
Seperti biasa, untuk mengalihkan tentang perasaannya yang sudah terlanjur sakit karena kepergian Marwa dan juga karena Bintang yang tiba hadir kembali.
Rey menerima telepon dari sang mama untuk ikut makan malam bersama di rumah. Sebenarnya dia tidak mau pergi karena tanpa Marwa. Dia tidak ingin bahwa orang tuanya tahu tentang masalah pribadinya bersama dengan istrinya. Biarlah masalah itu mereka berdua yang tahu, bahkan sebelum pergi Marwa bilang bahwa dia tidak akan bercerita mengenai masalahnya kepada orang tua masing-masing.
Sebenarnya Rey hanya terjebak dengan perasaan masa lalu yang belum berhasil ia enyahkan dari dalam hati dan juga pikirannya. Rey sendiri adalah pria payah jika menyangkut perasaan. Baru saja dia merasakan kebahagiaan setelah menikah karena sikapnya yang selalu manis berusaha untuk menerima Marwa di dalam hidupnya.
Rencana hanya tinggal rencana, bahkan dia sudah memesan tiket untuk liburan bersama dengan Marwa dan berencana bahwa dia akan membuka cadar Marwa agar dia bisa tahu perempuan yang selama ini sudah menemaninya, entah itu dalam keadaan kelelahan dan juga dengan perasaan yang berantakan itu.
Rey sadar bahwa selama ini dia menyiksa diri untuk merindukan orang yang sama sekali tidak merindukannya. Jika Bintang merindukannya, tentu saja perempuan itu tidak akan pergi dengan cara tiba-tiba. Jika perempuan itu juga mencintainya, tentu saja dia akan bahagia sudah lama, dan bisa bersatu dengan perempuan itu juga. Tetapi sayangnya dia justru bersanding dengan Marwa. Perempuan yang sama sekali tidak pernah dia tahu.
Seseorang akan berusaha untuk jatuh cinta kepada orang yang baru terkadang karena sikapnya yang terlalu mirip dengan orang masa lalu, dan disadari atau tidak itu merupakan suatu yang sudah biasa. Mencintai orang baru dengan kenangan yang lalu.
"Ketika kamu berhasil menghancurkan segala mimpi yang pernah kita rencanakan berdua. Segala rencana-rencana indah yang pernah kamu janjikan, satupun tidak pernah ada yang terwujud. Dengan bodohnya delapan tahun sudah aku menantikan kehadiran kamu. Nyatanya, aku hanya menunggu hal yang sia-sia. Kamu entah pergi ke mana. Kabarmu sudah tidak berembus lagi. Aku bahkan tidak mengerti dengan perasaanku sendiri yang tidak bisa kukendalikan jika itu menyangkut tentangmu. Lihat, kamu telah berhasil mengacaukan segala bahagiaku. Bahagia yang berusaha aku bangun dengan sendirinya. Kamu hancurkan ketika aku sudah berusaha bahagia tanpa kamu. Sejahat itukah aku di masa lalu? Hingga tidak ada ruang bahagia untukku bersama dengan orang lain?" Rey bicara pada dirinya sendiri ketika menjambak rambutnya.
Sungguh, bagi siapa saja yang ditinggalkan tanpa alasan ketika hatinya begitu berharap besar pada seseorang. Maka akan tetap saja merasakan sakit itu, sadar atau tidak. Kenangan masa lalu memang terkadang seringkali menjadi pengacau di dalam hidupnya di masa yang saat ini.
Dia pun pulang ke rumah orang tuanya.
Baru saja dia masuk ke dalam rumah itu, kedua adiknya langsung menanyakan perihal Marwa. Raut wajah Reynand berubah seketika saat mendengarkan pertanyaan mengenai Marwa dari kedua adiknya.
"Kak, Kak Marwa enggak dibawa?"
Rey merangkul kedua adiknya menuju ruang keluarga. "Kak Marwa lagi pulang ke rumah orang tuanya, jadi nanti kita ketemu lagi ya sama mereka," ia berusaha untuk berbohong karena tidak ingin orang tuanya mengetahui hal itu.
Nagita dan Azka saling tatap satu sama lain ketika mendengarkan kebohongan Rey mengenai Marwa. Mereka berdua sudah tahu bahwa niat Rey ingin menceraikan Marwa karena alasan Bintang di masa lalu sudah kembali.
Azka, selaku orang tua yang ingin anaknya tetap bahagia, dia mencari tahu tentang pengirim paket itu. Mencari tahu mengenai Leo dan juga dibantu oleh Fendi yang waktu itu bersama dengan Rey ketika berada di kantor menerima paket itu.
