
Malam itu mereka pulang agak larut karena adiknya minta untuk jalan-jalan sebentar. Dengan keadaan yang sangat lelah, dia tetap menuruti kedua adiknya. Hingga tiba di rumah, Rey melihat mobil orang tuanya sudah terparkir di sebelah rumahnya itu artinya kedua orang tuanya sudah pulang lebih awal darinya.
Rey keluar dari mobil dan mengangkat Salsabila yang ketiduran dipangkuan istrinya. Sedangkan Nabila berada di bangku paling belakang dan tidur sendirian di sana. “Loh, Nabila mana?” Papanya yang langsung menyambut kepulangan mereka berdua. Rey dan juga Marwa masuk terlebih dahulu. Sedangkan sopirnya sedang berusaha mengeluarkan Nabila yang masih tidur di sana.
“Nabila masih di mobil, Pa. dua-duanya tidur tadi karena kecapean,” ungkap Rey dan mamanya membantu membuka pintu kamar.
Setibanya di sana, ia meminta agar istrinya istirahat terlebih dahulu karena ada yang harus ia bicarakan dengan orang tuanya mengenai kepindahan mereka yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Rey ingin waktunya besok adalah untuk menemani kedua adiknya mengerjakan tugas sekolah dan juga pergi ke rumah mertuanya untuk memenuhi undangan papa Marwa yang mengajaknya untuk makan malam di sana. Barangkali ia akan menginap di sana bersama istrinya untuk satu malam sebelum mereka pindah.
Rey belum membicarakan tentang hal itu kepada Marwa. Barangkali papanya sudah memberitahu lebih awal dibandingkan dengan dirinya. Karena Rey tahu bahwa istrinya masih sering sekali berkomunikasi dengan orang tuanya walaupun hanya dari telepon.
Setelah papanya menyusul mengangkat Nabila dari mobil menuju kamar, ia mendekati papanya. “Papa capek?”
“Nggak sih, karena tadi justru Papa pulangnya lebih awal terus tidur sebentar. Mama kamu khawatir kalau kalian belum makan malam. Marwa kan masih belum bisa cium bau nasi, terus adik kamu nggak suka makanan buatan bibi selain masakan Mama kalau lagi di rumah,”
Rey mengangguk pelan sambil mengikuti langkah ke mana papanya akan pergi. Mereka tiba di ruang keluarga yang ada dilantai dua, dia duduk bersebrangan dengan papanya. Disusul oleh mamanya yang tadi di sana sedang menyelimuti kedua anak perempuan itu.
“Rey, Mama dengar kamu udah beli rumah?”
“Mama tahu dari siapa?”
“Kamu tuh ya nggak ngomong dulu sama orang tua. Leo yang ngasih tahu Mama kalau tadi siang kamu beli rumah, udah gitu kalian udah rencanain pindah aja. Mama sayang loh sama kalian berdua,”
“Ma, aku juga sayang sama kalian berdua. Tapi bagaimanapun juga kan aku butuh waktu berdua sama istri aku,”
“Ya mau gimana lagi kalau kamu sudah maunya seperti itu. Mama nggak bisa larang. Kamu pindahnya kapan?”
“Kurang dari seminggu sih, Ma. Besok udah mulai dibersihkan,”
“Ya sudah, jangan lupa syukuran!”
“Pasti itu, Ma,” ucap Rey sambil mengelus punggung mamanya yang ada disebelahnya. Dia tahu bahwa mamanya yang menolak jika mereka berdua tinggal di tempat lain. Tapi bagaimanapun juga dia ingin hidup bersama sang istri berdua di luar.
Rey mengatakan kepada orang tuanya bahwa dia bisa menjadi suami yang baik untuk istrinya dan bisa menjaga Marwa dengan baik saat mereka nanti tinggal di luar berdua. Ia juga mengatakan bahwa dia akan menjaga istrinya dengan sangat baik, akan lebih meluangkan waktu bersama istrinya.
