
Azka mondar mandir di dalam kamarnya sambil menggigit jarinya. Memikirkan bagaimana cara untuk bicara kepada orang tuanya mengenai lamaran yang mendadak. Pasalnya kedua orang tuanya tidak tahu bahwa dia dan Nagita pacaran dan akan segera menikah. Tapi bukan ini yang diinginkan oleh Azka, ia ingin melamar Nagita baik-baik. Bukan justru mendadak seperti itu, akibat keusilan Reynand yang mengerjainya. Azka harus siap-siap malam ini juga.
Beberapa kali Azka mengacak rambutnya kesal karena Reynand yang sudah membuatnya kalang kabut. Azka pun akhirnya memutuskan untuk ke ruang tamu dan semua anggota keluarganya berada di sana. Sedangkan Reynand, anak itu ikut pulang bersama dengan Nagita tadi sepulang mereka dari Bali. Belum satu hari mereka liburan, tetapi benar apa yang di katakan oleh Reynand itu memang benar, keduanya tidak bisa berpacaran terus menerus.
Azka duduk di sofa bersebrangan dengan anggota keluarga yang lainnya. Clara yang langsung duduk dipangkuannya begitu saja, anak itu memang akrab dengannya. Sama halnya dengan Leo dulu. Tetapi kini Leo sudah tumbuh remaja seperti anaknya dan jarang bermanja lagi.
"Ma, Pa, Naura dan juga Reno aku minta waktunya sebentar,"
"Ini ada apa, Azka? Kenapa kamu kelihatan gugup?" Ucap mamanya. Azka memang gugup karena perbuatan Reynand yang sudah melaporkannya kepada Dimas karena foto mereka berdua berciuman benar-benar di kirim oleh Rey pada Dimas. Apalagi tinggal beberapa jam lagi Dimas memberinya waktu untuk melamar Nagita. Jika tidak, hubungan yang satu tahun mereka jalani akan kandas begitu saja dalam hitungan detik.
"Semuanya bisa bersiap-siap dan berpakaian rapi?"
"Langsung pada intinya, Azka!" Perintah papanya.
"Aku mau lamar, Nagita, Pa,"
Semua orang terkejut. Begitupun dengan kedua anak Naura. Mereka semua seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Azka.
"Aku pacaran satu tahun lebih sama Nagita, Ma. Dan malam ini aku mau lamar dia,"
"Azka, Nagita kan sudah menikah?"
"Nggak, Ma. Nagita udah lama cerai. Makanya aku dan dia diam-diam pacaran. Rey tahu soal ini,"
"Kapan kamu akan melangsungkan lamaran itu?"
"Malam ini, Ma, aku mohon jam 8 kita sudah di sana, aku sudah buat janji sama Dimas. Aku nggak mau ngasih harapan lagi untuk Reynand. Nagita juga sudah menunggu,"
"Azka, kalian main-main dibelakang kami?"
"Maaf,"
"Maaf kami nggak bisa, Azka,"
Kedua orang tuanya beranjak dari tempat duduk. Azka terdiam di sofa setelah mendengar ucapan kedua orang tuanya. Di sana hanya ada keluarga Naura yang bersedia menunggunya di ruang tamu. Harapannya seolah musnah. Orang tuanya tidak mau ikut melamar Nagita. Azka duduk sambil menggenggam tangannya.
Azka sudah berharap bahwa keluarganya akan kumpul kembali. Tetapi setelah ucapan tadi, seolah harapannya sudah musnah. Jauh-jauh hari ia merencanakan lamaran terbaik, justru hancur seketika karena tidak di restui oleh kedua orang tuanya.
"Yang sabar kak. Memangnya kakak sama Nagita beneran mau balik?"
"Untuk apa kakak diam-diam sengaja sibuk kerja, itu semua buat Nagita. Ketemu dia juga diam-diam Reynand juga sudah tahu hubungan aku dan Nagita, tinggal Dimas saja yang nggak tahu,"
"Bukan Dimas aja yang nggak tahu, aku juga nggak tahu kalau kalian itu pacaran di belakang kita semua. Mama juga kaget, apalagi Papa. Dari dulu Mama sayang banget sama Nagita, dia sudah anggap Nagita seperti anak dia sendiri. Dimas juga kasihan, dia sendirian yang mengurus Nagita sampai dewasa, kakak main-main dibelakang dia. Mama kecewa sama kakak yang seperti itu,"
"Naura, kakak sudah berubah dan ingin keluarga kakak utuh, terlebih Rey. Dia sudah banyak menderita karena kakak,"
"Kalau memang niat kakak pengin balik, tentu saja harus mikirin hati Nagita juga. Kalau kakak pengin balik hanya karena Rey, aku minta kakak mikir lagi deh!"