"Ma, aku mandi dulu ya. Mama sudah masak?"
Nagita merasakan hatinya ditusuk ribuan belati melihat tingkah anaknya yang sedikit lebih lesu dibandingkan seperti biasanya. "Mama sudah masak, sekarang kamu mandi aja. Mama sudah masak kesukaan kamu," ucap Nagita pelan.
"Ma, sini duduk dekat, Papa!"
Nagita menoleh dan langsung duduk di dekat suaminya. Ia memeluk Azka, tidak ada tempat ternyaman untuk menenangkan diri selain berada dipelukan Azka.
"Mama percaya kan kalau kita bakalan buat Rey bersatu?"
Nagita mengangguk tetapi perasaannya masih sangat sakit ketika melihat Rey yang seperti tadi.
"Mama enggak boleh sedih, ingat kan sekarang Dimas berusaha ke dokter. Dimas juga berusaha pulihkan ingatan dia, mulai dari foto-foto mereka dulu. Mama jangan pikirkan hal mengenai Rey yang mau cerai, Papa yakin itu enggak bakalan terjadi. Biar Papa yang ngomong sama dia nanti, kalau pernikahan itu harus dipertahankan dengan alasan yang cukup masuk akal, biar enggak kayak Papa dulu yang enggak mikir sebelum bertindak,"
"Papa kok ngomong gitu?"
"Karena Papa kan memang melakukan hal bodoh itu dulu," jelas Azka.
Sungguh Azka tidak ingin kejadian serupa terulang kembali hanya karena cinta masa lalu yang bodoh itu dan menghancurkan kebahagiaannya sekarang. Tetapi kali ini beda, Azka yang dahulu karena perempuan masa lalu dan masih bertemu. Sedangkan Rey, dia adalah pria yang mencintai orang yang sama, tetapi justru menganggap satu orang itu adalah dua orang yang berbeda.
Azka menyeka air mata Nagita yang sudah membasahi pipi perempuan itu. "Jangan nangis lagi, sayang! Enggak boleh mikir yang berat! Biar ini jadi urusan kita, ingat Rey juga dibenci sama orang tua Marwa karena masa lalu kan? Maka dari itu, kita pulihkan dulu ingatan istrinya. Kalau kita kasih tahu, yang ada orang tuanya Marwa ambil dia terus pisahin. Ingat waktu lamaran kan, dia bahkan bilang enggak bakalan sudi punya mantu macam Rey. Jadi Mama sabar, enggak boleh mikir hal yang aneh!"
Nagita memeluk suaminya semakin erat, "Papa janji juga bakalan bantuin, kan?"
"Ma, Rey itu anak pertama kita. Dan dia cuman sendirian yang laki-laki. Anak yang paling susah kita didik bukan? Maka dari itu, Mama juga jangan mikir yang aneh-aneh pokoknya. Percaya aja kalau Marwa bisa sembuh, nanti kita ngomong juga sama Rey. Tapi jangan kasih tahu, tapi kita pelan-pelan kasih tahu dia tentang paket itu, setelah itu baru kita kasih tahu. Kita tanyain dulu, apakah dia bisa terima orang baru dan kita bilang kalau seandainya Marwa itu Bintang, gimana reaksi dia?"
"Kalau dia marah?"
"Maka dari itu, Ma. Kita bakalan pelan-pelan untuk bimbing dia. Rey pasti kaget dan berujung benci, kalau Rey benci, pasti sulit untuk kita satukan. Marwa yang berusaha disembuhkan tiba-tiba dibenci gitu aja, kan. Pasti akan semakin sulit, pokoknya kita buat Rey itu nerima Marwa dulu, Ma. Tentang Marwa yang hilang ingatan bisa kita kasih tahu pelan-pelan. Intinya itu sama Rey dulu,"
"Mama enggak mau lihat dia terpuruk terus, Pa. Dia enggak pernah bisa bersikap baik sedikit aja sama Marwa di depan kita. Bagaimana kita bisa yakin kalau mereka akan bersatu,"
"Maka dari itu, Papa bilang kalau kita harus buat Rey nerima Marwa dulu. Rey sama Marwa kita enggak tahu apakah baik-baik saja atau bagaimana kan selama ini. Mereka hening-hening aja perihal rumah tangga mereka. Jadi kita sebagai orang tua tuh harus sabar, Ma. Enggak boleh terlalu ambil tindakan yang buat Rey semakin sulit untuk tahu tentang ini."