
Percakapan semalam cukup membuat Marwa paham mengenai dia yang harus berhenti untuk ikut campur ke dalam hubungan temannya itu. Marwa tidak mau lagi jika dia harus menjadi korban orang lain. Di mana dia harus mengakhiri semua ini dan tidak akan pernah melakukan pembelaan terhadap perempuan yang menjadi simpanan. Marwa sendiri tidak akan pernah melakukan hal bodoh ketika dia ditegur secara baik oleh Rey.
Dia sadar jika yang dilakukan Hana itu adalah hal yang salah. Marwa curhat kepada suaminya mengenai temannya tanpa mengatakan siapa nama lengkap temannya itu. Rey memang tidak ikut campur lebih jauh mengenai nama dan siapa yang dimaksud. Suaminya justru bersikap dengan sangat baik dan tidak berkata apa pun ketika dia curhat tentang temannya.
Kali ini dia bertemu dengan Hana di sebuah kafe di pusat kota. Dia telah meminta izin kepada Rey untuk bertemu dengan temannya ini. Hana juga yang menyuruhnya menanyakan itu semua pada Rey. Dan Hana ingin mendengar bagaimana respons dari suami Marwa.
Ketika dia sudah tiba di kafe dan justru anaknya tertidur, Marwa tetap memangku anaknya yang yang sedang tidur tersebut sampai pada akhirnya Hana datang sendirian dengan raut wajah yang begitu ceria.
“Dih, dapat jackpot nih kayaknya sampai senang begitu?” tanya Marwa kepada temannya yang baru saja datang dan rambut baru yang dan juga seperti yang dikatakan oleh perempuan itu bahwa dia baru saja pulang dari salon.
Hana memang sangat rajin perawatan tubuh dan itu dibiayai oleh Zibran, kekasihnya. Marwa tidak pernah menyangka bahwa hubungan mereka begitu baik sekalipun Hana tahu bahwa pria itu sudah punya istri dan justru keduanya nekat melakukan hubunga terlarang. Bahkan, Hana juga dengan beban yang dipikirannya antara ingin melanjutkan hubungan itu atau justru berhenti sampai di sana. Mengingat jika Zibran mengatakan jika dia akan menceraikan istrinya ketika Hana hamil nanti.
Benar saja, jika mereka sudah tinggal bersama. Dan itu semakin menyakitkan bagi Marwa. Tapi, dia ingat pesan suaminya bahwa dia tidak boleh ikut campur pada urusan temannya lebih jauh lagi. Kali ini dia hanya tersenyum melihat ekspresi temannya ketika dia datang.
“Si cantik kok bobok sih?” Hana mengeluarkan boneka dari dalam tasnya. Boneka kecil yang diberikan kepada Audri yang sedang tidur.
“Duh, sampai repot begitu. Maaf ya ngrepotin,”
Marwa tidak pernah certia jika tempat Hana bekerja itu adalah milih mertuanya. Biarkan saja temannya bekerja di sana dengan tenang. Tapi, mengenai temannya yang masih single justru pacaran dengan pria yang sudah beristri itu yang membuat Marwa sedih. Karena teman baiknya sejak dulu. Tapi sekarang temannya meminta saran dari dirinya.
“Apa yang dibilang sama suami kamu?”
Marwa menelan salivanya. Apakah nanti Hana akan setuju atau tidak dengan saran darinya itu. Ya, dia memang konsultasi dengan Rey karena Rey adalah seorang pria juga yang pasti lebih paham bagaimana semua itu terjadi dan juga bagaimana taktik seorang pria untuk bisa mendapatkan hati seorang wanita dengan sangat mudah. Hal itu sudah dipikirkan oleh Marwa dan juga dia sangat takut jika nanti ucapannya menyinggung hati Hana.
