
“Bentar, tadi lo bilang
apa? Anaknya Deana dan Azka?”
“Iya, siapa sih yang
nggak tahu. Azka itu kan mantan brengsek,”
“Bentar, lo kenal Azka
dari mana?”
“Gue udah lama kali
kerja di sini, waktu itu gue ingat tuh laki-laki bawa istrinya kemari, bentar! Kalau
nggak salah sih nama istrinya Nagita, tapi gue nggak pernah lihat istrinya,”
Teddy langsung lemas
begitu saja. Berarti yang sekarang menjadi pasiennya adalah anak dari perempuan
yang pernah menghancurkan hidup Nagita.dan itu berarti adalah saudara kandung
Reynand, anak tirinya. Pantas saja ia merasa bahwa ada sesuatu kejanggalan pada
diri anaknya dan Syakila. Setelah diperhatikan memang mirp dengan Azka.
“Apalagi yang lo tahu?”
“Oke, gue jadi tukang
gosip jadinya nih ya. Deana hamil waktu itu ketika Azka ditinggal sama istrinya
karena sikap brengseknya, nah itu tuh ya si Azka dan Deana selingkuh. Ya itulah
pokoknya, mereka sedang main-main. Gue akui sih, gue juga pernah sama tuh
cewek. Dan waktu gue tanya, dia jujur. Terus alasan dia pindah ke luar negeri
waktu itu untuk sembunyiin tuh anak, beberapa waktu yang lalu tuh anak memang
pasien gue, cuman waktu gue tanya kenapa anaknya bisa begini, karena nggak
mungkin kalau nggak ada penyebabnya, dia jawab pernah mau digugurin,”
“Jangan bilang lo itu
brengsek juga?”
“Gue udah bilang. Kalau
gue juga pernah pake tuh cewek, tapi karena ada suaminya, ya nggak mungkin kan
gue mau bilang kalau dia tuh bekas gue. Siapa sih yang nggak tahu dulu tuh
cewek suka banget hancurin hidup orang, alasan gue make dia dulu karena
sama-sama mabuk, tapi ingat ya, waktu itu gue belum jadi dokter. Gue masih
kuliah, sekarang gue tobat lo, ingat! Tobat. Gue nggak lagi, semenjak saat itu
gue langsung nikah setelah berhasil kerja di sini,”
“Apalagi yang lo tahu
setelah ini?”
“Nggak ada. Yang gue
tahu emang itu aja sih, waktu Nagita itu di bawa, gue ada urusan lain. Jadi
nggak sempat, gue cuman lihat kakaknya doang sih. Setiap kali Azka itu datang,
kakaknya tuh cewek dipukulin,”
“Lo lihat kakaknya tuh
cewek?”
“Nggak jelas, karena
bukan bagian gue di bagian operasi caesar kan. Gue mah urusannya sama penyakit,
kecuali penyakit patah hati,”
“Sialan banget lo,”
“Kasihan ya, hmmm itu
si Syakila anak yang hadir diluar nikah. Dalam arti anak haram pokoknya,
mungkin memang lebih baik anak itu nggak usah panjang umur, kasihan aja karena
bakalan jadi bully nanti,”
‘Bukan cuman Syakila,
Rey juga. Dia hadir di luar pernikahan. Dia juga anak haram, tapi anak itu juga
anak aku. Jadi jangan pernah menilai anak itu haram, yang salah itu orang
tuanya, anak nggak tahu apa-apa’ gumamnya.
Ini akan menjadi hal
yang sangat rumit bagi Teddy. Kedua anak itu merupakan saudara kandung. Tetapi
tidak mungkin baginya menceritakan hal itu kepada Rey dan juga Nagita. Apalagi
pada Deana, ia tahu bahwa Deana adalah penyebab hancurnya perasaan Nagita dulu.
Ia menjambak rambutnya karena merasa sangat frustrasi dengan keadaan ini.
Siang tiba, Rey
mencarinya ke ruangannya. Teddy yang baru saja selesai makan siang tiba-tiba
dicari oleh anaknya. Bagaimana caranya untuk menghindarkan kedua anak itu, atau
ia tetap membiarkan keduanya dekat? Teddy mendongakkan kepalanya dan langsung
memejamkan mata.
“Papa kenapa?”
“Hmm, Papa nggak
kenapa-kenapa. Sudah makan?”
“Sudah, Papa. Rey ke
kamar Syakila ya, Pa.”
Teddy hanya mengangguk,
ia melihat anaknya keluar dari ruangannya begitu saja. Semakin banyak beban
yang harus dipikirannya. Terlepas dari Syakila, sekarang ia dihadapkan dengan
suatu masalah besar lagi. Tidak bisa melarang anaknya berhenti bermain dengan
Syakila, karena mereka memiliki ikatan darah yang sangat kuat.
