RICH MAN

RICH MAN
MENUJU KEBAHAGIAAN BARU



"Sayang, ayo bangun!" Nagita membangunkan Reynand pagi itu.


"5 Menit lagi, Ma," keluh anaknya. Namun Nagita tak berhenti untuk menggoda Rey agar anaknya bangun.


"Papa yang ngantar loh, enggak mau?"


"Papa enggak sibuk?"


"Enggak, demi anak kesayangan. Papa enggak bakalan sibuk lagi, sekarang mandi terus siap-siap! Mama tunggu di bawah. Sudah ada sarapan, terus nanti siang Papa juga bakalan jemput kok,"


"Iya, Ma,"


Reynand menurut dan mengambil handuk yang ada ditangan Nagita. Bahagia karena keluarganya utuh kembali. Terlebih ia juga sangat bahagia melihat anaknya yang tumbuh besar seperti sekarang ini.


Nagita turun ke ruang makan untuk menemui suaminya yang sudah terlebih dahulu bersiap-siap. Usia kandungan Nagita memasuki bulan ke empat yang di mana ia belum melakukan USG melihat perkembangan anaknya.


"Rey udah bangun?"


"Udah, Mama bilang sama dia kalau Papa bakalan ngantarin dia sekolah,"


"Iya, mulai sekarang Papa yang bakalan antarin dia sekolah. Maaf kemarin-kemarin Papa sibuk terus,"


Nagita duduk disamping suaminya, perutnya yang besar karena tidak wajar jika usia kandungan memasuki bulan keempat namun sudah sebesar itu.


"Nanti malam kita ke dokter ya!"


"Iya, Pa. Ajak anak kita juga ya! Dia pengin lihat adiknya katanya," jawab Nagita. Awal kehamilan memang ia tidak bisa mencium aroma masakan yang menyengat. Terkadang Rey yang menyiapkan makanan untuk Nagita karena tidak mau masakan asistennya. Bukan inginnnya dimanjakan oleh anaknya, tetapi putranya itu yang ingin memanjakan Nagita dengan alasan adiknya.


"Sayang, Rey mana sih? Kok lama banget turunnya?"


"Sabar, Pa. Bentar lagi juga keluar kok,"


Baru saja Nagita berkata demikian, anaknya sudah turun dengan seragam sekolah yang sudah rapi. "Papa, benar kan mau antar aku?"


"Iya, Papa yang antar hari ini. Kenapa?"


"Enggak lagi bercanda dan ngasih aku harapan palsu kayak dulu lagi kan?"


"Enggak, Nak. Kali ini Papa bakalan benar-benar mau manjakan kalian dengan waktu bersama keluarga, Mama juga. Jadi jangan khawatir, nanti kalau punya adik lagi, pasti Mama sama Papa akan tambah sayang sama kalian,"


"Ma, kapan kita ke dokter?"


"Kata Papa sih nanti malam, Nak. Jadi mau ikut?"


"Jadi dong, Ma."


Nagita tersenyum melihat kelakuan anak dan suaminya yang semakin akrab. Jika dahulu Rey selalu manja dengan Azka, tidak untuk kali ini. Anaknya sudah tumbuh besar dan tidak mau diperlakukan lagi seperti Rey yang dulu. Akan tetapi Nagita bahagia saat Azka mengatakan bahwa Rey tetap putra kecil mereka bukan Rey yang sudah besar seperti sekarang.


"Pa, ayo berangkat!" Nagita melihat ke arah piring anaknya yang sudah menghabiskan sarapannya. Tak perlu menunggu lama lagi, suaminya pun beranjak dari tempat duduk setelah selesai sarapan.


"Ma, aku berangkat ya," Rey bersalaman dan mencium pipi Nagita.


"Papa enggak dicium?" goda Azka. Selama tinggal di rumah itu, Nagita selalu saja tersenyum dengan tingkah Azka yang menggoda Reynand hingga anaknya cemberut.


"Papa tuh ya, aku udah besar tahu enggak,"


"Mau umur berapa pun juga, Papa tetap anggap kamu sebagai anak kecil Papa. Karena dulu kamu selalu manja ke Papa, sekarang kenapa udah besar gini, Rey malah mau menghindar dari Papa? Papa malah lebih suka sama anak Papa yang dulu, dibandingkan yang sekarang malah dingin banget sikapnya sama orang tua sendiri. Lebih suka Rey yang pengin dipeluk kalau mau tidur, minta digendong terus ikut kerja,"


Rey menutup telinganya, "Ayo berangkat, Papa!"


