RICH MAN

RICH MAN
TEGURAN



"Viona, aku ke ruangan Teddy dulu,"


"Iya, Mas,"


Sudah tiga minggu Nagita di rawat di rumah sakit. Takbada perubahan yang mendandakan bahwa perempuan itu segera pulih dan sadarkan diri. Dimas berencana untuk pulang sebentar dan membiarkan Viona istirahat dan anaknya juga. Karena tidak mungkin terus-terusan membiarkan Erlangga di sana. Dokter yang menangani Nagita pun sudah memperingatkan berkali-kali agar anak yang dibawanya itu segera dipulangkan saja.


"Teddy, aku titip Nagita sebentar. Nanti malam aku balik ke sini," baru saja Dimas berkata demikian. Ia melihat adik iparnya tengah bercumbu dengan seorang perempuan cantik dan masih terlihat jauh lebih muda.


Pria itu tengah berciuman begitu mesra. Di dalam sana adiknya sedang berjuang antara hidup dan mati. Di sini, ia melihat adik iparnya seolah tak peduli dengan Nagita.


"Kak Dimas?"


Ia tak menimpali.


"Setelah Nagita sadar. Ini sudah cukup jadi bukti untuk membuktikan bahwa kamu bisa bercerai,"


"Nggak, kak. Nggak ada cerai,"


"Kamu ceraikan Nagita! Apa kamu tuli?"


"Nggak,"


"Baiklah, aku yang akan memisahkan kalian berdua, sudah cukup Nagita jangan lagi hancur gara-gara pria biadab yang hanya mementingkan nafsunya,"


Dimas keluar dan langsung menghempaskan pintu begitu keras hingga menimbulkan suarandentuman keras.


"Viona, jangan pulang dulu. Aku akan menghubungi seseorang yang akan menjaga Nagita,"


"Kamu kenapa, Mas?"


"Sudahlah. Jangan ikut campur! Aku akan memisahkan Nagita dan Teddy,"


Viona tak berkomentar karena jika sudah dalam keadaan emosi seperti ini. Pria itu emosi.


Menunggu setengah jam, tiga orang berbadan kekar datang berbaju serba hitam. Itu adalah orang suruhan Dimas.


"Jangan biarkan orang ini masuk ke dalam ruangan Nagita," ucapnya memberikan foto Teddy kepada ketiga orang itu. "Nanti malam aku akan kembali lagi, aku harap kalian berjaga dua puluh empat jam. Jika yang datang selain ini, izinkan saja! Tapi tetap awasi mereka!" Semuanya patuh.


Dimas mengajak anak dan istrinya pulang untuk istirahat sejenak. Karena mereka jarang tidur hanya karena menunggu Nagita sadarkan diri.


*****


Azka segera menyelesaikan pekerjaannya. Malam itu ia ingin sekali mengunjungi Nagita. Rasa khawatirnya terhadap perempuan iu belum juga usai.


Setibanya di rumah. Ia langsung membersihkan diri. Sebenarnya ia tak ingin lembur, tetapi mengetahui Naura yang akan pergi bersama orang tuanya ke tempat Nagita. Mau tidak mau ia menghindari untuk bersikap khawatir di depan orang tuanya.


Sebuah sikap yang harus diperlihatkan oleh dirinya adalah terlihat tidak peduli dengan Nagita. Akan tetapi hati kecilnya seolah berteriak ingin segera ke tempat perempuan itu.


Mereka sudah sepi. Dan Azka memilih untuk langsung ke kamarnya mengganti setelan kerjanya dengan kaos oblong seperti biasa jika berada di rumah. Perasaannya semakin tak karuan karena tidak akan bisa tenang jika tak mendapati kabar tentang Nagita.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Bahkan Azka rela mengabaikan jam makan malamnya hanya karena takut jika terjadi sesuatu terhadap Nagita tiga minggu sudah berlalu, tetapi yang ia dengar dari Naura adalah belum ada kabar terbaru dari Nagita.


Mobil masuk ke halaman rumahnya. Yang ia hafal itu adalah suara mobil di rumahnya. Azka turun dari kamarnya hendak menemui keluarganya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Belum lama ini, Azka selalu mendengar curhatan Rey mengenai Nagita. Miris memang, tetapi bukan haknya untuk ikut ke dalam masalah rumah tangga Nagita.


"Kalian pulangnya cepat banget?" Ucapnya basa basi. Sebenarnya yang ingin ia dengar adalah kabar baik Nagita.


