RICH MAN

RICH MAN
TENTANG DIA



Tiba di hari di mana waktu yang akan menemui perempuan itu lagi, sembilan tahun dalam perasaan yang sama. Rey mengurut pelipisnya ketika berada di rumahnya, memikirkan apakah perempuan itu akan datang menemuinya atau tidak. Awalnya dia nampak begitu ragu untuk bisa bertemu dengan Marwa, tapi hati kecilnya menuntun untuk tetap datang ke taman itu untuk bertemu dengan Marwa. Jika pun akhirnya nanti hasilnya dia tidak akan bertemu dengan Marwa, tetapi dia telah berusaha untuk melakukan itu. Menepati janjinya setiap tahun, dan jika memang perempuan itu tidak datang, Rey akan benar-benar menyerah untuk menemukan Marwa yang tidak lain adalah kekasih hatinya di masa lalu.


Entah bagaimana dia harus berusaha untuk lebih tangguh lagi dari biasanya. Di saat dirinya yang baru saja sembuh, harus pergi untuk menemui perempuan itu di taman. Kondisinya yang masih sedikit lemah.


"Minum obatnya dulu!" Rey menoleh ke sumber suara. Di sana telah ada Oma yang membawa air putih dan juga obatnya. "Jaga kesehatan kamu, kalau kamu jatuh sakit lagi, kamu enggak bisa nemuin, Marwa," ucap Oma. Rey pun mengangguk, dia mengambil obat dan juga air putih yang di bawa oleh perempuan yang sudah menua itu.


"Oma, Mama mana?" ucap Rey sambil menahan batuknya. Kali ini dia benar-benar lemah. Tenaganya belum sempurna untuk pulih lagi, dia masih butuh istirahat untuk beberapa saat, akan tetapi dia memaksakan diri untuk bisa menemui Marwa.


"Hari ini diantar sama sopir, enggak boleh nyetir. Oma enggak mau cucu kesayangan Oma harus jatuh sakit lagi," ucap Novi sambil mengelus rambut cucunya dengan penuh kasih sayang. Semenjak Rey lahir, Novi sangat menyayangi anak itu dengan baik, mengingat bahwa waktu itu Azka pernah ingin menyia-nyiakan hidup Rey. Tumbuh menjadi seorang pria yang kini sudah beristri, sudah banyak rasa sakit yang diderita oleh Rey dan membuat Novi tak habis pikir dengan derita-derita yang dirasakan oleh cucu tertuanya itu.


"Oma, Mama ke mana? Oma belum jawab dari tadi," perkataan itu begitu lirih. Sore itu, dengan keadaannya yang lemah, Rey ingin memaksakan diri, untuk terakhir kalinya.


"Mama pergi ke rumah Om Dimas. Kenapa? Ohya Mama bilang kalau nanti kamu pulang ke rumah aja, rumah Mama kamu, Mama bakalan nungguin di sana,"


"Kenapa enggak bilang sama aku?" tanya Rey yang sedikit kesal karena mamanya tidak izin kepadanya untuk pergi. Sedari tadi dia menunggu perempuan itu di sana. Novi tahu bahwa anak dan menantunya itu akan menyambut kedatangan Rey dan Marwa nanti jika memang bertemu. Jika pun tidak, keduanya sudah pasrah menerima Rey yang seperti dulu lagi.


Dari sekian banyak kandidat yang pernah disarankan oleh orang-orang terdekat mereka, entah apa yang membuat Rey menyanggupi permintaan orang tuanya untuk menikahi Marwa waktu itu, tanpa ada persetujuan Rey sebelumnya, tiba-tiba saja dia diminta untuk menikahi perempuan itu.


Saat sedang sibuk berbincang dengan Oma di ruang tamu sambil membicarakan rencana berikutnya jika dirinya bertemu dengan Marwa. Ingin sekali Rey menebus kesalahannya atas apa yang dilakukannya dahulu, mulai dari menyia-nyiakan istrinya ketika masih bersama. Dan tidak pernah perhatian dengan lebih kepada Marwa layaknya suami istri. Ia hanya berusaha untuk bersikap manis, agar hatinya sedikit membaik. Menghargai kehadiran Marwa waktu itu, tetapi tidak membuatnya merasa jatuh cinta. Namun kini, semua sudah terjawab dengan sendirinya, memantapkan hati kepada perempuan itu tidak ada salahnya. Terlebih karena perempuan yang dicarinya itu adalah Marwa sendiri.


