
Rey pulang ke rumahnya dan langsung mandi membersihkan tubuhnya saat itu juga. Dia berlama-lama di kamar mandi. Ketika istrinya bertanya, dia hanya mampu tersenyum tanpa menjawab apa-apa lagi. Dia tidak sanggup menjelaskan itu semua kepada istrinya. Tetapi bagaimanapun juga dia tidak bisa menjelaskannya kepada Marwa.
Seusai mandi, bahkan istrinya membawakan makanan untuknya ke kamar. “Mas Rey sakit?” tanya istrinya tetapi dia tetap tidak menjawab. Justru dia menarik istrinya dan memeluk istrinya begitu saja dan mengelus perut istrinya dengan lembut.
Rey nampak lelah dengan semua ini. Andai saja dia lebih mendengarkan ucapan papanya waktu itu. Dia akan tetap bahagia bersama dengan istrinya. Andai saja dia bisa membunuh rasa bosan itu dan lebih membanggakan istrinya dibandingkan membanggakan perempuan lain. Semua itu tidak akan pernah terjadi. Dia terlalu terpana dengan kecantikan dan juga dia terlalu percaya terhadap perempuan yang bernama Alin itu.
Keluarga kecil yang dia dambakan justru dia hancurkan dengan sendirinya. Rey yang waktu itu hanya bisa memeluk istrinya tanpa mengucapkan apa-apa.
“Kalau kamu sakit kamu bilang apa yang sakit, Mas!” perintah Marwa. Tetapi dia memeluk Marwa semakin erat dan mencium kening perempuan itu tanpa henti.
“Aku nggak sakit. Cuman aku nggak mau jauh-jauh dari kamu, nggak mau jauh dari semua ini. Aku nggak mau kalau sampai kamu jauh ninggalin aku,”
“Mas, siapa yang bakalan ninggalin kamu? Aku nggak pernah ada niat untuk ninggalin kamu,” jawab istrinya dengan mantap. Tapi apakah istrinya akan tetap di sisinya jika dia mengakan semua itu dengan jujur? Apakah Marwa akan tetap di sana jika dia mengatakan itu semua dengan detail dan justru membuat Marwa menangis lagi. Sungguh, dia tidak sanggup kehilangan apa yang dimilikinya sekarang ini saat apa yang telah dia usahakan untuk mengembalikan cintanya kembali kepada istrinya. Dia tidak siap jika itu terjadi lagi.
Di rumah mamanya, Rey memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Marwa. Dan di sana juga dia bisa merasakan betapa dekatnya istrinya. Barangkali mamanya benar bahwa mereka harus tinggal di sana untuk jangka waktu sedikit lebih lama lagi. Apalagi jika istrinya melahirkan nanti.
“Kamu istirahat! Nanti aku bakalan balik lagi setelah buatin kamu teh hangat ya, Mas,” ucap Marwa perlahan dan membuat Rey menganguk dan menuruti kemauan istrinya.
Marwa keluar dari kamar dan langsung pergi ke dapur. Di sana dia bertemu dengan mamanya yang mencatat bahan dapur yang sudah mulai habis. “Mau ngapain sayang?” ucap Mamanya ketika dia sedang mengambil gelas.
“Mas Rey sepertinya kurang sehat, Ma. Jadi aku buatin teh buat dia,”
“Semalam dia nggak pulang? Tidur di mana?”
“Di kantor katanya. Makanya aku kasihan sama dia, Ma,”
“Maksain banget dia tuh kalau kerja,”
Marwa hanya membalas dengan anggukan. Kemudian setelah selesai membuat teh dia langsung pergi ke kamar untuk membawakan minuman itu untuk suaminya dan langsung membangunkan Rey. “Mas, ayo minum dulu tehnya, aku telpon dokter,” ucap Marwa. Rey menahan tangan istrinya dan menggelengkan kepalanya.
“Aku nggak sakit, aku cuman pengin sama kamu,” jawab Rey kemudian istrinya hanya tersenyum ke arahnya.
