RICH MAN

RICH MAN
TAK MAMPU PERGI



*Lebih baik dibaca sambil mendengarkan lagu Tak Mampu Pergi dari miliknya Sammy Simorangkir. Dijamin bakalan jauh lebih ngena. Hehehe, tenang saja ini masih berlanjut kok.


Sudah sangat lama sekali setelah keponakannya menikah, Dimas tidak pernah mengunjungi Reynand apalagi pria itu sudah tidak mengunjungi dirinya lagi semenjak berumah tangga. Ada rindu tersendiri sesibuk apa pun Rey dulu, dia akan mencari Dimas. Tetapi tidak dengan sekarang ini, pria itu justru sibuk bersama dengan istrinya.


Berhubung dia tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan juga karena perintah Viona yang memintanya untuk mengantarkan Rey kue sekaligus menjemput Lyla di sekolah.


"Pa, nanti kalau udah SMA aku boleh enggak kayak Kak Marwa?" tanya Lyla di dalam mobil.


"Kayak Kak Marwa gimana?"


"Pakai cadar gitu,"


Dimas menoleh sejenak ke arah putrinya yang selalu dia didik dengan baik bersama dengan Viona. Apalagi Erlangga yang kini selalu saja menuruti perintahnya, bisa dikatakan dia adalah orang tua yang berhasil mendidik anaknya. Dimas yang tidak pernah memukul atau bahkan berlaku kasar terhadap kedua anaknya. Akan tetapi diam adalah senjata utamanya ketika sedang marah. Bahkan, membuat keduanya tidak bisa berkutik.


"Silakan saja, tapi saran Papa tuh ya kalau memang mau kayak dia, yakinkan hati dulu. Usahakan nanti enggak dibuka lagi, berat banget tahu enggak. Nanti udah pake sehari, eh besoknya dilepas lagi. Mending pikir baik-baik dulu kalau mau pakai cadar,"


"Tapi kan Pa, pengin gitu lihat teman-teman aku pakai tuh, mereka foto-foto juga dan keren-keren banget, Pa,"


"Sayang, sebenarnya mau nutup aurat atau mau eksis di sosial media? Mau jadi sebaik-baiknya perhiasan dunia atau mau jadi fitnah?"


Lyla yang langsung terdiam dengan ucapan papanya kala itu. Dia menginginkan seperti Marwa karena teman-temannya banyak yang sibuk dengan tutorial-tutorial yang mereka buat.


"Papa, kenapa Papa bilang gitu? Tentu mau jadi perhiasan dunia dan jadi bidadari surga dong,"


Dimas mengangguk pelan sambil terus fokus menyetir. "Pernah lihat Kak Marwa main sosial media? Pernah lihat dia pakai cadarnya macam-macam di modelin ini dan itu?"


Lyla menggeleng, "Enggak sih, Pa,"


"Belajar sama dia. Lyla udah jadi perempuan yang besar, tanggung jawab Papa sama Mama dari semenjak Lyla belum lahir. Menjaga anak itu tugas paling berat, tapi kalau Lyla mau seperti Kak Marwa hanya karena mau eksis, Papa enggak izinin. Mau gitu foto-foto kamu dipakai sembarangan sama orang. Enggak apa-apa sekarang jilbab biasa aja, tapi kalau sampai posting foto segala Papa enggak suka. Silakan main sosial media, apalagi kan sekarang ini Papa selalu turutin kamu mau liburan ke mana saja sama kakak kamu. Enggak mesti harus posting foto untuk pamer kan kalau kamu pernah ke sini, beli barang mewah enggak mesti di foto juga,"


"Papa, bukan itu maksud aku,"


"Lalu apa? Papa intip kok sosial media kamu. Jadi jangan bilang kalau kamu bisa sembunyi dari Papa. Mending kalau ada waktu Lyla benar-benar belajar deh sama Kak Marwa. Kak Rey gitu-gitu juga pintar tahu enggak, cuman dia enggak mau aja gitu lihatin kepintarannya. Apalagi kak Marwa, dia enggak tahu aja tuh kalau suaminya pintar,"


"Memangnya Kak Rey bisanya apa aja, pa?"


