RICH MAN

RICH MAN
ALASAN BERTAHAN



Setelah sarapan, mereka


berdua pergi ke halaman belakang rumah. Di sana ada taman keluarga untuk


bersantai. Nagita bersandar dibahu Azka di ayunan tersebut. Seperti


biasanya mereka selalu romantis di manapun itu.


"Mommy, tunggu di sini. Daddy ambil minuman dulu untuk kita bersantai."


Nagita mengangguk. Azka


pun berlalu dari hadapan Nagita. punggung suaminya telah menghilang


untuk masuk dari pintu belakang. Beberapa kali ponsel Azka berbunyi,


Nagita hendak memberikannya kepada Azka. Tetapi saat melihat ID


penelepon tersebut, hati Nagita terasa nyeri. Nama itu jelas terpampang


di layar ponsel suaminya. Nama Deana, di tambah lagi dengan foto yang


menjadi background tersebut adalah foto Azka yang dengan manisnya


merangkul Deana dan mencium kening perempuan itu. Selama ini Nagita


sudah begitu percaya dengan Azka, ingin rasanya ia menghilangkan semua


rasa curiga itu. Setelah ponsel itu berhenti berbunyi. Nagita segera


membuka pesan.


From: Deana


Honey, kapan pulang?


Send: Azka


Sudah pulang. Aku akan menemuimu nanti siang, sayang.


From: Deana


Kau lama sekali, Honey. Aku merindukanmu.


Send: Azka


Tenanglah


Honey, aku akan segera ke sana. Aku juga sangat merindukanmu. Maaf


tidak menghubungimu sangat lama. Aku harus bertemu dengan istriku


terlebih dahulu. Siang ini aku akan ke apartemenmu. Aku sangat


mencintaimu, Deana.


From: Deana


Baiklah. Aku tunggu, Honey. Begitupun denganku, aku sangat mencintaimu.


Nagita meletakkan ponsel itu dengan segera. Itu adalah chat pagi tadi. Saat dirinya bertemu dengan keluarga Azka lebih dulu.


Hatinya terasa sesak. Saat Azka kembali, ia berusaha sebijak mungkin


untuk bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.


"Mommy, minum susunya dulu ya. Biar Baby kita sehat,"


Nagita mengangguk. Ia


mengambil susu tersebut dan meminumnya. Azka mengambil gelas tersebut


dan meletakkannya di atas meja. Tubuh Nagita ditarik ke dalam pelukan


laki-laki itu dan dipeluk dengan sangat erat. Hatinya masih terasa


sakit.


Ia hanya menuruti


keinginan Azka dan lagi-lagi ia harus memaksakan dirinya untuk bersikap


biasa saja dan membalas pelukan suaminya.


"Sayang,"


"Iya, Mas,"


"Mas sayang sama kamu,"


Nagita tersenyum kecut.


Pasalnya baru saja ia menemukan chat suaminya bersama dengan perempuan


lain. Ia hanya berusaha menyembunyikan itu semua dan berusaha tidak


mengetahui apa pun.


"Kenapa nggak dijawab?"


Hatinya masih terasa nyeri untuk menjawab semua itu.


"Jika kata cinta yang


aku dengar itu hanyalah sebuah kebohongan. Maka aku memilih untuk tetap


berada dalam kebohongan tersebut. Namun, jika semua itu adalah nyata.


Tetapi pada akhirnya aku menyadari, semua yang kudengar itu nyata, pada


akhirnya hanyalah sebuah kebohongan. Lantas aku harus berada dalam


posisi mana saat semuanya sudah terlanjur seperti ini?" Nagita membatin. Ia memejamkan matanya berusaha meyakinkan bahwa semua itu hanyalah mimpi.


"Aku mau nanya, Mas,"


"Mommy, mau tanya apa?"


Nagita tak membuka


matanya sedikitpun. "Mas bilang pengin bahagiain aku kan? Pengin buat


keluarga kecil sama Gita dan calon anak kita, tapi Gita cuman pengin


tanya. Mas masih punya pacar atau nggak?"


Pelukan itu langsung dilepas oleh Nagita.


"Gita! kenapa bertanya seperti itu?"


"Cuman pengin tahu."


Azka terdiam sejenak, "Iya, Mas punya. Tapi Mas lebih sayang sama kamu,"


Nagita menatap Azka begitu lekat. "Cinta sama Nagita?"


Azka terdiam. Lama


Nagita menunggu jawaban itu. Namun tak kunjung keluar dari mulut Azka.


Hatinya sangat sakit dengan kenyataan itu. Ia berdiri dari ayunan itu


dan meninggalkan suaminya sendirian. Tak ada penahanan dari Azka. Itu


semakin membuat hati Nagita terasa sakit. Ia pergi begitu saja dan


langsung masuk ke dalam kamarnya.