Meskipun dengan berat hati untuk tinggal di luar bersama istrinya seperti dulu lagi. Tapi mamanya sudah terbiasa dengan berbincang banyak hal dengan Marwa. Mulai dari menceritakan masa kecil Rey, dan banyak lagi cerita-cerita yang dibagikan oleh mamanya. Bahkan sebelum tidur Marwa selalu meminta diceritakan masa kecil Rey.
Sejenak ia menengok ke arah kamarnya. Rey duduk kembali, “Ma, Pa. besok aku bakalan nginap di rumah mertua aku. Dan yang mengejutkannya lagi adalah Papa Marwa udah tahu dari dulu soal aku sama Marwa yang hendak ketemu tapi kecelakaan itu kemudian menimpa Marwa,”
“Terus?” tanya papanya yang terkejut dengan ucapananya barusan. Pasalnya dia juga tahu bahwa papanya akan membantu jika ia gagal bicara baik-baik dengan orang tua istrinya. Tetapi setelah perbincangan mereka tadi. Akhirnya Rey sadar bahwa selama ini ketakutan yang dia tahan akhirnya bisa terjawab juga dengan baik.
“Mereka bilang apa?” tanya papanya lagi.
Rey yang tadi melamun kemudian memperbaiki posisi duduknya. “Papa dia undang kami berdua untuk makan malam di rumahnya besok. Terus papa dia minta kita makan malam sebagai perayaan untuk kehamilan Marwa,”
“Kalian nginap?”
“Papa juga di undang loh! Bukan cuman aku aja. Tapi aku sih nginap, Pa,”
“Makanya pendekatan sama mertua, jangan bisanya hamilin anak orang terus nggak mau bawa anak orang pulang ke orang tuanya. Kamu nggak kasihan apa lihat istri kamu pengin pulang?” protes mamanya. Rey tertawa sambil menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
“Mama bisa aja,”
“Lah iya. Marwa udah beberapa kali ngeluh ke Mama kalau dia pengin pulang. Waktu itu kamu nggak bolehin dia ke mana-mana. Dia bilang kamu ngurung dia di rumah. Padahal dia pengin ketemu sama Mamanya. Pengin masakan mamanya waktu itu, awas kalau anak kamu ileran, abis kamu sama istri kamu Rey,” ledek mamanya. Dia tidak tahu bahwa selama ini istrinya ingin pergi ke rumah orang tuanya. Dia selalu melarang Marwa keluar. Walaupun sekadar ikut menjemput kedua adiknya ke sekolah. Bahkan ketika oma sakit, Rey menahan istrinya agar tidak ikut dan terjadi pertengkaran waktu Rey pulang ke rumah agak telat.
Rey terkekeh mendengar celoteh mamanya karena memang dia menahan istrinya beberapa hari lalu. “Besok kan aku sengaja libur biar bisa ajakin dia pulang, Ma,”
“Telat, besok nggak ada artinya kalau dia penginnya kemarin-kemarin, Rey. Kalau aja rasa masakan Mama sama masakan Mama dia sama pasti Mama buatin. Dia tuh bilang kalau kamu nggak ngasih keluar waktu Mama ajakin dia ke rumah Mamanya,”
“Hehe, dia kan nurut, Ma.”
“Nurut sih nurut, Rey. Tapi jangan batasi istri kamu bertemu sama orang tuanya. Sesayang apa pun kamu. Mama nggak suka, Rey. Karena bagaimanapun juga Mama itu perempuan dan tahu gimana rasanya terkekang,”
“Iya, Mama,”
“Jangan cuman ya doang. Nanti malah dilanggar lagi, nanti malah marah lagi kalau nggak nemuin istri di kamar. Istri di taman aja nyarinya udah kek nyari harta karun,”
“Mama nggak tahu aja dia lebih penting dibandingkan harta,”
“Itu laki-laki sejati, biar nggak usah nyari yang lain lagi, iya nggak Pa?” mamanya menyenggol tangan papanya hingga pria itu terkekeh kemudian mengiyakan ucapan mama Rey. Dia tahu bahwa papanya berusaha menghargai apa pun yang diucapkan oleh mamanya.