RICH MAN

RICH MAN
BERUSAHA



Nagita memulai kehidupannya yang baru bersama dengan Rey. Satu-satunya rumah menjadi tempat ia kembali adalah Dimas. Bahkan saat ia mengajak Rey untuk pergi, Nagita tak merasakan kesulitan. Karena setelah melihat bekas tamparan di pipinya. Rey langsung menghindari Azka dan tidak mau lagi bersama pria tersebut. Bukan inginnya Rey membenci pria itu. Tetapi karena sudah terlanjur, Nagita hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.


Bahkan ia mengajari Rey untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Mama’ dan anak itu langsung menyentujui tanpa membantahnya. Meski sudah terbiasa dipanggil dengan sebutan ‘Mommy’ tetapi kini keadaannya sudah sangat berbeda.


Setelah memutuskan untuk pulang ke rumah Dimas. Laki-laki itu dengan senang hati menerimanya untuk kembali. Bahkan Rey yang sangat senang dengan berada di rumah Dimas membuat Nagita bersyukur karena tidak sia-sia ia mengajarkan Rey untuk selalu bersyukur tentang keadaan yang ada dalam kehidupannya.


Setelah masak untuk makan siang, ia memanggil Rey yang tengah bermain di rumah tetangganya. Selama berada di sana, Rey memang ia bebaskan untuk bermain. Tidak seperti waktu itu berada di rumah Azka. Karena ia tinggal di perkampungan biasa, itulah yang membuatnya mengajarkan Rey untuk tidak terlalu membawa kehidupannya yang sewaktu bersama dengan Azka yang selalu dicekoki dengan barang-barang mewah.


“Rey, ayo makan!”


“Bentar, Ma,”


“Makan dulu, ajakin teman-teman Rey, makan bareng ya!”


Kelima anak kecil yang seumuran dengan Rey langsung berlari menghampirinya. Ia justru senang melihat Rey yang begitu ceria setiap harinya. Terlebih Dimas yang selalu membiarkan Rey bermain dengan teman-teman sebayanya. Jika dulu Rey hanya bermain dengan Leo dan juga Clara, kini Rey telah memiliki teman yang cukup banyak yang terkadang membuat Nagita lelah mencari keberadaan putranya yang bermain terlalu jauh bersama dengan anak-anak yang lain. Meski kini Dimas yang cukup baik dalam jabatannya. Tidak membuat mereka hidup dalam kemewahan dan selalu sederhana.


“Tante, boleh nginap di rumah tante nggak?”


“Boleh, tapi harus izin dulu sama orang tua,”


“Nanti malam minggu kita nginap ya tante?”


“Iya, nanti juga tante minta izin sama orang tua kalian ya. Kita jalan-jalan sama Om Dimas, kalian mau?” ucapnya sambil menyiapkan makanan untuk kelima anak itu.


“Tuh Mama Rey baik kan? Mama nggak pernah marah,”


“Papa Rey ke mana?” tanya salah satu anak.


“Rey nggak ada Papa. Rey nggak mau sama Papa,”


“Kenapa?”


“Papa Rey itu ngeri, sering mukulin. Lebih baik sama Om Dimas, Rey selalu di sayang,”


“Rey, nggak boleh ngomong gitu sayang!”


“Tapi benar gitu Ma, Daddy itu jahat,”


“Ya sudah sekarang makan ya! Mama mau buatin jus buat kalian, setelah itu mandi bareng, terus tidur siang di sini ya, nanti tante kasih tahu sama orang tua kalian,”


“Oke tante.”


Nagita merasa sangat senang dengan Rey yang mudah beradaptasi dengan teman-temannya. Satu anak yang memang adalah anak dari temannya sekolah dulu. Dan itu membuat Nagita juga bersyukur. Beberapa kali Dimas mengajaknya untuk pindah rumah. Tetapi Nagita menolak karena itu adalah rumah peninggalan orang tuanya. Dan Rey juga sangat nyaman di sana. Mereka hanya merenovasi agar rumah tersebut menjadi cukup luas karena Rey memang harus dibuatkan kamar sendirian.


Suasana yang begitu ribut tidak membuatnya merasa terganggu. Karena selain bisa menjaga Rey dengan baik dia juga bisa mengawasi setiap perkembangan Rey. Bahkan setelah mengurus surat pindah untuk anaknya, Nagita bersyukur bahwa ia bisa menyekolahkan Rey di tempat yang lebih dekat dibandingkan yang dahulu. Meski bukan sekolah mahal seperti yang dipilihkan oleh Azka.


