
Jam istirahat pertama di mulai. Mereka telah berganti seragam olahraga menjadi seragam khusus rabu dan kamis. Mereka bertemu di kantin. Fendi yang sedang sibuk makan tak peduli dengan teman-teman sekitar. Sedangkan Bintang masih sangat kesal dan tak bertegur sapa dengan Reynand.
Fendi menggantungkan mi yang sedang ia makan. Sejenak melihat ke arah Jenny yang juga sedang menikmati bakso di kantin. "Suasana apa ini, Rey?" ucap Jenny dan Bintang cukup mendengarkan dan menimpali pertanyaan yang dilontarkan oleh Jenny.
Fendi pun menelan mie dan langsung minum. "Kalian berantem?" ucap lelaki itu.
"Enggak juga," jawab Rey santai. Tapi dalam hati Bintang dia masih sangat kesal terhadap lelaki yang ada di sebelahnya saat ini.
"Bintang sama Rey enggak boleh berantem. Enggak lucu kalau kalian berantem," ucap Rista sambil mengaduk-aduk es campurnya.
Kadang Bintang bingung menjabarkan perasaannya seperti apa. Dia tidak tahu bagaimana harus bersikap jika Reynand sudah mulai bermain-main dengannya. Reynand yang tidak pernah serius, bagaimana dia bisa mengungkapkan perasaan itu.
"Rey, lo ditanya jawab kek!" protes Jenny.
"Lo nanya ke gue? Tanya aja sama temen lo itu!" tunjuk Rey terhadap Bintang. Gadis itu mengerutkan dahi karena ucapan lelaki itu barusan.
Bintang yang fokus makan dan juga tidak mau menanggapi pertanyaan itu. Dia membiarkan Reynand yang menjawab. Bahkan suara Jenny pun samar-samar saat bertanya lagi. Itu dikarenakan suasana kantin yang begitu riuh oleh suara-suara para orang-orang yang tengah menantikan pesanan mereka untuk memanjakan perut. Kadang suara itu begitu nyaring saking laparnya. Ada pula yang menyambar pesanan teman sendiri. Hal itu sudah biasa terjadi di kantin sekolah.
Lelaki yang ada di samping Bintang itu hanya diam tak berkata apa pun lagi. Bintang justru kesal terhadap sikap Reynand yang seenaknya bercanda seperti itu kepadanya.
'Bagaimana cara mengungkapkan rasa bila pada akhirnya kau sendiri tidak mau mengerti? Bagaimana cara untuk menyampaikan cinta, bila kau sendiri tak pernah mau tahu bagaimana posisimu dihati seseorang. Yaitu kamu, kamu yang hingga saat ini menetap dalam hati yang begitu dalam. Ada satu nama, menunggu keajaiban hingga semesta menyadarkanmu. Bahwa ada seseorang yang sedang menginginkanmu, yaitu aku. Aku yang selalu berusaha untuk kau anggap ada.'
"Rey, ya ampun lo itu gimana sih? Enggak peka banget jadi cowok. Harusnya lo itu yang minta maaf duluan, lo yang salah. Lo yang ngambek, aneh," ucap Fendi. Bintang pun sangat setuju dengan ucapan temannya itu. Tapi melihat ekspresi Reynand yang biasa saja membuatnya hampir menyerah. Fendi tahu bagaimana kesalnya Bintang saat mengejar Reynand tadi selepas jam penjaskes.
Cinta kadang tidak pernah sesuai dengan apa yang diharapkan. Kenyataan terkadang membunuh harapan jika tidak pernah mampu untuk bersama.
"Ngomong-ngomong sudah ada keputusan dari ketua kelas. Karena kita kan mau ngadain tour selama empat hari, jadi kita diperbolehkan gitu untuk pergi ke luar kota. Dengan catatan enggak lebih dari satu minggu,"
Bintang mendengarkan setiap penjelasan yang diungkapkan oleh Fendi mengenai tour mereka. Ada yang memilih untuk pergi ke tempat liburan sekitar. Akan tetapi nanti mereka akan pergi untuk mendaki Gunung Rinjani seperti yang pernah didiskusikan oleh mereka.