Nagita terbangun dengan mata yang sedikit sembab. Di sana ada Azka yang memperhatikannya saat beranjak ke kamar mandi.


Setelah mencuci


wajahnya, ia mendapati Azka berdiri di depan pintu kamar mandi sambil


membawa handuk yang dikalungkan di lehernya. Ia sama sekali tak menyapa


suaminya dan meninggalkan Azka begitu saja. Saat suaminya sibuk mandi,


ponsel itu berada di atas nakas. Ia mengambilnya lagi dan membaca semua


pesan yang ada di sana.


Send: Azka


Aku akan ke sana beberapa menit lagi. Jadi tunggulah, sayang.


From: Deana


Aku tahu apa yang kamu inginkan, Honey. Kamu merindukan tubuhku?


Send: Azka


Jika sudah tahu, kenapa kamu justru bertanya, Honey? Tunggulah. Aku mandi dulu.


Setelah membaca pesan


tersebut. Ia meletakkan kembali ponsel itu. Beberapa saat kemudian Azka


keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Mommy, saya pergi sebentar untuk menemui klien. Mungkin pulangnya agak malam. Jadi kalau saya belum pulang, tidur saja."


Klien, setega itukah


Azka mulai membohonginya. Ia hanya mengangguk dan merapikan tempat


tidurnya. Melihat Azka yang sudah berpakaian rapi namun dengan pakaian


santai. Hati Nagita semakin terasa perih.


Azka mendekat pada dirinya dan kedua pipinya dipegang oleh suaminya.


"Baik-baik di sini," Azka mencium keningnya.


Nagita memejamkan mata


saat Azka mencium keningnya dan ia menarik kaos putih yang dikenakan


oleh Azka. "Jika aku bilang nggak boleh pergi dan mau Mas tetap di sini,


apa Mas akan tetap pergi?" tanya Nagita tanpa ada keraguan.


"Tidak bisa. Saya harus pergi, ini sangat penting,"


Tangan Nagita yang tadi


memegang erat kaos tersebut akhirnya meluruh. Ia meneteskan air matanya


saat Azka berlalu. Kebahagiaan yang pernah dirasakan seolah sudah


dibuatkan skenario oleh Azka. Semua sikap manis Azka selama ini apa


artinya? Ia harus melawan traumanya hanya untuk tidak mengecewakan


suaminya. Lantas apa yang diperbuat oleh suaminya? Justru ia yang


dikecewakan dengan kebohongan tersebut.


Nagita sudah mandi dan berpakaian rapi. Ia segera turun untuk menemui mertuanya di bawah. Ia duduk di sofa dan termenung.


"Sayang kok melamun?"


Nagita tersadar dan tersenyum. "Nggak apa-apa, Ma."


"Ohya, kita tunggu Naura dulu ya, kita ke mall hari ini beli perlengkapan bayi untuk cucu pertama Mama. Sayang, Azka mana?"


"Mas Azka lagi keluar Ma, katanya mau ketemu klien,"


"Kalau begitu kita bertiga aja, mumpung kamu sudah rapi begini."


Ia hanya mengangguk


berusaha baik-baik saja di depan mertuanya. Naura turun dari kamarnya


dengan dress merah yang sangat cocok untuk lekuk tubuh perempuan itu.


Bahkan Nagita sendiri kagum dengan perawakan Naura.


"Ayo, Ma, Nagita, kita pergi sekarang!" ajak Naura yang begitu semangat.


Mereka langsung keluar


menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah mereka. Mereka bertiga


langsung masuk. Sepanjang perjalanan, Nagita hanya terdiam. Entah apa


yang akan terjadi nantinya. Semua itu menjadi beban pikiran Nagita.


mengapa Azka berbohong? Itu yang menjadi alasan Nagita merasakan sakit


yang luar biasa.


Mereka memilih begitu


banyak perlengkapan dan langsung di bawa ke mobil oleh sopirnya. Selesai


belanja, mereka mencari restoran untuk makan siang. Nagita ingat bahwa


ia harus makan makanan yang bergizi, tidak diperbolehkan makan daging


setengah matang oleh dokter. Ia harus pandai memilih makanan. Bahkan


mama mertuanya pun ikut berperan dalam memilihkannya makanan.


Mereka terus berbincang


membahas persalinan Nagita. Hingga suatu hal terjadi. Nagita melihat


Azka yang tengah bermesraan dengan seorang perempuan di restoran yang


sama. Bahkan jarak mereka hanya beberapa meter dari tempat Nagita duduk.


Sesekali mereka berciuman sekilas di tempat umum seperti itu. Bahkan


Azka sepertinya tak keberatan dengan hal itu. Dia justru merangkul


perempuan tersebut.


"Mas Azka."