"Nagita masih nggak sadar juga. Dan sekarang dia di jaga dengan ketat oleh tiga orang berbadan kekar bergiliran setiap harinya.


"Kenapa?"


"Mereka bilang kalau Teddy di larang berkunjung oleh Dimas. Mama nggak tahu kenapa,"


"Terus?"


"Mama tahunya itu aja, nggak ada kabar lain lagi,"


Azka beroh ria. Melihat Rey cemberut ia berinisiatif diam-diam mengunjungi Nagita. "Rey, cari makan di luar yuk!"


"Daddy," ucap Rey manja.


"Ayo jagoan Daddy nggak boleh cemberut," ucapnya sambil menggandeng tangan anaknya keluar. Tiba di mobil, "Daddy pengin ketemu, Mama, boleh?"


"Yang benar Daddy?"


"Jangan sampai bilang sama orang rumah ya!"


"Oke, ayo Daddy buruan!"


"Pulang dari Mama kita cari makan ya?"


"Oke," jawab Rey antusias. Sungguh ini memang salah karena ia akan bertemu dengan mantan istrinya yang sudah berstatus sebagai istri orang lain. Azka hanya ingin tahu penyebab rumah tangga Nagita bisa seperti ini. Jujur, dia ingin Nagita bahagia. Bukan justru merasakan sakit lagi seperti yang dulu ia torehkan kepada Nagita.


Azka berhenti di sebuah supermarket. Ia membeli beberapa makanan dan minuman untuk orang yang menjaga Nagita di sana. Sekaligus membeli tisu basah dan tisu biasa yang barangkali memang dibutuhkan di sana nantinya.


Tiba di rumah sakit. Tepat di depan ruangan Nagita, Azka menyerahkan kantong plastik dan memberikan mereka makanan.


"Anda siapa? Kenapa tuan muda bersama anda?"


"Saya Azka. Mantan suaminya Nagita, saya mohon berikan izin untuk masuk. Saya janji ini pertama dan terakhir saya berkunjung,"


Mereka bertiga saling tatap dan akhirnya memberikan izin. Azka masuk ke dalam ruangan Nagita. Ia duduk di kursi samping brankar Nagita.


"Nagita, aku datang sama Rey. Maaf baru bisa mengunjungimu sekarang. Aku takut jika suamimu ada di sini. Sudah lama sekali aku ingin datang. Tapi karena aku tidak ingin mengacaukan segalanya. Maaf,"


Azka terus berbicara dengan Nagita yang tak sadarkan diri.


"Aku tahu Nagita ini salah. Aku mencintaimu, mencintai istri orang lain. Aku nggak minta balasan cinta dari kamu. Biar aku yang tanggung semua ini. Rasa bersalah dan kebodohanku di masa lalu. Aku mohon Nagita, sadarlah! Suamimu pasti menunggumu di sana, Dimas juga. Terlebih anak kita. Nagita, setiap hari aku ingin terus berkunjung. Tapi aku sadar bahwa harus menyingkirkan ego itu dan tidak bisa berbuat banyak. Aku sayang kamu, sayang Rey. Bahkan aku mencintai kamu, sampai detik ini. Aku salah, aku memang salah mencintai kamu dan menemui kamu diam-diam seperti ini. Aku nggak bisa bohongi perasaan aku, Nagita."


Azka tak kuasa menahan sedihnya. Rey hanya terdiam sambil duduk di sampingnya. Sebagai perpisahan. Azka mengelap lengan dan wajah Nagita dengan tisu basah.


"Aku pergi, Nagita. Segera sembuh!" Ucapnya dan memberanikan diri memegang tangan Nagita. Saat ia ingin mencium kening Nagita untuk terakhir kali. Ia melihat air mata Nagita menetes. "Jangan menangis, Nagita! Jangan membuatku semakin sulit jauh dari kamu," tapi air mata Nagita tak berhenti keluar. Hingga ia menggenggam tangan Nagita dan menciumnya berkali-kali disertai dengan tangisan. Azka meneteskan air mata untuk perempuan yang begitu ia cintai.


Pertama adalah ketika Nagita melahirkan Rey. Dan kedua adalah ini. Namun situasi sekarang berbeda dari yang dulu. Pada malam itu, ia menyeka air mata Nagita dengan tangannya.


"Daddy, jangan nangis!"


Azka terdiam. Ia menyeka air matanya dan mencium kening Nagita. Air mata perempuan itu tak berhenti keluar. Karena takut jika seseorang melihatnya. Ia langsung mengajak Rey keluar. Sebelumnya ia berusaha terlihat baik-baik saja meski di dalam tadi ia bercucuran air mata.


