RICH MAN

RICH MAN
YAKINKAN RAGU



Sesuai dengan janji papanya, dokter itupun datang untuk memeriksa keadaan Marwa. Suatu kekhawatiran muncul di benak Rey. Dia takut jika istrinya justru sakit, dia tidak menemani istrinya diperiksa karena permintaan Marwa tidak ingin ditemani di dalam kamarnya. Kecuali dengan sang mama.


"Yakin aja sama dia, Rey. Papa yakin kok kalau dia hamil,"


Rey menatap papanya sejenak yang sedang sibuk dengan pekerjaannya di ruang tamu. Sengaja tidak berangkat ke kantor agar bisa menemani sang anak dan menantu di rumah.


"Papa enggak ke kantor?"


"Papa nunggu hasil pemeriksaan, Marwa. Papa pengin dengar gimana hasilnya,"


Rey pun kali ini pasrah, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Karena Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi ciptaan-Nya. Beberapa menit dokter justru diam di kamar dan hingga saat ini dia menggigit ujung telunjuknya untuk menghilangkan kekhawatiran yang ada padanya.


Suara mamanya pun terdengar sedang tertawa dengan dokter tersebut sambil turun dari kamar Marwa. Rey yang langsung berdiri menyambut kedatangan mamanya bersama dokter tersebut kini mulai nampak begitu khawatir.


"Ma, gimana?"


"Duduk dulu!" ajak mamanya. Rey yang tadinya begitu khawatir, kini melihat ekspresi dokter yang biasa saja, itu menandakan bahwa harapannya yang begitu besar memang tidak terjadi. Kali ini dia pasrah mendengar penjelasan sang dokter.


"Kenapa murung?" tanya mamanya.


Rey menatap mamanya dengan lekat, "Enggak apa-apa, Ma. Marwa baik-baik aja, kan?"


Perempuan itu justru tersenyum. "Ke kamar gih!"


"Marwa usir aku dari kamar, malah Mama nyuruh aku ke kamar,"


Rey tetap berada di tempat duduknya. Marwa justru turun dari kamarnya kemudian ikut bergabung di ruang tamu, dia terlihat tidak seperti biasanya, dan kali ini menampilkan raut wajah yang begitu bahagia. Rey sendiri semakin bingung, ekspresi dokter tersebut yang biasa saja, berbeda dengan Marwa yang sedang tersenyum ketika baru saja datang.


"Ma?"


"Tanya sama istri kamu, dong! Masa kamu tanya sama Mama,"


Rey langsung menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, "Marwa, gimana?"


"Istrinya lagi isi, Mas," ucap dokter itu.


Rey justru semakin kebingungan dengan ucapan dokter yang singkat akan tetapi membuat Marwa tersipu malu. "Isi gimana?"


"Ya isi Rey. Masa kamu enggak paham juga?" protes Papanya kali ini.


Rey menggeleng, ekspresi Marwa langsung berubah dan berpamitan begitu saja kemudian pergi meninggalkan semuanya. Semakin ia tidak mengerti dengan tingkah istrinya yang aneh seperti itu. Tidak biasanya Marwa meninggalkan tamu seperti itu, namun kali ini cukup membuatnya sedikit geram. Seolah tidak menghargai dokter yang baru saja memeriksa keadaannya beberapa menit yang lalu.


"Rey, kamu tuh ya istri lagi ngambek enggak di kejar," ucap mamanya yang waktu itu langsung menggeleng dan berdecak kesal dengan tingkah Reynand yang begitu polos.


"Kebiasaan nanti, Ma. Jadi biarin aja," ucapnya. Jujur dia kecewa dengan tingkah istrinya yang seperti itu. Seperti anak kecil dan tidak menghargai tamu.


"Rey, istri kamu hamil. Jadi dia agak sensitif sama kamu, bentar-bentar dia manja. Bentar-bentar dia pasti kesal sama kamu, semua itu wajar, Rey,"


"Tapi dokter enggak bilang kalau dia hamil barusan," ucap Rey dengan begitu lantangnya.


Rey terkejut mendengar penjelasan dari papanya yang waktu itu justru menjabarkan tentang sifat Marwa yang barusan menyebalkan baginya. "Eh? Ma-Marwa beneran hamil?"


"Itulah kenapa dia marah sama kamu, karena kamu enggak bilang selamat ke dia, malah bersikap seperti orang bodoh, kamu tuh enggak peka banget jadi suami. Mungkin Marwa pengin sesuatu gitu, ke kamar sana!"


Rey segera beranjak dari tempat duduknya. Baru beberapa langkah dia hendak menaiki tangga, dia berhenti sejenak sekadar mengucapkan kata terima kasih karena telah memeriksa Marwa barusan.


