RICH MAN

RICH MAN
SIMPATI



Saat pulang dari


butiknya, Nagita langsung pulang. Tetapi ia tidak menemukan Rey di rumah.


Beberapa kali memanggil,  dan baru saja


ia mengecek ponselnya. Teddy mengiriminya pesan bahwa Rey ikut bersama dirinya


di rumah sakit. Anak itu sedang bersama seorang anak perempuan dan tengah


menghibur anak itu. Nagita hanya tersenyum melihat anaknya yang sangat mirip


tingkahnya seperti Teddy. Selalu peduli terharap orang lain.


Ia juga tersenyum puas


saat itu juga. Nagita kini sedang hamil usia empat minggu, ia belum


memberitahukan hal itu kepada Teddy dan juga Rey, ia juga baru tahu tadi pagi


saat dirinya telat datang bulan. Tidak ada tanda-tanda yang menonjol, ia hanya


tahu bahwa payudaranya sedikit membesar dan sakit. dan sering merasa kelelahan.


Biasanya jika payudaranya sakit, maka ia akan datang bulan. Tetapi semenjak ia


mulai curiga, akhirnya ia memeriksakan itu ke dokter kandungan. Ditemani oleh


asistennya di butik.


Ini adalah kehamilan


yang Nagita dan Teddy tunggu-tunggu. Mengingat bahwa Teddy pernah mengatakan


bahwa dia menginginkan seorang anak. Rey juga pernah meminta, anak itu ingin


sekali memiliki adik perempuan.


Nagita mandi dan


langsung istirahat malam itu. Ia sudah makan malam tadi saat perjalanan pulang.


Nagita merasakan sebuah


kecupan di keningnya. Saat membuka mata, ada Teddy yang tersenyum ke arahnya


sambil mengelus kepalanya.


“Kamu sudah pulang,


Mas?”


“Hmm, kenapa tidur


cepat banget? Capek?”


“Iya. Rey mana?”


“Dia sudah tidur. Tadi


waktu di jalan dia ketiduran katanya capek. Aku mandi dulu ya,”


“Kamu sudah makan?”


“Sudah tadi sama Rey.


Sebenarnya aku pulangnya cepat, tetapi Rey nungguin pasien itu sampai tidur,


Nagita. Anak kamu itu ya, hebat banget sampai rasa pedulinya terhadap orang


lain begitu besar,”


“Itu juga karena kamu


yang ngajarin. Ngajarin gimana Rey harus bisa saling membantu,”


“Aku mandi, ya. Kamu


kalau capek tidur aja!”


Nagita menarik


selimutnya dan memejamkan matanya lagi. Sikap Teddy tetap hangat setiap


harinya. Selama ini semarah apa pun Teddy, dia tidak pernah memarahi Rey. walaupun


anak itu seringkali nakal dan membuatnya kesal ketika berangkat sekolah. Bahkan


dirinya yang sering di marahi oleh Teddy jika dia memarahi Rey. ia sangat


beruntung memiliki suami yang baik dan perhatian seperti Teddy.


Nagita merasakan tangan


berat yang sedang memeluknya. “Selamat tidur sayang!”


Nagita memejamkan


matanya lagi setelah mendengar semua itu. Bahkan ia merasakan desiran napas


Teddy pada tengkuknya. Ingin sekali ia memberitahukan tentang kehamilannya pada


Teddy. Tapi sepertinya suaminya tersebut sangat lelah. Hingga ia mendengar


napas Teddy begitu terburu-buru.


Nagita waktu itu


mendapat sponsor dari perusahaan Azka. Tetapi semenjak Teddy melarangnya. Ia


hanya menuruti kemauan suaminya karena tidak ingin terjadi sesuatu terhadap


rumah tangganya jika menentang ucapan suaminya. apa pun yang tidak Teddy sukai,


Nagita langsung menyingkirkan hal itu. Sama halnya dengan Teddy, apa pun yang


Nagita tak suka. Pria itu akan langsung berhenti melakukan apa pun yang tidak


ia sukai. Kali ini pernikahannya terasa sinkron. Teddy yang mengisi


kekurangannya, dan Teddy selalu memberikan hal baik kepada dirinya dan Rey.


Beberapa kali Nagita


merasakan ada yang tidak beres dengan suaminya. ia merasakan ranjangnya sedikit


bergerak dan Teddy keluar dari kamarnya. Perlahan ia keluar juga dan mendapati


Teddy sedang berada di ruang tamu. Dengan pencahayaan yang sedikit


remang-remang.