"Daddy, Mama benar. Rey sering kok cerita pengin tante sama Daddy balik. Tapi Rey itu nggak pernah mau lihat Mama sama Daddi dia bertengkar lagi," celetuk Leo.
"Leo, Daddy nggak pernah mikir buat balik demi Rey. Daddy sayang sama Mamanya Rey. Cukup Daddy menyendiri karena nungguin dia. Kamu juga nggak setuju kakak balik sama Nagita? Kalau memang nggak setuju, aku sendiri yang bakalan ke sana, nggak peduli Mama ngasih restu atau nggak,"
Azka menurunkan Clara dan duduk di sofa. Ia pun berlalu meninggalkan Reno dan istrinya di sana. Hati Azka memang hancur, tapi tidak dengan semangatnya untuk meminang Nagita kembali. Jika memang tidak direstui, Azka akan nekat untuk melamar Nagita sendirian.
Baru saja ia berjalan di tangga, ia berpapasan dengan Mama dan juga Papanya yang telah berpakaian rapi.
"Kalian mau ke mana?" Suara Azka parau. Saat seperti ini orang tuanya justru hendak pergi begitu saja.
"Naura, Reno, kalian ngapain? Sana ganti baju! Kita ke rumah Nagita."
Azka mendongakan kepalanya dan menatap kedua orang tuanya yang tersenyum ke arahnya. Azka langsung berhamburan memeluk mamanya.
"Kamu tahu Azka? Ini adalah moment di mana Mama pengin nangis bahagia, pengin nangis dipelukan kamu. Reynand, cucu tertua yang Mama sama Papa miliki, dia sudah cukup menderita dengan perceraian orang tuanya. Mama nggak habis pikir anak itu bisa tetap tenang, tapi siapa sangka dia menyimpan banyak cerita itu sendirian. Mama selalu dengar cerita itu dari Leo, dia selalu saja cerita tentang gimana enaknya punya orang tua yang utuh, kadang Mama nangis kalau Leo cerita. Kamu bisa tanyakan itu sama Leo! Dia selalu cerita ke Mama kalau Reynand ceritain kalian berdua. Mama nunggu ini, Azka. Mama selalu sayang sama Nagita, Mama tahu dia perempuan baik,"
"Mama, benar kalau Mama sama Papa ngerestuin?"
"Mama tahu kamu juga menduda sudah lama. Mama lihat juga waktu Nagita di rumah sakit, kamu khawatir. Berterima kasihlah pada Dimas yang sudah memberikan kesempatan dan percaya sama kamu lagi, Azka! Dia adalah pria terbaik yang sudah mendidik dan menjaga calon istrimu dengan baik. Terlebih dalam mendidik anak kamu, kebanyakan saudara dari mantan istrimu akan mengajarkan anaknya tidak mengenal ayahnya. Beda sama Dimas, dia justru ngajarin Rey tetap patuh sama kamu, bahkan dia juga patuh sama Mama. Rey manja, Mama nggak pernah salahin. Semenjak kamu bawa dia pulang, dia manja banget, makan harus disuapi, tidur di temani sebelum kamu pulang kerja, tapi Mama nggak pernah keberatan tentang itu, Azka. Karena anak kamu kesepian, sana ganti pakaian kamu! Kita lamar Nagita sama-sama,"
Azka tersenyum, begitupun dengan papanya yang menepuk bahunya. "Papa sempat kecewa sama kamu, Azka. Tapi sekarang kamu mikirin keluarga kamu, Papa bangga sama kamu."
Naura pun ikut menyusul dan memeluk Azka.
Mereka semua telah bersiap dan menunggu di ruang tamu untuk berkumpul. Azka merasa sangat gugup karena pertama kalinya melamar Nagita bersama kedua orang tua dan membawa adik serta keponakannya.
