RICH MAN

RICH MAN
DICINTAI DENGAN SEMPURNA



Malam itu, Rey pulang dari rumah oma dan membawakan makanan untuk istrinya. Barangkali istrinya lapar dan menginginkan makanan luar. Rey berusaha menjadi suami yang selalu ada untuk istrinya. Bahkan sebelum pulang tadi dia menelepon istrinya dan menanyakan apa yang diinginkan oleh Marwa. Dan perempuan itu menginginkan martabak yang tidak jauh dari rumah sang oma.


Seberapa bahagianya dia menikah dengan Marwa tentu tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata lagi. Tentu saja rasa syukurnya yang begitu besar dan selalu membuatnya rendah hati kepada siapa pun karena apa yang pernah menjadi sumber sedihnya itu kini menjadi sumber bahagianya. Rey yang juga membantu yayasan milik papanya. Sesekali dia berkunjung ke sana.


Pria itu telah tiba di rumahnya, dia langsung memanggil nama Marwa yang berharap bahwa dia akan menemukan istrinya ikut berkumpul di ruang keluarga.


“Tumben pulangnya telat, Rey? Banyak kerjaan?” tanya mamanya yang sedang membawa minuman untuk papanya yang berada di ruang keluarga.


Rey menggeleng dan menyerahkan kantong plastic berwarna putih berisikan martabak sama seperti yang ia belikan untuk istrinya. Tidak mungkin jika dia hanya membeli untuk Marwa saja tanpa memikirkan kedua adiknya dan juga orang tuanya. Meskipun itu adalah makanan sederhana, akan tetapi dia tetap ingin berbagi dengan adil. “Enggak, Ma. Aku enggak sibuk. Cuman tadi sebelum pulang ke rumah aku pergi ke rumah Oma. Jengukin dia, nemenin dia. Suapi dia makan, dan lagi ngobrol banyak sama Opa. Enggak ketemu sama Om Reno sih, katanya dia ada tugas di luar. Jadi tadi aku sempat ketemu juga sama Leo,”


Mamanya ber-oh. “Jadi, kamu enggak ada niat gitu jengukin Amanda dan tengokin keponakan kamu ke sana?”


“Kalau sama Marwa belum, Ma. Jadi nanti kalau dia udah baikan pasti aku ajak kok. Mama jangan khawatir aku masih ingat kok status keluarga kita. Enggak bakalan lupa karena udah bahagia sama istri,” jawab Rey sambil menyeringai.


Nabila berdiri dan menoleh ke arah Rey. “Kak, itu apa?” tunjuk Nabila ke plastic yang berwarna putih itu.


“Martabak, untuk kalian. Kalau Papa sih kayaknya enggak suka makanan yang seperti itu,”


“Siapa bilang Papa enggak doyan yang beginian?”


“Lah, Papa bilang kan enggak mau makan sembarangan apalagi yang berminyak gitu. Papa tuh jaga tubuh banget soalnya, takut buncit sih yang paling utama. Katanya enggak mau buncit dan enggak bisa godain bawahan di kantor katanya,” goda Rey sengaja membuat Papanya mati kutu berada di sana.


“Kapan Papa pernah bilang gitu?”


Nagita yang mendengar ucapan Rey langsung menampilkan raut wajah yang begitu kesal dan tentu saja dia sangat cemburu terhadap suaminya yang berkata demikian. Apalagi dia tidak bisa lagi untuk memberi keturunan seperti harapan Azka.


Rey terkekeh melihat raut wajah mamanya. “Bercanda, Ma. Papa mana berani sih selingkuh dari Mama sekarang. Yang ada nanti Papa nangis lagi kayak dulu. Papa tuh kan sayang banget sama Mama,”


“Nah itu baru benar. Jangan macam-macam, Rey. Papa pelintir kamu nanti. Tahu kan kalau Mama marah akibatnya itu Papa bisa disuruh tidur di luar. Enggak jauh beda pokoknya nasibnya kayak kamu,”


“Jangan bilang apa yang dikatakan oleh Rey itu benar, kalau ternyata selama ini Papa bilang enggak mau makan sembarangan dan takut buncit biar ada yang mau sama Papa. Terus Papa nyari perempuan lain lagi karena Mama udah enggak bisa ngasih anak lagi karena takut berisiko,” ucap Nagita memastikan apa yang dikatakan oleh Reynand tadi itu benar adanya.


Rey menahan tawanya melihat tingkah papanya yang berusaha merayu mamanya yang sedang merajuk. Ia sangat senang ketika melihat keharmonisan orang tuanya yang masih terjaga hingga saat ini meskipun seringkali mendengar keduanya bertengkar dan pada akhirnya papanya yang selalu mengalah.


Sebagai contoh yang baik. Tentu saja Rey berusaha untuk mencontoh sikap papanya yang selalu berusaha mengalah setiap kali mereka berdua bertengkar. Rey tidak pernah merasa begitu bahagia selain melihat kedua orang tuanya begitu akrab dan saling mengisi kekurangan satu sama lain.


“Papa sama Mama tuh ya enggak pernah berubah dari dulu,” ucap Rey. “Ngomong-ngomong Marwa ke mana, Pa?”


“Di kamar lah. Dia rajin ngaji. Katanya biar anaknya nanti terbiasa dengar suara dia ngaji,”


“Istri tercinta tuh ya. Wah banget pokoknya,” ucap Rey tanpa sadar.


“Muji istri nih ye,” goda adiknya. Rey terkekeh ketika mendengar adiknya menggodanya. Rey bahagia berada di rumah itu. Karena dia selalu merasa ramai. Akan tetapi mengingat ucapan Leo tadi ketika mereka berada di rumah sang Oma. Dia pun berpikir kembali bahwa dia akan membeli rumah lain dan memulai semuanya dari nol bersama dengan istrinya. Bahtera rumah tangga hanya mereka yang tahu tanpa ada campur tangan dari orang lain.


Rey berharap bahwa Marwa segera membaik. Bukan berarti dia ingin meninggalkan keluarganya. Tetapi semua itu harus dilakukan, karena dia tahu bahwa selama terus tinggal bersama dengan orang tua. Sehebat apa pun mamanya menyayangi Marwa, masalah tidak pernah bisa ditebak. Barangkali mamanya akan mempermasalahkan Marwa kelak. Walaupun itu tidak pernah terjadi saat ini, akan tetapi dia berusaha untuk tetap membahagiakan orang yang dia cintai.


Tetap taat terhadap kedua orang tuanya, begitupun mendidik Marwa agar tetap bisa bersabar dan taat terhadapnya. Selaku suami, dia juga berusaha untuk mengisi kekurangan istrinya. Dia tahu bahwa kekurangan istrinya begitu banyak. Pun begitu dengan kekurangan dirinya yang merasa sangat dilengkapi semenjak keberadaan Marwa.


Terkadang memang istrinya berpikir begitu labil dan mudah cemburu. Apalagi sering menuduhnya yang tidak-tidak. Marwa paling sering menuduhnya berselingkuh di luaran sana dengan perempuan lain. Tapi berusaha untuk dimengerti oleh Reynand karena istrinya yang tengah hamil memiliki emosi yang tidak stabil.


 


 


Ia berusaha dengan lembut untuk menenangkan semua kecurigaan istrinya. Tidak ingin lagi bahwa kesalahan yang menyenangkan itu membuat hati istrinya sakit. Dia berusaha untuk tetap setia. Menjaga hati perempuan yang sudah menyerahkan dunianya untuk Rey. Sebagai seorang pria yang dicintai. Bersyukur bahwa ada perempuan sebaik Marwa yang mencintainya dengan begitu sempurna.