tawaran
perempuan itu, Azka dengan senang hati untuk masuk.
Azka duduk di ruang tau
sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba Deana keluar dengan handuk yang
dililitkan di dadanya. Darah Azka berdesir dan sekuat mungkin menahan
diri, ia menelan salivanya dan berusaha untuk tetap tidak keluar batas
lagi.
Deana mengelus pipinya
dan langsung mencium bibirnya. Awalnya tidak ada reaksi apa pun, namun
setelah Deana menerobosnya dengan lidah, ia pun langsung membalasnya
dengan begitu agresif. Azka sendiri benar-benar dibuat mengerang oleh
Deana.
"Mau lanjut?" tawar Deana.
Dengan senang hati
Mengangguk dan mendorong tubuh Deana masuk ke dalam kamar. Tanpa aba-aba
ia menarik handuk yang terlilit tadi dan langsung menampakkan tubuh
polos Deana yang begitu seksi dengan dada yang menyembul. Ia mendorong
tubuh Deana hingga telentang di atas ranjang.
Azka langsung naik ke
atas ranjang. Ia menciumi bibir, dan membuka dasinya. Dibantu oleh Deana
yang berusaha melepas kemejanya. Azka sendiri benar-benar menegang, ia
meremas kencang kedua dada Deana hingga membuat perempuan itu mendesah.
Ciumannya pun turun dan langsung melahap dada Deana.
"Sayang, kenapa nggak dari dulu aja kamu balik, hah?"
"Kamu yang nggak pernah berusaha buat aku," jawab Deana sambil mengerang penuh nikmat.
Azka mulai beraksi
kembali dan menciumi setiap inci tubuh Deana yang berisi. Di bawah sana
sudah sangat menegang. Untuk pertama kalinya ia melakukan ini dengan
orang yang sangat ia cintai. Azka mulai membuka celananya dan terus
menciumi bibir ranum Deana. Sesekali perempuan itu melenguh saat Azka
mencium leher dan meremas dadanya.
"Aku mulai sayang!"
Dengan sekali hentakan,
tubuh mereka langsung menyatu. Dengan pergerakan kasar, Azka mencumbu
Deana terlalu terburu-buru. Hingga desahan kini berubah jadi teriakan
dari mulut Deana. Setelah perempuan itu kembali, bahkan ia berjanji pada
dirinya sendiri tak akan menyentuh perempuan lain lagi. Namun kini
belum sejauh apa pun mereka melangkah, Deana justru memberinya kepuasan
yang takkan pernah dilupakannya.
Beberapa saat setelah
pergulatan panas itu, Azka mengganti posisi dan langsung membalikkan
tubuh Deana hingga perempuan itu membelakanginya. Ia pun menyatukan
miliknya lagi sambil meremas kedua dada Deana.
"Azka aku nggak kuat,"
"Sebentar, tahan!"
Azka kembali membalikkan
tubuh Deana dan langsung menyatu kembali. Kini pergerakannya lebih
cepat dari sebelumnya. Hingga titik kenikmatan, Azka menyemburkan
spermanya di perut Deana.
"Azka, aku capek, tapi terima kasih, aku mencintai kamu,"
"Aku tahu ini bukan yang pertama kalinya buat kamu. Aku bukan orang yang pertama nyetubuhi kamu,"
"Kamu kecewa?"
"Tidak. Aku juga sering
melakukan ini, jangan munafik karena aku atau pun kamu pernah melakukan
ini dengan orang lain. Aku tahu kamu tidak perawan lagi, cuman aku nggak
pernah kecewa sama kamu,"
"Azka, kita hanya perlu saling menerima masa lalu kan?"
"Tentu, kamu juga sudah
menerima aku yang sudah menikah. Dan statusku saat ini suami orang, tapi
kamu nggak pernah masalah dengan hal itu,"
"Az. Malam ini kamu tidur di sini kan?"
"Nggak bisa, Deana.
Bagaimana pun juga, aku tetap harus pulang. Walaupun aku nggak peduli
sama dia, aku peduli sama kandungan dia, takut kalau terjadi hal yang
tidak diinginkan,"
"Tapi besok kamu datang lagi?"
"Tentu saja, aku akan datang lagi. Tapi maaf aku harus pulang saat ini."
Azka memungut pakaiannya
yang berserakan di lantai, sebelum itu ia membersihkan diri dari sisa
percintaannya tadi dengan Deana. Kali ini ia akan pulang dan bertemu
dengan Nagita lagi.
Perutnya pun semakin
membesar, membuat Azka sedikit merasa khawatir jika pergi lama. Tetapi
ia tidak pernah sanggup untuk memperlihatkan perhatiannya secara
langsung karena tidak ingin terlihat seperti orang yang sedang khawatir
meski dalam hatinya memang merasakan hal itu. Kebutuhan biologisnya
sudah dipenuhi oleh Deana. Tidak perlu lagi ia menuntut hal itu kepada
Nagita meski perempuan itu adalah istri sahnya.
Tiba di rumah, seperti
biasa ia menemukan perempuan itu tengah tertidur di sofa, menunggu
kepulangannya. Dengan sedikit rasa kesal, mau tidak mau ia mengangkat
tubuh Nagita ke kamarnya. Ia menyelimuti perempuan itu dan berbaring di
sampingnya.
Ia terus mengamati Nagita yang begitu polos dengan perutnya yang sedikit membesar.
"Kenapa kamu masih
bertahan? Sudah seharusnya kamu menyerah, pergi dari hidup aku, aku
ingin bahagia, Nagita. Kenapa kamu harus hadir? Kapan bayi itu lahir?
Aku ingin mengakhiri semuanya, aku lelah." Gumamnya.
Ia menarik selimut untuk
dirinya sendiri dan tertidur sambil memandangi wajah polos Nagita.
Dalam hatinya begitu ingin menyudahi karena akan menikahi Deana. Satu
sisi, ia sangat menginginkan bayi itu segera lahir dan menyudahi
tanggung jawabnya.