“Mas kalau sakit rewel ya,” kekeh Marwa.
“Aku istirahat bentar,” jawabnya kemudian ditinggalkan oleh Marwa sendirian karena perempuan itu bilang bahwa dia akan membantu mamanya di dapur untuk melihat bahan apa saja yang habis karena mamanya akan pergi ke pasar.
Tiba di dapur, Marwa langsung membantu seadanya saja karena dia tidak terlalu diperbolehkan bergerak oleh mertunya karena kandungannya yang sudah cukup besar itu. “Rey gimana?”
“Dia istirahat, Ma. Ohya aku ikut ya, Ma.” Tawar Marwa.
“Nggak boleh. Nanti kalau kamu pengin sesuatu Mama belikan. Jangan ke pasar, nanti kamu capek, kasihan perut kamu,”
Dia tidak bisa menyangkal ucapan mertuanya karena dia tahu bahwa mertuanya akan marah jika tidak didengarkan. Marwa juga berusaha untuk mengerti dengan kekhawatiran mertuanya yang cukup baik juga untuk kesehatan janinnya.
Baru saja mertuanya berpamitan untuk pergi ke pasar bersama dengan bibi. Marwa pergi ke kamarnya untuk mengambil kain flannel serta bahan-bahan lain untuk membuat bunga. Itu semua bekas kain yang digunakan untuk menghias kamar si kembar. Karena tidak ada kegiatan apa pun, maka sepanjang hari dia dan kedua adik iparnya menghabiskan waktu untuk membuat hiasan kamar bahkan ada pula yang dipajang diruang tamu oleh mama mertuanya.
Dia yang tengah asyik merangkai kain itu menjadi bunga karena sudah digunting oleh adiknya semalam ketika dia menunggu suaminya pulang bekerja. Akan tetapi pria itu justru tidak pulang. Dan pada akhirnya dia hanya bisa membuat kerajinan. Ditemani juga oleh sang mama, bayangkan saja banyaknya hiasan di rumah mereka yang membuat beberap sudut ruangan menjadi sangat indah.
Baru saja dia menyatukan hasil bunga alamanda yang dia buat dan siap untuk dipajang dikamarnya nanti. Akan tetapi pesan masuk ke ponselnya lagi, berharap bukan perempuan gila itu yang menghubunginya. Dia beberapa kali dikirimkan foto oleh perempuan yang dekat dengan Rey. Akan tetapi dia berusaha bertahan sebaik mungkin saat dirinya yang akan melahirkan beberapa hari lagi.
Namun, ada hal yang tidak bisa dimaklumi oleh Marwa. Yaitu ketika menemukan pesan yang berisikan foto Rey tengah tidur tanpa menggunakan apa-apa dan memeluk perempuan itu dengan nyamannya.
Bibi datang dan mengahmpirinya, dengan hebatnya dia berusaha baik-baik saja. “Non, buat bunga lagi?” sapa bibi Kurnia kemudian duduk disamping Marwa. “Non pintar banget ya buat yang begonia,” ucap Bibi. Marwa tersenyum.
“Iya, Bi. Ini kan karena si kembar juga yang sering dapat tugas beginian. Jadi aku berusaha untuk belajar buat ini sebaik mungkin untuk mereka,”
“Bibi boleh minta satu?”
“Bibi suka?”
“Bibi tertarik karena lihat di mana-mana ada bunga ginian di beberapa ruangan. Terlebih di kamar si kembar. bibi suka banget lihatnya,” bibi Kurnia adalah asisten yang bertugas membersihkan kamar si kembar dan juga mencucikan pakaian kedua anak itu dan juga pakaian mertuanya. Berbeda dengan bibi yang ada di dapur khusus membuatkan makan dan juga minuman untuk tamu.