“Mas, ada apa?”


Teddy menoleh ke


belakang dan menyambut dirinya dengan pelukan. Suaminya langsung menuntunnya


duduk di sofa dan Teddy menopangkan kepalanya dibahu Nagita.


“Mas, ayo cerita! Nggak


biasanya kamu seperti ini?”


“Nagita, aku


mencintaimu.” Teddy mengecup keningnya dan bibirnya. Ia tahu bahwa suaminya


menyembunyikan sesuatu darinya. “Kapan kamu akan hamil sayang?” ucap pria itu


parau. Mungkin waktunya Nagita memberitahukan hal itu.


“Sayang, sebenarnya,


aku hamil. Dan usia kandunganku sudah empat minggu.”


Teddy tak merespon apa


pun. justru pria itu menjauhkan diri begitu saja. Nagita sedikit tersinggung


dengan hal itu.


“Apa yang baru saja


kamu lakukan, Mas? Kamu nggak suka aku hamil?”


Teddy berbalik dan


memeluknya langsung. Begitu erat pelukan Teddy dan Nagita merasa sedikit sesak


karena itu. “Mana ada suami yang nggak senang kalau mengetahui istrinya sedang


hamil. Bahkan hal itu pernah kita nanti-nantikan. Sekarang Tuhan sudah


memberikan kita izin untuk mendapatkan keturunan,”


“Tapi, kenapa kamu


seperti tadi?” Nagita terisak.


“Jaga bayi kita


baik-baik. Kamu tahu foto yang aku kirim tadi?”


Nagita menggeleng.


“Anak itu. Anak itu sudah tidak ada harapan lagi, keadaannya semakin melemah. Ibunya


bercerita, karena keadaan tidak memungkinkan dahulu, ibunya seringkali


mengkonsumsi minuman keras, merokok, dan berniat membunuhnya. Tetapi Tuhan


berkata lain, anak itu tetaplah lahir dengan keadaan fisik yang sempurna.


Tetapi suatu hal terjadi, jantungnya mengalami kelainan, hatinya juga. Tetapi


ada satu hal yang aku rahasiakan dari orang tuanya, mungkin dokter lain juga


berkata seperti itu. Wajahnya bengkak, perutnya membuncit, tubuhnya kurus. Rey


menghiburnya, aku harap kamu jaga baik-baik calon bayi kita. Apa pun masalah


kita Nagita, tolong kamu ngomong! Jangan pernah dipendam dan berbuat hal yang


tidak wajar,”


“Apa kamu takut?”


“Tentu saja, aku takut.


Karena dia yang menderita karena perbuatan orang tuanya. Anaknya hanya tahu apa


yang dia rasakan, tanpa pernah tahu bahwa penyebabnya adalah orang tua.


Syakila, aku percaya anak itu pasti bisa tumbuh dengan baik,”


“Semoga saja seperti


itu, sayang,”


“Aku izin bawa Rey ke


rumah sakit setiap hari, ya. Nagita, aku tidak tega lihat dia seperti itu


terus,”


“Iya. selama anak itu


bahagia sama Rey, aku izinkan dia untuk hibur anak itu,”


“Kamu nggak apa-apa


sendirian?”


“Aku baik-baik saja,


Mas,”


Nagita merasakan tangan


Teddy memeluknya dengan nyaman. Ia tersenyum saat suaminya tak merahasiakan apa


pun darinya. Tangannya perlahan di gandeng menuju ke kamar.


“Kamu yakin nggak


operasi anak itu?”


“Nggak ada gunanya,


Nagita. Jika pun dicoba, akan berisiko karena keadaannya yang sudah tidak


memungkinkan,”


Selama bekerja menjadi


seorang dokter. Nagita tidak pernah melihat suaminya serapuh itu selama ini.


Masalah yang terlalu berat kali ini membuatnya ingin memberikan semangat untuk


suaminya. apa pun pilihan Teddy, ia berusaha untuk mendukungnya. Telah ia


upayakan untuk tetap menjaga hati suaminya agar tidak memiliki banyak beban


pikiran. Walau terkadang ia harus menyelesaikan masalahnya sendirian, rasa


cemburunya kadang membuatnya menyebalkan, tetapi Teddy selalu meyakinkan


dirinya akan cinta mereka yang terlalu kuat.


Di dalam kamar, ia


memeluk suaminya dengan begitu erat. Berbagi beban selama ini yang mereka


rasakan. Sebisa mungkin Nagita menutupi keresahan yang kadang muncul dalam


hatinya tentang Teddy. Berusaha untuk tetap percaya pada suaminya, karena ia


yakin bahwa Teddy bisa menjaga hati untuknya. Matanya lama menatap wajah Teddy


yang sudah mulai terlelap.