“Dok, ada hasil baru
lagi yang terlihat,”
Teddy mengambil map
yang berisikan hasil pemeriksaan Syakila.
“Kanker darah?”
“Iya dok, banyak organ
yang sudah tidak berfungsi lagi pada anggota tubuh Syakila,”
“Ini siapa yang meriksa?”
“Dokter Radit,”
“Dokter Radit juga ikut
dalam masalah ini?”
“Iya dok.”
“Syakila sekarang
bagaimana?”
“Syakila tidak sadarkan
diri, dok,”
“Ya Tuhan, sekarang ini
apalagi?”
“Untuk memberikan donor
sum-sum tulang belakang. Orang tua memiliki potensi hanya satu persen,
sedangkan lebih banyak melalui saudara kandung, dok. Sedangkan adik pasien baru
berusia dua tahun,”
“Nggak mungkin Rey
mendonorkan, Rey masih terlalu kecil. Dan jika pun mendonorkan, itu akan
sia-sia.” Gumamnya dalam hati.
Perawat itu pun
langsung keluar. Ia segera ke ruangan Syakila dan melihat keadaan anak itu yang
semakin memburuk. Begitu banyak penyakit yang diderita oleh anak tersebut.
Hukuman bagi ibunya yang mungkin tidak pantas diterima oleh anaknya.
Hingga malam menjelang,
ia mengajak Rey untuk pulang karena Syakila tidak sadarkan diri juga. Dokter
yang menangani Syakila pun bukan hanya satu, bahkan ada yang menunggu anak itu
di ruanganya. Tetapi tetap saja hasilnya nihil, anak itu tidak sadarkan diri sejak
kemarin.
Di rumah, setelah makan
malam dan memberishkan diri. Ia melihat istrinya tengah begitu bahagia dan
selesai dengan pekerjaannya, ia langsung duduk di samping istrinya yang sedang
membaca buku tentang kehamilan.
“Sayang nggak ngantuk?”
Nagita menggeleng dan
mencium pipi kanan Teddy.
“Ayo dong, kita tidur
sekarang ya!”
“Nggak, Mas. Masih
belum ngantuk,”
Barangkali Teddy tidak
perlu menyembunyikan apa pun lagi. Mengingat bahwa keadaan Syakila yang
memburuk, karena mengingat ucapan perawat tadi memang benar bahwa pendonor yang
bisa benar-benar memberikan bantuan untuk Syakila adalah saudara.
“Nagita, aku mau
ngomong,”
“Hmm, ngomong apa,
Mas?”
“Kalau seandainya Rey
donor sum-sum tulang belakang untuk Syakila bagaimana?”
“Setahu aku, satu
banding satu juta manusia di bumi ini berpontensi hanya sedikit yang cocok, dan
kenapa kebetulan sekali sama Rey?”
“Karena mereka adalah
saudara,” ucap Teddy pelan. Nagita langsung melemparkan bukunya ke atas meja.
“Maksud kamu apa yang
bilang kalau Syakila itu saudaranya Rey?”
“Dia anak kandung Azka
dan Deana, Nagita. Hasil dari perselingkuhan Azka dulu waktu kamu ninggalin,
Azka. Aku juga baru tahu ini, tapi apa salahnya kita coba?”
“Keterlaluan kamu
ngobarnin anak kamu sendiri dengan anak yang sudah menghancurkan hidupnya.
Nggak habis pikir aku kalau kamu mikirnya sedangkal itu, Mas? Biarin aja anak
itu, mati. Aku nggak peduli, pernah dia mikir nggak kalau seandainya Rey
meninggal waktu dalam kandungan aku waktu dia dorong aku di eskalator? Sekarang
dia pasti mohon-mohon biar Rey donor kan?” Teddy baru saja mengusap pipinya
karena mendapat tamparan dari Nagita.
“Aku cuman beranggapan.
Aku cuman bilang seandainya, Nagita.”
“Tetap saja, itu
nyakitin perasaan aku, Mas.”
Teddy melihat tangis
keluar dari mata Nagita. Tak seharusnya ia berkata seperti itu. Tak seharusnya
juga Teddy berkata jujur bahwa ia harus mengorbankan Rey tentang hal ini. Rey
juga terlalu kecil jika harus mendonorkan itu kepada Syakila. Rahasia besar
seperti ini hanya dirinya dan Nagita yang tahu.
*****
“Luna!”
Damar mencari
keberadaan istrinya, mereka sudah dikaruniai dua orang putri yang sangat
cantik. Walau sebenarnya ia menginginkan anak laki-laki. Dan kini setelah
memberikan jeda beberapa saat. Istrinya hamil lagi, berharap bahwa kali ini
adalah laki-laki. Damar sangat mengingkan bayi itu. Dua putrinya yang
cantik-cantik selalu saja menjadi penyemangat untuknya.