"Ayo, nanti siang Papa yang jemput. Kita makan siang bareng Mama, oke?"


"Aku tunggu loh,"


"Tadi tutup telinga, sekarang malah senang banget kalau dijanjiin mau keluar bareng, dasar," Azka menyodorkan tangannya kepada Nagita bersalaman sebelum berangkat. "Papa sama Rey berangkat ya, Ma. Baik-baik di rumah!" Nagita memejamkan matanya saat Azka mencium keningnnya. Rutinitas itu sudah dilakukan oleh Azka semenjak mereka berstatus suami istri, terkadang Nagita merasa lucu jika mengingat proses pendekatannya bersama dengan Azka dulu yang selalu saja dipermasalahkan oleh Reynand.


"Papa, gimana perasaannya sekarang sama, Mama?"


"Nanti kalau kamu sudah pacaran, pasti tahu gimana rasanya mencintai, Nak,"


"Aku sayang kok ke Mama,"


"Sayang ke orang tua sama orang tersayang itu beda, Rey. Contohnya Papa, dulu enggak pernah sesayang ini sama, Mama. Tapi sekarang seolah enggak bisa jauh dari, Mama."


Nagita menggeleng saat melihat keduanya bercengkrama keluar menuju halaman rumah mereka.


"Hati-hati ya!"


Nagita melihat anak dan suaminya membalas hanya dengan senyuman. Tidak pernah terbayangkan dalam benak Nagita akan kembali lagi bersama dengan Azka, pria yang sudah menghancurkan perasaannya dengan begitu hebatnya dahulu. Bersabar dan mencoba bertahan demi anak, akan tetapi semuanya di sia-siakan karena suaminya dahulu belum memiliki perasaan seutuhnya untuk dirinya. Tetapi kini, Nagita sadar bahwa cinta Azka tidak seperti dulu. Kini mereka telah kembali lagi bersama dengan luka masing-masing dari mereka yang belum sempurna untuk ditutupi. Contohnya Nagita yang sedang berusaha untuk memulihkan perasaannya, memaafkan Azka yang dahulu. Pun dengan Azka yang ingin berubah menjadi lebih baik lagi. Seringkali Azka membahas tentang Syakila dan menyesali perbuatannya dahulu. Nagita paham, bahwa semua orang pasti memiliki kesalahan dan ada kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi.


Nagita bahkan sempat berharap dahulu saat dirinya menikah dengan Teddy. Itu adalah pernikahan terakhir baginya, tetapi sayang, pria itu tidak mampu menerima Reynand hanya karena status Reynand yang hadir diluar pernikahan. Semua itu bukan keinginan Nagita, akan tetapi itu adalah suatu kejadian yang menyayat perasaannya.


"Bibi, saya ke supermarket dulu ya. Ada yang Bibi titip enggak?" ucapnya pada asistennya yang sedang membersihkan piring bekas makanan mereka.


"Mau beli keperluan dapur?"


"Iya, Bi,"


"Biar saya aja nanti, Bu,"


"Enggak usah, Bi. Sekalian mau cariin Rey beberapa cemilan nanti di sana,"


"Hati-hati, Bu!"


"Pastinya, Bi. Kalau begitu saya permisi, Bi."


Nagita mengambil kue kering dari dapur, kemarin ia sempat membuatkan itu khusus untuk Erlangga. Karena anak itu sangat suka kue buatannya, maka sesibuk apa pun, ia pasti akan membuatkan itu untuk keponakannya. Nastar dan beberapa kue kering lainnya ia sediakan di atas meja makan.


Nagita meraih tasnya yang ada di atas meja makan. Kini, Nagita sedang berusaha untuk semakin mengembangkan usahanya. Karena bagaimanapun juga nantinya, Rey tidak akan mendapatkan apa-apa dari Azka. Karena Rey akan tetap di nasabkan untuknya. Jadi Nagita sudah mulai menabung sejak dini dan di dukung oleh Azka, semua itu adalah hasil usahanya sendiri. Karena warisan suaminya kelak akan jatuh kepada anak kedua mereka, bukan kepada Reynand. Nagita sudah memikirkan hal itu sebelum mereka resmi menikah, bahkan kini Nagita sudah membuka cabang diberbagai kota atas dukungan dan promosi yang dilakukan oleh suaminya.