“Yakin semuanya akan


baik-baik saja.”


******


“Sayang, Rey sudah


dibangunin?” Teddy tiba-tiba muncul dan memeluk Nagita yang sedang menyiapkan


sarapan.


“Sudah, dia sudah


mandi. Mungkin lagi siap-siap,”


telat lagi ya,”


“Iya sayang. Kamu sama


Rey hati-hati ya!”


“Pastinya. Ohya nggak


mual?”


“Kadang-kadang, tapi


nggak setiap hari, Mas,”


“Ya sudah. Jangan


terlal capek ya! Banyakin istirahat, minum susu, sama makan buah dan sayur yang


cukup. Jangan sampai makan makanan yang cepat saji, kalau pengin sesuatu bilang


sama aku! Nanti aku yang masakin,”


“Beneran loh ya di


masakin,”


“Tentu saja. Calon Papa


nggak boleh dong biarin istrinya ileran karena ngidam. Duh nggak nyangka ya


kalau anak Papa beneran tumbuh di sini,” Teddy menyingkap kaos yang dikenakan


oleh Nagita dan mengelus perut istrinya yang masih datar.


“Papa, hari ini Rey


ikut ke rumah sakit lagi ya?”


Ia menoleh ke arah


anaknya  yang tengah memakai sepatu.


“Iya, nanti Papa suruh sopirnya antarin Rey ke kantor. Kalau bisa bawa baju


ganti ya!”


“Oh oke Pa. Nanti Rey


siapin,”


“Rey sini bentar!”


Anak itu berdiri dan


langsung mendekati mereka berdua yang masih berpelukan. Mungkin Rey sudah


terbiasa dengan pemandangan itu, hingga tidak protes lagi seperti waktu pertama


Teddy memperlihatkan kemesraannya di depan Rey.


Setelah Nagita selesai


mengolesi selai di atas roti mereka. Teddy langsung mengajak Nagita duduk, Rey


memiringkan kepalanya melihat kelakuan mereka berdua yang terbilang aneh. Namun


sebenarnya ia ingin memberitahukan tentang kehamilan Nagita.


“Papa kenapa


senyum-senyum sendiri seperti orang gila gitu?”


“Lah kok bilang gitu


sama, Papa?”


“Abisnya Papa itu


senyum-senyum nggak jelas,”


“Rey sini deh!” setelah


Nagita duduk. Ia bersimpuh di depan Nagita.


“Di sini, ada adiknya


Rey.” ia mengarahkan tangan Rey ke perut Nagita.


“Mama hamil?”


“Hmm, iya. Mama hamil,


Rey senang?”


“Makasih ya, Pa. Rey


bakalan jadi kakak,” Rey langsung memeluknya dan mencium perut Nagita. “Tapi


harus yang cewek ya, Pa! Biar Rey bisa jagain adik. Kayak Syakila, kasihan adik


Kila nggak punya kakak,”


Hingga saat ini Rey belum


tahu bahwa mereka adalah saudara. Yang anak itu tahu bahwa Syakila adalah salah


satu pasien dari papanya. Bahkan Teddy pun belum tahu bahwa Syakila adalah


saudara Rey. anak dari perempuan yang pernah menghancurkan hidup keduanya.


Tetapi karena tidak mengetahui hal itu. Rey tetap begitu ramah dan berusaha


mendekati Syakila.


“Rey beneran mau punya


yang cewek?”


“Iya dong, Pa. Kan biar


bisa dijaga. Kalau adik nakal, aku bisa marahin. Kalau cowok, Rey nggak mau.


abisnya ya Pa, kalau cowok pasti Papa sama Mama pilih kasih, Rey mau ini, nggak


dibeliin lagi. Rey mau itu, nggak diturutin lagi,”


Teddy tersenyum melihat


tingkah anaknya. Terlalu banyak bergaul dan membaca buku. Anak itu menjadi luas


pemikirannya, bahkan seringkali Teddy harus bersabar ketika anaknya menanyakan


suatu hal yang terlalu berlebihan yang di mana tidak sesuai dengan usianya.


“Rey, mau cewek atau


cowok kita nggak bisa nentuin, kalau memang di kasih cowok. Kita mau bilang


apa?”


“Aku jadi kakak bentar


lagi, Pa?”


“Hmmm, kok bilang aku?”