*****


Dimas mendapat telepon dari salah satu orang yang menjaga Nagita. Katanya ada seorang pria yang datang bersama dengan Reynand. Dan orang itu memberitahukan bahwa yang datang adalah Azka.


Tanpa menunda lagi. Dimas langsung ke rumah sakit dan setibanya di sana ia melihat Azka bersama dengan Reynand di kamar Nagita. Terlihat dari kaca pintu rumah sakit bahwa Azka sedang menangis. Tak ingin mengganggu, akhirnya Dimas pergi dan meminta penjaga itu menghubunginya nanti jika Azka sudah pulang.


Tak lama kemudian ia di hubungi lagi. Dimas masuk ke dalam ruangan di mana adik semata wayangnya di rawat. Sebenci apa pun dirinya terhadap Azka. Melihat Nagita yang tak sadarkan diri sedang menangis, hatinya semakin berantakan.


"Kamu masih sayang, Azka?" Ucapnya. Tentu saja tak akan ada jawaban. Akan tetapi mata Nagita menjadi saksi. Alasannya untuk memisahkan Nagita dengan Teddy karena tak ingin adiknya jadi korban lagi. Tetapi melihat Azka dan Nagita sepertinya memang saling mencintai. Ikatan batin keduanya yang begitu kuat. Dimas tak bisa berbuat banyak.


Dret dret


Dimas meraih ponselnya di dalam saku saat mendapati pesan dari Teddy yang akan menceraikan Nagita. Hati Dimas terasa sedikit nyeri, menyesal dahulu membiarkan adiknya menikah dengan pria yang justru mengacauakan hidup adiknya menjadi lebih buruk. Semua adalah takdir, semua ada skenario yang sudah diciptakan untuk adiknya.


Dimas menggertak Teddy. Namun pria itu justru menyetujui perintahnya. Sungguh Dimas kecewa dengan semua ini.


"Hidup yang baik, Rey akan selalu ada untuk kamu. Azka diam-diam masih peduli sama kamu, dia bahkan kemari tanpa seizin kakak. Nagita, maaf kakak tidak pernah mendengar kamu bahwa Azka bisa berubah. Sekarang pria itu benar-benar berubah menjadi lebih baik,"


Dimas menyeka air mata Nagita yang tak berhenti keluar. Teddy benar-benar ingin menceraikan Nagita. Hal itu tak bisa dilarang oleh Dimas. Keputusan ada pada tangan suami adiknya. Bukan haknya untuk ikut campur.


Teddy tiba-tiba datang menggebrak pintu dengan mata merah dan suara yang parau sambil menangis. Pria itu tengah mabuk dan berusaha dicegah oleh ketiga orang yang menjaga Nagita. Dimas, hatinya sudah terlalu kecewa jika mengingat adiknya dicampakkan lagi.


"Aku akan menuruti semua keinginan, Nagita. Termasuk menceraikannya, aku akan melepas dia. Itu semua demi dia, demi kebahagiaan Nagita. Maafkan aku Dimas. Semua ini salahku, salahku karena tidak bisa menjaga hargaku yang paling berharga,"


Teddy menangis di samping brankar Nagita dengan dijaga oleh ketiga peia berbadan kekar itu.


"Bawa dia keluar!"


Dimas masih tidak bisa menerima dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Teddy terhadap adiknya. Perselingkuhan dalam rumah tangga adalah hal yang sangat keterlaluan. Sudah cukup dulu Azka yang membuat adiknya tersiksa. Sekarang Teddy melakukan hal yang sama.


"Om, Rey nungguin Mama ya,"


Dimas menoleh terkejut. Bukannya tadi anak itu sudah pulang? Namun kini anak tersebut berada di sampingnya bersama dengan Azka.


"Maafkan aku Dimas. Rey ngotot dan besok adalah hari minggu, jadi nggak apa-apa dia tetap di sini?"


Dimas tak ada pilihan lain. Memberikan Rey izin untuk ikut menunggu Nagita di sana. Terlihat dari tatapan Azka juga bahwa ia menemukan tatapan iba dari Azka.


"Az, kamu mau pulang?"