Pria itu menarik napas panjangnya mendengarkan celoteh Oma. Jujur saja dia merasa tidak suka mendengar Oma berkata demikian. "Oma, kadang ya kalau orang lupa ingatan itu, orang lain pun dianggap orang tua, orang lain di anggap suaminya, jadi enggak selamanya hati itu menang dari nalar," entah apa yang membuat Rey hingga berani berkata demikian, dia ingin membela sang istri karena selama ini dia juga tidak tahu bahwa istrinya adalah perempuan yang sedang hilang ingatan mengenai memori indah mereka dulu.


"Kalau misalnya nanti kamu enggak ketemu?"


Pria itu terlihat lesu. "Oma, kalau seandainya memang benar-benar enggak ketemu, apa yang mau aku katakan? Perihal waktu yang pernah aku habiskan berdua sama dia, aku sangat bersyukur sekali Tuhan memberikan izin atas aku bersama dengan dia, jika pun harus terpisah lagi. Aku akan mencarinya, selama masih berada di bawa langit yang sama, ke mana pun dia pergi. Aku akan tetap mencarinya, tidak peduli dia berada di belahan dunia mana pun, dia enggak boleh pergi untuk kedua kalinya, perginya seseorang itu terkadang bisa membunuh hati orang lain karena tindakan dia yang ceroboh itu,"


Novi tersenyum, mendengar semangat Rey untuk mencari keberadaan Marwa membuatnya sedikit jauh lebih tenang. Pasalnya, pria itu beberapa hari jatuh sakit hanya karena mencari keberadaan istrinya. Mereka semua tahu bahwa Marwa berada di rumah Dimas, dan setiap waktu mengenai kabar Marwa selalu diberikan oleh Dimas. Perempuan itu sudah cukup membaik, sedikit mengingat tentang Rey. Dan mengatakan bahwa dia sudah berjanji untuk menemui Rey di taman. Novi sendiri percaya bahwa Marwa akan datang ke tempat itu untuk melunasi hutangnya sembilan tahun silam karena tidak bertemu dengan Rey.


Ada jeda antara perbincangan keduanya. Rey terdiam karena memikirkan untuk membeli bunga lavender nanti ketika berangkat, dia ingat dengan baik, di rumahnya yang ditempati bersama dengan Marwa aroma khas lavender. Perempuan itu sangat menyukai bunga Lavender. Harapan itu begitu membuncah, yang di mana Rey sangat berharap bahwa rumah tangganya utuh kembali tanpa ada permasalahan tentang suatu kesalahpahaman seperti sekarang ini.


Dia sudah malas membuang waktu untuk menunda pertemuan itu lagi. Bahkan ketika dia mencari barang-barang yang dulu diasingkan itu, Mamanya mengatakan bahwa barang itu sudah dilenyapkan, sempat berpikiran bahwa dia tidak akan pernah berkumpul lagi. Akan tetapi, kini semua terserah semesta. Menyatukan atau justru memberi luka yang kemudian akhirnya membuat mereka paham, bahwa tidak semua orang yang saling mencintai bersatu. Mungkin ada cara yang direncanakan oleh semesta agar mereka berpisah.


******Sebentar lagi bakalan selesai ceritanya. Hehehe bila ada yang kurang menyenangkan, mohon maaf ya. Atau bahkan tidak sesuai seperti yang pembaca harapkan, mohon maaf sebesar-besarnya. Karena tidak semua pembaca bisa dipuaskan, mungkin karena pikiran kita berbeda. Dan menulis cerita hingga sepanjang ini butuh konsentrasi dan kesabaran karena baca komentar-komentar yang kadang jempolnya enggak bisa ditahan, paling pintar nyakitin hati penulis. Padahal bacanya gratis, bully penulis paling bisa, bagaikan raja/ratu. Cobalah menulis, biar tahu susahnya itu seperti apa. Jangan asal komentar ini itu, yang seolah enggak punya hati untuk menjaga hati orang lain.


Tetap tunggu ya. Semoga endingnya memuaskan kalian semua sebelum Rich Man pamit. Wkwkwk, banyak yang protes kenapa enggak ganti judul. Hehehe coba ingat nama tokohnya. Semuanya masuk di judul. Jadi alasannya itu, judul sama semua nama tokoh nyambung.


Next, pertemuan***.