“Bibi kalau suka ambil aja. Aku mau ke kamar, Bi. Karena udah selesai dan mau taruh di kamar,”
“Makasih banyak ya, Non,” ucap Bibi kemudian Marwa meninggalkan bibi dan pesan masuk lagi, dengan menguatkan diri. Marwa langsung membuka pesan itu dan perempuan tidak tahu diri itu mengatakan bahwa dia tengah hamil anak Rey. Sekarang apalagi yang menjadi alasan Marwa bertahan? Satu-satunya alasan dia bertahan adalah anaknya. Akan tetapi justru Rey akan memiliki anak lain dari perempuan lain dan perempuan itu bilang bahwa Rey akan menikah dan perempuan itu juga mengatakan kepada Marwa agar dia meninggalkan Rey dengan segera.
Ia memberanikan diri untuk mengajak perempuan itu bertemu dengan dirinya di salah satu tempat. Dia akan meminta penjelasan mengapa perempuan itu bisa sekejam itu mengambil suaminya dari dirinya. Suami yang telah dia cintai selama ini. Akan tetapi jatuh ke dalam pelukan orang lain.
“Marwa!” panggil Rey. Dia pun mengusap air matanya yang jatuh barusan.
Dia membawa bunga itu dan langsung masuk, “Iya, Mas?”
Apa itu penyebab Rey bersikap aneh sedari tadi karena tahu bahwa kekasihnya tengah hamil? Pikiran itu berkecamuk di dalam pikiran Marwa. Dan membuat Rey bersikap aneh sepagi itu.
“Kamu ke mana?”
“Aku tadi di luar kok,” ucap Marwa kemudian mendekati tempat charger ponsel dan langsung meninggalkan ponsel itu.
“Mas, aku mau pergi nanti boleh?”
“Ke mana?” tanya Rey. Dia menatap mata istrinya yang sembab. “Kamu nangis?”
Marwa meraba matanya dan langsung menyeka itu semua. “Nggak, siapa yang nangis? Aku mau nangisin apa coba?” ucap Marwa kemudian duduk disebelah Rey.
Pria itu menatap istrinya merasa curiga dengan tingkah istrinya. Kemudian istrinya berpamitan untuk mandi. Dia pun hanya menganggukkan kepala. Sudah lama sekali dia tidak membuka ponsel istrinya. Memang itu semua adalah privasi, akan tetapi dia tidak tahu penyebab istrinya hingga sembab seperti tadi. Dengan sedikit ragu, diapun mendekati ponselnya yang dicharge itu kemudian membuka pesan. Dia ingat bahwa itu adalah nomor Alin.
Rey terkejut ketika membuka pesan. Dari tanggal 6 dua bulan yang lalu chat itu tidak pernah dihapus sama sekali dan Rey melihat fotonya ketika berada di luar negeri dan videonya yang mencium Alin waktu itu. Dia memegangi jidatnya dan memejamkan matanya. Sudah selama ini istrinya tahu akan tetapi perempuan itu memilih untuk diam tanpa menyinggung semua perbuatan Rey.
Kemudian dia kembali lagi melihat isi chat yang dibawah dan di sana Alin mengatakan dirinya tengah hamil anak Rey. Sontak Rey terkejut melihat foto dirinya yang tidur bersama Alin tadi pagi. di sana juga terdapat pesan Marwa mengajak Alin bertemu di salah satu kafe yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka berdua.
Beberapa menit kemudian Marwa keluar dan Rey pura-pura untuk tidak tahu akan hal itu. “Mas, nanti siang mau dimasakin apa?” ucap istrinya dengan begitu santainya.
Rey melihat ke arah istrinya. ‘Seluas apa sabar kamu?’ ucapnya di dalam hati kemudian dia melihat istrinya yang sedang menggunakan pakaian di depannya. Melihat perut istrinya yang begitu besar dengan begitu jelas membuat Rey tidak bisa menahan rasa sakit dihatinya karena istrinya yang begitu sabar menghadapinya selama ini. Papanya tidak salah lagi waktu itu pernah berkata bahwa Marwa terlalu pura-pura untuk menutup mata atas kesalahan dia.