Suara Nagita yang begitu


lagi. Air matanya lolos begitu saja.


"Ma, kita pulang!"


"Sayang kenapa nangis?"


"Ayo pulang, Ma. Kalau


Mama nggak mau pulang, aku pulang sendirian." Nagita beranjak dari


restoran tersebut dan keluar terlebih dahulu.


Sontak setelah membayar makanan tersebut. Naura melihat Azka bermesraan dengan Deana. "Ma, apa Nagita lihat itu?"


Mamanya menoleh kedua orang yang ditunjuk Naura.


"Keterlaluan Azka. Itu


yang dia bilang klien, dia bohongi istrinya sendiri," langkah mamanya


hendak menuju pada dua orang tersebut tetapi di tahan oleh Naura.


"Ayo kejar Nagita, Ma. Dia lagi hamil besar, nanti terjadi apa-apa bagiamana? Soal Kak Azka kita bisa bicarakan di rumah."


Mama pun hanya menurut


dan langsung berusaha mengejar Nagita. mereka berdua tiba di parkiran


dan tak menemukan Nagita berada di dalam mobil.


"Dia ke mana, Ma?"


Mereka berdua langsung


masuk ke dalam mobil. Dan saat keluar dari parkiran ia menemukan Nagita


berjalan kaki di trotoar. Mobil pun dihentikan dan mereka berdua


langsung meminta Nagita masuk ke dalam mobil. Meski awalnya gadis itu


menolak, dan bahkan air matanya sudah tak bisa dibendung lagi.


"Azka sangat


keterlaluan. Bisa-bisanya dia bohongi, kamu. awas saja kalau dia sampai


di rumah. Mama akan beri perhitungan sama dia,"


Nagita menghapus air


matanya dan memeluk lengan mertuanya. "Anggap bahwa dia tidak tahu, Ma.


Gita mohon, hanya sampai melahirkan. Nggak apa-apa kalau semua ini hanya


pura-pura cara Mas Azka sayang sama aku. Yang terpenting dia bisa


nemenin aku lahiran, setelah itu aku janji nggak bakalan ganggu hidup


dia lagi, Ma."


"Nagita ngomong apa?"


"Pisah, Nagita akan pisah. Ma, Gita bisa urus dia sendirian. Nagita janji nggak akan ketemu Mas Azka lagi,"


"Sayang kamu ngomong apa? Pisah bagaimana?"


"Sakit, Ma. bukan


pertama kalinya, tapi ini sudah kesekian kalinya Mas Azka seperti itu.


Mungkin dulu aku bisa maklumi. Tapi, sekarang aku nggak bisa lagi, Ma.


Hati aku sakit saat dia seperti itu,"


"Tolong jangan bicara seperti itu, sayang. Mama nggak mau kalian pisah,"


"Kalau tahu semuanya seperti ini, Gita lebih baik sendiri,"


"Sayang. Jangan ngomong gitu lagi, Mama mohon!"


Nagita terdiam dan terus


memeluk lengan mertuanya. Naura hanya terdiam melihat kakak iparnya


seperti itu. Sebagai seorang wanita ia pun paham bagaimana perasaannya


jika melihat orang tersayangnya melakukan hal yang menjijikkan seperti


yang dilakukan oleh Azka.


******


Azka melihat jam yang


sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia harus pulang dengan segera


sebelum orang-orang rumah menanyainya dengan berbagai macam pertanyaan.


Benar bahwa apa yang dikatakannya dalam chat tersebut terjadi. Ia mulai


menjadi brengsek lagi dengan cara bercinta dengan Deana. Azka mencintai


perempuan itu, bahkan lebih mencintainya dibandingkan dengan Nagita.


Perasaannya mulai terganggu. Ia pun mengenakan pakaiannya saat Deana


hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


"Azka, kamu mau pulang?"


"Iya. Besok aku kemari lagi, tenanglah Honey. Jangan khawatirkan apa pun. Aku hanya mencintaimu,"


Ia mengecup bibir Deana


singkat dan langsung keluar dari apartemen perempuan itu. Meski setiap


kali bercinta dengan perempuan lain ia menggunakan pengaman. Namun


apalah artinya jika ia mengkhianati istrinya sendiri demi kepuasan


semata. Hal yang bisa ia dapatkan pada istrinya. Meski tak berpengalaman


seperti Deana, tetapi tidak seharusnya ia mengkhianati Nagita. ia juga


tak bisa melakukan seperti yang ia inginkan seperti yang dilakukannya


bersama Deana. Tetapi mengingat keadaan istrinya yang tengah hamil.


Tidak mungkin baginya hanya untuk memuaskan nafsu yang sangat besar itu.


Azka tiba di rumah dan


menemukan seluruh anggota keluarganya berada di ruang tamu masih


berbincang dengan hangat sepert biasanya.


