
Semua makanan telah di sajikan di meja makan dengan begitu rapi. Reynand turun mengajak adik-adiknya ke ruang tamu untuk berkumpul di sana. Karena jika mengganggu aktivitas orang-orang yang memasak itu, tentu saja beberapa anak akan membuat keributan nantinya. Dia membantu karena mengerti bahwa niat mamanya adalah untuk merayakan ulang tahun papanya.
"Rey, telepon Papa, gih!" ucap Nagita sambil mendekati Reynand.
"Lah, sekarang ya Ma?"
"Ini kan sudah sore sayang,"
Rey mengangguk, baru saja dia mencari nomor ponsel papanya. Mamanya menahan tangannya. "Biar Mama yang ngomong," Rey menyerahkan ponselnya kepada sang mama.
Beberapa detik menunggu hingga panggilan tersambung, Nagita mengambil sebuah cara untuk mengasingkan diri terlebih dahulu ke halaman belakang rumahnya.
"Papa sibuk?"
"Enggak, Ma," ucap pria itu di seberang telepon sana.
"Papa, bisa pulang enggak? Anak-anak lagi di rumah nih, Amanda kumat,"
"Lagi, Ma?" ucap Azka terkejut. Sepengetahuannya Amanda sudah tidak kumat lagi semenjak operasi waktu itu. Kini, dia mendengar kabar dari istrinya sendiri bahwa Amanda merasakan sakit itu lagi.
"Papa, pelan-pelan aja, Mama tunggu di rumah ya, Pa!"
"Iya, Ma," di kantor pria itu merasa begitu khawatir dengan anak asuhnya yang satu itu, bukan karena mengutamakan Amanda, akan tetapi dia sadar bahwa gadis itu harus mendapatkan perhatian yang lebih mengingat penyakitnya yang sangat berbahaya.
Azka keluar dari ruangannya hendak berencana pulang. "Saya pulang duluan, kalau ada yang mencari saya, bilang kalau saya ada urusan penting di rumah," ucapnya pada resepsionisnya.
Perlahan dia menarik napas panjang di dalam mobil, agar dia bisa menyetir dengan begitu tenang.
Sementara itu, Nagita tersenyum jahil karena telah berhasil menjahili suaminya. "Gimana, Ma?" Amanda datang menghampiri Nagita yang ada di halaman belakang rumah.
"Maaf ya sayang harus menggunakan kamu sebagai cara untuk mancing Papa biar pulang,"
"Enggak apa-apa, Ma. Kalau Papa langsung pulang karena aku, itu berarti dia sayang sama aku,"
"Kalian semua Papa sama Mama sayang kok, enggak ada bedanya. Mulai dari kak Rey sampai yang paling kecil, kalian itu udah seperti anak kandung, Mama," ucapnya sambil mengelus rambut Amanda. Dia pun menggandeng Amanda ke ruang tamu untuk berkumpul bersama dengan yang lainnya. Di ruang makan, sudah ada yang menjaga agar anak-anak jangan menyentuh makanan dulu sebelum Azka pulang.
"Rey, nih," Nagita menyerahkan ponsel itu kepada Reynand. Nampak putranya mengangkat alis heran dengan apa yang direncanakannya hingga membuatnya tersenyum seperti itu.
"Mama aneh, ngapain coba?" ucap Rey. Namun, bukan Nagita namanya jika tak berhasil mengerjai Azka saat ini. Dia pun memilih untuk keluar untuk menunggu kehadiran Azka di luar.
"Kamu baringan di atas sofa!" ucapnya pada Amanda.
"Rey, ambil selimut di kamar ya! Ohya anak-anak nanti kalau Papa datang pura-pura nangisin Kak Amanda ya!"
"Papa mau dikasih kejutan ya, Ma?" Tanya salah satu anak asuhnya. Nagita pun mengangguk pelan.
Beberapa menit berikutnya apa yang diperintahkan pun di jalankan dengan begitu baik oleh anak-anak asuhnya. Nagita keluar ke halaman depan rumahnya untuk menunggu kepulangan Azka.
Sambil melihat arloji yang menempel di tangan kanannya. Penampilan sederhana Nagita nampak meyakinkan dirinya benar-benar panik dengan keadaan itu. Bagaimana tidak, dia langsung mengubah ekspresi itu menjadi sangat menyedihkan.