“Ini antara kamu terima atau tidak ya, Han. Aku nggak mau maksa kamu,”
Hana menganggukkan kepalanya. Apa pun saran dari suami Marwa pasti dia dengarkan dengan cukup baik. Sekalipun itu sangat menyaktikan. Karena dia yang mencintai Zibran. Bukan karena itu saja, tapi Hana pernah keguguran dan itu juga anak Zibran. Karena pekerjaannya yang begitu berat. Hana keguguran dan Zibran tahu hal itu dulu. Dia keguguran satu tahun yang lalu. Sampai sekarang ini, Hana masih tetap menjalin hubungan dengan pria yang sudah punya istri itu.
“Bilang, Marwa! Apa yang dikatakan sama suami kamu!”
Marwa menarik napas dan menundukkan kepalanya. “Mas Rey nyuruh kamu untuk tanya ke Mas Zibran, bagaimana hubungan kalian berdua apakah berlanjut atau bagaimana. Karena menurut Mas Rey, seorang pria yang akan mengatakan akan menceraikan istrinya itu adalah hal yang kemungkinan sangat kecil dan justru kadang akan memilih untuk menetap dengan istri pertamanya,”
Hana memejamkan mata. Dia mengerti dengan ucapan itu. Seklipun Marwa tak berucap dengan panjang dan juga secara rinci. Jawabannya akan tetap sama, yaitu meninggalkan Zibran. Kenangan dengan Zibran begitu banyak. Bagaimana dia bisa lupa dengan pria itu dengan mudah. Apalagi pria itu sangat menyayanginya. Sekalipun Zibran pulang dua kali dalam seminggu. Itu sudah cukup baginya untuk bertemu. Main kucing-kucingan selama satu tahun lebih dan tidak ada apa-apa selain meminta jatahnya sebagai seorang kekasih. Ya, Hana tahu jika risiko berpacaran dengan pria yang sudah punya istri apalagi dia dengan begitu polosnya memberikan kehormatannya untuk Zibran ketika pertama kali Zibran mengungkapkan janji bahwa dia akan menikahi Hana dan menceraikan istrinya. Meninggalkan kedua anaknya serta masa lalunya yang pernah begitu menyakitkan.
Zibran memang mengatakan bahwa rumah tangganya memang tidak bisa diselamatkan lagi dan kemungkinan memang akan bercerai. Waktu itu tidak ada pilihan lain bagi Hana untuk bertahan ketika dia mengetahui kekasihnya memang punya istri. Zibran jujur dari awal. Dia memang sangat ingin menikah dengan pria itu tapi sampai sekarang, Zibran belum juga memberikan jawaban.
Tentang dirinya yang sudah tidak perawan lagi karena berhubungan dengan Zibran sampai dia ceritakan kepada Marwa karena dai merasa sangat bersalah. Pria itu mengancam akan meninggalkan dirinya ketika dia tidak mau diajak berhubungan. Kesalahan besar yang dilakukan oleh Hana adalah memberikan kehormatannya kepada pria tersebut.
“Terus, suami kamu bilang apa lagi?”
“Kamu bakalan nemuin pria yang bakalan nerima kamu apa adanya. Tapi kamu tetap jujur ketika nanti ada yang mau menikahi kamu. Masa lalu itu, semua orang pasti punya masa lalu buruk. Aku nggak nyalahin kamu, Hana. Sama sekali nggak, tapi kamu percaya atau nggak itu adalah urusan kamu. Mungkin kamu memang sayang sama dia. Tapi, Mas Rey juga bilang kalau sekali pria itu berselingkuh. Maka ketika sama kamu nanti, pasti dia melakukan hal yang sama. Karena kamu mengambil dia dengan cara yang tidak baik juga,”
Jika itu adalah sebuah panah kecil yang sedang membidik apel diatas kepala orang. Maka, itu sangat tepat sasaran karena benar seperti yang dikatakan oleh suami Marwa bahwa itu memang akan terjadi. Tapi, semua sudah terjadi. Hana menelan kepahitan yang teramat luar biasa.