“Ma, Rey boleh minta sepeda?”


Nagita menoleh ke arah putranya. Selama ini Dimas selalu melarangnya untuk bekerja. Dan lebih fokus untuk mendidik Rey, dan itu disetujui oleh Nagita karena tidak mungkin ia meninggalkan Rey nantinya jika bekerja. anaknya menjadi tidak terurus lagi.


“Nanti Mama omongin ini sama Om ya, sekarang kalian mandi gih!” Nagita menyerahkan handuk untuk anak-anak itu. “Jangan bercanda di kamar mandi ya, nanti jatuh. Licin soalnya!”


Anak-anak itu justru berlari tanpa menghiraukan apa yang dikatakan oleh Nagita. Ia membuatkan anak-anak itu beberapa kue untuk di konsumsi nanti saat mereka terbangun. Setelah mandi ia memerintahkan anak itu untuk tidur siang dan langsung disetujui. Bahkan saat Rey tidak pulang siang, ia tidak terlalu khawatir karena pasti berada di rumah temannya untuk berkumpul. Tidak ingin membatasi usia pertumbuhan anaknya, ia membiarkan anaknya bergaul dengan siapa saja selama itu baik.


“Tante!” teriak salah satu anak. Nagita yang mendengar itu langsung berlari ke arah kamar mandi untuk memastikan anak-anak yang ada di sana.


“Kenapa teriak?”


 


 


“Mandiin.” Ucap anak-anak itu serentak. Nagita menggeleng dan hanya menuruti. Tak jarang juga ia harus mencuci pakaian anak-anak itu di rumahnya. Itupun sering dilakukan oleh Rey, membawa pulang pakaian kotor dan mengenakan pakaian temannya.


Mengenai hubugannya dengan tetangga sekitar, Nagita berusaha sebaik mungkin agar tidak terlihat seperti orang asing. Walau kehidupannya jauh lebih baik dari para tetangga. Tetapi ia tetap berusaha untuk hidup sama seperti mereka.


“Anak-anak mandi sendiri. Kan udah besar, tante lagi buat makanan untuk kalian nanti lho. Kalau di mandiin satu-satu, makanannya ngga selesai dong,”


“Kue ya tante?”


“Iya. Tapi mandi sendiri ya! Tante belum selesai tuh,”


“Oh oke tante,”


“Ma, buat yang enak ya. Abis ini kita tidur,”


Nagita tersenyum dan meninggalkan kelima anak itu ke dapur. Ia kembali dengan aktivitasnya membuat beberapa kue dan puding untuk mereka semua.


“Irfan!” panggil seseorang dari luar. Nagita langsung keluar menemui orang tersebut dan menemukan ibu dari salah satu teman anaknya yang tengah membawa makanan.


“Irfan ada?”


“Tuh mereka lagi mandi, Bu,”


“Saya bawain makanan, mau suapin dia. Kebiasaan kalau siang, anak itu nggak pulang,”


“Mereka semua sudah makan kok, Bu. Sekarang lagi mandi, terus mau tidur siang di sini katanya. Saya belum sempat ngasih tahu orang tuanya kalau anak-anak di sini,”


“Jadi ngerepotin lagi kita, Mbak,”


“Sudah nggak apa-apa. Namanya juga anak-anak. Ibu mau masuk? Bantuin saya buat kue buat anak-anak nanti,”


Nagita mengangguk dan langsung kembali lagi ke kamar mandi dan melihat anak-anak itu masih sibuk saling mengeringkan badannya masing-masing.


“Irfan tadi di cariin sama Ibu,”


“Ibu mana?”


“Bentar lagi ke sini. Ohya bajunya pilih sendiri ya di lemari kamarnya Rey!”


“Oke tante,” Nagita berlalu. Namun ditarik oleh Rey.


“Mama,”


Nagita berbalik. “Iya sayang?”


“Mama nggak apa-apa kan?”


“Memangnya Mama kenapa?”


“Rey nakal ya Ma?”


“Nggak sayang, Rey nggak nakal. Tapi nggak boleh benci sama Papa,”


“Tapi Papa jahat,”


“Ssst, anak baik nggak boleh bilang begitu, memangnya Rey nggak mau ketemu sama Papa?”


