RICH MAN

RICH MAN
PENOLAKAN



Di kamar yang berbeda, seorang lelaki berbaring di atas ranjang dengan melipat kedua tangannya dibelakang kepala dijadikan sebagai bantalan. Dan setelah kejadian yang beberapa menit berlalu meninggalkan luka yang mendalam baginya.


Ia menatap langit-langit kamar. Apakah ini benar-benar berakhir? Persahabatan yang telah berusaha dia jaga harus hancur karena perasaan Reynand sendiri yang menyebabkan ini menjadi sangat renggang.


"Lo kenapa?"


Bayu tiba-tiba datang dan memukul perut Rey dengan telapak tangan. Rey segera bangun dari tempat tidurnya dan duduk bersila. "Lo kenapa, Rey?" Fendi datang membawa susu cokelat untuk mereka bertiga.


"Bayu, tadi kan gue sama dia lagi keluar. Terus kebetulan lihat Bintang sama Jenny di luar waktu lo tiduran barusan, saat itu juga gue ngelirik Bintang. Di situ Bayu minta gue buat ungkapin perasaan ke, Bintang. Pada akhirnya ya gini, gue salah paham sama dia selama ini, Fen,"


"Terus?" ucap Fendi dan juga Bayu serentak.


"Gue udah ungkapin perasaan gue gitu sama dia. Cuman Bintang selalu menghindar dan tadi waktu gue tanyain gimana perasaan dia selama ini sama gue, dia menghindar gitu dari gue. Dengan alasan kalau dia bakalan buatin gue minuman dan itu sudah kelihatan banget kalau selama ini dia enggak ada perasaan apa-apa, kan sama gue,"


"Jadi gini, bro. Enggak semua perasaan itu memang harus diungkapin kalau memang cinta, tapi alangkah baiknya diungkapin dan pada akhirnya mendem sendiri itu menyakitkan. Dan yang terjadi sama Bintang, dia mendem karena mungkin karena ada alasannya. Mungkin dia enggak mau rusak persahabatan lo atau apa gitu,"


"Terjebak sama perasaan begini ke sahabat itu sakit ya?"


"Kadang enggak mesti lo sama dia wajib punya hubungan menurut gue, bisa jadi lo itu cuman orang yang pengisi bahagia dia selama ini. Kalau misalnya saat ini lo dan dia itu pacaran, enggak menutup kemungkinan waktu lo putus sama dia, kalian berdua akan semakin renggang. Mungkin Bintang mau kalian tetap begini,"


"Bedanya dia enggak mau jujur sama perasaan dia sendiri,"


"Cewek ya gitu, dibilang cinta ya enggak. Dibilang enggak, eh malah cinta,"


Ketika lelaki itu berbincang santai dan menjelaskan soal pendekatan mereka untuk bisa mendapatkan hati masing-masing dari kekasih mereka.


"Oke, Rey. Jadi gue sama si Rista juga susah banget gitu dekatnya. Karena gue dari kelas dua belas gitu, gue udah selesai ujian kan. Tapi gue ke sekolah itu cuman pengin ketemu dia, iseng-isenglah pokoknya. Harusnya kan kalau udah begitu gue sibuk gitu kan ya, tapi gue masih santai aja tuh belum mikirin banyak hal. Gue bentar lagi ninggalin dia, Rey. Tapi gue ikat dia bukan karena gue mau egois, gue deketin dia hampir setahun, kalau kalian enggak percaya bisa tanyain ke dia,"


"Gila, lo dekati si Rista lama gitu?"


"Dan konyolnya, dia itu polosnya kebangetan. Makanya gue selalu gemas sama dia, janji gue sama diri gue sendiri adalah gue harus sukses dulu dan minta sama orang tua dia buat pindahin tanggung jawab ke gue,"


"Maksud lo?"


"Biar dia diserahin aja ke gue, gue nikahin dodol,"


"Otak lo tuh ya!" protes Fendi.