Hana menggigit bibir bawahnya. Sudah satu tahun lebih mereka tinggal bersama di apartemen milik Hana yang dibelikan oleh Zibran waktu itu sebagai kado ulang tahun. Tapi, bodohnya dia juga merelakan kehormatannya ketika Zibran meminta hal bodoh itu kepadanya. Dia melepaskan kehormatannya dengan begitu enteng.
Sejenak dia menghela napas panjang dan tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia hamil kali ini. Dia baru saja pulang dari dokter kandungan mengenai pemeriksaan kehamilannya. Hana memang bodoh, sangat bodoh. Dia bisa-bisanya percaya pada omongan manis pria itu yang sampai sekarang malah masih bertahan dengan istrinya. Harusnya dia sadar jika Zibran tidak bisa meninggalkan istrinya apalagi kedua anaknya.
Sekarang ini apa? Dia tidak bisa meninggalkan Zibran. Anak yang di dalam kandungannya juga kali ini tidak tahu nasibnya seperti apa. Bahkan Hana juga meninggalkan kedua orang tuanya demi memperjuangkan cintanya dengan pria itu. Apakah ini juga bentuk karma atas apa yang dia lakukan selama ini kepada orang tuanya? Orang tuanya pernah melarang dia berhubungan dengan pria beristri.
“Han, kamu nggak apa-apa?” pertanyaan yang begitu lembut keluar dari mulut Marwa. Pasti pria yang menjadi suami Marwa itu sangat bersyukur punya istri seperti Marwa. Pun begitu dengan Marwa yang begitu bersyukur punya suami seperti Mas Rey yang selalu memberi nasihat baik untuk dirinya. Mobil merah yang terparkir di luar merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan Rey untuk Marwa dan itupun dia tahu ketika Marwa menceritakan saat Hana bertanya. Sungguh, nasib temannya jauh lebih baik dibandingkan dengan dirinya yang hidupnya sudah hancur. Harusnya dia percaya dengan nasihat puluhan orang. Bahkan semua orang yang ada di restoran pernah mengingatkan dirinya bahwa dia harus mengakhiri hubungan itu. Tapi bodohnya dia yang mau menjadi simpanan laki-laki itu. Apalagi sampai mengandung anak dua kali seperti sekarang ini. “Mas Rey juga bilang. Kalau kamu harus minta kepastian. Misalnya dinikahi, dibandingkan kalian tinggal bersama tanpa ikatan. Nggak apa-apa kamu jadi istri kedua yang penting Mas Zibran bisa adil dan juga istri pertama ridho atas apa yang kalian lakukan. Mas Rey juga bilang kalau kamu harus tegas, Hana,”
Dia menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan oleh suami temannya itu bahwa dia harus tegas sebagai seorang perempuan. Apa yang dikatakan oleh suami temannya tidak meleset dan benar saja jika dia memang seharusnya menerima dirinya sebagai istri pertama. Jatuh cinta, nafsu, dan juga kebodohan Hana yang berhubungan badan dengan Zibran tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Baru kali ini dia menyesali perbuatannya ketika dia tahu bahwa dirinya hamil. Rasa sakit perut yang tidak bisa hilang sejak beberapa waktu lalu membuat Hana kemudian memutuskan untuk USG dan benar saja bahwa di sana ada buah pengkhianatan mereka berdua yang berhasil untuk kedua kalinya.
Jika dulu Hana keguguran karena pekerjaannya yang memang terbilang tidak bisa berhenti karena tidak ada yang menafkahinya yang waktu itu bodoh meninggalkan orang tua demi Zibran. Sekarang dia mendapatkan karma itu dan hamil untuk kedua kalinya, yang di mana anak Zibran juga. Dia tidak berani jujur ketika tahu hasil bahwa dia sudah hamil selama enam minggu. Ini adalah suatu kebodohan baru. Dia terlihat seperti orang yang baik-baik saja. Tapi, bagaimanapun juga dia tetap perempuan bodoh yang berselingkuh dengan suami orang lain.
