
Di rumah mertuanya, Marwa bukannya berbincang, tetapi diajak jalan-jalan oleh mertuanya. Berusaha untuk lebih dekat dengan mertuanya.
"Nginap ya malam ini di rumah!"
Marwa melirik mama mertuanya, bagaimana mungkin mereka menginap saat dia dan suaminya pisah ranjang karena dia belum siap bersama dengan Reynand. Begitu pula dengan suaminya.
"Ma, Mas Rey jemput nanti malam, jadi nginapnya lain kali saja,"
Nagita melirik menantunya dengan tatapan yang tidak menaruh curiga sedikit pun. Mungkin mereka berdua butuh waktu untuk berdua. "Kalau gitu makan malamnya yang di rumah ya!"
"Iya, Ma. Nanti aku masakin buat Mas Rey,"
"Iya sayang, nanti belajar masak masakan kesukaan suami kamu. Jadi kamu bisa masak itu buat Rey kalau lagi ada di rumah, terus untuk soal makanan, enggak ada masalah?"
"Enggak, Ma. Mas Rey baru pertama kali sarapan sama aku, biasanya kan beli,"
Nagita mengerti karena Rey pernah menceritakan kejadian tidak menyenangkan ketika mereka berdua hendak membeli peralatan memasak. Sebagai seorang perempuan, dia sangat miris dengan kejadian yang dialami oleh menantunya itu. Bagi siapa saja yang dituduh seperti penjahat, tentu dia akan marah walaupun tidak pernah melakukan kejadian itu.
"Ma, kita pulang yuk!" ajak Marwa karena merasa begitu asing dikerumunan orang-orang.
"Kenapa? Takut kalau ada yang bilang hal seperti waktu lalu sama kamu?"
Marwa mengangguk pelan dan berhenti begitu saja. Nagita awalnya masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan menantunya itu harus pulang karena tidak ingin sesuatu hal terjadi pada istri anaknya.
"Ya sudah, sekalian nanti jemput si kembar, kan kamu juga belum kenalan sama mereka berdua," ucap Nagita pada Marwa. Memang menantunya belum dia kenalkan pada Nabila dan Salsabila. Mereka hanya bertemu ketika akad saja.
Setibanya di rumah Nagita langsung mempersilakan Marwa istirahat karena sesuai permintaan Rey yang tidak ingin Marwa masuk ke dalam kamarnya. Meski perempuan yang dimaksud Rey adalah Marwa yang dulu, tetapi perempuan itu belum siap dan Rey juga mungkin belum siap saling mengetahui satu sama lain.
"Maaf ya, Mama enggak tahu kunci kamar Rey. Jadi untuk sementara waktu istirahat di kamar si kembar ya! Nanti kalau suami kamu pulang baru istirahat di kamar berdua,"
Marwa membeku setelah mertuanya berkata demikian, istirahat berdua? Jangankan istirahat berdua, bicara dengan suaminya pun hanya seperlunya. Ketakutannya terhadap lawan jenis masih membekas. Kecuali ketika suaminya selalu bersikap lembut terhadapnya beberapa hari ini. Rey yang terkadang terlihat seperti pria yang romantis. Dari cara dia memperlakukan Marwa, perempuan itu menerima dengan baik sikap suaminya yang hangat.
Rey tidak pernah memaksa dia untuk melakukan hal yang berat selama berada di rumah.
"Ya sudah, Ma. Aku masuk ke kamar dulu ya!"
Nagita mengangguk mempersilakan menantunya istirahat ke kamar.
Marwa melihat ada foto Rey sewaktu lulus SMA dan juga ketika wisuda didampingi oleh keluarga besarnya. Foto yang terpampang di kamar adik iparnya itu membuat Marwa tersenyum ketika melihat suaminya ketika masih sekolah ternyata sangat tampan.
Marwa memilih untuk istirahat sejenak.
Sore pun tiba, dia keluar dari kamarnya. "Marwa, bawa pakaian ganti?"
"Bawa, Ma, kenapa?"
"Sudah mandi?"
"Belum,"
"Mau ikut masak sama Mama? Nanti sekalian aja mandinya,"
Marwa mengikuti ke mana mama mertuanya pergi. Dia juga ingin belajar memasak apa yang disukai oleh suaminya. Meskipun dia baru berada di keluarga itu, Marwa sangat bersyukur karena mama mertuanya tidak terlalu banyak memerintahnya justru membimbingnya dengan sangat baik.
"Ma, maaf ya kalau aku belum bisa untuk bahagiain Mas Rey,"
Nagita melirik ke arah menantunya yang sedang membersihkan kulit udang. "Marwa kenapa ngomong gitu?"
