
Padahal baru saja dia pulang dari rumah mertuanya beberapa hari yang lalu. Kali ini dia disuruh oleh mamanya sendiri untuk membawa istri dan juga anaknya ke rumah kedua orang tua kandungnya sendiri. Padahal Rey pernah berencana bahwa dia akan datang ke sana nanti. Namun, jika sudah mamanya yang datang seperti ini. Sulit bagi Rey untuk menolak. Karena dia selalu menuruti apa yang dikatakan oleh orang tuanya.
Kali ini dia sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah kedua orang tuanya. Marwa juga sudah menyiapkan semuanya sedari tadi. Awalnya istrinya itu memang niat ke sana untuk mengantarkan kue yang dia buat.
Marwa juga sudah menyiapkan kue yang memang ingin dia berikan kepada orang tua suaminya. Rey sudah memasukkan barang terlebih dahulu ke dalam mobilnya. Sedangkan mama dan juga adiknya sedang bermain dengan Audri.
“Ayo sayang, kita berangkat sekarang!” ajak Marwa kepada anaknya yang sedang duduk di lantai bersama dengan mertua dan kedua adik iparnya. Sampai di sana, pastinya yang dua itu tidak akan pernah mau melepaskan Audri. Bahkan untuk tidurpun, mereka berdua pasti menginginkan untuk tidur bersama. Jika dulu Rey melarang, tapi kali ini dia akan membiarkan anaknya tidur bersama dengan kedua adiknya. Dengan syarat, adiknya tidak menindih Audri nantinya.
Mama mertuanya bangun dari tempat duduknya. “Biar Mama yang gendong ya,” kata mama mertuanya meminta izin kepada Marwa yang tadinya mengangkat anaknya.
“Mama nggak repot?”
Mamanya menggeleng, “Kapan lagi coba Mama bisa gendong seperti ini? Jarang-jarang kalian itu bawa anak kalian ke rumah,”
Marwa menganggukkan kepalanya dan membiarkan Audri digendong oleh mama mertuanya.
Mereka berempat keluar dari rumah dan mengunci pintu. Asisten yang biasanya di rumah mereka pun sudah pulang ketika Rey mengatakan bahwa dia akan tinggal di rumah kedua orang tuanya untuk beberapa saat. Hanya ada satpam yang menunggu di rumahnya. Rey berpamitan kepada satpam yang biasanya ada di rumah mereka itu.
“Mama di depan ya sama Mas Rey!”
“Kamu aja, Marwa. Biar Mama dibelakang sama yang dua ini. Pasti nanti mereka gangguin kalau mama di depan,”
“Iya ih kak Marwa. Kita dibelakang aja sama Mama. Biar bisa main sama Audri,” ucap Nabila yang tak dibalas oleh Marwa. Itu berarti dia setuju dengan ucapan mamanya yang mengatakan bahwa mereka dibelakang saja.
Mengendarai dengan waktu kurang lebih empat puluh lima menit karena mereka terjebak macet. Itupun waktu yang singkat bagi Rey karena dia yang biasanya memang selalu pulang terlambat karena terjebak macet ketika pulang kerja.
Begitu tiba di rumah kedua orang tuanya, dia melihat papanya yang baru turun dari mobil dan tersenyum ke arah mereka.
Mereka semua turun dari mobil Rey. “Assalamu’alaikum, Papa,” kata si kembar yang langsung menyambar papanya yang berdiri di samping mobilnya dan bersalaman.
“Kenapa nggak bilang kalau kalian pergi ke rumah kakak?” tanya papanya yang merangkul kedua anak gadisnya.
Rey dan juga Marwa mendekati papanya dan bersalaman. Begitupun dengan Nagita yang bersalaman kepada suaminya seperti biasanya.
Pria itu langsung menyambar pipi tembam Audri yang terlihat begitu gemas. “Salamin, Pa. nanti juga mau kok,” ucap Rey.
Papanya kemudian mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Audri. Seperti yang dikatakan oleh Rey bahwa anak itu memang mengerti dan langsung mencium tangan papanya. “Uh cucu kesayangan, sama kakek yuk!” ajaknya dan baru saja dia merentangkan tangan. Audri langsung mau digendong.
“Dikasih makan apa coba anak kamu, Rey? Dulu adik kamu tuh nggak mau digendong sama siapa-siapa. Sampai Papa sendiri capek dan juga Mama yang pastinya lebih capek,”
“Apanya, Pa?” timpal si kembar.
“Kalian dulu cengeng waktu masih kecil. Nggak mau digendong sama orang lain. Maunya sama Papa dan juga Mama terus. Bahkan tante Naura juga kalian nggak mau kenapa sekarang Audri cepat banget gitu digendong sama siapa aja,”
“Audri, kan baik, Pa,” ucap Rey sambil menggoda adiknya.
