RICH MAN

RICH MAN
SALING MENGHIBUR



Sesuai perjanjian yang telah disepakati bersama. Rey pindah ke sekolah di mana tempat Fahmi menempuh pendidikan. Begitupun dengan Naura yang harus mengikhlaskan anak pertamanya untuk sekolah bersama dengan Reynand. Itu merupakan pilihan anak-anak mereka sendiri.


Pada awalnya, Dimas hendak mendaftarkan Reynand ke sekolah yang dikelola oleh temannya. Tetapi batal karena Rey menolak dan memilih sekolah sesuai dengan yang dia inginkan.


Nagita yang sudah menyiapkan barang-barang bawaan anaknya yang dalam hitungan menit anaknya akan menempuh pendidikan selama di sana.


"Belajar yang baik di sana ya!" Dia mengelus pipi anaknya. Sementara Azka mengelus punggung anaknya, begitu banyak kisah yang telah terjadi selama kehidupan Reynand.


Pria itu menyisir pandangan ke seluruh ruangan yang di sana, menyerahkan anak-anak mereka yang akan di titip untuk menempuh pendidikan yang lebih baik lagi selama berada di sana.


Berat hati untuk melepaskan Reynand. Tetapi Azka yang tidak tahan dengan sikap Rey yang bertingkah waktu itu. Akan tetapi semenjak kejadian di mana dia mengalami patah hati, perubahan drastis itupun kembali lagi membawa Rey pada dirinya sendiri seperti dahulu. Hal yang di mana Nagita dan Azka rindukan.


"Mama sama Papa mau pulang, belajar yang rajin," peringat Naura kepada Leo yang sudah memilih untuk ikut sekolah bersama dengan Reynand dan dia sungguh bersyukur bila anaknya selalu saja mengikuti jejak Reynand. Apalagi itu untuk menjadi anak yang lebih baik lagi.


Hari pertama mereka masuk ke sekolah. Rey dan Leo pun akhirnya di bawa k kamar mereka masing. Yang di mana setiap kamar di isi oleh puluhan anak. Nagita sendiri tak pernah mempermasalahkan mewah atau tidaknya sekolah Reynand. Yang terpenting adalah pendidikannya yang baik, apalah arti tempat mewah jika itu hanya akan membuat anaknya menjadi sombong.


Pendidikan yang baik, tentu akan menjadikan anak-anak mereka menjadi lebih baik juga selama itu tidak terpaksa. Dan mereka berdua sepakat untuk tidak memaksa. Terakhir kali sebelum benar-benar memindahkan Reynand, Nagita sempat bertanya perihal kesungguhan Rey yang menerima tawaran orang tuanya untuk pindah sekolah atau tidak.


Namun, anak itu justru menerima dengan sangat lapang dada dan ingin segera pindah ke sekolah itu. Bahkan ponsel yang dia punya sudah diserahkan kepada kedua orang tuanya.


Waktu itu Nagita mulai untuk melihat isi ponsel anaknya. Berharap ada hal yang dapat dia temukan di sana, misalnya foto dari perempuan yang telah menyakiti hati anaknya, tetapi justru semua isi ponsel Reynand kosong.


Nagita paham, bahwa anaknya kali ini bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu agar tidak mengecewakan dirinya lagi.


"Nanti kalau ada apa-apa bisa telepon melalui guru," ucap Nagita. Mereka semua pun akhirnya berpamitan.


Di asrama laki-laki nampak begitu ramai para orang tua yang sedang mengantarkan anak-anaknya untuk masuk ke pesantren karena waktu libur telah usai.


Ketika mereka berpamitan. Nagita langsung menuju mobil dan menyamankan posisi duduknya sambil berusaha terbiasa tanpa anaknya.


"Mama jangan sedih! Ini sudah terbiasa terjadi kalau orang tua yang terbiasa sama anaknya tiba-tiba ditinggalin sama anaknya gitu aja," ucap Azka memberikan semangat. Sedangkan kedua anaknya sedang tertidur di belakang.


"Mama hanya mikirin gimana perasaan Rey yang waktu itu nungguin perempuan itu, tiba-tiba perempuan itu enggak datang, dan ngasih Rey harapan sebegitu besarnya. Buat anak kita jadi anak yang merasakan pedih itu,"


"Nunggu gimana?"


"Mereka janjian mau ketemu, dari jam 4 sore, sampai menjelang magrib Rey nungguin di taman. Tapi enggak datang juga. Pada akhirnya dia pulang ke rumah Oma dia kan waktu itu,"


"Mama tahu dari mana?"


