RICH MAN

RICH MAN
MENGAKHIRI DEMI KELUARGA



Di meja makan, dia tahu bahwa istrinya belum menghabiskan sarapan. Rey tahu bahwa Marwa menghindarinya karena sakit hati atas apa yang dia temukan semalam. Rey juga mengerti bahwa itu adalah hal yang tidak bisa lagi dia hindari.


Perlahan dia masuk ke kamar sesuai membersihkan sisa makanannya. Nampak istrinya tengah menangis di sana. Dengan sangat hati-hati ia mendekati istrinya.


“Mau apalagi kamu, Mas?”


“Kenapa kamu bilang begitu?” pria itu berusaha memperbaiki keadaan dengan cara mendekati istrinya dan berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang telah dia perbuat. Rey sendiri ingin sekali menjelaskan itu semua bahwa apa yang terjadi semalam tidak seperti yang dipikirkan Marwa.


“Sebenarnya aku nggak mau curiga sama kamu, Mas. Tapi setelah apa yang aku temuin tadi malam. Aku berpikir bahwa itu milik sekretaris kamu, Mas. Tapi, barusan perempuan itu bilang kalaud dia nganterin kamu sarapan setiap hari. Aku capek masak, kadang kamu nggak makan itu semua, Mas. Kamu nggak tahu usaha aku baut itu semua. Alasan kamu telat, dan telat. Tapi aku bangun pagi demi kamu. Andai aku bisa ngeluh, aku capek Mas. Capek banget atas semua ini. Tapi aku nggak mau berantem hanya karena aku kelelahan dan ngeluh sama kamu,”


Mendengar isakan istrinya dan menyaksikan air mata perempuan itu jatuh dari matanya. Rey dengan segera sigap mendekati sang istri. Barangkali emosi istrinya yang saat ini sedang membuncah bisa jauh lebih baik.


“Lebih baik kamu biarin aku sendiri dulu, Mas!”


“Nggak bisa,”


“Kenapa?”


“Karena aku nggak bakalan pernah ninggalin kamu dalam keadaan nangis seperti ini,”


“Justru dengan cara kamu terus di sisi aku yang jauh lebih membuat aku sakit hati, Mas. Itu terlalu sakit,”


“Aku bakalan jelasin siapa perempuan itu,”


“Nggak perlu,”


Ketika Rey ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Alin, justru Marwa melepaskan pelukannya Rey yang ingin menenangkan emosi sang istri. “Apa artinya kamu meluk aku, Mas. Saat pikiran dan hati kamu ada sama wanita lain. Apa gini juga cara kamu nenangin dia di sana?”


Dia tahu bahwa selama ini dia sangat salah dalam memberikan perhatian kepada Alin hingga perempuan itu berpikir yang lain. Bahkan Alin berpikir bahwa Rey akan membalas cintanya.


Melihat punggung istrinya tenggelam dibalik pintu dengan mendengar suara dentuman yang keras. Sebelum tubuh itu menghilang, Rey melihat istrinya mengusap matanya. Dia yakin bahwa itu adalah tangisan yang sangat sakit untuk Marwa. Pagi itu, tidak bisa lagi dipungkiri oleh Rey bahwa semua rencana dia untuk mengajak istrinya pergi ke tempat kelas ibu hamil ternyata gagal. Ia sengaja meluangkan waktunya agar tidak merasa bersalah. Akan tetapi itu menjadikan semuanya jauh lebih berantakan lagi.


Di luar sana. Marwa melemparkan pandangannya pada sebuah kolam kecil yang ada di gazebo belakang rumahnya. Dia duduk di sana berusaha menenangkan dirinya atas apa yang terjadi antara dirinya dan sang suami. Dibalik semua perlakuan sikap baik Rey selama ini ternyata menyimpan begitu rapi mengenai perempuan lain di dalam rumah tangga mereka berdua. Hal yang tidak pernah diduga oleh Marwa terjadi begitu saja.


Perempuan yang selama ini diam akhirnya berbicara dengan menggunakan semua bahasa perwakilan hatinya hingga sampai pada telinga Rey mengenai apa yang diarasakan selama ini.


Dia masih menangis saat itu juga. Marwa ingin kembali lagi ke kamarnya. Akan tetapi Rey melewatinya begitu saja. Barangkali saat ini mereka akan perang dingin untuk sementara waktu. Walaupun itu pernah terjadi dahulu, akan tetapi sikap Rey yang kini tidak lagi menjadi pengalah. Justru suaminya hanya melihatnya kemudian meninggalkannya begitu saja.


Rey membanting pintu utama dan meninggalkan rumah. Terdengar juga Rey sepertinya emosi dengan caranya yang membanting pintu mobil begitu keras.


Bukan bermaksud menyinggung apalagi untuk membuat istrinya semakin sakit. Akan tetapi tidak ingin melihat istrinya menangis terus menerus dan kali ini dia akan membatalkan semua kontrak kerja itu bersama dengan Refi, papa dari Alin. Daripada rumah tangganya yang berantakan.


Setibanya di kantor, dia mencari berkas-berkas tentang kerjasama itu dan akan benar-benar melakukan pembatalan. Meski risiko yang diterima adalah ganti rugi dengan kerugian yang sangat besar. Akan tetapi dia akan berusaha untuk bernegosiasi dengan papanya barangkali papanya akan membantu mengenai hal ini. Selama ini dia tidak pernah meminta apa pun dari papanya. Kali ini, demi rumah tangganya. Rey akan berusaha untuk lebih bijak dalam menyikapi rumah tangganya dan tidak lagi membuat Marwa menangis.


Dia menemukan file yang ditanda tangani beberapa waktu lalu. Kali ini sebelum pergi menemui Refi. Dia ingin menemui papanya untuk meminta bantuan.


