RICH MAN

RICH MAN
LIBURAN



Pagi itu ia mengerjapkan matanya. Rey bangun sangat pagi bahkan sudah berpakaian rapi. Nagita yang melihat putranya duduk dipinggiran ranjang hanya menyapa dengan senyuman. Putranya itu terus menariknya agar segera bangkit dari tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Sepagi itu Rey selalu saja bangun lebih awal darinya untuk melaksanakan kewajibannya.


“Mama, tadi Om Damar datang. Katanya disuruh cepat-cepat kita mau pergi lagi,”


“Lho, ke mana?”


“Katanya sih mau ke tempat yang jauh, Ma. Om Damar ngajakin lanjutin perjalanan lagi, Mama buruan deh sana mandi terus sholat!”


Nagita beranjak dari tempat tidurnya dengan perlahan ia langsung ke kamar mandi. Putranya itu membangunkannya dan semangat Rey liburan sangatlah luar biasa. Untuk pertama kalinya ia mengajak Rey untuk liburan. Bahkan saat ini putranya sudah tidak sabar lagi untuk berangkat.


Setelah selesai bersiap-siap. Nagita kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rey bahwa mereka akan pergi lagi. Dan Damar datang mengahampiri mereka berdua di kamar untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi mereka akan berangkat ke tempat lain untuk berlibur.


“Mama, kita nggak usah pulang ya. Rey betah di sini, Ma,”


“Rey, kan sekolah. Masa maunya liburan terus?”


“Tapi Rey suka, Ma. Ohya kata Om Damar kita bakalan pergi ke pantai. Rey boleh mandi ya, Ma?”


“Tapi kita lihat situasinya dulu sayang. Kalau ombaknya besar, nggak usah! Kalau tempatnya nggak bahaya, Mama izinin kamu kok sayang.”


Nagita memasangkan Rey jaketnya.


“Kita pergi sepagi ini?”


“Iya, karena perjalanan kan masih lama. Sekitar satu setengah jam. Biar Rey juga nggak terlalu kepanasan nantinya,”


“Damar, terima kasih ya sudah ngajakin Rey jalan-jalan,”


“Nggak masalah. Lagian Rey sudah aku anggap seperti anak sendiri, walaupun dia anak dari si pria brengsek itu,”


Hanya senyuman yang ia nampakkan kala Damar menyebut Azka dengan sebutan brengsek. Harus Nagita akui bahwa pernikahannya waktu itu memang tidak bahagia.kebahagiaan yang ia rasakan hanyalah sesaat setelah itu Azka benar-benar melepaskan dirinya dan juga Rey. Bahkan hingga kini, Azka tidak pernah lagi mengunjungi Rey dan tidak menanyakan tentang Rey meskipun itu hanya dari telepon. Bukan berarti Nagita rindu, tetapi ia sangat menyangkan sikap Azka yang seolah tidak peduli itu kepada Reynand.


Mereka bertiga lansung masuk ke dalam taksi. Bahkan untuk tujuan berikutnya, Damar sudah memesankan hotel untuk mereka. Tidak bisa diremehkan lagi tentang Damar yang menyiapkan segalanya serba kilat. Seperti pernikahan Dimas yang waktu itu semuanya adalah Damar yang menyiapkan dengan sangat cepat.


Di dalam perjalanan Nagita menikmatinya, bahkan Rey sesekali terlihat begitu riang saat itu juga. Nagita sangat merasa senang melihat putranya yang begitu ceria saat liburan. Selama ini juga ia tidak pernah mengajak Rey pergi jauh. Hanya pergi ke Mall dan tempat-tempat liburan lainnya bersama dengan Dimas. Tetapi kini tentu waktu untuk Rey akan sedikit berbeda yang akan diberikan oleh Dimas. Mengingat statusnya sudah berbeda dari biasanya.


Nagita terbangun dari tidurnya saat Rey begitu ribut di dalam taksi saat melewati pantai. Sepanjang perjalanan menuju daerah Lombok Utara, Damar sengaja memerintahkan sopir taksi untuk mengambil jalur daerah senggigi menuju ke sana. Walau sebenarnya ada jalur pusuk. Tetapi pria itu ingin memberikan kesan yang lebih baik kepada Rey.


