
“Anda jangan seenaknya mutusin kontrak gitu aja, ini sudah setengah jalan. Dan anda mau putusin gitu aja? Yang benar saja, saya bisa rugi besar,” teriak Refi karena Rey mengajukan surat pembatalan kontrak bersama dengan Leo.
Sesuai dengan intruksi dari papanya. Dia memberanikan diri untuk datang ke kantor Refi untuk membatalkan itu semua. Tidak pernah ada keinginan untuk membuat nama baiknya jatuh hanya karena pembatalan kontrak tersebut. Akan tetapi demi rumah tangganya agar tetap utuh. Karena kelakuan Alin yang sudah masuk dalam kategori keterlaluan itu. Rey menjadi sangat emosi karena perbuatan Alin yang tidak bisa lagi ditoleransi.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang yang di mana waktu untuk istirahat makan siang. Refi yang nampaknya sangat frustrasi dengan hal itu.
Beberapa saat kemudian, pintu diketuk oleh sekretarisnya dan mengatakan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya. Sontak pria itu langsung menatap ke arah Rey dengan kesal. “Bilang sebentar lagi karena saya ada urusan,”
“Maaf, Pak. Yang bertamu itu Pak Azka,”
Rey tersenyum saat mendengar nama itu. Memang dia tidak pernah mengatakan kepada Papanya bahwa dia butuh pertolongan. Akan tetapi pria itu datang saat dibutuhkan. Bahkan Leo yang ada di sana ikut tersenyum ketika mendengar Azka yang datang.
“Persilakan dia masuk!” ucap Refi kepada sekretarisnya. Beberapa saat kemudian Azka datang bersama beberapa orang yang hendak menyelesaikan itu semua.
“Selamat siang,” sapa Azka dengan seramah mungkin. Melihat ekspresi Refi yang begitu kacau karena kedatangannya. Azka langsung menghampiri anaknya. “Belum selesai masalahnya?” tanya Azka kepada putranya. Rey menggeleng dan menatap Refi dengan tatapan yang tidak suka.
“Bagaimana bisa dibatalkan dengan cara seperti ini? Saya bisa rugi besar,”
Azka berdiri sambil membuka kancing lengan kemejanya dan membelakangi Refi. “Bagaimana bisa anak anda diperintahkan untuk menghancurkan rumah tangga orang lain hanya karena bisnis. Jangan pernah jadikan rumah tangga itu sebagai permainan. Uang mungkin bisa dicari, tapi keutuhan rumah tangga itu sangat sukar dipertahankan. Ingatlah bahwa anak anda itu perempuan, jangan sampai nanti kena karma. Mau rebut suami orang hanya karena diperlakukan baik?” ucap Azka memperdaya pikiran Refi yang dia ketahui dari anaknya bahwa pria itu memang sengaja meminta anaknya untuk menghancurkan rumah tangga Reynand.
Refi terkejut mendengar pernyataan Azka. “Maksud anda apa? Anda jangan main-main sama saya,”
“Bukankah sudah sangat jelas bahwa kalau yang dimanfaatkan di sini adalah anak anda. Dan menghancurkan rumah tangga anak saya? Jadi tujuan anda sebenarnya apa?”
Refi tersenyum sinis kepada Azka. “Bukan anak saya yang menggoda anak anda. Tapi karena anak andalah yang selalu keluar bersama anak saya. Jadi siapa yang salah? Apa salah anak saya terus saja berusaha untuk mempertahankan hubungannya dengan anak anda? Tidak ada hubungan bisnis sama sekali dalam semua ini. Bisnis ya bisnis, dan urusan anak kita adalah urusan mereka berdua orang tua tidak berhak ikut cmapur untuk semua ini,”
Azka menatap anaknya yang melihatnya dengan tatapan yang begitu dalam tidak mungkin Rey akan datang kepadanya jika masalahnya tidak sebesar sekarang ini. Apalagi dia bilang bahwa dia dan istrinya tidak saling tegur walaupun sudah berusaha untuk menegur istrinya. Tetapi Marwa hanya terdiam. “Untuk soal ganti rugi, saya yang akan mengganti semua itu. Jangan pernah lagi untuk melibatkan anak anda untuk menggangu anak saya. Dan masih banyak pria lain di luar sana,”
“Apa anda mengatakan anak saya pelacur karena telah berhasil merebut hati anak anda?”
Azka tersenyum sinis. “Bahkan pelacur lebih terhormat dibandingkan perempuan berpendidikan tinggi tapi hanya bisa merebut suami orang lain. Pelacur hanya butuh uang, lalu pergi tanpa berminat mengambil suami orang lain. Tapi perempuan yang berusaha untuk merebut suami orang lain walaupun dia pendidikannya tinggi, bukankah itu jauh lebih rendah?”
