
“Papa, Alin nggak mau tahu, setelah aku lihat Rey itu orangnya lembut banget. Aku nggak mau tahu pokoknya, Pa. bagaimanapun juga Mas Rey harus jadi milik aku,”
Refi tersenyum mendengar anaknya yang berbicara seperti itu. Tidak ada salahnya. Apalagi anaknya cantik, pintar. Serta pelukis yang cukup terkenal. Alin adalah perempuan yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di London dan kini baru pulang ke Indonesia. Akan tetapi dia adalah pelukis yang cukup dikenal oleh publik. Tetapi tidak hanya itu, Refi tetap menginginkan anaknya menjadi istri Rey. Karena secara finansial, Rey adalah anak yang akan mewarisi semua harta yang dimiliki oleh Azka nanti. Dengan begitu, anaknya akan hidup tenang tanpa ada gangguan lagi.
“Kamu dengar kan kalau istri Rey lagi hamil?”
“Tahu, tapi aku nggak peduli Pa. Setelah apa yang Papa ceritakan sama aku, semuanya berubah. Dan apa yang Papa ceritakan berbeda, dan jauh lebih baik lagi. Mas Rey itu orangnya sopan banget, Pa. Apalagi waktu salaman, dia hindari aku banget, Pa. Apa itu cara dia sama perempuan, Pa?”
“Harus kamu tahu kalau istrinya itu adalah perempuan baik-baik dan yang paling dia sayangi. Buktinya Rey nurut banget sama istrinya. Apa kamu bisa luluhkan hati dia seperti yang dilakukan oleh istrinya?”
“Gampang, Pa.” Alin terkekeh kemudian meninggalkan papanya di sana. Dia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri serta mengatur semua rencana mengenai apa yang akan direncanakannya besok pagi.
Keesokan harinya. Pagi buta Alin sudah bertempur di dapur untuk membuat sandwich yang akan menjadi sarapannya nanti. Dia pandai memasak, menjadi suatu daya tarik bagi pria adalah dia yang jago masa serta melukis. Bahkan tidak jarang juga Alin melukis buah-buahan serta masakan yang dia buat sendiri.
Setelah mengisi kotak nasi dengan sandwich yang dibuatnya itu. Alin segera bergegas mandi untuk mempercantik diri.
Keluar dari kamarnya dengan penampilan yang sudah sangat cantik. Dia berdandan secantik mungkin untuk menggaet pria baik seperti Reynand. Walaupun dia tahu barangkali pria itu akan sangat sulit dia dapatkan, tapi ia tidak akan pernah menyerah.
“Sayang, pagi-pagi raut wajahnya udah bahagia banget,” goda mamanya yang sedang menyantap sarapan. “Ngomong-ngomong kamu tuh mau bawain sarapan untuk siapa?” tanya mamanya.
“Untuk calon mantu kita, Ma,”
“Hah, Alin punya pacar?”
“Doain aja, Ma,” jawab Alin sambil memasukkan kotak nasi ke dalam tas yang akan dibawanya ke kantor Rey.
“Siapa sih dia sampai buat kamu sebahagia ini?”
“Reynand, Ma. Anaknya si Azka dan Nagita,”
Mamanya langsung tersenyum kecut, “Alin, Rey sudah menikah. Apa kamu berniat menghancurkan rumah tangga keduanya?”
“Ma, Alin cuman mau buktikan kalau Alin itu pantas buat dia,”
“Mama nggak setuju. Dia sudah menikah, Alin. Tolong pikirkan bagaimana perasaan istrinya,” protes mamanya yang tidak menyetujui itu semua. Alin langsung melihat ke arah papanya yang begitu santai. “Papa, apa Papa nggak keberatan?”
“Untuk apa?”
“Ya ampun, Pa. Anak perawan Papa mau jadi penghancur rumah tangga orang, Pa,” keluh mamamya.
“Udahlah, Ma. Jangan terlalu ikut campur. Alin mau sama siapa aja, Papa nggak peduli. Walaupun sama Rey, memangnya kenapa? Kalau Rey pilih Alin itu artinya dia sayang sama anak kita,”
“Papa benar-benar ya.” Ucap mamanya dan langsung membanting sendok ke piring kemudian pergi dari meja makan. Di sana ada kakaknya Alin yang laki-laki. Akan tetapi pria itu terdiam.
