RICH MAN

RICH MAN
SEGERA BERKUMPUL LAGI



Malam semakin larut, Rey masih terjaga di kamarnya sendirian. Ingin rasanya pagi segera tiba, dia ingin sekali untuk mencari keberadaan istrinya. Tidak peduli itu adalah Bintang ataupun Marwa, setidaknya dia sudah berusaha untuk menerima kenyataan bahwa Bintang yang dicarinya sudah tidak ada. Dia pun berusaha untuk mengerti, mengapa perempuan itu tidak datang ketika dirinya begitu berharap akan sebuah pertemuan yang di mana dia bisa untuk menyatakan perasaannya delapan tahun lalu. Akan tetapi, besok adalah waktu di mana penantian itu genap sembilan tahun.


Rey yang baru saja menutup telepon dari Clara yang menghubunginya, dia tahu bahwa perempuan itu sedang memiliki kesibukan lain di luar dengan kuliahnya.


Perempuan yang paling dekat dengannya adalah adik sepupunya itu, Rey selalu bercerita mengenai Marwa pada Clara, berharap bahwa segala perasaan yang dulu sangat besar itu segera pergi dari dalam hatinya dan digantikan dengan kebahagiaan untuk membina rumah tangga dengan Bintang hatinya yang kini sudah menjadi Marwa.


Rey sebenarnya waktu itu tidak rela melepaskan Marwa yang sudah berhasil membuatnya sangat nyaman berada di sisi perempuan itu. Akan tetapi suatu masa lalu datang karena ingatan yang lalu terulang kembali, hanya karena sebuah paket yang membuatnya menjadi pria yang sangat lemah. mengabaikan istrinya hanya karena itu, foto yang membuatnya ingat dengan sosok Bintang. Bahkan tanpa dia ketahui bahwa orang yang berfoto mesra bersama dengan dirinya itu adalah istrinya sendiri di masa lalu. Salahnya sendiri, beberapa kali Leo sudah mengingatkan untuk membuka cadar Marwa. tetapi dia mengatakan bahwa belum siap menerima tentang perempuan baru di dalam hidupnya. Apalagi Marwa yang waktu itu sangat asing baginya.


Rey berkata bahwa dia akan berusaha untuk mencintai Marwa waktu itu. Tetapi semua telah sia-sia, jika sedikit saja seseorang menyinggung tentang Bintang, hatinya tidak peduli lagi dengan Marwa yang sudah menemaninya. Dia akan mengabaikan perempuan itu hanya karena kebodohannya yang masih utuh bersama dengan masa lalu. Yang entah sampai kapan, jika dia tidak tahu bahwa Marwa adalah Bintang. Tentu saja dia akan mengalami penyesalan yang di mana dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan perempuan itu; hingga selamanya.


Bagi pria itu, waktu adalah hal yang paling mahal di antara apa pun di dunia ini. Waktu yang tidak pernah terulang kembali, dan menyia-nyiakan waktu merupakan suatu hal yang membuat seseorang bisa menyesal di masa yang akan mendatang, percaya atau tidak bahwa banyak hati yang mati hanya karena penyesalan. Tidak bisa membahagiakan orang lain, atau tidak bisa mencapai suatu hal di masa lalu hanya karena menyia-nyiakan waktu. Dan itu yang dirasakan oleh Rey sekarang ini, dia belum bisa membahagiakan Marwa hanya karena dia terlalu terjebak dengan masa lalunya.


Suara rintikan bekas hujan yang terjatuh di luar membuat Rey semakin rindu waktu yang dahulu. Dulu, dia juga bertemu dengan Bintang. Setelah menunggu lama, hujan pun turun dengan lebat, seolah mewakili perasaannya yang ingin menangis waktu itu karena tidak berhasil menemukan seseorang.


Ceklek.


Rey yang tadinya membelakangi arah pintu, kini berbalik setelah mendengar pintu kamarnya terbuka, sosok perempuan yang terlihat begitu anggun walaupun dengan sinar yang tidak terlalu terang, itu adalah mamanya. Yang selalu saja sedia menunggunya. Mendengarkan semua keluh kesahnya selama ini. perempuan yang sudah sangat berhasil mengubah hidupnya menjadi lebih baik lagi.


"Mama kenapa belum tidur?" sapa Rey kemudian bangun dari tempat tidur dan bersandar di sandaran ranjangnya.


"Mama cuman pengin lihat kamu, gimana sama keadaan kamu?"


"Baik, Ma. Besok udah bisa cari Marwa lagi, kan?"