Leo tersenyum menahan tawanya mendengar omnya berkata demikian. Sebaik-baiknya Azka dalam menyikapi masalah selama ini. Baru pertama kali dia melihat omnya berkata demikian dan melawan pria yang sama sekali keras kepala sedari tadi tidak ingin kalah.
“Berapa yang harus dibayarkan oleh Rey untuk menyelesaikan semua ini?”
Refi geram karena sepertinya Azka kali ini tidak bisa diajak kompromi dengan ekspresi yang menakutkan seperti itu. Tidak ada keteduhan sama sekali yang ada di ekspresi itu. Hasilnya, di ujung pembicaraan mereka. Azka membayar semua ganti rugi yang harus dibayarkan oleh anaknya kepada Refi.
“Pulang!” ajaknya kepada Rey setelah mengganti semua itu. Leo di sana pun ikut beranjak dari tempat duduknya. “Lain kali kalau mau berbisnis, lakukan dengan cukup melibatkan diri dengan orang yang bersangkutan. Tidak perlu melibatkan orang lain lagi. Apalagi bisnis untuk berkeluarga, itu jangan sampai terjadi. Saya sudah hafal dengan taktik seperti itu. Bukankah terlalu licik dengan hal yang melibatkan anak untuk menghancurkan rumah tangga orang?” ketus Azka yang benar-benar geram dengan perbuatan Refi dan juga anaknya. Andai saja istrinya tahu siapa perempuan yang berani mendekati Rey hingga seperti itu, dia pasti sudah benar-benar mengamuk. Akan tetapi Azka sendiri tidak tahu karena Rey hanya menceritakan bagaimana dengan sengajanya Refi membuat Rey dan perempuan itu selalu bersama setiap waktu.
Mereka kemudian berpisah di parkiran kantor. “Mungkin nanti sore Papa sama Mama bakalan ke rumah kamu, Rey. Jadi pulangnya hati-hati ya!”
Rey kemudian bersalaman dengan papanya dan pergi bersama dengan Leo dari perusahaan itu. Di dalam mobil, Leo terus mengingatkan dirinya mengenai apa saja yang dilakukan oleh Rey. “Sebenarnya kakak merasa bersalah juga nggak sih karena semua ini?”
“Tentu saja Leo. Karena kakak adalah orang yang sudah memberikan celah kepada dia,”
“Apa yang kakak rasakan selama ini waktu sama tuh perempuan?”
“Intinya kakak nggak pernah menaruh hati. Yang buat kakak merasa bersalah itu adalah ketika kakak mengabaikan Marwa. Pertama ketika sarapan, kakak bilang kalau kakak sarapan diluar. Tapi, kakak dibawain oleh perempuan tadi,”
“Dan kakak makan?”
Rey mengangguk. “Kakak sudah mulai terbawa suasana. Sampai-sampai kakak milih masakan orang lain dibandingkan dengan istri kakak sendiri, terus waktu itu Kak Marwa masak?”
“Iya dia masak. Tapi karena takut telat kan, kakak jadi berangkat gitu aja tanpa sarapan,”
“Kakak itu pimpinan. Nggak masalah kalau kakak tuh telat tapi sewajarnya. Jadi ini yang buat berantakan itu kakak,”
“Iya, tapi kakak nggak tahu kalau sampai dia tuh naksir sama kakak. Waktu dia bilang kalau ternyata selama ini dia suka sama kakak. Tentu saja kakak kaget dan di situ kakak ngerasa bersalah sama dia dan juga Marwa.”
Dia berkata bahwa selama ini yang membuat masalah itu adalah dirinya. Dan hingga saat ini Rey sadar bahwa kesalahannya adalah membuat hati istrinya sakit tanpa dia pikirkan hal itu sebelumnya. “Harusnya kakak nggak berlaku seperti itu,”
“Hmmm, aku tahu,”
“Tahu tapi kakak lakukan. Apa gunanya kakak mengerti dengan hal ini, akan tetapi kakak justru memberikan celah kepada orang lain untuk masuk ke dalam rumah tangga yang selama ini sudah kakak jaga dengan sangat baik. Aku pikir kakak bakalan bisa jaga hati dengan baik, jujur aku sempat kecewa karena dengar kakak cerita. Apalagi itu bersangkutan dengan perempuan,”
“Ya kakak juga kecewa sama diri kakak sendiri,”
“Mungkin ini efek di mana dulu aku banyak pacar kali ya. Jadi waktu nikah nggak minat lirik-lirik lagi,” canda Leo yang sebenarnya untuk menyinggung Reynand. Karena sekali dekat dengan perempuan justru Rey benar-benar takluk hanya karena mencintai Marwa seorang diri.