Rey yang berlari dari lantai bawah hingga ke kamar. Perlahan dia mengetuk pintu karena Marwa menguncinya dan sangat lama membuka pintu itu. Rey harus bersabar kali ini, tadi pagi Marwa memintanya untuk tidak ke kantor. Akan tetapi kali ini justru perempuan itu sedang dalam keadaan suasana hati yang tidak baik.


Marwa keluar dari kamar. Rey melihat ke arah istrinya yang murung begitu saja. "Maaf," ucapnya pelan sambil berusaha mendekat.


Baru saja Rey hendak masuk, Marwa mendorongnya. "Enggak usah masuk!" Marwa menutup pintu dengan keras. Rey mengelus dadanya pelan.


"Sabar, istri lagi hamil. Enggak boleh dimarahin," ucapnya pada dirinya sendiri. Menunggu beberapa saat hingga kemudian Marwa membuka pintu kamar itu lagi.


"Masuk!"


'Tadi keras kepala enggak bolehin masuk sampai banting pintu segala, sekarang malah di suruh masuk. Duh, andai enggak hamil udah di gigit nih istri' gerutu Rey dalam hatinya.


"Ngomong apa? Mau gigit?"


Rey sontak terkejut dengan ucapan Marwa. Padahal dia sedang berbicara pada dirinya sendiri, sama sekali dia tidak mengeluarkan suara ketika berkata demikian. "Aku enggak ngomong apa-apa, sumpah,"


"Kamu kan mau gigit aku?"


"Enggak sayang enggak,"


"Tadi,"


"Aku ngomong dalam hati sayang, kenapa kamu bisa dengar,"


"Tuh kan benar kalau kamu pengin gigit aku," Marwa menitikkan air mata.


Rey merasa seolah pria yang sangat bodoh. Untuk apa dia mengatakan dengan jujur bahwa dia berbicara dalam hati saat berkata seperti itu barusan. "Kamu memang enggak suka aku hamil, kan? Biar kamu bisa rayu perempuan-perempuan di luaran sana. Kalau aku hamil, kamu bebas lirik sana lirik sini,"


Rey bukannya marah, justru menahan tawanya mendengarkan omelan Marwa mengenai dirinya yang tadi tidak peka terhadap kehamilan istrinya. Perempuan itu melangkah menuju balkon, perempuan itu masih menangis di sana. Sebagai seorang suami yang ingin mengerti dengan kelabilan Marwa yang hamil, Rey mengikuti istrinya.


Di sana, perlahan Rey melangkah mendekati istrinya dan meraih kedua tangan istrinya kemudian memeluk Marwa dari belakang. "Kenapa kamu jadi cemburuan gini? Siapa yang mau rayu perempuan lain? Maaf yang tadi aku enggak ngerti sama ucapan dokter yang bilang kalau kamu lagi hamil. Marwa, jangan berpikir yang lain-lain. Aku mana mungkin sih ninggalin kamu,"


"Bohong,"


Rey melipat kedua tangan mereka di atas perut Marwa. "Enggak ada niat untuk lirik perempuan lain saat di sini ada calon buah hati kita. Enggak ada celah untuk orang lain hadir di hati aku," Rey menyangga dagunya tepat di atas kepala Marwa. "Rumah yang akan selalu tempat aku pulang itu cuman kamu, bukan sebagai tempat singgah. Menjadikan seseorang rumah itu berarti ketika pergi ke mana pun juga, aku bakalan pulang ke rumah aku. Jadi apa yang kamu ragukan lagi? Sekarang tugas aku cuman meyakinkan kedua orang tua kamu, yang di mana ketika mereka tahu bahwa or ang yang pernah buat kamu celaka itu adalah aku. Mau seberat apa pun kemarahan orang tua kamu sama aku, tentu aku bakalan tetap terima. Walaupun pada akhirnya nanti mereka benci sama aku, cuman kalau mereka minta aku sama kamu pisah, aku enggak bakalan pernah bisa, aku bakalan tetap sama kamu. Apa pun yang terjadi, aku bakalan tetap perjuangin kamu, konsekuensinya adalah aku harus bertahan untuk kamu, dan calon buah hati kita. Aku tahu bahwa hubungan kita akan ditentang, seperti yang kamu bilang kalau orang tua kamu selalu benci sama aku, percaya sama aku. Aku bakalan berusaha untuk terus ada untuk kamu."


Ingin rasanya dia benar-benar memberitahukan kabar bahagia itu kepada mertuanya, akan tetapi Rey masih belum yakin karena harus menunggu beberapa hari lagi untuk memberi jeda pada otaknya mencari alasan agar bertemu dengan orang tua Marwa.