Mereka semua berangkat ke rumah Nagita menggunakan mobil keluarga, Leo yang sedari tadi senyum-senyum membuat Azka salah tingkah. Mendengar apa yang dikatakan mamanya mengenai Reynand tadi, Azka berpikir bahwa selama ini terlalu banyak memberikan Reynand harapan dan akhirnya tidak ada yang terwujud. Tapi kali ini Azka bersungguh-sungguh akan memberikan kebahagiaan dengan cara berkumpul kembali bersama keluarga mereka.
Setibanya di sana, Azka di dorong oleh kedua orang tuanya untuk mengetuk pintu rumah Dimas. Sebagai seorang pria yang akan melamar, rasa gugup tentu saja menghampir perasaan Azka. Terlebih karena di mana Dimas mengetahui dirinya yang mencium Nagita.
Beberapa kali mengetuk pintu. Akhirnya pintu terbuka dan di sana ada Dimas dan Reynand yang menyambut kedatangan mereka.
"Silakan masuk!"
"Terima kasih,"
Mereka pun memulai perbincangan mengenai lamaran tersebut. Dimas yang nampak tidak masalah dengan lamaran tersebut dan jauh lebih baik dalam memberikan ekspresi wajah saat ini. Berbeda dengan yang sudah-sudah pria itu nampak sangat dingin. Tetapi tidak dengan sekarang.
Tetapi semenjak kedatangan mereka ke rumah Dimas. Azka tak menemukan Nagita di sana. Hanya ada Viona, Erlangga, Dimas, Reynand dan anak perempuan Dimas yang paling kecil. Dimas memangku anak perempuannya dan Viona sibuk ke dapur menyiapkan minuman untuk mereka.
"Ayo ngomong!" Pinta papanya. Azka menunduk malu. Rasanya ia seperti seorang pemuda yang akan melamar kekasihnya.
"Daddy pengecut!" Celeuk Reynand. Azka menggeram mendengar anaknya.
"Dimas, maksud kedatanganku kemari adalah untuk melamar Nagita, meminta dia jadi istriku kembali," ucapnya setelah menarik napas panjang berusaha tetap terlihat tenang walaupun hatinya gundah dan ingin memberontak semenjak mengatakan itu.
"Tentu saja kamu harus menikahi dia, Azka! Pacaran kalian sudah melebihi batas, apalagi menjadikan Rey sebagai alat kalian untuk bisa bersama-sama lagi,"
"Bukan, Dimas. Aku tulus mencintai Nagita,"
Dimas mengeluarkan ponsel dan langsung mempelihatkan di mana foto keduanya nampak mesra. Di sana terlihat Azka sedang memeluk Nagita dan keduanya menempelkan hidung mereka. Azka ingat kala itu waktu mereka sedang berkencan. Namun siapa yang telah berani mengambil foto keduanya?
"Jelasin aja setelah kalian menikah. Lusa kalian harus menikah!"
"Eh? Nggak ada persiapan, Dimas?"
"Buat apa? Dulu juga kamu membuat keputusan semaumu. Sekarang aku berhak buat keputusan, kamu pertama nikah juga waktu itu mendadak banget kan?"
"Tapi aku butuh waktu bersama Nagita, fitting gaun pengantin,"
"Nikah aja dulu. Halalin dulu, resepsi gampang, Azka!"
"Daddy omongannya doang yang bilang bakalan berani depan Om Dimas, sekarang udah dihadapan Om Dimas malah nyalinya menciut gitu, Daddy nggak konsisten sama apa yang Daddy ucapin," protes Rey.
"Memangnya Daddy bilang apa, Rey?"
"Katanya mau luluhin hati Om Dimas. Buktiin kalau Daddy sayang sama Mama. Buktinya tadi waktu di Bali, Mama bohong kan sama Om? Terus Daddy juga bohong ke Oma, katanya mau urus bisnis, urus bisnis, tapi mereka pacaran. Belum lagi kalau aku nggak ada, mungkin Mama sama Daddy udah sering ciuman kayak gitu,"
Wajah Azka memerah seketika setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Reynand. Anak itu benar-benar membongkar semuanya. Azka merasa sangat malu karena di sana da kedua orang tuanya yang ikut bersama dengan dirinya.
"Rey berapa kali lihat Mama sama Daddy ciuman?"
"Dua kali. Waktu Rey mau daftar SMP juga, waktu Om tanya tentang leher Mama waktu itu, itu semua perbuatan Daddy, Om,"
'Rey kamu mau buat Daddy malu?' Gumamnya dalam hati.