“Kak Rey nyebelin,”
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah dengan Audri yang masih digendong oleh papanya. Rey membiarkan anaknya digendong oleh papanya. Sementara dia mengeluarkan barang-barang yang akan dipindahkan ke kamarnya untuk sementara waktu karena mereka berdua akan menginap di sana. Rey yang memang sudah berjanji bahwa dia akan mengajak istri dan juga anaknya untuk mengingap beberapa saat di sana. Waktu di rumah mertuaya, dia hanya menginap dua malam dan langsung pulang ke rumah orang tuanya. Tidak mungkin dia pulang ke rumah karena rumahnya yang sangat sepi tanpa kehadiran kedua perempuan yang begitu dia sayangi.
“Papa mandi dulu sana! Biar Mama yang gendong,” Nagita hendak mengambil Audri tapi justru anak itu menolak. “Lho, kok sekarang nggak mau?”
“Dia tahu mana yang bisa bahagiain, dia. Dan mana yang marahin dia,” ledek Azka.
Ekspresi Nagita berubah begitu saja ketika suaminya berkata demikian. Dia juga sangat ingin menggendong cucunya. Tapi cucunya justru tidak mau bersama dengannya begitu Azka mengambilnya dari gendongannya barusan.
“Pa, sini biar aku yang gendong. Papa kan baru pulang kerja. Papa mandi dulu ya!”
Namun tetap saja Audri menolak untuk digendong oleh Marwa. Mereka berdua pun akhirnya menyerah dan Azka meletakkan Audri dilantai. Karena kedua anak perempuannya menurunkan mainan lamanya yang akhirnya membuat Audri diam dan ikut bermain bersama dengan tante kecilnya.
Kadang, Azka merasa begitu lucu punya cucu di usianya yang sekarang. Dia yang dulunya pernah berkomitmen bahwa dia tidak akan pernah menikah karena baginya pernikahan itu hanyalah beban yang tidak akan pernah ada ujungnya. Saat Tuhan memberikannya perasaan cinta yang tidak ada satupun orang yang bisa menolongnya kala itu, selain Nagita. Kemudian dia percaya bahwa cinta itu memang benar-benar ada.
Sejenak dia mengela napas panjang dan dia langsung tersenyum begitu saja. “Terima kasih ya, Nak,”
Marwa mengangkat sebelah alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh papa mertuanya mengenai kata terima kasih yang baru saja dia dengar dari papa mertuanya. Marwa yang selama ini menganggap kedua orang tua Rey seperti orang tua kandungnya sendiri. Tapi tidak mengerti dengan ucapan yang barusan dilontakan oleh mertuanya.
“Papa kenapa bilang terima kasih?”
“Karena Papa bahagia punya menantu seperti kamu, Nak,”
Bukan hanya Papa mertuanya yang berkata demikian. Tapi, mama mertuanya juga pernah berkata demikian untuk dirinya. Rey kemudian turun setelah dia membawa barang-barang itu ke kamarnya. Sejenak Marwa tersenyum, “Terima kasih juga untuk kebaikannya selama ini, Pa. karena Papa juga yang buat aku dan Mas Rey bisa bertahan sampai sejauh ini,”
“Itu karena perasaan kamu sayang,” timpal Rey yang kemudian dibalas dengan anggukkan oleh papa mertuaya.
Papa mertuanya kemudian berpamitan untuk mandi terlebih dahulu. Sedangkan mama mertuanya mengikuti papa mertuanya untuk pergi ke kamar. “Oiiit, kembar. Mandi dulu sana! Tadi kan kalian nggak mau mandi di rumah kakak,”
“Nanti, kak. Masih mau main,”
Adiknya cemberut dan langsung bangun dari tempat duduknya kemudian pergi dari sana. “Kak Rey nyebelin,”
Marwa tertawa kecil mendengar kedua adik iparnya protes kepada Rey yang tadi menyuruhnya untuk mandi. Padahal Rey hanya memerintah dengan anda biacara yang tak terlalu keras. Tetapi karena dia juga mengancam akan melaporkan. Maka dari itu adiknya kesal dengan tingkah Rey.
“Sayang, ayo ke kamar! Pijitin aku sebentar ya!”
“Audri gimana?”
“Bawa sayang, masa iya anak di sini sendirian. Papa sama Mamanya lagi pacaran di atas,”
Marwa menyeringai kemudian membereskan mainan itu dan langsung menggendong Audri. Bagaimana Rey tidak sayang kepada perempuan yang selalu menurut dengan sangat baik. Rey yang mencintai istrinya dengan tulus. Apalagi istrinya sebaik ini. Bagaimana dia bisa berpaling lagi untuk sekarang ini.