“Kak, apa kakak setuju?” tanya Alin ingin mengetahui jawaban dari kakaknya.
Pria itu diam. Pasalnya dia tahu bahwa Rey adalah keponakan dari Dimas. Wakil direktur perusahaan di mana dia bekerja. Jabatan Dimas tentu saja lebih tinggi darinya. Meskipun keluarganya memiliki perusahaan, tapi dia memilih bekerja dengan orang lain. Dan cukup dekat dengan Dimas. Suatu kebetulan yang tidak disengaja.
“Kalau kamu dicampakkan, jangan sampai kamu mengeluh dan cerita sama kakak. Karena kakak tidak akan pernah peduli. Sebab Papa adalah orang yang selalu mendukung kamu,”
“Jaga bicaramu!”
Alin tidak peduli terhadap kakaknya. Kemudian dia pergi begitu saja dan meninggalkan meja makan dengan membawa tas yang dia tenteng berisi makanan dan ada susu kotak yang sengaja dia bawa juga.
Hari ini ia berencana pergi ke kantor Rey dan mengantarkan sarapan itu.
Alin melihat kantor Rey yang cukup besar dan melihat sekeliling. “Luas,” hanya itu yang dia ucapkan kemudian tersenyum. Usaha papanya yang terbilang sukses tidak membuat Alin merasa puas dengan itu semua. Dia mencari mangsa baru lagi. Apalagi Rey selain tampan, dia juga baik. Dan sopan kepada siapa saja.
Baru saja dia masuk, dia disambut oleh sekretaris Rey yang pakaiannya jauh lebih sopan dibandingkan dengan dirinya. “Maaf anda cari siapa?”
“Rey ada?”
“Pak Rey belum datang. Sekitar setengah jam lagi sih biasanya,”
Alin tersenyum ramah kepada sekretaris itu. “Kalau mau silakan tunggu di ruang tamu!”
“Apa nggak bisa nunggu di ruangan dia?”
Alin masuk begitu saja dan langsung duduk di sofa itu. “Maaf, Bu! Pak Rey tidak memperbolehkan saya untuk membiarkan siapa pun masuk dengan lancing ke dalam ruangannya,”
“Kamu nggak kenal saya?”
“Maaf siapa pun itu. Pak Rey selalu memerintahkan saya untuk tidak membiarkan orang masuk ke ruangannya sekalipun itu adalah istrinya sendiri,” ucap sekretarisnya memberikan alasan seperti itu karena melihat Alin yang mulai berkeliling di sana dan menyentuh beberapa barang milik Rey.
Sekretaris itu langsung mendekati Alin dan mengajak perempuan itu keluar. “Saya bisa keluar sendiri,” dengan jengahnya dia. Benar-benar baru pertama kali Rey mendapatkan tamu seperti perempuan ini. Bahkan istri Rey jauh lebih sopan dibandingkan dengan yang ada dihadapannya saat ini.
Alin melihat beberapa karyawan yang pakaiannya cukup sopan dan tidak ada yang mengenakan rok selutut sekalipun. “Norak banget ya. Nggak ada pakaian lain gitu?” celetuk Alin saat meliaht orang-orang yang lewat dihadapannya dengan penampilan seperti itu.
“Maaf ini adalah perintah dari Pak Rey untuk menggunakan setelan kerja yang sopan. Karena Pak Rey beda dengan yang lainnya. Jadi jangan salahkan pakaian kami,”
“Maaf ya, kalian jadi tersinggung karena ucapan saya,” ucapnya dan langsung meminta maaf memeluk karyawan yang dia sindir tadi. Karena Alin melihat dari kejauhan Rey sedang mendekat ke arahnya.
“Alin?”
Alin tersenyum dan melepaskan pelukan itu. Kemudian dia langsung mendekat ke arah Rey dan menyapa pria itu. “Pagi, Mas,”
“Alin, apa ada keperluan yang membuat kamu datang kemari?”
“Nggak, lagi pengin ke sini aja,”
“Kamu lama nunggunya?”
Alin menggeleng. Ternyata memang benar bahwa pria yang ada dihadapannya kini terlalu lembut dan barangkali gampang untuk dipengaruhi. Memang sedikit menjauh dari tidak ingin terlalu dekat dengan alin. “Lihat saja nanti. Siapa yang akan mengejar?”