“Om ayo berhenti di situ, kita mandi di sana!” ajak Rey kepada Damar yang membuat Nagita menggeleng melihat tingkah putranya terus berusaha membujuk Damar agar mau mengikuti apa yang dia inginkan.


“Nanti Om bakalan ajakin Rey ke tempat yang lebih bagus lagi. Di sini itu kita cuman lewat Rey, nggak usah mampir,”


“Ma benar kan, kalau ternyata Om Damar itu lebih baik dari Daddy, buktinya Om nggak pernah sibuk ninggalin Rey kerja. Sekarang Rey senang Ma, kalau Rey diajak liburan sama Om pasti Rey nggak bakalan nolak,”


“Anak kamu ini sudah bisa bedakan mana yang sayang sama dia, mana yang benar-benar tulus sama dia. Sayangnya Azka hanya sebatas sayang memenuhi segala kebutuhan dia, tapi tidak dengan seperti ini,”


“Biarin saja. Rey sering banget protes soal Mas Azka, dia selalu saja ngomel kalau Papanya itu sibuk kerja, dan sekarang Rey nggak pernah cari Mas Azka lagi,”


“Bagus dong,”


“Tapi dia sering banget ngajakin aku pergi ke rumah Oma. Tapi aku selalu cari cara buat ngakalin dia untuk nggak ngajakin aku pergi lagi,”


“Adik aku lama banget pulangnya. Coba aja dia yang pulang, pasti Rey nggak bakalan kesepian lagi,”


“Kamu kasih tahu dong, adik kamu itu siapa sebenarnya?”


“Nanti kamu akan tahu. Nagita, kamu nggak mau kerja lagi?”


“Penginnya sih begitu, tapi Kak Dimas nggak ngebolehin, dia nyuruh aku tetap rawat Rey dengan baik dan segala keperluan dia ditanggung sama Kak Dimas. Dan beberapa waktu yang lalu sih ada yang ngajakin buat usaha di rumah buat gaun pernikahan. Aku sih bisanya cuman gambar-gambar aja,”


“Bagus dong. Terus gimana?”


“Ya nggak gimana-gimana. Belum sempat di omongin sama Kak Dimas. Eh malah nikah kilat gitu aja, tapi syukur sih dia nikah sama teman aku. Jadi aku nggak terlalu  khawatir dan bisa dekat dengan istrinya. Walaupun begitu pasti juga malu rasanya, karena dia bakalan kasih nafkah ke tiga orang sekaligus. Belum lagi nanti kalau dia punya anak, intinya aku mau usaha sendiri,”


“Nagita, kalau kamu memang punya bakat dalam hal design, aku bersedia buat kursusin kamu kok. Kamu kursus sesuai dalam bidang kamu. Soal Rey bisa kamu titip sama Viona, dan lagi nanti aku berusaha buat jelasin semua ini sama Dimas, secara perlahan dia bakalan izinin kamu kok. Lagian ya, kamu nggak bakalan bergantung sama dia kan? Kamu harus mandiri, bukan berarti aku ngajarin kamu untuk nyari uang sendiri atau gimana-gimana. Tapi kalau memang kamu itu punya bakat, kenapa nggak di ekspresikan gitu aja sih? Sementara nungguin adik aku pulang!”


Nagita nampak menimbang-nimbang hal yang diucapkan oleh Damar. Tidak ada salahnya juga ia mencoba untuk menyetujui permintaan Ibu Dian yang waktu itu mengajaknya untuk membuat usaha. Soal jahit menjahit itu adalah urusan Ibu Dian yang waktu itu memang menagatakan bahwa dia pandai menjahit. Kini, tinggal Nagita yang harus mengembangkan bakatnya dalam hal design.


Setelah berpikir sejenak, ia langsung menyetujui hal yang dikatakan oleh Damar. Benar-benar pria itu tidak bisa ia remehkan lagi. Selama ini Damar yang selalu berbaik padanya. Setiap kali ada kesulitan, pria itu seolah datang untuk membantu. Tetapi tidak selama ia menikah dengan Azka. Demi menjaga hati mantan suaminya itu, Nagita harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan pria mana pun.


“Ma, pantainya keren. Bagus banget kan, Ma?”


Nagita menoleh ke arah Damar. “Kamu sering ke sini?”