Dengan keadaan emosi menyetir dan menuju kantor papanya. Rey yang baru saja tiba setelah beberapa menit menyetir dengan keadaan yang macet seperti biasanya. Dia langsung menuju ruangan papanya. “Papa ada?” tanyanya pada sekretaris papanya.


“Ada, baru saja datang,”


“Rey, tumben?” tanya papanya yang langsung beranjak dari tempat duduknya. “Kamu nggak ke kantor?”


Rey menjambak rambutnya dan berkali-kali mengacaknya. “Kamu ini kenapa, sih?”


“Aku buat Marwa nangis, Pa,”


“Kok bisa? Sehebat apa pertengkaran kalian berdua sampai kamu tega buat istri kamu nangis?” tanya papanya dan langsung duduk di depan Rey. “Kamu apain istri kamu? Kamu tahu kan dia lagi hamil, gimana bisa kamu tega seperti itu?”


“Ceritanya panjang, Pa. kita bicara sebagai sama-sama suami aja kali ya, Pa. jangan cerita ini sama Mama. Aku tahu kalau Mama bakalan khawatir banget kalau Papa ceritain dia nanti,”


Pria itu mengangguk, “Cerita! Kali aja Papa bisa bantu,”


“Jadi itu begini, Pa. Aku kerjasama sama orang gitu. Nah orang ini ngasih proyek lumayanlah, Pa. Karena aku juga pengin kan bahagiain Marwa. Tapi semuanya berantakan, anak dari orang yang ngajak aku kerjasama itu suka sama aku. Dan dia bahkan nyatain cinta, konyolnya lagi aku nggak berani main ponsel di dekat Marwa, Pa. Dia mulai curiga sama aku, dia juga mulai seperti orang aneh gitu, dan yang buat aku marah itu tadi, Pa. Waktu kami berdua sarapan, dia telepon aku. Tepat banget dihadapan istri aku, nah Marwa minta aku jawab tuh telepon. Yang terjadi adalah perempuan ini bilang kalau dia buatin aku sarapan dan ada di kantor,”


“Ujian suami kalau istri lagi hamil ya gitu. Sekarang tergantung kamu, bisa jaga hati nggak buat istri kamu? Atau justru malah terjebak dengan cerita yang sama seperti Papa dulu? Ada dua pilihan, Rey! Pertama kamu akan tetap sama istri kamu, kedua barangkali kamu bakalan tergoda oleh perempuan lain. Tapi apa pun keadaannya pilih istri kamu, secantik apa pun perempuan di luar sana. Istri kamu adalah orang yang paling cantik. Tanamkan dalam diri kamu bahwa cukup belajar dari masa lalu Papa, jangan sampai terulang lagi,” Azka mulai menjelaskan beberapa kejadian di mana dia mengkhianati Nagita dulu. Tidak ingin jika itu terjadi pada putranya.


“Pokok permasalahannya di mana?”


“Karena orang yang ngajak aku kerjasama itu seolah sengaja buat aku dekat sama anaknya, Pa. aku mau udahan sama ini semua, Pa. Takut kalau sampai istri aku justru nangis cuman gara-gara bisnis aku, tapi di sana dia nangis tersiksa cuman karena orang baru,”


“Jadi? Kamu sekarang mau putusin kontrak gitu?”


“Hmmm, iya, Pa. Kalau misalkan aku minta dana buat minta bantuan Papa boleh? Aku pinjam, Pa. Nanti ganti, aku nggak mau terus-terusan seperti ini. Berantakan banget, Pa. Aku sering bohong sama istri aku, padahal nyatanya aku keluar sama Alin,”


“Siapa dia?”


“Perempuan tadi, Pa. Anak dari orang yang ngajak aku kerjasama itu,”


Azka kemudian berdiri, mengulurkan dangannya, “Bangun, Nak!”


Rey menyambut uluran tangannya dan ditarik beberapa langkah dari tempatnya duduk tadi. “Karena rumah tangga itu jauh lebih penting. Apalagi saat ini istri kamu hamil, keputusan yang telah kamu ambil untuk mengembalikan semua utuh keluarga kamu itu adalah pilihan yang tepat, Papa dukung. Dan soal dana, Papa bakalan bantu sekalipun itu Papa jual beberapa saham, hanya demi kamu,”


“Pa,” panggil Rey pelan.


“Jangan pernah korbankan hati istri serta calon buah hati kamu, Rey. Kamu sendiri pernah merasakan bagaiamana susahnya sama Papa dulu buat ketemu, dan Papa nggak mau kejadian sama terulang lagi, nggak semua Rey perempuan itu punya hati kayak Mama kamu. Memaafkan atas semua apa yang telah terjadi, sesakit hati apa pun Mama kamu. Selalu ada kamu yang dia libatkan bahagianya, kadang Mama milih sakit hati dibandingkan lihat kamu nggak punya Papa,”


Dia ingat masa kecilnya yang di mana dulu pertengkaran orang tuanya karena kehadiran orang baru pernah begitu menyayat hati. Merenggut bahagianya dengan tega. Ia ingat betapa Mamanya tidak pernah mengabaikan papanya dulu meskipun rasa sakit itu mencekam. Kini, dia sadar bahwa hati Mamanya begitu luas untuk menerima maaf dari perbuatan papanya di masa lalu.


 


 


Jika bukan karena demi istrinya, Rey akan tetap melanjutkan proyek itu. Akan tetapi istri dan buah hatinya jauh lebih penting. Membuat Marwa stress dan menangis tidak pernah dia inginkan. Istrinya istimewa, sekalipun istrinya tidak pernah membuatnya merasa kecewa dan sakit hati atas apa yang diperbuatnya selama ini.