
Malam mulai larut, yang di mana mereka telah tiba di salah satu penginapan di kawasan Lombok timur. Karena besok mereka akan mulai mendaki, malam itu sangat dingin. Karena kawasan dataran tinggi, tidak heran jika suhu di sana sangat dingin dan butuh beberapa pakaian tebal untuk menghangatkan diri.
Jenny, Bintang dan juga Rista satu kamar. Sedangkan Rey, Fendi dan juga Bayu, mereka bertiga juga satu kamar untuk menghemat biaya. Bintang duduk di luar sambil meminum susu panas. Terdengar suara alunan gitar dan gelak tawa dari beberapa pengunjung di sana yang sedang asyik bersama dengan teman-temannya. Sedangkan Bintang memilih sendiri untuk menenangkan pikirannya karena kurang dari sebulan dia akan berpisah dengan teman-teman yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Waktu berlalu begitu cepat untuk memaksakan diri berpisah. Sangat sulit meninggalkan apa yang telah begitu melekat dalam hati. Apalagi tentang persahabatan, semua itu sangatlah sulit.
Dengan pakaian tebal dan juga mengenakan sarung tangan untuk sedikit merasakan kehangatan ditengah dinginnya malam. Bintang bersandar di kursi sambil menaikkan kedua kakinya. Duduk meringkuk sambil menikmati suasana yang teramat ramai di sana.
"Enggak kedinginan, lo?" Jenny duduk di depannya sembari membawa cokelat panas dan ikut bergabung bersama dengan Bintang.
"Dingin, tapi bentar lagi masuk, kok,"
"Ya sudah, lo istirahat aja!"
"Bentar lagi, Jenny,"
"Perihal lo sama. Rey gimana? Masih tanpa status?" temannya menyinggung soal itu dan Bintang tersenyum hendak menjelaskan itu semua.
Ia meminum minumannya dan menaruhnya di atas meja. "Tentang aku sama Rey enggak akan ada hubungan apa-apa sampai kapan pun, Jenny. Aku sudah memutuskan untuk tidak menyatakan itu semua walaupun perasaan itu ada,"
"Bintang, jangan jadi orang munafik. Nanti kalau Rey di ambil orang lo bakalan tahu rasanya kayak apa, enggak mungkin lo itu terus seperti ini. Diam-diam sakit, diam-diam senyum kalau lihat Reynand. Mana ada sih orang yang tiba-tiba peka kalau lo enggak kasih tahu duluan. Lihat dari cara Rey juga perlakukan lo kayak gimana,"
"Rey itu baik ke semua orang,"
"Lo cuman tahu dia beberapa bulan. Gue enggak ngerasa kenal dia banget walaupun udah kenal lama. Cuman sisi Rey itu beda banget ketika kenal sama lo. Mungkin satu sisi dia itu baik sama semua orang, cuman enggak kayak yang dia lakuin setelah dekatin lo, apa lo enggak ngerasa gitu kalau Rey juga suka sama lo? Lo udah sering jalan bareng sama dia,"
Bintang menoleh ke arah kamar yang ada di sebelahnya. Nampak Rey sedang keluar bersama dengan Bayu dan senyuman tergambar jelas di raut wajah Bintang setelah melihat Rey keluar dengan sangat bahagia. Lelaki itu tertawa sambil bercerita bersama dengan Bayu. Dalam hatinya terbersit keinginan semu untuk bisa bersama dengan Reynand. Andai saat ini dia menggantikan posisi Bayu di sana yang sedang membuat Reynand tertawa seperti itu. Andai saat ini dia bersama dengan Rey dan menciptakan sebuah kenangan bahagia yang mungkin akan dijadikan sebagai kenangan paling berharga bagi Bintang untuk tetap dia kenang nanti ketika berpisah. Dalam hatinya, ia tidak ingin memberitahukan dia akan pergi meninggalkan Rey sendirian. Membiarkan perasaannya mati dengan sendirinya barangkali adalah cara terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal saat ucapan perpisahan tak mampu mewakilkan perasaan.