Begitu tiba di kamar, Rey membuka bajunya dan seperti biasanya, ekspresi Marwa langsung berubah dan nada bicaranya sedikit gelagapan. Padahal Rey sudah sering tidak berpakaian di depannya.
“Kenapa masih malu sih? Sampai anak kita ada kamu masih seperti ini?!” protes Reynand ketika melihat istrinya dengan pipi yang merah bagaikan kepiting rebus yang begitu merah.
Bagaimana dia tidak iseng menggoda istrinya jika istrinya terus seperti ini. “Malu aja, Mas,”
Rey berbaring di atas ranjang kemudian anaknya diletakkan di dekatnya, “Kenapa malu. Nih anak hasilnya, kita juga sering kan gituan,” Rey bertanya perlahan karena dia tidak sanggup lagi melihat ekspresi istrinya yang merah sepreti barusan.
“Apa sih, Mas?”
“Ayo pijitin bentar sayang! Capek banget, aku keliling sama Mama tadi. Belum lagi ke sekolahnya si kembar,”
“Dipijitin kok posisinya gitu?”
Rey kemudian tengkurap dan benar saja jika Marwa memang sangat malu kepada suaminya. Tubuh Rey yang begitu putih, belum lagi karena otot-ototnya yang terbentuk dengan begitu bagus. Tapi beruntunglah Rey tidak pernah mengenakan singlet ketika keluar rumah. Pria itu hanya akan mengenakan kaos yang tidak terlalu pendek tapi tetap bisa menyembunyikan otot gagahnya.
“Bobok dekat, Papa sayang!” Rey menidurkan anaknya dan mengelus-elus alis anaknya yang perlahan justru dirinya yang tertidur bukan anaknya.
Marwa tertawa kecil ketika melihat suaminya yang justru tidur bukan Audri. Padahal suaminya yang berusaha menidurkan anakya. Tapi justru dia yang ketiduran.
Begitu selesai, dia langsung menyelimuti suaminya dan menggendong anaknya keluar kamar. Rey memang sangat tampan. Mungkin di luaran sana banyak yang mengatakan bahwa Rey belum pernah menikah karena dia yang masih terlalu muda untuk menikah kata papanya. Namun, Marwa sadar jika dulu perjodohan itu dilakukan karena mereka berdua saling menunggu. Menunggu orang yang tidak mereka ketahui sama sekali. Tapi, inilah jodoh, mereka berdua dipertemukan dengan perjodohan yang tidak disengaja itu.
Marwa menutup pintu kamar dengan perlahan. “Rey mana?” tanya papanya yang baru saja keluar dari kamar juga.
“Mas Rey tidur, Pa. kasihan kecapean gitu,”
“Dia udah sholat?”
“Sudah, Pa,”
“Nggak baik tidur jam segini, apalagi ini udah jam lima, Marwa. Bangunin aja!”
“Bentar aja, Pa. kasihan tadi dia juga pergi sama, Mama. Belum lagi jemput yang dua itu. Terus nyetir ke sini. Kasihan,”
“Oh ya udah. Nggak apa-apa, nanti sebelum magrib bangunin dia ya!” Marwa menganggukkan kepalanya kemudian Audri diambil oleh papa mertuanya. “Nanti malam kita makan malam di luar ya!” sambung papa mertuanya.
“Ya, Pa. Aku ikut aja,”
“Ngomong-ngomong menantu Papa ini kan ulang tahun. Dikasih apa sama Rey?”
Marwa mengangguk pelan. “Iya, Pa. Hehe dikasih mobil sama Mas Rey,”
“Selamat ulang tahun menantu kesayangan, Papa. Semoga diberikan kesehatan dan juga panjang umur ya,”
“Terima kasih banyak, Pa,”
Azka mengeluarkan sebuah kartu yang di mana kartu tersebut digunakan untuk membuka pintu yang di mana itu adalah sebuah kunci yang tinggal ditempelkan maka, otomatis pintu akan terbuka. Ia memang sengaja memberikan itu kepada menantunya.
“Ini apa Pa?”
“Nanti bawa waktu makan malam ya! Taruh di tas kamu sekarang! Jangan kasih tahu, Rey!”
“Terima kasih, Pa.”
Marwa masuk kembali ke dalam kamarnya sekalipun dia tidak tahu apa yang diberikan oleh papa mertuanya. Setidaknya dia menuruti apa yang dikatakan oleh papa mertuanya untuk membawa kartu itu nanti ketika mereka makan malam seprdti yang diberitahukan oleh papa mertuanya.