“Eh iya. salah ya Pa?”


“Karena lebih sopan


kalau sebut nama, Papa lebih suka Rey sebut nama dibandingkan bilang aku,”


“Nanti kalau besar,


boleh bilang aku?”


“Ini untuk latihan


sayang. Biar lebih sopan sama yang lebih dewasa,”


“Hehehe, iya Papa,”


Teddy mencium pipi Rey. anak itu sudah terbiasa dengan tingkah Teddy dan juga


Nagita.


“Ayo Rey makan dulu,


nanti kita bisa langsung berangkat terus pulangnya nanti dijemput sopir.


Katanya pengin ketemu sama, Syakila,”


Anak itu langsung


semangat. Seusai makan, mereka berdua langsung berpamitan. Ia yang langsung


mengantar Rey ke sekolah. Dan setelah itu langsung ke rumah sakit.


Teddy masuk ke dalam


ruangan Syakila. Anak itu masih terlelap. Melihat raut wajah ibu dari Syakila,


ia membayangkan begitu besarnya kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.


Hingga kini, Teddy selalu menghormati seorang perempuan. Karena begitu banyak


jasa yang tersembunyi. Meski status Nagita janda waktu itu, tetapi tidak


masalah baginya.karena ia ingin memberikan derajat yang baik kepada istrinya.


Bukan lagi di injak-injak harga dirinya.


“Syakila, apa kabar?”


Ibu dari anak itu


langsung bangun dari tempat duduknya yang tadi mengelap Syakila dengan tisu


basah. “Keadaannya masih sama, dok. Tapi ada hal yang mau saya tanyakan,”


“Ada apa?”


“Kenapa Syakila pipis


pun harus tetap pakai selang-selang begini?”


Teddy miris melihat


keadaan anak itu yang semakin memburuk. Syakila yang sudah tidak ada harapan


lagi, bahkan seusia dirinya harus menerima keadaan yang sekarang.


“Nggak apa-apa. Semalam


siapa yang menangani selama saya pergi?”


“Dokter Lastri, dia


nggak bilang apa-apa. Cuman waktu Syakila bilang pengin pipis, dia nangis sakit


perut dibagian bawah. Nah dia dipindahkan ke ruangan lain, dan baru tadi pagi


di pindah lagi,”


“Dia pasti kuat, bu,”


ucapnya menenangkan ibu dari Syakila. Teddy tak ingin memberi berita tentang


keadaan anak itu sekarang.


“Sejak kapan dia tidak


sadarkan diri?”


“Sejak semalam,” Teddy


tahu bahwa anak itu sedang dalam pembiusan. Ia langsung pergi begitu saja dan


langsung membaca beberapa buku mengenai penyakit yang di derita oleh Syakila.


Terbilang langka, dan lagi anak itu masih bisa menahan diri. Teddy sendiri


tidak yakin jika tindakan yang ia ambil nantinya justru merugikan.


Beberapa kali


mondar-mandir ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memikirkan


bagaimana caranya untuk menolong anak itu.


Ia beberapa kali


berusaha untuk menenangkan diri. Tetapi ia tetap tidak bisa tenang karena


keadaan anak itu. Teddy terdiam begitu lama di ruangannya, begitu banyak beban


yang ia pikirkan. Seolah ini adalah pertama kalinya ia mengalami hal itu


semenjak menjadi seorang dokter.


“Kenapa Teddy, lo


melamun melulu dari tadi?”


“Syakila, dia mantan


pasien lo kan?” ucapnya pada dokter Agung. Pria itu pun mengangguk dan


mendekati dirinya.


“Iya. itu anak memang


mantan pasien gue dulu. Tapi ya mau gimana lagi, setahu gue udah di operasi,


tapi sembuh. Terus di bawa lagi ke sini. ohya, jangan ambil tindakan gegabah


apalagi untuk operasi. Operasi pertama memang berhasil, tapi penyakit baru timbul


lagi,dan gue nggak pernah nemuin hal ini selama gue jadi dokter, Ted. Anak lo


kayaknya ikatan jiwanya sama tuh anak kuat banget. Buktinya anak itu yang udah


nyerah sama penyakitnya, tapi bisa tersenyum selama dekat dengan Rey,”


“Tahu dari mana lo?”


“Kemarin gue lihat dia


hibur Syakila. Tapi yang harus lo tahu, mungkin itu karma bagi Ibunya karena


anak itu adalah hasil dari perselingkuhan sama suami orang, yaitu anaknya Azka,


dan nama ibunya adalah Deana.”