“Nggak, Rey mau di sini sama Mama. Rey nggak mau punya adik kalau Papa pukulin Mama lagi. Om Dimas aja nggak pernah pukulin Mama,”


“Rey, gimanapun juga Rey punya Papa. Ya sudah sana masuk kamar, teman-teman Rey nungguin. Jangan lupa tidur siang ya, jangan keluarin mainannnya. Nanti kalau waktunya main, Rey baru boleh main. Sekarang istirahat, biar nanti nggak kecapean,”


“Rey sayang Mama,”


Nagita menunduk dan menciumi pipi Rey. “Mama juga sayang sama Rey. Sana temuin teman-temannya Rey, kasihan mereka nungguin. Jangan naik ke lemari ya kalau nggak nyampe. Nanti panggil Mama kalau mau ambil baju yang atas, atau pakai kursi, jangan naik di lemarinya, kasih tahu juga teman-temannya!”


“Iya Mama.”


Nagita melihat putranya tumbuh menjadi anak yang sangat aktif. Tapi tetap saja bahwa Rey tidak mau lagi bertemu dengan Azka semenjak kejadian di mana Rey melihat pipinya merah dan Azka mengakui kesalahannya di depan semua orang. Saat perceraian itu pun, Nagita kini lebih sibuk mengurus Rey.


Pernah suatu waktu ia sangat berharap bahwa ia tidak ingin hamil saat diceraikan. Hingga akhirnya Tuhan mengabulkannya, seminggu setelah perceraiannya, ia langsung datang bulan dan itu sangat di syukuri olehnya.


“Mbak.” Nagita langsung keluar menemui Ibu Dian, ibu dari Irfan.


“Ayo masuk, Bu!”


Mereka berdua langsung membuat kue. “Ohya, Mbak. Di dalam ada Ardi juga kan?”


“Ada, kenapa Bu?”


“Nggak apa-apa Mbak. Tadi ibunya nyariin, saya bilang anaknya ada di sini,”


“Iya Bu. Kan anak-anak kita mainnya selalu berlima,”


“Apa nggak ngerepotin?”


“Justru saya senang kalau Rey yang dikunjungi sama teman-temannya. Bisa lihat dia juga di sini,”


“Mbak, baik banget pokoknya. Rey bersyukur punya Mama sama Om yang baik banget ya,”


“Ngomong-ngomong apa nggak masalah anak saya main di sini?”


“Kenapa harus masalah. Kak Dimas justru senang Rey punya banyak teman. Selama di rumah Oma, Rey itu kesepian. Nggak ada teman main,”


“Mbak Nagita cerai? Maaf Mbak,”


“Iya, Bu. Nggak apa-apa kok, Papanya Rey memang mau pisah waktu itu. Jadi tempat pulang ya sama Kak Dimas.”


“Mbak yang sabar ya, ngomong-ngomong apa Mbak sibuk?”


“Nggak, sih.”


“Mbak, kalau boleh sih ya. Saya mau ngajakin Mbak untuk buat usaha, itu pun kalau Mbak Nagitanya mau. Saya kalahnya sama modal aja,”


“Usaha apa?”


“Kita buat usaha gaun pengantin,”


“Hmmm boleh juga, kerjainnya di rumah?”


“Iya. Kebetulan saya bisa gambar dan jahit, cuman saya kalahnya di modal aja. Gimana nanti kalau saya yang ajarin, saya nggak mampu beli bahan-bahannya,”


“Nanti saya omongin sama Kak Dimas dulu. Kalau memang di bolehin, ya saya akan buat. Kebetulan ruangan dekat garasi kosong. Jadi bisa kita tempati juga untuk beberapa orang juga, sekalian awasi anak-anak kalau main.”


Nagita mendapatkan ispirasi baru. Dimas melarangnya bekerja, tetapi Dimas tidak pernah melarangnya untuk membuka usaha di rumah. Tidak ada salahnya ia mencoba. Selama ini ia hanya membuat kue pesanan untuk ulang tahun dan juga kue pernikahan yang ia pasarkan melalui online. Selama berpisah dulu, ia juga sibuk berada di toko kuenya. Namun toko kuenya tidak ia urus lagi. Selama perceraian ia tidak ingin mengambil apa pun dari Azka. Tidak ingin memanfaatkan apa pun dari Azka. Pria itu memang kaya, tetapi tidak pernah bisa mengikat diri dengan komitmen. Sehebat apa pun Nagita berusaha melupakan, Azka tetap mengacaukan pikirannya. Tetapi jika untuk kembali lagi, Nagita akan berpikir ribuan kali karena tidak akan pernah terjebak lagi. Sebab ia tahu bahwa Azka mencintai Deana. Dan itu yang membuatnya tidak akan pernah kembali lagi jika suatu waktu Azka datang lagi.