
Sekitar pukul sepuluh pagi, Dimas izin pulang ke rumahnya untuk menjemput Marwa karena mendapat kabar bahwa Rey jatuh sakit di rumah sang Oma. Tidak tega jika harus Rey mengalami hal itu hingga membuatnya jatuh sakit seperti sekarang ini. Biarlah keduanya bertemu dan harus saling menerima satu sama lain. Rey yang harus menerima Marwa bukan Bintang. Dan Marwa yang harus menerima Rey bukan karena terpaksa. Melainkan dengan bagaimana kesungguhannya yang selama ini mengatakan bahwa dia telah jatuh hati kepada pria itu.
Pria yang menggunakan kemeja berwarna putih dengan dasi yang terpasang rapi di lehernya, tiba di rumahnya dia langsung masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan istri dan juga istri keponakannya yang tengah sibuk berada di dapur membuat kue bersama.
Dimas menghampiri keduanya dan memberitahukan tentang keadaan Rey yang kini sedang dirawat pribadi di rumah oma.
"Ke rumah oma sekarang!" ajak Dimas. Tetapi Marwa terdiam sejenak dan berhenti dari kegiatannya.
Dimas yang menyadari hal itu langsung mendekati Marwa. "Marwa, kenapa?"
Perempuan itu terdiam sejenak kemudian mencuci tangannya. "Aku belum siap ketemu sama Mas Rey,"
Pria itu kemudian bingung dengan apa yang dikatakan oleh istri keponakannya.
"Kenapa belum siap?"
"Karena aku belum bisa untuk ketemu sama dia, Om. Sementara waktu jangan beritahu dia,"
Dimas semakin tidak mengerti dengan ucapan perempuan itu, barangkali Marwa juga merasa kecewa dengan tindakan Rey yang selama ini kurang baik terhadap istrinya. Tetapi Dimas tidak ingin memaksa, ia pun berusaha untuk memahami kondisi perasaan perempuan itu.
"Kamu belum siap ketemu Rey karena apa?"
Marwa tersenyum. Di sana dia memang diminta untuk membuka cadarnya, karena beberapa kali Marwa sesak ketika berusaha untuk mengingat dengan paksa tentang Rey.
"Aku butuh waktu untuk bisa menjawab semua ini, Om. Intinya aku belum siap untuk bertemu dengan Mas Rey, mungkin nanti. Jangan paksa aku untuk ketemu sama dia, itu aja Om,"
Dimas pun tak ingin memaksa dan menatap ke arah istrinya.
"Marwa, kamu enggak kasihan sama, Rey?"
"Aku lebih kasihan sama perasaan aku sendiri yang berharap bahwa Mas Rey itu mencintai aku sebagai Marwa, bukan sebagai Bintang. Kalau ternyata Mas Rey itu masih terbayang sama ingatan masa lalu tentang aku yang dulu, aku belum mau bertemu sama dia,"
Dimas terkejut dengan ucapan Marwa. "Marwa, maksud kamu apa?"
"Beberapa kali aku berusaha untuk memaksakan diri mengingat semua kenangan aku sama dia, aku baca buku diary yang di mana aku tulis khusus untuk dia waktu itu, aku ingat bahwa aku pernah pergi sama dia dulu,"
Sepasang suami istri itu mengangkat bahu karena masih tidak mengerti dengan ucapan Marwa.
"Om masih enggak ngerti sama kamu,"
"Aku ingat kenangan aku sama Mas Rey," ucapnya pelan.
Dimas tersenyum dan Viona meraih bahu Marwa kemudian mengelus punggung perempuan itu dengan pelan. "Tapi aku enggak bisa terima kalau Mas Rey masih ingat-ingat soal Bintang, Bintang udah enggak ada,"
Pria itu mengangguk pelan. "Iya, bagaimanapun juga Om senang kalau kamu mulai ingat dengan kenangan kamu sama Rey,"
"Tapi jangan beritahu Mas Rey dulu ya, aku belum siap,"
"Kenapa?"
Marwa menggeleng, dia mengingat kenangan yang dahulu, ketika mereka memuncak Rey mencium keningnya dan itu merupakan ingatan yang membuat Marwa benar-benar sakit. Sebebas itu dirinya dengan Rey dulu, dan ketika membaca semua buku diary yang dia tulis, walaupun sulit untuk mengingat. Tapi perlahan dia mengingat dengan sangat baik tentang mereka yang pernah pergi bersama. Mungkin beberapa ingatan belum sepenuhnya kembali, hanya kenangan yang di mana dia bisa ingat dengan baik.
Bahkan, dia ingat waktu itu dia berjanji akan bertemu dengan Rey. Tetapi batal; karena suatu insiden pemukulan yang dia alami. Hal itu masih menjadi pertanyaan bagi Marwa. Kenapa dia harus mengalami insiden itu kemudian membuat orang tuanya menjauhkan dia dari Rey?
"Om, aku izin pergi ya,"
Dimas mengangkat alisnya sebelah setelah mendengarkan permintaan Marwa yang terdengar seperti orang yang ingin menghindar dari masalah itu.
"Kenapa?"
"Aku cuman pengin tahu bagaimana Mas Rey dulu. Aku pengin pulihkan ingatan aku, Om. Jangan sampai nanti Mas Rey kenal aku dengan sosok Bintang lagi," ucapnya sambil tersenyum.
"Tapi mau pergi ke mana? Om bakalan susah untuk bertemu sama kamu lagi?"
Marwa cemberut. "Ada apa dengan ekspresi itu?" tanya Viona.
