
Pagi hari Rey sudah siap dengan setelan kerjanya. Dia melihat anak pertamanya malah ada di meja makan dengan pakaian santainya. Anaknya sedang sarapan dan makan roti bakar yang disiapkan Marwa. “Papa mau kerja?”
“Iya kerja dong sayang. Kenapa nggak sekolah?”
Audri yang sedang makan itu memiringkan kepalanya lalu menoleh ke arah Rey. “Papa kan ini tanggal merah. Kenapa Papa kerja?”
Rey yang melirik ke arah istrinya. “Iyakah?”
Audri turun dari tempat duduknya lalu berlari ke kamarnya mengambil kalender kecil miliknya. Tidak lama setelah itu anaknya keluar dari kamar dan langsung memberikan kalender meja yang diserahkan untuk Rey. “Lah iya, ini tanggal merah. Kenapa aku nggak tahu?”
Audri malah tertawa karena Rey yang sudah siap-siap pagi ini mau pergi ke kantor. Marwa yang tertawa juga melihat anaknya yang sangat merasa lucu dengan sikap Rey. “Papa sih nggak lihat kalender dulu,”
Ia tertawa juga dengan tingkahnya. “Padahal mau beliin susu buat Mama sama Abi lho nanti kalau Papa pulang,”
“Sama Ody aja, Pa. Mau beli es krim juga,” kata Audri yang kembali menikmati sarapannya bersama dengan Rey dan juga Marwa di sana. sedangkan anak keduanya masih tidur di kamar. “Papa, jarang-jarang kan main sama Ody. Papa sibuk kerja,” kata anaknya yang protes dengan kesibukannya.
“Ody tahu nggak Mama hamil? Bentar lagi Ody punya adik,”
Audri mengangguk saat melipat rotinya. “Tahu dong, Pa. kan Mama kemarin periksa sama Ody, terus di rumah sakit katanya Mama hamil lagi. Nanti banyak adik, banyak juga yang ribut di rumah. Ody punya teman main, kita nggak pernah ke rumah Nenek, Pa. Kangen sama Aunty kembar,”
“Nanti juga pasti ke sini kalau tahu Ody libur. Aunty kan nggak perlu dicari, pasti bakalan ke rumah. Nanti Papa telepon deh kalau Ody mau. Atau nanti kita jemput mereka,”
“Boleh tuh, Pa. Main sama Ody terus sama adik Abi juga. Ody kangen sama Nenek, kakek. Tapi nggak boleh ke sana karena masih sekolah kan. Jadi Papa juga sibuk waktu itu,”
Sedangkan Marwa pergi menengok Abi yang ada di kamar karena tadi terdengar suara tangis yang sampai istrinya pergi ke kamar mendengar tangisan itu. “Papa, Mama cantik, ya?”
Rey menoleh mendengar pertanyaan anaknya. “Ya cantik dong, Ody. Papa juga sayang sama Mama,”
“Iya Papa nggak pernah berantem sama Mama. Kemarin ya waktu Ody di sekolah, ada orang tuanya teman Ody berantem di sekolah. terus teman Ody ditarik-tarik sampai nangis. Katanya mereka cerai, cerai itu memangnya apa, Pa?” Audri menanyakan itu dengan raut wajah penasarannya.
Rey minum air putih yang ada di depannya itu dengan tangan kanannya lalu meletakkannya kembali dan membungkuk ke dekatnya Audri. “Bercerai itu, orang tuanya pisah,”
“Nggak tinggal bareng kayak kita, Pa?”
“Iya, bisa jadi nanti punya Mama baru atau Papa baru,”
Audri menggeleng. “Nggak mau, Ody nggak mau punya Papa atau Mama baru. Maunya sama Papa dan Mama aja. Nggak mau sama yang lainnya,”
Rey tersenyum mengusap rambut anaknya. “Papa juga nggak mau sama yang lainnya. Mau sama Ody, Abi, Mama. Papa kan sayang sama kalian bertiga.”
Jangan promosi ya. Tolong banget. Ini author baru kembali lagi soalnya.