RICH MAN

RICH MAN
SEMAKIN AKRAB



Dua minggu berlalu Bintang menjadi murid baru di sekolah itu. Bahkan selama itu juga dia semakin akrab dengan beberapa temannya. Termasuk Fendi, Jenny dan juga Rista. Semenjak bergaul dengan Rey, dia juga mendapatkan teman baru karena anak laki-laki itu. Ada yang menghiburnya kali ini, Bintang merasa tidak kesepian lagi jika berada di sekolah. Bahkan saat pulang sekolah, dia selalu pulang bersama dengan Rista menggunakan motor.


Hari itu, mereka semua berkumpul di kantin, karena jam pelajaran kosong. Mereka ke kantin untuk berkumpul di sana. Bintang tersenyum saat melihat ke arah Jenny dan Fendi yang nampak begitu mesra, bahkan Bintang tak pernah sekalipun melihat Rey berpegangan tangan seperti itu bersama dengan gadis lain.


Bukan hal baru lagi jika Rey dicari oleh beberapa gadis. Apalagi melihat Rey yang selalu saja diganggu oleh Widya, melihat ekspresi tidak suka Rey. Bintang paham bahwa anak laki-laki itu sama sekali tidak menyukai Widya karena centil dan juga kasar.


"Rey, dipanggil sama, Pak Arkan di ruang guru!" Ucap ketua kelasnya. Rey langsung beranjak dari tempat duduknya berpamitan kepada teman-teman yang lain.


Bintang hanya mengobrol ringan dengan yang lainnya, bahkan semenjak kejadian di mana dia tidak pulang bersama pengawal mama tirinya, kini dia tidak lagi ke sekolah membawa pengawal. Bintang juga kini semakin dekat dengan yang lainnya.


Mereka bercanda di sana. Melihat tingkah Fendi dan juga Jenny yang semakin asyik dengan candaan mereka, Bintang pun ikut terhibur dengan pasangan itu. "Ngomong-ngomong kalian ini pacaran?" tanyanya.


"Enggak, ini calon ibu untuk anak-anak aku nanti, Bintang," Bintang beberapa kali mengingatkan temannya untuk memanggilnya dengan sebutan Aira, tapi tetap saja teman-temannya tidak mempedulikan itu dan tetap memanggilnya dengan panggilan Bintang, sama seperti Rey.


Bintang tak peduli lagi dengan panggilannya, setidaknya selama itu baik. Beberapa menit kemudian minuman yang dipesan pun datang. Kecuali, Rey. Dia belum memesankan temannya itu minuman karena tidak tahu apakah Rey akan kembali lagi nantinya atau tidak.


Mereka yang tengah asyik mengobrol, tiba-tiba Rey datang dan langsung menyambar minuman yang sedang diminum oleh Bintang.


"Sorry, haus banget. Aku kira bakalan ada tugas atau apa, tapi disuruh bantuin pindahin rak buku yang diperpustakaan yang rusak itu," jelas Rey sambil menarik kerah bajunya untuk membiarkan angin masuk ke dadanya.


"Main sambar-sambar minuman aja, lo," protes Fendi. Bintang yang tadinya sedang minum itupun tak bisa berkata apa-apa saat Rey menyambar minuman miliknya.


"Rey, lo ambil minuman Bintang. Lo tahu enggak? Itu sama saja dengan ciuman lo secara enggak langsung, karena itu bekas bibirnya Bintang,"


Rey langsung menggosok bibirnya saat yang lainnya tertawa, sedangkan Bintang hanya menampilkan senyuman kepada yang lainnya untuk menghilangkan canggung itu.


"Latihan ciuman beneran, Rey,"


"Kampret, mulai lagi omongan mesum lo," ucap Rey sambil melempar Fendi dengan es batu yang ada di minuman Bintang tadi.


"Aku pesanin yang lagi mau?" tawar bintang.


"Boleh, susu dingin aja ya!"


Bintang beranjak dari tempat duduknya untuk memesankan Rey minuman dan juga untuk dirinya sendiri. "Susu itu disedot dari tempatnya, Rey,"


Bintang menoleh saat ucapan Fendi begitu menyebalkan baginya, namun ketika melihat Jenny menjewer laki-laki itu, Bintang menahan tawanya saat Fendi dengan begitu polosnya meminta maaf kepada Jenny.