"Om, lusa adalah waktu di mana aku sama Mas Rey janji untuk ketemu di taman, aku pengin lihat bagaimana reaksi Mas Rey nanti. Aku enggak bakalan jadi Bintang lagi, aku bakalan tetap jadi Marwa. Yang di mana dia bisa nerima aku,"
"Sejauh mana kamu ingat tentang, Rey?"
"Enggak tahu, cuman aku ngerasa nyaman aja di dekat Mas Rey. Enggak ada kekhawatiran yang aku rasain saat sama dia, aku juga enggak mau buat dia terus merasa benci sama diri dia sendiri,"
"Kamu tahu dia nunggu selama 8 tahun dan itu berturut-turut setiap tahunnya di taman?" tanya Dimas ingin memastikan. Tiga hari sudah semenjak Rey tahu tentang Marwa. Perempuan itu juga berusaha untuk mengingat suatu kejadian di mana mereka pernah bertemu dulu.
Dibantu oleh Jenny untuk mengingat beberapa kenangan. Bahkan Jenny mengajak Marwa pergi ke sekolah. Dimas sendiri tidak mempertemukan Rey untuk sementara waktu karena kondisi Marwa yang sering jatuh pingsan ketika berusaha mengingat itu semua. Dia masih belum percaya akan dirinya yang sudah mengenal Rey sangat lama.
"Kalau Om kasih kamu izin pergi, kamu janji bakalan balik lagi? Om cuman enggak mau buat Rey sakit lagi karena mencintai kamu. Mencintai orang selama delapan tahun lebih itu sakit, Marwa," jelas Dimas.
"Om, mungkin ini agak keterlaluan. Tapi giliran aku yang bakalan nungguin Mas Rey di taman. Kalau dia datang dan ingat tanggal itu, berarti dia memang nerima aku, kalau memang enggak, aku bakalan pergi dari hidup dia. Berusaha lupain dia, biar aku yang tanggung perasaan yang pernah dia rasakan itu sama aku,"
"Marwa, jangan berkata seperti itu, Om mau kalian tetap sama-sama,"
"Jangankan, Om. Aku juga sudah terlanjur sayang sama Mas Rey. Enggak semudah itu juga ninggalin dia, kan? Dia aja bertahan selama delapan tahun sama aku, tapi dia enggak pernah ketemu sama aku, dia masih bisa sabar. Kenapa aku enggak bisa sabar selama nungguin dia di taman,"
"Jadi benar kalau kamu bakalan datang ke taman? Enggak bakalan pergi lagi?"
Marwa mengangguk dan tersenyum, Dimas merasa sedikit lebih lega dengan perasaan takut itu. "Janji?"
"Selama Mas Rey enggak benci, aku bakalan nungguin dia,"
"Rey enggak tahu kamu di sini, dia sudah nyariin kamu beberapa hari, dia mukulin Leo karena merasa dibohongi selama ini, bahkan dia sempat bertengkar dengan Fendi juga. Tapi semua itu sudah berlalu, Rey sekarang jatuh sakit,"
"Mas Rey enggak pernah mabuk kan walaupun masalahnya berat?"
"Rey enggak pernah mabuk, cuman ya itu, Om kaget dengar dia waktu mukulin Leo,"
"Semoga dia enggak pernah lari ke hal yang mengerikan seperti mabuk dan yang lainnya ya,"
Perasaan Dimas mulai gelisah ketika akan memberikan izin kepada Marwa untuk pergi dari rumah.
"Berapa hari perginya? Pulang ke rumah Mama ya!" perintah Dimas.
Marwa menggeleng. "Aku mungkin butuh waktu untuk sendiri, dan enggak bakalan pulang ke rumah orang tua. Mama sama Papa benci sama Mas Rey. Enggak mungkin aku bilang kalau aku berusaha untuk pulihkan ingatan, Mama sama Papa pasti bakalan lakuin cara untuk larang aku ketemu sama Mas Rey. Semenjak insiden itu, Papa buang semua barang-barang aku,"
Dimas tak berkomentar apa pun lagi, dia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istri dari keponakannya itu.
"Marwa tinggal di mana?"
"Di hotel, Om. Beberapa hari aja,"
Dimas menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Berat rasanya membiarkan perempuan itu pergi dari rumahnya dan tinggal di tempat lain untuk sementara waktu. Mengingat kondisi Marwa yang seringkali sesak dan jatuh pingsan jika memaksakan diri.
"Siapa yang jagain kamu nanti?"
"Aku bisa jaga diri, Om,"
Dimas menggeleng, dia tidak setuju dengan perempuan itu yang akan tinggal sendirian.
"Om minta Clara untuk nemenin ya!" tawar Dimas.
"Jangan Om. Clara sibuk,"
"Om bakalan ngomong, kalau kamu enggak mau ditemani Clara. Om enggak bakalan izinin kamu keluar, ingat kondisi kamu, kamu sering pingsan. Om enggak bakalan izinin kalau enggak ada yang nemenin,"
Marwa pun akhirnya mengangguk menyetujui permintaan Dimas. "Tapi jangan bilang sama Mas Rey kalau aku pergi sama Clara!"
"Tenang aja, nanti Om bakalan kasih tahu orang-orang di sana tanpa sepengetahuan suami kamu. Yang penting jangan paksain diri, tunggu Clara datang baru boleh pergi, ya!"
"Om berangkat kapan?"
"Om mau jemput Clara dulu. Nanti kalau kalian udah berangkat bareng, baru deh Om sama Tante bareng jengukin suami kamu,"
Ada sedikit ketenangan yang dirasakan oleh Dimas ketika Marwa mau ditemani oleh Clara. Dia harus pandai-pandai bekerja sama dengan gadis itu agar tidak ketahuan oleh Reynand nanti.