"Kita kan mendaki, mending lo cari pasangan dulu!" ucap Jenny tanpa peduli terharap perasaan Rista. Gadis polos yang kadang sangat lama untuk nyambung jika diajak berbicara.
Gadis itu nampak tersenyum sambil menggigit sedotan. "Ah, kalian enggak tahu ya, Rista pacaran sama kakak kelas kita loh, dia anak IPS 3. Kalau enggak salah sih namanya Bayu," ucap Rey sambil terus memainkan ponsel tanpa menatap teman-teman yang lain.
Semua mata tertuju pada Reynand yang berkata demikian. pasalnya sulit dipercaya bahwa gadis polos dan pendiam seperti Rista bisa memiliki pacar, apalagi itu adalah kakak kelas mereka.
"Rey, lo tahu dari mana?"
"Gue enggak sengaja lihat mereka jalan bareng. Pegangan tangan terus Bayu manggil Rista dengan sebutan yang spesial pokoknya," Reynand meletakkan ponselnya di atas meja makan.
"Aku balik ke kelas,"
Bintang beranjak dari tempat duduk dan merapikan seragamnya. Namun saat itu juga Reynand menariknya hingga duduk lagi. "Kalau kamu pergi ke kelas, kita enggak jadi pergi tour bareng loh. Dan untuk kejadian tadi, aku tahu kamu marah. Maaf,"
Fendi dan juga Jenny melotot ke arah mereka berdua. "Kalian?" selidik keduanya. Tapi Reynand menggeleng, ingin sekali rasanya Bintang di akui oleh Reynand. Tapi mengingat kembali bahwa mereka hanyalah teman sekelas yang biasa bersama.
Mencintai Reynand bukanlah hal yang dia inginkan, seiring berjalannya waktu rasa nyaman itu kian menjadi. Tidak bisa lagi dia hindari rasa itu. Dia sangat sulit untuk mencerna setiap perlakukan Rey terhadapnya. Reynand yang bersikap manis, seolah memberikan harapan. Kadang Reynand bersikap berlebihan kepadanya. Untuk menghindari rasa cinta itu, tentu tidak pernah mudah bagi seorang wanita untuk menghindari perlakuan seorang laki-laki yang begitu baik terhadapnya.
Bintang duduk kembali dan mendengarkan setiap cerita yang diucapkan oleh Fendi di sana. Sebenarnya ingin sekali dia pergi, pergi jauh dan menghindari perasaannya sendiri. Semakin sering bersama, semakin sering pula rasa cemburu itu kian menggerogotinya. Bintang sendiri tidak pernah tahu bagaimana cara untuk menyembunyikan rasa. Mungkin dirinya yang terlalu mencolok untuk bersikap cemburuan hingga dengan mudahnya Jenny membaca suasana hatinya. Tapi Reynand, sungguh lelaki itu tidak pernah peka sama sekali terhadap perasaan yang dirasakan oleh gadis itu.
"Bintang, kamu mikirin apa?" tanya Reynand. Gadis itu nampak tersenyum dan berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja.
Ia duduk agak sedikit menjauh dari lelaki yang dia sukai itu. Agak sakit memang harus mencintai seseorang dalam diam. Apalagi selalu bersama, tapi apalah artinya selalu bersama bila hatinya tak ikut bersama dengan apa yang ada di dekatnya saat ini.
Sudah lama dia merasakan kebahagiaan itu bersama dengan Reynand. Hanya saja ikatan itu belum mengikatnya untuk menjadi kepemilikan. Mengingat bahwa ucapan Rey yang waktu itu tidak ingin pacaran dulu. Bintang harus menelan rasa sakit itu sendiri tanpa bisa berucap lebih banyak lagi.
Ia pikir bahwa semesta sedang merestui hubungan mereka berdua. Memberkati dengan kebahagiaan hingga pada akhirnya mereka tidak akan pernah lagi merasakan luka. Keduanya akan sama-sama menghadapi bagaimana sakitnya dan bahagianya hidup. tapi semua itu salah, Bintang terlalu salah dalam menerka semua maksud dari kebaikan hati Reynand yang seolah tak menanggap bahwa mereka berdua itu ada. Hanya Bintang saja yang terlalu dalam mencintai Reynand dalam diamnya.