“Luna!”
Ia tak mendapat
tanggapan. Ia langsung masuk ke dalam kamar anaknya dan menemukan keduanya
tidur berpelukan.
“Anak Papa sudah tidur
ternyata,” ia mencium kening kedua anaknya dan berlanjut mencari Luna. Ia
langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan istrinya tengah berendam di
bathup.
panggil?” ucapnya sambil mencium Luna.
“Kamu sudah makan?”
“Sudah, aku tadi kunjungi
anak-anak. Mereka sudah tidur,”
“Mau ikut mandi?”
“Kamu tuh ya, masih
suka godain aku?”
“Nggak pake malu lagi,
anak udah mau 3 masih aja malu, kan nggak banget, Mas,”
“Lun, Nagita hamil,”
“Eh? Masa sih? Udah
berapa lama?”
“Memasuki usia minggu
ke tujuh sayang,”
“Teddy nikahnya lama,
sekarang baru berhasil bobol. Lah kita, baru nikah beberapa tahun, anak udah
mau tiga aja ya, nggak nyangka kalau memang si brengsek ini memang jago,”
Pletak
Luna mengaduh saat
Damar menyentil dahi istrinya. Sebenarnya niatnya adalah untuk memberitahukan
bahwa ia ingin sekali mengunjungi Nagita karena Teddy baru memberitahunya tadi
siang.
“Sakit tahu, nggak.
Nanti nggak dapat jatah baru tahu rasa kamu, Mas,”
“Bodo amat,”
“Sayang, kamu satu
rumah sakit kan sama, Teddy?”
“Iya. dapatnya di rumah
sakit yang sama, tapi aku jarang ketemu sama dia, dia kan jadwalnya beda sama
aku,”
“Bukan itu yang mau aku
bahas,”
“Terus?”
“Kamu tahu pasien atas
nama Syakila?”
“Tahu, bahkan saat ini
anak itu keadaannya semakin memburuk. Hampir satu bulan ada di rumah sakit,”
“Kenapa nggak di bawa
ke luar negeri sih itu anak?”
“Udah nggak mau lagi
sih orang tuanya. Karena keadaan yang sudah tidak memungkinkan,”
“Ayo cepat selesaikan
mandi kamu. Aku mau bilang sesuatu sama kamu,”
Sungguh ini adalah
sesuatu yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan dan keluarganya.
Tetapi ini adalah tentang Syakila yang sudah diberitahukan oleh Teddy, bahwa
anak itu adalah anak dari Deana dan juga Azka. Sulit bagi Damar untuk percaya,
tapi dengan bukti yang begitu nyata, percaya tak percaya bahwa semua itu adalah
nyata.
Damar bersandar di
pinggiran ranjang. Istrinya telah memakai pakaian tidur dan langsung
menghampirinya begitu saja. Tentu selama menikah, suatu kebahagiaan bagi Damar.
Karena ia tidak akan berdosa lagi jika menyentuh perempuan, karena kini
istrinya telah mampu memenuhi kebutuhan biologisnya.
“Ada apa tadi katanya
mau ngomong?”
“Benar kamu tahu
tentang Syakila?”
“Iya, anak itu jadi
perbincangan. Kenapa sih?”
“Anaknya Azka,”
Luna memekik dan seolah
tak percaya dengan hal itu. Damar tahu bahwa istrinya takkan percaya dengan hal
itu. “Kamu nggak bohong kan? Anaknya Azka cuman Rey kan?”
“Nggak, anaknya Azka
sama Deana. Bukan sama Nagita,”
“Bentar, Deana?”
“Iya, nama orang tua
dari anak itu adalah Deana. Dan dia sudah menikah sekarang. Sudah punya anak
juga, usianya sama kayak Tania, anak kita.”
“Terus?”
“Terus apa lagi? Aku
pusing tahu nggak, ini muter-muter nggak jelas. Azka hamili Nagita karena
diperkosa, terus nikah, udah gitu dia bilang sayang sama Nagita gitu aja, nah
parahnya lagi, Deana pernah hampir bunuh Nagita dan Rey waktu di dorong dari
eskalator. Dan bajingannya lagi, si Azka punya anak diam-diam dari Deana,”
“Kok aku pusing ya,
Mas?”
“Sama. Aku juga pusing.
Apalagi sekarang hubungan Nagita dan Teddy lagi nggak baik, semenjak Teddy
beritahu Nagita soal anaknya bersaudara dengan Syakila, Nagita langsung marah
dan nggak bolehin Rey ketemu lagi sama Syakila lagi,”
“Adik kamu juga kenapa
beritahu Nagita sih?”