“Nggak, aku bahkan pertama kalinya datang kemari. Aku cuman cari-cari di internet tentang tempat ini. Dan secara nggak langsung nemu tempat tujuan kita itu, ngomong-ngomong kamu suka sama tempat ini?”


“Nggak ada alasan aku nggak suka, Damar. Ini benar-benar bagus banget,”


“Ngomog-ngomong, ini masih jauh?”


“Kayaknya lima belas menit lagi deh.”


Nagita membuka jendela kaca mobil dan menikmati angin yang berembus menerka wajahnya. Cahaya matahari yang belum terlalu panas dan hanya naik beberapa derajat dengan cuaca yang masih dingin membuat Nagita merasa sangat sejuk. Mereka berangkat setengah enam tadi. Ia menikmati perjalanannya dengan melihat kearah pantai yang di sana terdapat begitu banyak perahu nelayan.


Udara sejuk yang masih sangat menenangkan. Berbeda dengan kota Jakarta yang pagi itu sudah dipenuhi dengan polusi. Tidak salah Damar mengajaknya ke tempat itu.


“Ma, Mama suka?”


“Suka banget, sayang. Rey juga suka?”


“Suka banget dong, Ma. Ohya terima kasih Om,”


“Sama-sama.” Jawab Damar. Mereka bertiga duduk di kursi belakang dan membiarkan Rey terus aktif bertanya perihal liburan mereka. Yang Nagita rasakan adalah kehangatan keluarga meski Damar bukan keluarganya. Tetapi pria itu sudah sangat membantunya membahagiakan Reynand.


“Om sama Mama benar nggak mau nikah?”


“Sayang, kenapa bahas itu melulu sih?”


“Nggak ada, Ma. Rey pengin punya Papa yang nggak sibuk kayak Daddy,”


“Tapi Om lebih baik daripada Daddy,”


“Kenapa Rey bisa bilang begitu?”


“Kan Rey sudah bilang. Kalau Mama pernah dipukulin,”


“Nagita. Pilihan untuk berpisah terkadang pilihan yang terbaik daripada bertahan hanya untuk membuat kamu sakit. Rey sudah tahu tentang keadaan kalian. Fokus saja besarkan Rey,”


“Iya. Aku juga fokus untuk didik Rey kok,”


“Untuk kehidupan sehari-hari?”


“Rey selalu dapat jatah. Tapi semenjak saat itu Kak Dimas langsung menolak, meskipun Rey adalah tanggung jawabnya Mas Azka. Tetapi Kak Dimas memang nggak mau nerima sepeserpun pemberian dari dia,”


“Dasar sialan itu benar-benar cari masalah. Dia kalau sudah berkeinginan apa memang seperti itu Nagita?”


“Iya. Bahkan dia nggak bolehin aku untuk ajak Rey ke rumah Omanya Rey,”


“Bukan berarti Dimas ngelarang karena ingin memutuskan tali silaturahmi. Ada sakit yang bisa diobati seiring berjalannya waktu. Ada luka yang tidak bisa di obati bahkan meski itu dengan ribuan maaf sekalipun, sakit hati yang sudah terlanjur terluka memang butuh waktu untuk pulih. Terkadang menghadirkan seseorang yang baru untuk mengobati hati itu tidak ada salahnya,”


“Maksud kamu?”


“Sudahlah lupakan itu, Nagita. Sebentar lagi kita sampai.”


Nagita terdiam hingga pada akhirnya mereka tiba di sebuah pelabuhan. Mereka turun dari taksi dan di minta menunggu oleh Damar sementara pria itu membeli tiket untuk mereka bertiga. Rey yang sudah tidak sabar lagi membuat Nagita berkali-kali berusaha menenangkan putranya. Setiba di sana bahkan Rey membuka kaosnya hendak berlari ke pinggiran pantai. Tetapi berhasil di tarik kembali oleh Nagita karena di sana terdapat banyak sekali sampan-sampan yang dapat menampung sekitar 20-30 orang dalam sekali menyebrang. Dan jika pun memberikan izin untuk mandi. Tentu saja ada tempatnya. Ia pertama kali mengajak Rey ke pantai.


Sebuah pemberitahuan bahwa perahu yang akan ditumpanginya telah tiba dan pemegang tiket dengan warna tertentu sudah siap untuk berangkat dalam waktu beberapa menit.