Tiba di salah satu pusat perbelanjaan sekitar pukul setengah sepuluh. Tadi Nagita mampir ke rumah kakaknya untuk memberikan kue yang dia buat untuk Erlangga. Kini ia mulai sibuk berbelanja kebutuhan dapur dan perlengkapan lainnya. Sebagai ibu rumah tangga, Nagita harus pandai-pandai mengatur pola makan dan kesehatan suami dan juga anaknya.


Ia mendorong keranjang belanjanya pada bagian snack, ia memilihkan beberapa untuk anaknya yang sangat suka dengan cemilan jika sedang belajar atau menonton televisi. Nagita meraih salah satu keripik kentang kesukaan anaknya.


"Perlengkapan mandi udah, sekarang tinggal makanan untuk Rey aja,"


Nagita kembali mencarikan beberapa makanan untuk anaknya. Baru satu langkah Nagita mundur, ia sudah mendengar suara anak kecil mengaduh di belakangnya.


"Maafin tante ya, tante enggak lihat," Nagita membantu seorang anak kecil itu bangun, Nagita sama sekali tak melihat anak itu dibelakangnya.


"Enggak apa-apa, tante," seorang anak kecil perempuan yang usianya sekitar empat tahun sedang berusaha mengambil makanan.


"Mau yang mana?"


"Enggak jadi, tante. Nanti Papa marah,"


Nagita membungkukkan badannya agar sejajar dengan anak itu. Ia tersenyum gemas melihat anak perempuan dengan rambut yang dikucir dua.


"Namanya siapa, sayang?"


"Intan, tante,"


"Cantik banget, kenapa sendirian?"


"Papa ambil keranjang, tante,"


"Intan, kenapa tinggalin Papa?"


Nagita berdiri dan membalikkan tubuhnya saat suara itu tidak asing lagi baginya. "Teddy?"


"Nagita?" Teddy yang melihatnya juga tak kalah terkejutnya.


"Ini anak kamu?" Nagita sontak terkejut dengan anak yang ada disebelahnya saat Teddy memanggil anaknya seperti itu.


"Aku baik-baik saja,"


"Nagita, tentang waktu itu. Aku minta maaf,"


"Aku sudah maafin kamu, Teddy. Aku enggak pernah dendam sama kamu,"


"Aku punya alasan, Nagita,"


"Aku tahu, aku pergi dulu. Aku takut orang lain lihat kita,"


Nagita menghindari Teddy yang berusaha mengejarnya. Bukan bermaksud untuk tidak mendengarkan penjelasan mantan suaminya, akan tetapi tidak ada yang perlu dijelaskan lagi saat semuanya sudah jelas. Teddy tidak bisa menerima Reynand dahulu, bahkan dia menyesal telah menikah dengan pria yang tidak bisa menerima kehadiran putranya dan sempat membuat Rey benci terhadap dirinya.


"Nagita!"


"Aku buru-buru, ada Azka di luar, Teddy. Aku mohon berhenti, aku takut dia salah paham," Nagita mencari alasan agar Teddy tidak mengejarnya. Ia tahu bahwa beberapa kali mantan suaminya itu mengajaknya untuk kembali lagi membina rumah tangga. Tetapi hal itu tidak bisa dituruti oleh Nagita karena tahu bahwa mantan suaminya itu hanya mencintai dirinya, bukan berarti bisa menerima Reynand.


"Semoga kamu bahagia, Nagita!"


Nagita tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Teddy dan langsung berlalu begitu saja menuju kasir untuk menyerahkan belanjaannya. Nagita sudah terlanjur kecewa, tidak ada yang perlu ia bicarakan lagi dengan Teddy.


Di rumah, Nagita sudah selesai memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam kulkas dan kini sedang ada di ruang tamu bersama dengan Rey yang tadi sudah diantar oleh Azka. Mereka juga sudah makan siang bersama. Rey yang tidur di pangkuannya, sedangkan dirinya terus mengelus kepala anaknya.