Nagita menyalakan lampu kamar anaknya, dia melihat bahwa kekhawatiran yang begitu besar dari raut wajah anaknya itu, Nagita merasa bersalah karena Rey jatuh sakit karena perbuatan dirinya yang memberitahu mengenai Marwa yang waktu itu adalah Bintang. Membuat anaknya emosi, tidak mau makan dan lebih sibuk mencari keberadaan istrinya.


"Rey, kenapa mau maksain diri ketemu sama dia?"


"Aku enggak maksain, bagaimana pun juga. Dia masih istri aku, dia masih jadi bagian hidup aku, dia enggak boleh pergi lagi, Ma. Aku enggak sanggup lagi kalau misalnya dia itu pergi ninggalin aku dan membuat segalanya menjadi sangat rumit. Dan itu yang buat aku takut bahwa Marwa akan pergi lagi dari hidup aku, Ma,"


"Dia enggak bakalan pergi lagi, Rey,"


"Mama tahu dia di mana?"


"Marwa enggak pernah ke mana-mana. Dia selalu disamping kamu, bahkan dia sekarang ada di sini," Nagita menunjuk dada Rey.


Pria itu merasa begitu sesak setelah mendengar ucapan mamanya dan menunjuk dadanya karena memberitahukan bahwa Marwa berada di dalam hatinya.


"Mama enggak mau buat kalian seperti ini, Mama pengin pulihkan ingatan Marwa. Tapi justru kamu yang bertingkah dengan minta pisah segala,"


"Aku enggak bakalan seperti itu, Ma,"


"Rey, kamu diselimuti oleh rasa sakit. Mama enggak yakin bahwa kamu bisa menjadi yang terbaik. Bahkan bisa untuk didik dia disaat perasaan kamu hancur, kalau Mama sama Papa ngasih tahu kamu lebih awal, tentu kamu juga akan menyakiti diri kamu sendiri. Kamu akan jauhi Marwa. Kamu merasa dibohongi, lihat sekarang Rey! Seperti ini saja kamu sudah sampai jatuh sakit, dan satu hal Rey, andai orang tua Marwa tahu itu adalah kamu, mereka enggak bakalan setuju kamu sama dia, itu yang Mama enggak mau. Setelah Mama tahu bahwa istri kamu adalah orang yang kamu cari selama ini, Mama enggak mau buat kamu sedih lagi, biarlah kamu sedih dulu. Enggak boleh ngerasain sedih itu lagi, apalagi sampai menyakiti hati orang lain hanya karena kamu itu enggak bisa untuk nerima Marwa,"


Rey menunduk lesu. "Aku akan berusaha untuk yakinkan hati orang tua Marwa,"


"Enggak semudah itu, Nak. Jadi sekarang, andai kamu ketemu sama dia, apa kamu akan bantu dia untuk ingat kenangan-kenangan kalian? Dan juga ingatan dia yang dulu?"


"Sampai kapan pun, Ma. Aku akan bersedia," Rey menunduk dan kemudian mengangkat kepalanya. "Ma, aku boleh pergi ke taman itu besok?"


Nagita memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan ucapan putranya. "Kenapa sama taman itu?"


"Andai dia sudah ingat dengan ingatan kami berdua, dia pasti akan datang ke sana, Ma,"


"Rey, ini yang ke-9 tahun?"


Rey mengangguk, "Iya, Ma. Dan kalau memang dia enggak datang, enggak apa-apa. Aku bakalan tetap nunggu dia,"


Nagita merentangkan tangannya. "Sini, sayang!" Nagita memeluk putranya dengan sangat erat. Dia tidak ingin bahwa anaknya merasakan sakit itu lagi.


"Mama sayang banget sama kalian berdua. Tinggal di rumah Mama kalau kalian bertemu! Untuk beberapa waktu, Mama mau kalian di rumah. Mama enggak bakalan ikut campur sama urusan kalian lebih dalam lagi, rumah tangga kalian yang jalani. Kalian hanya tinggal, sambil membantu Marwa mengingat beberapa ingatannya yang dulu saat kamu kerja nanti,"


"Mama jangan maksa-maksa minta cucu lagi. Udah tahu aku belum ngapa-ngapain," ucap Rey pelan. Nagita menahan tawa mendengar ucapan anaknya.


"Mama enggak bakalan maksa lagi, Nak. Nanti pasti tiba-tiba di kasih, kan biasanya gitu tuh kalau orang jatuh cinta, suka banget yang namanya tiba-tiba. Mama sih berharap kamu baikan dulu sama istri kamu,"


"Iya, Ma. Nanti aku berusaha untuk baikan lagi sama dia. Mama doain semoga aku segera bertemu sama dia,"


"Semoga besok, dia datang ke taman untuk nemuin kamu, ya!


"Aamiin."


Rey mendekat mamanya semakin erat. Sudah lama sekali dia tidak memeluk perempuan itu begitu erat.