"Intinya dia itu baik banget. Tahu enggak kak Marwa itu cinta pertama kak Rey,"


"Tahu, tapi Kak Angga larang Lyla buat cerita, katanya Kak Rey masih mikirin Kak Marwa yang dulu,"


"Maka dari itu, diam-diam saja dulu. tentang pertanyaan kamu tadi, nanti tanyain deh sama Kak Rey, dia lebih paham sih soalnya. Kak Erlangga juga paham, jadi jangan pernah posting foto, nanti cantiknya khusus untuk suami,"


"Lyla juga pengin nikah muda kayak orang-orang yang pamer kemesraan, di instagram banyak, Pa,"


Dimas mulai memutar bola matanya. "Yang kita lihat cuman baiknya, di belakang layar kan kita enggak tahu. Jadi tanyain aja sama orang yang udah nikah, jangan sembarangan ngomong, Lyla. Kalau jodoh ya pasti nikah, jangan ikut-ikutan orang deh, nikah itu ibadah tahu enggak,"


Putrinya mengangguk pelan. Tiba di rumah Reynand, Dimas langsung mengajak putrinya turun dan membawa kue tersebut. Baru saja Dimas hendak memencet tombol bel. Marwa keluar dengan keadaan menangis.


"Marwa,"


Perempuan itu langsung menyeka air matanya. "Om,"


"Kenapa? Apa yang terjadi? Rey mana?"


"Mas Rey ada di dalam, Om masuk aja! Aku permisi,"


Dimas yang merasa aneh dengan rumah tangga keponakannya itu langsung mengejar Marwa dan menghadang perempuan itu. "Marwa, apa yang terjadi?"


"Aku mau pulang dan butuh waktu, Om,"


"Lyla, masuk ke mobil. Ajak Kak Marwa," Dimas langsung menarik koper yang dibawa oleh Marwa dan putrinya mengajak Marwa masuk ke dalam mobil.


Mereka mencari tempat untuk berbincang. Dimas berhenti di salah satu kafe dan memesankan kedua perempuan itu minuman.


"Cerita! Kenapa kamu bawa koper segala? Dan kamu mau pergi ke mana?"


"Mas Rey minta pisah, dan aku minta dia pikirkan semua ini sebelum mengambil keputusan dengan gegabah,"


"Kalian berantem?"


Marwa menggeleng. "Enggak pernah ada masalah, tetapi Mas Rey bilang kalau dia mencintai perempuan lain dan hatinya sudah terlanjur mati oleh perempuan itu dan enggak ada gunanya juga aku di sana kan, Om?"


Dimas memejamkan matanya sejenak. Beberapa saat kemudian, percakapan pun terhenti. Minuman yang dia pesan pun datang.


Ketika dia yang kau cinta mencintai yang lain


Betapa dalamnya terluka hatiku


Dan bagaimanakah ku harus meyakinkan diriku


Saat kudengar suaramu hati ku bergetar


Saat ku tatap matamu ku tak mampu pergi


Alunan lagu dari Sammy Simorangkir - Tak Mampu Pergi, cukup membuat Dimas mengerti saat Marwa menunduk dan menangis.


"Andai kamu tahu yang dicintai Rey itu adalah kamu, Marwa. Tapi kalian berdua sedang saling menyakiti satu sama lain," ucap Dimas di dalam hati.


"Kamu berencana pulang ke rumah kedua orang tua kamu?"


Marwa mengangguk dan menyeka air matanya.


"Marwa, pulang ke rumah, Om. Rey belum menceraikan kamu, kalau kamu pulang ke rumah orang tua kamu itu akan menjadi sangat sulit bagi kalian mempertahankan rumah tangga. Orang tua kamu pasti bakalan marah besar sama Rey, kalau Rey pulang ke rumah orang tuanya, dan tentu saja ini akan menjadi lebih sulit. Kalian berdua enggak bisa untuk saling memahami, urusan rumah tangga itu harusnya kalian hadapi bersama. Jangan pernah libatkan orang tua, tapi Om akui, Rey salah. Om enggak bakalan bela dia. Kasih waktu satu minggu, Marwa! Tinggal di rumah, Om. Apa pun yang terjadi, barulah kita bisa mengambil keputusan, apakah Rey benar dengan ucapannya atau tidak."


"Tapi,"


"Om enggak bakalan bela dia, walaupun dia adalah keponakan Om. Tapi cara dia yang salah. Om bakalan sembunyikan kamu dari orang tua masing-masing. Jadi jangan pernah cerita ke orang tua masing-masing. Biar nanti Om yang ngomong sama Rey, dan Om juga bakalan ngomong kalau pisah itu enggak pernah jadi pilihan yang terbaik."


Dimas berusaha menjelaskan itu kepada Marwa karena dia sendiri tidak tega dengan istri dari keponakannya. Barangkali dia akan membantu ingatan Marwa yang pulih terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Reynand. Karena Marwa sudah sangat banyak menderita karena Rey. Dan Rey juga sangat menderita karena Marwa yang dulu. Alangkah baiknya semua ini harus dibicarakan dengan Azka agar menyembunyikan Marwa terlebih dahulu dan melihat seberapa butuhnya Rey terhadap istrinya atau akan tetap terbunuh perasaannya karena masa lalu itu.