"Aku cuman antarin, Rey,"


"Sekalian kamu temani Nagita di sini sama Rey,"


"Nagita masih berstatus istri orang, Dimas. Maaf, aku harus pulang,"


"Aku juga di sini. Aku nggak ninggalin, jadi tetaplah di sini,"


"Baik,"


Pria dengan kaos oblong dengan celana panjang yang melapisi kulit pria itu. Nampak gagah walaupun usianya tidak muda lagi. Melihat Rey yang sudah mengantuk, Dimas meminta anak itu untuk tidur di sofa. Di sana ada dua sofa panjang yang bisa digunakan untuk tidur sambil menunggu pasien sadar. Nagita belum juga sadarkan diri. Semenjak Azka datang, Dimas merasa ada yang berbeda dari adiknya. Barangkali ada pesan yang tak bisa diungkapkan oleh Nagita karena sejak datang tadi, adiknya meneteskan air mata.


"Dimas, tidurlah! Aku akan menjaga dia,"


Tak berkomentar apa pun. Di sana ia langsung tidur di sofa dan membiarkan Azka tidur di kursi sambil menunggu Nagita.


Tengah malam, Dimas terbangun karena suara isakan. Dimas membuka mata pelan dengan keadaan menutup kepalanya dengan selimut. Di sana ia melihat Nagita telah sadarkan diri dan dipeluk oleh Azka dan mereka menangis bersama.


"Mas, jangan pergi lagi!"


"Nagita, aku nggak akan pernah ke mana-mana,"


"Di mimpi aku, aku mimpi ketemu sama kamu. Kumpul sama Rey, keluarga kecil kita,"


"Ingat sekarang kamu istri Teddy. Harapan aku juga kita bisa berkumpul, tapi melihat keadaan kamu seperti sekarang. Aku nggak bisa harapin istri orang, Nagita. Aku janji bakalan didik Rey dengan baik. Tunggu sebentar Nagita, aku panggil dokter buat kamu,"


"Jangan dulu, aku pengin sama kamu,"


Dimas merasa air matanya menetes. Baru kali ini ia melihat Nagita seperti itu. Bahkan Azka, Dimas tak bisa menebak pria itu. Sungguh hatinya terharu, hati mereka tertaut begitu kuat. Berminggu-minggu Nagita tak sadarkan diri, tetapi semenjak Azka datang. Justru adiknya sadarkan diri dan langsung berpelukan dengan Azka yang berstatus mantan suami adiknya.


"Jangan bilang sama siapa-siapa kalau aku sadarkan diri. Besok setelah kamu pulang, aku akan sadarkan diri di hadapan Kak Dimas,"


"Kamu kenapa, Nagita?"


"Aku nggak apa-apa. Aku bangun karena ngerasain kamu megang tangan aku, dengar suara kamu. Memang mata aku terpejam, tapi aku selalu dengar apa yang kamu bilang Mas,"


"Nagita, terima kasih. Terima kasih karena telah sadarkan diri,"


"Terima kasih untuk kamu yang udah nemenin aku,"


"Sekarang kamu tidur ya!"


"Aku pengin ngobrol sama kamu, Mas. Aku tahu kamu nggak bakalan bisa ketemu sama aku lagi setelah ini,"


"Nagita, yang sabar ya!"


"Anak aku meninggal, aku bisa sabar, Mas. Tapi Teddy selingkuh di depan aku, Mas. Aku nggak busa terima waktu dia bilang nggak bisa terima Rey. Dia hina anak aku, anak kita, Mas,"


"Jangan sedih lagi, aku mohon! Semuanya akan baik-baik saja, semua ini ujian Nagita. Jangan pernah ngeluh,"


"Aku sedih waktu dia bilang Rey anak haram,"


"Sudah Nagita! Nggak apa-apa. Memang salahku dulu, sekarang istirahat. Jangan pikirkan apa-apa lagi. Soal Rey, biar aku yang urus,"


Dimas melihat ketulusan di sana. Nagita yang memeluk Azka begitu erat. Selama ini yang ia tahu bahwa adiknya sangat benci terhadap Azka. Tetapi kali ini mereka berbeda, Dimas melihat bahwa keduanya masih sama-sama saling mencintai. Baik Nagita maupun Azka, hanya saja mereka terhalang oleh sebuah ikatan pernikahan Nagita. Dimas memejamkan matanya berusaha untuk tidur lagi. Membiarkan keduanya berbincang dengan kepura-puranmya yang tidak tahu bahwa adiknya sudah sadarkan diri.


"Nggak boleh sedih lagi ya! Apa pun yang terjadi, harus bilang sama aku! Nagita aku tahu kita nggak bisa balik lagi. Tapi seenggaknya aku bisa jadi teman curhat, dan teman berbagi perihal cara mendidik Rey dengan baik."