“Aku nggak tahu. Teddy
minta izin kalau Rey donor sum-sum tulang belakang ke Syakila gimana. Dan
setelah itu dia kasih tahu Nagita kalau anaknya punya saudara,”
“Sableng adik kamu tahu
nggak. Nagita udah cukup dibuat menderita. Sekarang mau ditambah lagi
deritanya, kalau emang nggak mau nikahin Nagita, kenapa pas Nagita hamil dia
ngasih tahu kenyataan menyedihkan itu sih?”
“Entahlah. Aku mau
tidur, aku pusing. Besok kita ke sana deh.”
Damar tak habis pikir
dengan kenyataan itu. Ia tidak tahu lagi harus berkomentar seperti apa setelah
adiknya dengan gamblang memberitahukan bahwa Rey adalah saudara kandung dari
Syakila. Terlampau bodoh, Damar juga marah dengan berita yang ia dengar dari
adiknya sendiri. Apalagi sekarang ia tahu bahwa Nagita hamil anaknya Teddy.
Tentu itu takkan mudah baginya.
Ia memeluk Luna dan
mengelus perut istrinya yang sedikit membuncit. Damar takkan berhenti membuat
Luna hamil lagi. Sebenarnya beberapa waktu istrinya sempat berhenti karena ada
beberapa alasan yang membuatnya berhenti dari rumah sakit lama. Dan setelah Teddy
memberitahukan, ia langsung menyuruh istrinya masuk ke rumah sakit tersebut dan
di terima.
“Mas ayo!”
“Apaan?”
“Kunjungi dedek,”
Tak butuh waktu
panjang. Damar langsung bangkit dari tempat tidurnya melayani istrinya, meski
sedang tidak dalam keadaan baik. Tapi ia tidak ingin mengecewakan istrinya.
Damar tahu bahwa ternyata istrinya memiliki nafsu yang sangat besar selama
hamil mengingat itu adalah faktor hormon.
Bukan Damar namanya
jika ia tak bisa memuaskan istrinya. Luna selalu mampu terbuai oleh sentuhan
demi sentuhan yang ia berikan.
“Luna, aku masuk,”
Luna mengangguk. Ia
menyangga tubuhnya dengan tangan disebelah kanan dan kiri Luna. Ia mencium
istrinya beberapa kali dan menimbulkan suara dari percintaan mereka.
“Luna!”
“Hmmm, kenapa sayang?”
“Longgar,”
Pletak
Ia berhenti dan
memegangi jidatnya yang dijitak oleh Luna.
“Kanapa? Aku belum
selesai,” Luna langsung beranjak dari tempat tidur mereka. Ia menarik Luna dan
langsung melanjutkan aksinya lagi. “Jangan pernah berencana untuk lari, Luna. Saat
kita sudah sama-sama menikmatinya,”
“Kamu juga sih bikin
aku kesal,”
“Salah ngomong,”
“Yang longgarin juga
kamu, tuh anak-anak kamu sampai dua, mereka yang keluar loh dari sini,”
“Ya ampun Lun. Aku
cuman bercanda,”
Damar melanjutkan
aksinya lagi dan Luna luluh begitu saja. Ia menciumi Luna berkali-kali saat
mencapai puncaknya. Semenjak menikah, jangankan untuk memuaskan diri dengan
perempuan lain seperti dulu. Bahkan mendekati perempuan pun Damar sudah enggan
dan kini sudah ada istri dan anak-anaknya yang mampu menyenangkannya.
Setelah bercinta dengan
Luna. Ia mencium leher istrinya dan ambruk begitu saja di samping Luna.
“Puas?”
“Belum, tapi kamu lagi
hamil muda. Nanti kalau sudah lahir. Kita baru jor-joran buatnya,”
“Mar, aku pengin
cukup,”
“Kenapa?”
“Capek,”
“Nggak mau,”
“Sampai kapan terus
begini?”
“Sampai kita punya anak
cowok, kalau yang ini cowok, aku janji kita bakalan berhenti, Luna,”
“Kamu nggak pernah
absen tahu nggak,”
“Kamu tahu kan sekarang
kenapa aku brengsek? Karena aku tuh nggak bakalan puas kalau cuman sekali, aku
pengin hargai istri aku. Jadi daripada nyari lagi, lebih baik siksa istri,”
“Ayo tidur!”
Damar memeluk Luna dan
berusaha memejamkan matanya. Walaupun sebenarnya ia masih memikirkan rumah
tanggan Teddy dan Nagita. Sudah beberapa kali ia mengingatkan jangan pernah
membahas tentang Azka pada Nagita. Tetap saja adiknya keras kepala dan kejadian
seperti yang sekarang.