Beberapa menit setelah kedua remaja itu pergi. Jenny dan Bintang masih berbincang di sana. Gadis itu setia menemaninya walaupun kadang sikap Jenny yang sangat ketus ketika berbicara, tapi Bintang masih memaklumi itu karena itu adalah sikap asli Jenny.
"Rista, mana?" ucapnya untuk mengalihkan pembicaraan keduanya mengenai Reynand. Gadis yang ada dihadapannya mengernyitkan dahi dan menarik napas panjang kemudian membuangnya kasar.
"Selalu saja lo menghindar dari semua ini, Bintang. Gue enggak ngerti lagi deh sama lo dan juga Rey, entah kalian berdua akan saling menyiksa perasaan masing-masing atau bagaimana?"
"Jangan pikirkan hal itu, Jenny. Gue enggak mau bahas hal itu,"
"Maka dari itu gue bilang kalau lo itu menghindar,"
Keduanya pun terdiam dengan pikiran masing-masing. Jenny yang memilih diam dan tidak melanjutkan pembahasan karena Bintang terus saja mengelak perihal perasaannya terhadap Reynand.
"Jenny, temani Rista di dalam! Dia takut sendirian!" perintah Bayu yang tiba-tiba membuat Jenny menoleh.
Dia berdiri di depan teras penginapannya sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaket tebal yang saat ini dia gunakan.
"Bintang!"
Reynand tiba-tiba lompat dan mengangetkan Bintang yang tengah sibuk dengan lamunannya. Lelaki itu duduk di depan Bintang sambil mengayunkan kaki ke udara. Gadis itu pun ikut duduk di bawah dan melakukan hal yang sama.
"Kenapa belum tidur?" tanya lelaki itu.
"Karena belum ngantuk,"
"Ada enggak jawaban yang lebih baik gitu?"
Bintang mengernyitkan dahinya. Mereka berdua mengayunkan kakinya dan menyangka dagu di kayu pagar pembatas penginapan mereka.
"Di sini indah banget ya,"
Bintang menoleh sejenak ke lelaki yang tengah berkata demikian. "Ah, iya itu memang indah,"
Gadis itu masih menyangga dagunya di pagar kayu yang permukaannya rata dan dengan tangan kirinya sebagai alas untuk menyangga dagunya. Bintang menoleh saat tangan kanannya digenggam oleh Reynand. Dia masih tidak mengerti dengan lelaki yang bertingkah semakin aneh kepadanya. Jika dia mengatakan itu adalah cinta, barangkali lelaki itu tak merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.
"Kita akan selalu bersama, kan?"
Bintang mendengar pertanyaan itu dengan perasaan yang sakit. Pasalnya, dia akan meninggalkan teman lelakinya itu. Dia mengalihkan tatapannya ke arah lain dan melirik sejenak ke arah Reynand yang fokus pada pemandangan yang ada di depan mereka berdua.
Begitu banyak kebahagiaan yang pernah mereka berdua lalui bersama. Mereka banyak bersenang-senang untuk melupakan perihal sakit hati yang kadang dirasakan oleh Bintang ketika Rey sibuk dengan yang lain.
'Aku benci saat sibukmu karena kau melupakanku, tetapi aku lebih benci lagi saat melihat tawamu bersama dengan perempuan lain. Dan itu bukan karena aku, melainkan orang lain' ucapnya dalam hati. Ingin sekali dia selalu ada di sisi lelaki itu.
"Rey, maksud kamu selama ini dengan cara kita seperti ini ketika bersama, itu apa maksudnya?"
"Jangan tanyakan perihal kita. Aku juga enggak tahu, yang jelas aku ingin kita tetap bersama,"
"Boleh aku tanya suatu hal sama kamu?"
"Apa?"
"Apa kita akan seperti ini tanpa ada status hubungan apa pun?"