Baru saja ia hendak emosi. Nagita keluar dari dalam kamarnya dengan setelan yang sangat cantik. Azka terpesona melihat calon istrinya selalu baik dalam berpenampilan saat ini.
Baru saja Nagita hendak duduk. Perempuan itu berlari ke kamar mandi.
Hueeek uhuk
Nagita muntah-muntah di kamar mandi. Dimas menatap Azka penuh curiga. Semuanya menyusul Nagita ke kamar mandi.
"Nagita kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa Kak Dimas,"
Mereka semua kembali ke ruang tamu dan ekspresi Dimas berubah seketika.
"Azka, jangan bilang kalau Nagita hamil dan kalian pacarannya melebihi batas?"
"Nggak Dimas. Kami nggak pernah ngelakuin hal sekonyol itu,"
"Itu tadi apa?"
"Aku nggak tahu. Tanya Rey!"
"Aku mana tahu. Daddy sama Mama sering keluar berduaan kok, aku mana tahu kalian pacarannta ngapain aja. Ya siapa tahu Daddy buat adik duluan buat aku,"
"Rey!"
"Kak Dimas aku masuk angin karena tadi perjalanan dari Bali ke Jakarta. Hamil gimana? Aku sama Mas Azka nggak pernah ngapa-ngapain kok,"
"Kita cek ke dokter,"
"Cek aja. Kalau memang positif kamu bisa bunuh aku, Dimas!" Azka menimpali. Memang ia dan Nagita tidak pernah sejauh itu dalam berpacaran. Mereka hanya berciuman dan mencuri waktu untuk bisa berduaan tanpa ada anak mereka berdua.
Merasa lega dengan apa yang dikatakan oleh Nagita. Jujur memang mereka sering menghabiskan waktu, tapi mereka masih ingat batas hubungan mereka berdua. Azka juga tidak ingin menodai lagi hubungan mereka berdua.
Azka duduk bersebrangan. Rey berada di tengah dan Nagita di belah kiri Reynand.
"Nagita kamu yakin sama pernikahan kamu kali ini?"
"Yakin, kak,"
"Apa jaminannya kalau Azka berkhianat lagi?"
"Aku sama Mama bakalan pergi jauh dari hidup Daddy dan nggak pernah kenal sama semua keluarga Daddy kalau sampai Daddy sakitin hati Mama lagi,"
Azka menoleh saat Rey berkata demikian. Anaknya memang sulit ditebak. Azka sendiri tidak tahu sifat asli anaknya walaupun tinggal bersama dengan dirinya.
"Rey, kenapa bilang begitu?"
"Sekarang aku sudah bisa lindungi, Mama. Jadi jangan pernah berpikir bahwa bisa buat Mama sedih lagi, Daddy,"
"Iya Rey. Daddy bakalan sayang sama Mama."
"Segerakan Azka!" Perintah papanya.
"Baik, Pa,"
"Jadi inti dari semua ini bagaimana Dimas?"
"Karena sudah seperti ini, dan hubungan mereka juga sudah jauh, ya harus nikah!"
Azka meraih tangan Nagita. Namun baru saja ia menggenggam tangan Nagita, Reynand memisahkan keduanya. "Daddy, jangan mulai lagi deh!"
Azka terkekeh mendengar protes dari Reynand yang membuatnya salah tingkah. Anak itu memang benar, tetapi Azka tidak bisa terus menerus seperti ini. Menjadikan Nagita istri lagi adalah pilihan terbaik. Apalagi tentang janjinya dahulu yang menjanjikan bahwa keluarga mereka akan kembali utuh lagi.
Reynand bangun dari tempat duduknya dan mengarah kepada Dimas. Tidak disangka bahwa Reynand akan memeluk Dimas sembari menangis.
"Bahagia selalu keponakan, Om!"
"Terima kasih sudah memberikan Daddy kesempatan,"
"Bukan Om. Tapi Mama yang sudah memberikan Daddy kesempatan. Azka, titip Reynand sama Nagita untuk kedua kalinya!"
Azka menangguk, ia juga melihat tatapan mata Dimas berkaca setelah mengucapkan hal itu. Ia akan membahagiakan anak dan istrinya nanti. Senakal apa pun Reynand, ia tetaplah lembut. Buktinya ia menangis dalam pelukan Dimas saat mengucapkan kata terima kasih.