RICH MAN

RICH MAN
MENYINGGUNG KEHIDUPAN LALU



Seusai makan malam, kedua orang tua Marwa izin untuk pulang. Meski tadinya mereka menawari untuk keduanya menginap. Tetapi keduanya menolak dengan tutur kata yang sangat sopan.


Mereka mengantarkan kedua orang tua Marwa hingga di garasi.


Melihat raut wajah istrinya yang nampak kelelahan malam itu, Rey menggandeng tangan istrinya untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar. Barangkali tadi mertuanya mengerti dengan keadaan Marwa yang terlihat sedikit lesu.


“Mau langsung tidur atau gimana?” ucap Rey sambil tetap menggandeng tangan istrinya.


“Aku udah janji sama adik-adik kita kalau mereka bakalan tidur di kamar,”


“Loh, bukannya kamu janji nanti kalau keadaan kamu sudah baikan?”


“Aku udah baikan kok, Mas. Jadi enggak apa-apa kan kalau keduanya tidur di kamar?”


Pria itu menampilkan wajah yang sedikit tidak suka, pasti kamarnya akan dibuat berantakan oleh kedua adiknya. Semenjak Marwa hamil, Rey menjadi pria yang sedikit dingin dan tidak terlalu suka terhadap adiknya jika mengganggu istrinya. Itu pernah ia ceritakan kepada mamanya, tetapi bukannya marah, mamanya justru berkata bahwa itu adalah bawaan dari kehamilan Marwa yang dia juga rasakan sendiri bagaimana keduanya saling tertaut satu sama lain.


Tiba di dalam rumah dan kedua orang tuanya masih duduk di sana sambil berbincang. “Enggak ikutan duduk sama Mama dan Papa, Mas?”


Ia berpikir sejenak sebelum kemudian dia menyetujui ucapan dari istrinya. Mereka berkumpul di ruang keluarga dan di sana seperti biasanya kedua adiknya selalu meminta untuk ditemani ketika sedang mengerjakan PR. Bukan mengerjakan di kamar mereka, tetapi mereka lebih suka mengerjakan di ruang keluarga dan berkumpul seperti ini.


Selama tinggal di rumah, Rey sudah biasa mendengar omelan mamanya setiap kali ia melakukan kesalahan dan memberikan Marwa makanan yang tidak boleh di makan selama hamil. Mamanya yang terlalu overprotektif jika berhubungan dengan makanan.


“Rey, duduk dulu!” pinta papanya.


Keduany duduk di ruang keluarga, sementara Marwa membantu keduanya mengerjakan PR matematika.


“Kak, kita jadi kan nginap di kamar kakak?”


Rey memulai ekspresinya yang tidak suka itu. Dia memang tidak suka jika kamarnya berantakan, itu karena Marwa yang selalu merapikannya. Meskipun ada asisten rumah tangga, tetapi jika urusan membereskan kamar. Itu dilakukan oleh istrinya.


“Kalian kalau mau tidur sama Kak Marwa, harus janji enggak bakalan buat kamar kakak berantakan,”


“Hmmm, kalau berantakan?” Tanya Salsabila sambil memainkan pensil di pelipisnya.


“Kalau berantakan, kalian yang beresin. Enggak boleh suruh bibi apalagi suruh Kak Marwa yang rapikan,”


Keduanya langsung melirik ke arah mamanya. “Enggak jadi deh kak,” ucap Salsabila.


“Iya, kita enggak jadi tidur di kamar kakak. Nanti aja kalau keponakan kita udah lahir, iya kan dek?” timpal Nabila yang ikut memastikan bahwa keduanya tidak jadi tidur di kamar itu. Rey tahu sendiri bahwa kedua adiknya memang paling tidak suka jika di suruh membereskan kamar. Bahkan mamanya pun seringkali marah terhadap keduanya jika kamar mereka berantakan dengan mainan dan buku-buku.


Sifat keduanya begitu jauh berbeda dengan Rey yang dahulunya seringkali hidup mandiri. Berbeda dengan adiknya yang tidak mau merapikan kamar, bahkan seringkali meninggalkan buku pelajaran mereka. Alhasil keduanya pun pulang sekolah dengan raut wajah yang begitu murung karena dihukum. Beberapa kali mamanya pernah mengingatkan agar mereka menyiapkan buku pelajaran mereka malam hari. Tapi itu sepertinya memang tidak diindahkan oleh kedua adiknya.


Selaku kakak, Rey berusaha untuk membantu kedua orang tuanya dalam mendidik adik-adiknya, jika urusan mengaji, tentu dia dan istrinya membantu adiknya. Tetapi jika urusan sekolah, semua itu diserahkan kepada orang tuanya. Rey tidak ingin terlalu keras mendidik kedua adiknya. Apalagi dia tahu sendiri bahwa sifat keduanya begitu keras. Berbeda jauh dengannya.


“Ya udah habis ini, kalian ke kamar. Terus kalau udah selesai tuh PR, kalian siapin buku yang bakalan di bawa besok. Mama enggak mau lagi dengar kalian dihukum hanya karena kalian lupa. Kalian udah capek ngerjain, masa lupa bawa buku PR kalian sendiri,” tegur mamanya.