"Mama, bagaimana bisa kumat lagi, sih?" ucap Azka sambil menutup pintu mobil dan digandeng oleh istrinya.
Nagita layaknya orang yang pandai dalam berakting itu pun langsung mengajak Azka masuk. "Enggak tahu, Pa. Tadi tiba-tiba kumat lagi,"
Mereka berdua bergegas masuk ke dalam rumah. Azka menjambak rambutnya dengan tangan kanan setelah melihat anak-anaknya menangis dan Amanda terbaring di atas sofa sambil memejamkan mata. Tentu hatinya akan terasa sangat sakit dengan sendirinya jika melihat pemandangan itu.
Azka mendekat ke sofa dan berjongkok sambil memegang tangan kanan Amanda. "Amanda, sakit lagi?" tak ada tanggapan apa pun selain merasakan tangan lemah dari Amanda.
Azka pun berinisiatif ingin mengangkat tubuh Amanda hendak membawanya ke dokter. Baru saja dia mengambil posisi dan hendak mengangkat, tiba-tiba suara nyanyian selamat ulang tahun terdengar dibelakangnya. Amanda pun bangun dari tempat tidurnya sambil tersenyum.
Azka yang terlihat begitu panik kini berubah menjadi begitu kesal karena perbuatan orang-orang yang sudah berhasil mengerjainya hingga membuatnya hampir merasakan ketakutan itu lagi.
Azka berbalik dan langsung berdecak kesal dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Ini ide siapa?"
Semua orang di rumah itu menunjuk Nagita. Azka menatap istrinya yang cengengesan itu, "Hehehe, maaf ya Papa," Azka pun mendekati istrinya dan langsung menarik pipi Nagita.
"Celamat ulang tahun, Papa kita," ucap Nabila yang membawa topi ulang tahun yang sama seperti yang dikenakan oleh mereka.
"Papa tuh udah tua, kenapa pakai beginian?"
"Papa enggak pernah tua, jiwa Papa masih muda," ucap Nagita sambil memeluk suaminya dan mencium pipi Azka. "Selamat ulang tahun, sayang," Azka membalas pelukan dan mencium kening Nagita.
"Terima kasih kejutannya, sayang. Tapi, setelah ini siap-siap aja kalian semua bakalan Papa hukum,"
Semua anak-anak di sana terdiam dan menunduk. Tidak ada acara tiup lilin, semua di sana hanya menggunakan makanan sederhana dan kue untuk merayakan.
"Ayo makan, Pa! Anak-anak udah lapar dari tadi," ajak Nagita. Azka mengangguk dan mengikuti istrinya ke ruang makan dan terlihat mereka memilih untuk duduk di lantai karena jika di meja makan tidak akan cukup untuk anak sebanyak itu.
Azka memotong tumpeng untuk pertama kalinya saat merayakan ulang tahun. Bahkan dia tidak pernah berpikir bahwa itu adalah hari ulang tahunnya. Istrinya benar-benar sangat luar biasa untuk merayakan itu semua.
Terlihat raut wajah bahagia dari anak-anak angkatnya ketika saling suapi kue yang sudah dibagi rata. "Jangan saling colek ya! Nanti kotor, Mama enggak suka," perintah Nagita.
"Iya, Ma," ucap anak-anak itu serentak.
Sungguh kehangatan yang pertama kali di rasakan oleh Azka ketika merayakan ulang tahunnya.
Beberapa saat kemudian keluarga Azka datang bersama dengan yang lainnya. "Maaf telat ya kak, tadi tuh udah kemari kok. Tapi kita pulang karena lupa beli hadiah," ucap Naura. Azka mengangguk dan mempersilakan anggota keluarganya untuk duduk.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari ya!"
Suara gelak tawa pun bergantian dan benar-benar bahagia di sana. Azka tersenyum dan menarik kepala Nagita dan mencium kening istrinya. "Sekali lagi terima kasih karena sudah menciptakan kebahagiaan ini, Ma,"
"Terima kasih juga untuk kebahagiaan yang selama ini, Papa kasih untuk kita semua," jawab istrinya.
Azka memejamkan matanya merasa bersyukur karena bisa membahagiakan semua anak-anak di sana. Dibalik lelah dalam mencari nafkah, ada senyum bahagia yang nampak begitu merekah dari bibir mereka. Hal itulah yang membuat lelah Azka menjadi memudar.