"Rey, Mama mau cerita," ucapnya membuka perbincangan dengan anaknya.


"Ada apa, Ma?"


"Mama ketemu sama Om Teddy,"


"Kapan?"


"Tadi waktu belanja, Om Teddy punya anak angkat perempuan, tadi dia mau ngejar Mama dan minta maaf sama kejadian dulu,"


"Om Teddy sudah menikah?"


"Mama enggak tahu, Rey,"


"Mama masih benci?"


"Mama enggak pernah benci terhadap siapa pun, Nak. Hati Mama memang sakit bahkan kehilangan adik kamu, tapi Mama enggak bisa benci dia karena bagaimanapun juga, Mama berusaha untuk bersabar dan nerima semua ini. Untuk apa kita dendam hanya menyisakan sakit yang teramat perih di hati,"


"Hati Mama memang cantik, enggak salah Papa ngemis-ngemis sayang sama, Mama. Sudahlah Ma, yang penting sekarang Mama bahagia sama Papa. Justru aku juga lebih suka Mama sama Papa. Tentang Om Teddy, aku juga enggak dendam sama dia, bagaimanapun juga kan dia pernah ngasih kebahagiaan buat aku, bukan berarti satu kesalahan membunuh seribu kebaikan yang ada pada dia. Om Teddy pernah sayang sama aku, jemput aku dulu waktu masih kecil ngajakin liburan, pokoknya dia tetap punya sisi baik, Ma."


Nagita menarik hidung Reynand begitu saja saat anaknya berkata demikian. "Sakit, Ma,"


"Sudah besar anak, Mama. Nanti kalau punya adik, sayang sama adik kamu ya! Gantiin Mama sama Papa kalau udah enggak ada, jadi kayak Om Dimas yang selalu jagain kita berdua dulu,"


"Tanpa di suruh aku juga bakalan tetap sayang sama adik aku. Menjadikan Om Dimas sebagai panutan, ingat ya Mama! Aku akan menjadi diri sendiri yang akan mencintai Mama, Papa dan adik-adik aku nantinya,"


"Rey enggak malu punya orang tua kayak Mama sama Papa?"


"Mama kok tanya itu lagi? Aku udah pernah bilang kalau aku itu bahagia punya orang tua kayak kalian,"


"Ngalahin romantisnya Papa ya, Nak?"


"Aku itu lebih romantis dari Papa,"


"Buktinya?"


"Nanti, aku bakalan buktiin, Ma. Mama sudah lama Mama enggak sebahagia ini, tapi sekalinya bahagia, ya gini. Papa juga bahagia banget kayaknya, benar ya Ma kalau jodoh itu enggak bakalan ke mana. Buktinya kalian udah pisah, punya kehidupan masing-masing. Tapi Tuhan punya cara untuk menyatukan lagi, satu hal yang bisa buat aku bahagia dari Mama. Mama itu berhati lembut, ngajarin aku menerima kenyataan. Jaga kandungan Mama baik-baik, aku sudah kehilangan dua adik aku sekaligus, Ma,"


"Pastinya, sayang. Papa enggak bakalan macam-macam lagi,"


"Ma, kenapa ya selalu saja ada pahitnya dalam hidup itu?"


"Karena kalau kita bahagia terus, lupa kepada siapa kita akan mengadu saat susah. Tapi jangan cuman pas lagi susah baru ingat Tuhan, kita harus ingat kepada siapa yang telah menciptakan kita. Mau bahagia atau sedih, kaya atau susah, kita harus tetap ingat Tuhan!"


"Jangan lupa berbagi juga!"


"Itu tahu, anak Mama kan sudah besar,"


"Ma, dulu Papa baik enggak sih waktu Mama kerja di perusahaan Papa?"


Nagita tersenyum malu jika mengingat dia selalu membantah perintah Azka dahulu. "Jangan bahas itu, Nak,"


"Kenapa Mama senyum?"


"Rey, bahas yang lain ya!"


"Ih pipi Mama merah,"


"Merah?"


"Bercanda, Ma," Reynand memeluk perut Nagita dan menciumnya berkali-kali. "Sehat di perut Mama ya, adik kecilnya Rey!"