Keduanya telah selesai mengerjakan PR dan beranjak dari tempat mereka duduk tadi. “Ya udah kita balik ke kamar dulu ya,” ucap adiknya sambil bersalaman kemudian mencium mereka semua satu persatu. Semua itu sudah menjadi rutininas keduanya sebelum tidur.


“Kak Rey mau dicium juga?” goda Salsabila.


“Enggak deh, kalian masuk aja,” ucap Rey dingin. Dia melihat ekspresi adiknya yang waktu itu sengaja berkata demikian.


Namun, berbeda halnya dengan Nabila yang langsung mencium Rey dan bersalaman. “Kakak jangan marahi kita lagi ya! Kita saying kakak,”


Rey yang sedikit merasa bersalah dengan perlakuannya ketika orang tuanya tidak berada di rumah dan justru mengunci kamar untuk adiknya. “Maafin kakak ya! Kakak enggak bakalan ngelakuin hal itu lagi, jadi sekarang kita damai?”


“Enggak gratis kak,” ucap Nabila yang membuat Rey mengangkat sebelah alisnya.


“Maksudnya enggak gratis?”


“Kakak harus antarin kita ke sekolah, jemput kita sekolah. Terus pulangnya ajakin makan siang, itu baru impas. Kakak udah kunciin kita loh. Kalau kakak enggak mau, kita enggak bakalan maafin,”


Dibalas dengan acungan jempol dari Salsabila yang menyetujui ucapan Nabila. Rey mendengkus keras. Adiknya yang menyebalkan seolah sudah menjadi hal biasa bagi Rey jika menghadapi adiknya yang akhir-akhir ini membuatnya kesal. Akan tetapi dia tidak ingin membuat kedua adiknya kecewa. Rey mengulurkan tangannya bersalaman kepada Nabila.


“Oke, kakak terima. Besok kakak yang bakalan antarin, besok kakak juga yang bakalan jemput. Terus kita makan, udah gitu pulang. Dan kalian enggak boleh lagi buat masalah,” tawar Rey. Keduanya mengangguk penuh semangat.


“Ya sudah, kalian tidur sana!” suruh papanya. Keduanya bersalaman lagi kepada Rey. Seperti biasanya, mereka berdua juga bersalaman kepada Marwa dan selalu mendoakan kehamilan Marwa agar tidak sakit lagi. Meskipun kedua adiknya begitu menyebalkan dan bandel. Rey selalu bangga terhadap adiknya yang tidak pernah lupa mendoakan kebaikan bagi calon buah hatinya dengan Marwa.


“Makasih ya,” balas Marwa sambil mencium pipi keduanya.


Kini, tinggal mereka berempat di ruang keluarga yang sedang berbincang.


“Ma, Pa. Tentang pembicaraan tadi aku sama mertua aku, aku bakalan pindah dari rumah ini dan hidup berdua sama Marwa,”


Kedua orang tuanya menarik napas panjang. “Rey, Mama sama Papa enggak pernah larang kalian untuk tinggal di rumah yang berbeda. Tentu saja bagi kalian itu adalah hal yang kalian inginkan. Hidup berdua, tanpa ada campur tangan dari orang lain mengenai pernikahan kalian. Maksud Mama dan Papa untuk biarin kalian tinggal di sini itu demi kebaikan kalian juga. Marwa hamil, memangnya kamu selalu di rumah? Bagaimana nanti kalau kamu sibuk? Mama sama Papa tentu enggak bakalan pernah tega kalau kamu ninggalin Marwa, Mama juga enggak keberatan,”


“Ma, bukan gitu. Tapi aku pengin urus dia sendirian. Gimana rasanya hidup berdua sama istri,”


“Oke, tapi nanti kalau Marwa sudah merasa jauh lebih baik. Sudah enggak muntah-muntah lagi, Mama bakalan izinin,”


“Beneran?”


“Iya, Mama sama Papa juga dulu tinggal berdua, tapi Mama enggak mau Marwa merasakan kehamilan itu seorang diri,”


Azka menggenggam tangan istrinya, takut jika istrinya mengingat kejadian dulu ketika dia membiarkan Nagita melewati masa ngidamnya sendirian.


“Ma,” panggil Azka pelan.


“Yang penting Rey tetap temani Marwa selama ngidam dulu ya saying ya. Kalau begitu Mama ke kamar dulu,” Perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. Rey tahu bahwa mamanya mungkin merasakan hal yang begitu menyakitkan dahulu.


Beberapa saat kemudian disusul oleh papanya.


“Mama kenapa?” Tanya Marwa. Akan tetapi Rey membalas itu dengan senyuman.


“Mama ngantuk kali, ya udah ayo ke kamar. Kita ngobrol berdua, kita rencanain gimana nanti tinggal berdua. Kamar untuk anak kita.”


Marwa langsung tersenyum saat dia berkata demikian. Rey berusaha untuk tidak menyinggung perihal mamanya. Karena dia tahu bahwa dahulu mamanya pernah melewati masa itu seorang diri ketika sedang hamil dirinya.


 


 


Mamanya yang selalu saja overprotektif, dan Rey mengerti bahwa semua itu ada kaitannya dengan kejadian masa lalu.