"Gue kelas dua belas, lo masih kelas sebelas,"


"Lo udah lulus bego,"


"Kampret lo emang. Jadi selama ini lo ke sekolah itu bukan nyari ijazah, tapi nyariin cewek lo?"


"Emangnya apalagi? Gue ke sekolah juga buat awasi calon masa depan gue,"


"Songong lo,"


"Ya intinya sih saran gue kalau lo emang sama-sama suka ya lanjutin aja gitu, Rey. Pertahanin perasaan lo, kadang ya cewek itu pintar banget sembunyikan perasaan, tapi sering nangis. Gue enggak pamer hubungan ya, ini terjadi waktu gue mau nembak Rista dan gue bilang kalau orang tua gue bakalan kuliahin gue ke luar negeri,"


"Terus?"


"Disitu Rista duluan yang meluk gue, gue juga hampir mau nyerah dapatin dia. Karena gue bilang gue mau pergi, maka dari itu dia bilang selama ini dia sayang sama gue, hanya karena dia takut tersakiti, jadi dia pendam sendiri,"


"Lo beneran mau ninggalin dia?"


"Iya, itu perintah Papa gue. Cuman gue udah janji sama diri gue sendiri kalau gue cuman butuh orang yang bakalan nemenin gue dari nol. Enggak peduli sama orang yang diluaran sana barangkali jauh lebih baik dari dia, tapi gue mau sama dia karena mungkin cuman dia yang enggak pernah ngeluh dan enggak pernah nyakitin perasaan gue, tapi dia yang paling bikin gue resah kalau dia enggak ada kabar,"


Rey mengangguk mengerti, apakah dia melakukan cara yang sama untuk membuat Bintang mengakui perasaannya seperti Rista?


"Enggak semua tapi, Rey bisa seperti Rista. Bisa saja ketika lo berencana mau bilang ke Bintang kalau lo mau pergi jauh, terus berharap lo bakalan dengar semua pengakuan dari Bintang tentang perasaan dia selama ini sama lo, enggak bisa gitu,"


Rey mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Bayu yang berkata demikian. Baru saja dia berencana untuk melakukan hal itu dan membuat Bintang mengaku tentang perasaannya.


"Perjuangin dulu, jangan dilepas. Apalagi kalau ternyata lo sama Bintang memang sama-sama saling suka, tapi kendalanya cuman sama dia, entah apa yang buat tuh cewek enggak mau jujur, tapi Jenny bilang ke gue kalau Bintang juga sayang sama lo,"


"tahu dari mana?"


"Bintang cemburu sama lo waktu lo sama Widya dihukum, kan gue enggak tahu tuh lo dihukum karena apa," jelas Bayu. Rey mengingat kembali tingkah Bintang yang berubah waktu dia dan perempuan itu dihukum bersama karena salah paham. Dan tidak salah lagi kalau memang selama ini Bintang menghindar karena cemburu.


Rey mundur dan bersandar di sandaran ranjang. "Dia cewek, enggak mudah buat jujur sama perasaan dia sendiri, Rey. Jujur gue juga kaget dengar lo ditolak,"


"Ah gue bukan ditolak, Bayu,"


"Tapi gue sama Fendi ngintip kok. Jadi apa yang mau lo rahasiain? Gue sama dia pura-pura goblok karena mau dengerin lo cerita doang,"


Rey mengambil bantal dan memukul Bayu dan juga Fendi bergiliran. "Ya tapi gue ada rencana sih, bukannya selama ini lo di kejar banget sama si Widya? Untuk membuktikan perasaan Bintang, lo dekati aja si Widya sebagai umpan. Jangan lo baperan nanti sama dia, intinya lo itu lagi buat si Bintang cemburu, Rey. Sejauh mana dia bisa menghindar dari perasaan dia sendiri karena lo buat dia cemburu sama orang yang sangat dia benci,"


Rey mengangguk pelan dan setuju dengan apa yang dikatakan oleh Fendi. Barangkali menjadikan Widya sebagai umpan tidak ada salahnya. Dia ingin mencintai Bintang, satu-satunya perempuan yang akan dia cintai kelak.