"Rey sendiri yang cerita bagaimana dia itu kecewa. Awal dia jatuh cinta itu seperti apa. Rey juga pernah cerita kalau yang buat dia keluar rumah itu, karena dia merasakan rasa nyaman sama perempuan itu, berani bentak Mama. Itu karena dia sedang berantem," jelas Nagita. Jika mengingat kejadian itu, Nagita memang merasa sangat sakit. Akan tetapi dia menyayangi Reynand begitu besar. Bagaimana pun juga dia adalah seorang ibu, merasakan bagaimana emosi anaknya yang membuncah karena ikatan batinnya.


Gelak tawa yang dahulu selalu saja terdengar di rumah itu kala bercanda malam hari, menghilangkan lelah yang ada pada Azka dan Nagita kala mendengar ketiga anaknya sedang bermain. Kini mereka berdua akan disibukkan dengan hanya menemani Nabila dan Salsabila selama berada di rumah.


Tiba-tiba tangan kekar itu memeluk Nagita dari belakang. ia tak bergerak sama sekali. Dia justru memegang tangan itu dan merasakan betapa nyamannya pelukan itu selalu membuatnya berhasil merasa tenang.


"Mama, Mama sedih Rey enggak di rumah?"


Nagita menurunkan tangan suaminya hingga pelukan itu melingkar di perutnya dan dagu Azka berada di bahunya dengan posisi yang masih berpelukan. "Mama hanya kangen dia yang selalu bercanda sama adik-adiknya, apalagi Mama selalu panggil dia selama berada di sini,"


Azka tersenyum, dia mencium pipi istrinya. "Jangan sedih oke! Dia di sana sedang belajar, jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak sayang! Ikhlaskan dia, lagian dia sekolah kok. Daripada Mama lihat dia terus ngelawan, ngomong-ngomong Papa juga kesepian sih, karena enggak da yang curhat lagi. Tapi Ma, itu adalah pilihan yang tepat bukan? Karena dia sudah mau bersekolah ke tempat di mana dia bisa belajar dengan baik. Papa selalu ingin dia sekolah ke sana dari dulu,"


"Kalau Mama tahu dia akan merasakan hal seperti itu, Mama enggak bakalan pulangin dia dari rumah Kak Dimas, Pa," keluh Nagita.


"Mama, di mana-mana ya kita enggak pernah tahu takdir itu. Kalau kita tahu bahwa suatu hal buruk terjadi sama anak kita, Papa juga enggak mau kali pindahin dia ke sekolah itu dan bertemu sama perempuan yang udah bikin hati anak papa sakit. Tapi kita bisa apa? Rencana Tuhan pasti lebih baik dari apa yang kita rencanakan, minimal dia bisa belajar dengan baik di sana, kalau urusan pasangan bisa kita pikirkan nanti, kalau cuman untuk senang-senang ya Papa juga enggak setuju, anak Papa jadi playboy nanti,"


"Iya, mirip Papanya. Nanti malah main perempuan sana sini," ucap Nagita dengan ketus. Azka melepaskan pelukannya.


"Mama, Papa udah enggak gitu lagi. Udah puas menikmati masa muda, buktinya Papa sayangnya cuman sama Mama,"


"Iya deh iya,"


Azka memainkan alisnya sambil tersenyum, "Papa ngapain? Kayak orang mesum tahu enggak,"


Azka memegang kedua bahunya. "Ke kamar, Ma,"


"Ngapain?"


"Istirahat, Ma. Papa capek nyetir, yakali ngajakin Mama bikin adik buat si kembar,"


"Siapa tahu, kan. Papa kan orangnya mesum,"


"Ngambek loh ini," Azka melepaskan tangannya dari bahu istrinya dan langsung berbalik. Disusul oleh Nagita.


"Papa beneran ngambek?"


Azka terdiam.


"Pa? Ih Papa beneran nih ngambeknya?" goda Nagita sambil mencolek hidung suaminya.


Azka masih terdiam. Nagita membuang napas kasar dan melepaskan rangkulannya. "Ya udah, Pa. Enggak dapat jatah lagi dari Mama nanti,"


Azka berhenti sejenak. Kemudian mengejar istrinya dan merangkul perempuan itu. "Enak aja ngomong gitu."


Azka berusaha menghibur istrinya yang merasa kesepian karena Reynand tidak ada di rumah. Mereka sebenarnya sama-sama kesepian, tetapi Azka lebih pandai menyimpan perasaan rindu pada anak remaja itu. Setidaknya anaknya berusaha untuk belajar agar tidak mendengar kabar bahwa anaknya berani membentak Nagita lagi.