"Karena aku belum bisa jadi istri yang baik buat Mas Rey,"
Marwa menggeleng. "Enggak Ma. Mas Rey selalu baik kok selama ini, tapi karena enggak mau kejadian terulang lagi waktu belanja itu Mas Rey emosian, aku takut. Tapi dia enggak suka aku diperlakukan seperti itu aja, Ma,"
"Jangan pikirkan hal itu, Marwa. Apa pun yang Rey lakukan, itu adalah sebagai bentuk dia hargai kamu sebagai istrinya, kamu senang nikah sama dia?"
Marwa terdiam, jujur dia belum merasakan hal itu. Tetapi selama ini Rey bersikap baik padanya, pernikahan mereka dilandasi tanpa cinta, tetapi dia percaya bahwa keduanya akan saling mencintai satu sama lain. "Belum, Ma. Aku belum ngerasain hal itu, tapi aku percaya Mas Rey bisa cinta juga sama aku,"
"Jangan pernah pikirkan soal cinta, Mama sama Papa juga nikah tanpa cinta. Tapi lihat sekarang, sampai sekarang kami awet, rintangannya itu memang berat sayang. Tapi harus tetap kuat dijalani ya," jelas Nagita sambil menghaluskan bumbu udang yang akan dibuatkan untuk Reynand.
"Mas Rey itu seperti apa sih, Ma?"
Nagita menoleh dan mematikan blender. "Marwa, dia kan suami kamu. Jadi nanti kamu bakalan tahu setelah menjalin hubungan yang lama sama dia. Kalian akan mengenal satu sama lain. Kalau Mama cerita, berarti kamu enggak penasaran dong sama suami kamu,"
Perempuan itu mengangguk pelan. Nagita tidak ingin menceritakan anaknya yang seperti apa. Biarlah keduanya saling belajar untuk membuka diri masing-masing agar bisa saling mencintai. Jika dia menceritakan tentang Rey, tentu saja Marwa tidak akan belajar untuk mencari tahu mengenai Reynand.
"Marwa, sungguh Mama rasanya seperti mimpi nikahkan Rey sama perempuan yang sudah buat hidupnya menderita sampai sekarang. Semoga Rey belajar mencintai kamu sebagai Marwa. Bukan seperti Bintang. Dan semoga ingatan kamu pulih setelah kamu dan dia saling mencintai. Mama percaya bahwa ini bukanlah suatu kebetulan, tapi ini sudah ditakdirkan Allah untuk kalian berdua."
Nagita membatin. Ada rasa bersalah dalam dada Nagita ketika dia merahasiakan tentang anaknya dari Marwa. Tetapi biarlah itu menjadi suatu rahasia besar bagi keduanya.
Sore itu pun terdengar suara mobil yang dan Nagita langsung keluar. Dia melihat suaminya sedang melonggarkan dasinya terlihat sangat kelelahan. Ia menyambut kedatangan suaminya dan seperti biasanya Azka selalu mencium keningnya. "Papa,"
"Ma, Papa mandi dulu ya! Gerah banget, Papa juga mau istirahat bentar,"
"Pa, Marwa di rumah,"
Azka melangkah masuk ke dalam rumah dan melihat menantunya sedang memasak. "Mama suruh dia masak?"
"Dia masakin suaminya, kalau untuk Papa biar Mama yang masakin. Ohya, Pa sepertinya ada titik terang nih untuk yang dua ini Pa. Marwa mulai menanyakan perihal Rey sama Mama,"
"Terus?"
"Mama jawab. Jadi biarkan saja mereka itu saling belajar memahami,"
"Ya sudah, Papa ke kamar. Ngomong-ngomong kok sepi? Yang dua itu ke mana?"
"Katanya ada di rumah Mama,"
"Kebiasaan enggak pulang ke rumah. Mama yang antarin?"
"Enggak, Clara yang jemput ke sekolah sih katanya,"
"Ya sudah Ma, nanti telepon Clara suruh antarin!" Azka melirik ke arah menantunya sekilas.
"Pa, maaf ya enggak bisa nyamperin, takut gosong karena udah terlanjur," ucap Marwa.
"Enggak apa-apa. Nginap enggak?"
"Enggak Pa. Nanti Mas Rey yang jemput,"
"Sesekali nginap dong! Rey udah jarang pulang, masa sekarang udah nikah tetap enggak mau nginap gitu?"
Marwa tersenyum kikuk. "Katanya sih mau pulang agak larut, Pa. Jadi biar enggak kesepian di suruh nunggu di sini,"
"Oh, ya sudah enggak apa-apa. Kalau gitu Papa ke kamar dulu ya, mau mandi. Nanti kita ngobrol di ruang keluarga ya, ada yang mau Papa omongin sama kamu dan juga Rey nanti,"
Marwa mengangguk menandakan ia setuju dengan ucapan papa mertuanya.