“Tujuan kita ke mana?”


“Kita perginya ke Gili Trawangan dulu. Setelah itu baru yang lainnya, dan terakhir kita ke tempat tujuan awal. Tempat menginap semalam,”


“Duitnya?”


“Kalau sekadar liburan dan makan-makan sih nggak apa-apa Nagita. Asal jangan di suruh buat beli jet pribadi kayak Papanya Rey, aku bakalan ngeluh karena nggak sanggup,”


“Kamu ada-ada saja.”


Mereka bertiga langsung naik ke atas perahu. Barang-barang mereka telah di bawakan. Hanya suara Rey yang ribut sedari tadi membuat Nagita merasa sedikit pusing. Ditengah perjalanan, nampak beberapa pulau yang berjejer di sana. Bahkan perahu-perahu itu memiliki tujuannya masing-masing. Tidak mengantarkan penumpang satu dan yang lainnya dengan satu perahu.


Setelah tiba di sana mereka turun dan memang benar yang dikatakan oleh Damar jika berangkat pagi adalah waktu yang sangat baik karena tidak ada panas yang menyengat seperti kemarin waktu keberangkatannya.


Tetapi beberapa langkah menjauh dari pantai. Rey meminta untuk digendong. Nagita bahkan menolak. Tetapi justru Damar menyuruhnya untuk menggendong Rey.


“Kenapa, sayang?”


“Perut Rey mual. Pusing, pengin muntah,”


Ia hanya menggeleng dan langsung menggendong putranya. “Rey mabuk perjalanan laut, Nagita. Ya sudah ayo beli obat untuk dia,”


Meski tempat itu merupakan tempat wisata lokal. Tapi sebagian besar isinya merupakan orang-orang asing yang datang untuk berlibur. Bahkan di sana tidak akan pernah kesulitan untuk bertanya karena keramahan warga sekitar. Damar duduk menunggu dirinya yang tengah membelikan Rey obat.


“Sudah, Mar.”


“Langsung ke hotel. Istirahat ya!”


“Nggak. Rey mau mandi pantai,”


Nagita memutar bola matanya. Putranya itu sakit. Tetapi sangat keras kepala. Bahkan tadi anak itu masih bermanja-manja dan melilitkan kedua tangan dileher Nagita. Kini anak itu langsung meminta diturunkan.


“Hotelnya di mana?”


“Tuh di depan. Tinggal beberapa meter lagi,”


“Papa, nggak ada mobil ya di sini?”


“Papa?” tanya Nagita.


“Salah. Om Damar maksud, Rey.”


“Jangankan mobil Rey. Motor aja nggak ada, di sini itu kita kalau mau jalan-jalan bisa pakai sepeda. Atau nggak keliling pakai cidomo, tuh contohnya.” Damar menunjuk salah satu kereta kuda yang melintas di depan mereka.


“Naik yuk, Ma. Seru kayaknya, kayak lagu anak-anak,”


“Lagunya kayak gimana?”


“Pada hari minggu ku turut Ayah ke kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka-“ jawab Rey polos sambil bernyanyi.


“Sekarang itu beginian cuman adanya di tempat-tempat kecil. Nggak bakalan ada di kota lagi,”


“Nah maka dari itu, Rey mau naik. Biar diganti, pada hari libur Rey turun Om Damar liburan. Naik sampan istimewa Rey sampai mabuk laut,” mereka berdua tertawa melihat tingkah kelucuan Rey yang sangat polos.


“Oke, sekarang kita ke hotel dulu. Setelah itu kita cari baju terus mandi di pantai. Oke?”


“Beneran lho ya, Om?”


“Iya. Janji deh,”


Mereka berdua langsung menuju hotel yang sudah dipesan melalui basis online. Sekarang segalanya serba mudah. Bahkan Nagita tak habis pikir akan tiba di sana. Pantai dengan pasir putih  yang sangat indah. Cahaya matahari masih hangat-hangatnya menyinari karena mereka berangkat terlalu pagi tadi. Penyebarangan pun sangat pagi dibuka karena beberapa pekerja ada yang pulang-pergi meski ada tempat penginapan khusus. Namun di sana sangatlah aman. Karena mereka saat mereka tiba. Segala barang bawaan mereka langsung diperiksa oleh petugas demi kenyamanan bersama.