"Coba aja Rey manja gini ke Papa, pasti Papa bahagia. Kenapa cuman sama Mama dan Om Dimas Rey manja?"


"Papa kan orangnya nyebelin, Ma. Ma sebentar lagi anak Mama ini mau masuk SMA,"


"Masih lama, Rey,"


"Kok rasanya aku cepat banget gede ya? Bentar lagi SMA, terus kuliah, kerja, nikah, punya anak, terus Mama jadi Oma, hahaha,"


"Mulai lagi, senang banget bikin Mama itu senyum-senyum sendiri, Nak?"


"Karena Papa bilang, bahagia yang paling sederhana itu adalah waktu buat Mama tersenyum. Papa selalu ngajarin gimana cara buat, Mama senyum seperti sekarang. Jadi jangan pikir aku itu enggak pernah akrab sama Papa, bahkan Papa sering banget curhatin tentang Mama. Apalagi dulu, waktu aku SD. Papa sering banget senyum-senyum sendiri, eh sekarang nyata juga janji Papa,"


"Bahagia kan?"


"Iyalah, Ma. Mana ada anak yang enggak bahagia lihat Papa sama Mama kembali,"


"Jangan cerita tentang Mama yang ketemu sama Om Teddy itu ke Papa ya! Tahu sendiri Papa itu cemburuan banget,"


"Tenang, Ma. Mama kita ke rumah Oma yuk!"


"Nanti malam ya, kita bakalan nginap kok. Papa pengin kumpul sama keluarga katanya,"


"Mama dulu enggak dibenci sama Oma kan waktu hamil?"


"Enggak, Papa yang dipukulin sama Opa kamu,"


"Rasain,"


"Enggak boleh bilang gitu, Rey enggak boleh tiru hal buruk yang pernah dilakukan Papa ya!"


"Mama, hehehe aku kan sayang sama, Mama. Enggak mungkin kejadian lagi seperti yang Mama rasain dulu."


Nagita tersenyum saat melihat anaknya yang sudah berpikir jauh ke masa depannya. "Tidur siang sana! Nanti Mama bangunin kalau Papa pulang,"


"Pengin tidur peluk perut Mama,"


"Yang ada Mama pegal, Nak,"


"Ya sudah. Mama istirahat ya!"


Nagita mengangguk saat anaknya meninggalkan dirinya di ruang tamu sendirian. Nagita tak menyangka bahwa anaknya sudah tumbuh besar dan suatu saat nanti pasti akan memiliki teman bergaul dan akan jarang di rumah. Nagita tak akan membatasi anaknya dalam bergaul selama tidak merugikan diri sendiri dan juga mengecewakannya. Bagaimanapun juga ia akan tetap mengawasi nantinya. Perannya sebagai orang tua berlanjut seperti yang dikatakan oleh Dimas.


"Jadilah anak yang selalu membanggakan, Nak!" ucapnya perlahan saat tubuh Rey mulai menghilang saat naik melewati tangga.


*****Sebentar lagi season dua bakalan hadir ya, jangan lupa kasih like dan bintangnya ya. Huhu enggak terasa bakalan cepat kelar seperti ini. Lika-liku kehidupan yang tak selalu manis, bahkan seringkali diterpa oleh tangis. Buah dari sabar dan ikhlas adalah bahagia, percayalah untuk tidak mendendam. Semua telah memiliki porsi masing-masing untuk bahagia, tinggal kita sebagai manusia yang mensyukurinya seperti apa. Tetaplah rendah hati, tidak peduli seberapa rendahnya orang merendahkanmu, kamu akan lebih mulia, karena hatimu yang begitu luas karena sabar dan ikhlas. Jangan mengeluh, semua adalah cobaan hidup. Namun jangan terlalu fokus terhadap kesedihan yang dianggap sebagai ujian, kadang bahagia juga ujian, hanya saja kita selalu menganggap bahwa ujian itu selalu saja buruk. Dan bahagia adalah kado terindah, namun seringkali bahagia dan apa saja yang kita punya, itu merupakan ujian kita, sebagaimana cara kita diuji untuk menghargai orang lain dan menghargai apa yang ada. Bukan membanggakan apa yang kita punya, lalu menyia-nyiakan orang yang menyayangi kita.