Bintang bergabung lagi bersama dengan teman-temannya. Beberapa saat minuman yang dipesannya pun datang. Perlahan Bintang mengaduk minuman teh hijau yang dipesannya.


"Minuman apaan, Bintang?" tanya Rey.


"Ini teh hijau yang dicampur susu,"


"Enak?"


"Enak, kamu mau?"


Rey menarik sedotan baru dan mencicipi minuman milik Bintang. Ekspresi yang ditampilkan Rey pun berubah seketika, Bintang mencoba memastikan keadaan itu karena Rey tak berkata apa-apa sambil berusaha menelan minuman itu dan memegangi tenggorokannya.


"Pahit, Bintang," keluh Rey dan langsung meneguk minuman miliknya.


Suasana kantin pun semakin ramai karena beberapa orang hendak memanjakan perutnya di sana. Nampak juga beberapa yang begitu lahap menyantap makanan, mulai dari bakso dan mi instan yang dapat mengisi perut keroncongan mereka.


Rista yang tadi izin mengambil tas untuk mereka semua belum juga kembali. Melihat tawa yang mengambang di bibir Rey. Bintang menunduk sambil fokus untuk melihat pemandangan lain, berusha untuk tidak terlalu memperhatikan Rey karena tidak ingin ketahuan jika dirinya diam-diam merasa nyaman dengan kebaikan anak laki-laki itu.


Suasana riuh kantin pun semakin ramah saat beberapa kelas justru kosong dan menghabiskan waktu mereka untuk berkumpul di kantin. Minuman dingin yang sangat cocok untuk membasahi tenggorokan di siang terik itu.


Bintang mengeluarkan earphone-nya dan mencolokkannya ke ponselnya.


"Gabung dong," Bintang menoleh saat Rey pindah duduk ke sampingnya dan menarik sebelah earphone itu.


Alunan lagu dari Marianas Trench - Lover Dearest membawa ingatan tentang mamanya saat itu juga. Rey yang bersandar disampingnya sambil memainkan ponsel, sesekali Bintang melirik ke sebelahnya.


"Kakak titipin adik es krim nanti pulang sekolah ya!"


"Iya Mama, Love you, Ma,"


Bintang melihat ekspresi Rey yang begitu ceria saat membalas pesan dari mamanya yang tadinya Bintang pikir itu adalah dari pacaranya Rey. Bagaimana mungkin seorang anak populer tidak memiliki pacar di sekolah itu. Apalagi namanya yang cukup terkenal.


"Fen, duluan ke bengkel ya! Adik gue mau dibeliin makanan," ucap Rey memecahkan keheningan tadi.


"Kapan lo bawa adik lo main ke bengkel, Rey?"


"Mama gue enggak ngasih izin, kalau Papa sih enggak masalah,"


"Pernah lihat adik kembarnya, Rey? Mereka cantik-cantik banget, Jen," ucapnya pada Jenny. Bintang menoleh dan merasa iri saat Rey memperlihatkan foto kedua adiknya yang kembar. Sedangkan Bintang sama sekali tak memiliki adik ataupun kakak.


"Nama mereka siapa, Rey?" Bintang mulai tertarik dengan percakapan itu.


"Yang kiri Nabila, yang kanan ini adiknya, namanya Salsabila,"


"Mirip ya sama kamu,"


"Iyalah mirip, satu produksi, Bintang," jawab Fendi ketus. Rey menatap dengan tatapan tidak suka dengan candaan Fendi yang seperti itu.


"Kebiasaan banget mulut lo tuh,"


"Kan gue ngomong bener,"


"Enggak gitu juga kali, mulut lo tuh. Asem banget,"


"Lo enggak asyik di ajak bercanda, Rey,"


"Gue bukannya enggak asyik, tapi enggak suka,"


"Ya maaf,"


"Rey, aku ke kelas ya," ucap Bintang memecah perseteruan itu. Dia bangkit dari tempat duduknya dan langsung membayar minumannya dan bergegas pergi dari kantin untuk mencari keberadaan Rista yang belum juga kembali.


"Gue ikut."


Bintang menoleh ke belakang saat mendapati Rey yang berlari menyusulnya.