Hana menggigit bibir bawahnya. Apakah dia harus jujur kepada Marwa mengenai dia yang hamil? Ataukah dia harus tetap bungkam dan merahasiakan ini semua dari sahabatnya. Tapi Zibran adalah orang yang paling wajib tahu mengenai hal ini. Dia yang harus tahu mengenai kandungan Hana. Dia juga yang harus bertanggung jawab seperti yang dijanjikan waktu itu bahwa dia harus memberitahu agar anaknya punya status dan jangan sampai dia menjadi seorang perempuan yang akan merangkap peran sebagai orang tua ganda.
“Pilihan kamu sekarang apa?” tanya Marwa yang masih menggendong anaknya dengan begitu tenang. Melihat anak Marwa membuat hatinya sedikit melunak. Dan begitu bahagianya Marwa bersama dengan suaminya dan juga anaknya.
“Aku nggak bisa tinggalin, Mas Zibran,”
“Pilihan ada ditanganmu, Na. aku nggak bisa ikut campur lebih jauh lagi. Karena Mas Rey bilang kalau aku nggak bisa ikut campur lebih jauh lagi ke dalam urusan kamu sama Mas Zibran,” ungkap Marwa.
Lihat bagaimana cara perempuan itu menceritakan suaminya yang selalu mendidiknya dengan baik. Alih-alih punya suami yang baik, justru dia mengandung anak dari pria yang beristri. Larangan orang tuanya tidak pernah dia dengarkan. Inilah hukumannya sekarang. Begitu cepat hukuman itu dia rasakan.
“Na, aku nggak apa-apa kan tinggal sekarang? Audri tidur nih, Mas Rey juga siang ini katanya bakalan pulang cepat,”
Hana tak berpikir panjang lalu dia menganggukan kepalanya. “Kamu hat-hati di jalan, Marwa!”
Bahagia? Tentu saja yang dirasakan oleh Marwa adalah bahagia. Sekalipun dia tidak pernah melihat Mas Rey yang selalu diceritakan oleh Marwa itu. Tapi kata Marwa, suaminya itu sangat mirip dengan anaknya. Marwa juga menceritakan bahwa pernikahan mereka itu adalah perjodohan yang sangat konyol. Perjodohan yang ternyata adalah mereka berdua saling menunggu satu sama lain karena cerita yang lalu telah usai ketika mereka belum saling memiliki satu sama lain. Tapi ketika itu Marwa juga menceritakan bagaimana Rey dan dia bertemu.
Sejenak, dia menghela napas. Bagaimana ini? Zibran? Anak yang dikandungnya. Pasti akan sangat menyedihkan bila Zibran menduakan cintanya. Perempuan manapun tidak akan pernah ikhlas jika dimadu. Pun begitu dengan Hana yang tidak akan pernah terima jika cintanya dibagi dengan perempuan lain. Termasuk istri pertama Zibran dan kedua anaknya. Jika nanti pria itu menepati janjinya untuk menikah. Maka, tetap saja yang diinginkan oleh Hana adalah perceraian Zibran dengan istrinya kemudian menikah dengannya. Tapi, tak segampang itu bukan?
Bodoh, dia tidak bisa berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri. Pasalnya dia tahu bahwa pria itu memang punya istri. Tapi tetap dilanjutkan dan justru bodoh mau membuka paha untuk pria itu. Dalam arti, memberikan kepuasan dalam hubungan intim yang harusnya dilakukan oleh pasangan suami istri. Bukan justru pasangan selingkuhan seperti dirinya.
Jika ada orang yang mengatakan bahwa suami orang itu jauh lebih baik dibandingkan dengan lajang. Maka berpikirklah untuk melanjutkan hubungan itu. Karena bagaimanapun juga kesalahan terberat ketika melanjutkannya adalah, pertama akan dihantui rasa bersalah. Kedua, tidak akan ada titik temu. Sekalipun nanti Zibran meninggalkan istrinya. Pasti dia yang tidak akan pernah tenang seperti yang dikatakan oleh suami Marwa tadi. Tapi, mau bagaimana lagi kalau sekarang ini dia sudah terlanjur hamil anak pria itu.