Ia tak mendapati istrinya di sana. "Gita, mana, Ma?"


"Ada tuh di dapur, dia lagi buatin Papa kamu kopi,"


"Kenapa nyuruh dia sih, Ma? ada asisten, dia lagi hamil."


"Kamu hanya peduli dengan kandungannya. Tapi tidak peduli dengan perasaannya. Apa bedanya?"


Ucapan mamanya seolah


sebuah sindiran. Ia langsung pergi ke dapur untuk menemui istrinya yang


sedang sibuk. Ia mendekat dan memeluk istrinya yang tengah mengaduk


kopi.


"Kamu sudah pulang, Mas? Mau dibuatkan kopi hitam atau kopi susu,"


"Penginnya kamu,"


Ia menciumi leher


istrinya dan mencecapnya meninggalkan tanda merah di sana. Ia merasakan


tangannya disingkirkan oleh Nagita dan perempuan itu membenarkan


rambutnya lalu pergi begitu saja.


"Semuanya, Gita pamit istirahat ya. Maaf nggak bisa lama-lama,"


Perempuan itu berlalu


begitu saja. Mama yang melihat mata Nagita sudah berkaca-kaca mengerti


dengan apa yang dirasakan oleh menantunya.


Azka justru ikut bergabung bersama keluarganya di ruang keluarga.


"Azka, kamu dari mana?"


"Ketemu klien, Ma,"


"Kamu nggak ketemu sama, Deana kan?"


Azka terkejut saat


mamanya membahas perempuan yang baru saja bertemu dengan dirinya. "Ya


ampun, Ma. Azka kan sudah nikah. Jadi mau ketemu perempuan lain yang


kayak gimana lagi?"


"Baguslah. Semoga nggak nyesel,"


Seandainya jika Nagita


tak melarang untuk membahas hal itu. Tentu mama dan juga Naura sudah


membongkar apa yang dilakukan oleh Azka. Namun karena permintaan


perempuan itu, mereka berdua harus bersabar dan membiarkan itu terjadi.


Berlama-lama berbincang


di ruang keluarga. Azka pamit untuk ke kamarnya. Ia langsung membuka


pintu kamar dan mendapati istrinya yang tengah berbaring. Azka ikut


berbaring di samping istrinya dan memeluknya dari belakang.


Beberapa saat ia memeluk istrinya. Suara isakan terdengar jelas oleh Azka.


"Sayang, kamu nangis?"


"Sakit, Mas."


"Sakit kenapa? Kita ke dokter ya?"


"Nggak Mas, kamu peluknya terlalu erat,"


Azka melepaskan pelukannya dan hanya menempelkan kepalanya ditengkuk sang istri. Ia pun menciumnya berkali-kali.


"Nagita, ayo!"


"Ayo apanya Mas?"


"Saya pengin itu,"


Nagita terdiam. Ia mulai


meraba milik istrinya namun beberapa kali pula tangannya disingkirkan


oleh Nagita. untuk pertama kalinya Nagita menolak keinginannya untuk


bercinta.


"Aku capek, Mas."


"Kamu ngerjain apa? Mama nyuruh kamu yang nggak-nggak?"


"Bukan, tapi Mama


ngajakin aku beli perlengkapan untuk anak aku," Azka mengedarkan


pandangannya dan menemukan barang yang begitu banyak di dekat lemarinya.


Dan mendengar kata 'anak aku' Azka sedikit merasa ada yang berbeda dari


istrinya.


"Mommy, baik-baik aja?"


"Iya, Daddy. Cuman capek, aja."


Azka mengerti dengan


keadaan itu. Sementara di sana, bantal yang digunakan oleh Nagita sudah


basah oleh air mata. Sebegitu sakit hatinya dibohongi oleh Azka hingga


keterlaluan seperti itu. Tidak seharusnya Azka berlaku seperti itu.


Namun justru perlakuan Azka selalu bersikap manis seolah tidak pernah


terjadi apa-apa. Ia hanya tidak menyadari bahwa saat seorang wanita


telah kecewa. Kepercayaannya tak akan kembali lagi seperti dulu. Bahkan


Azka tak menyadari pernikahannya sudah diambang batas. Nagita yang


terlalu sakit menerima kenyataan itu harus bertahan demi sang buah hati.


Setelah itu, semua akan benar-benar berakhir. Selama ini perempuan itu


beranggapan bahwa Azka telah mengkhiri hubungannya dengan Deana. Tetapi


justru sebaliknya. Saat Nagita meminta Azka tetap tinggal, tetapi pria


itu tetap memilih pergi. Apalah artinya memaksan seseorang untuk tetap


tinggal, sementara hatinya bersama orang lain.


Jadi jangan protes.