
“Deana, sampai kapan
kamu akan rahasiakan Syakila dari, Azka?”
“Entahlah. Sudahlah
Atha, kalau memang kamu menerimaku, setidaknya jangan tanyakan itu terus
padaku,”
“Aku hanya kasihan pada
anak itu, dia tidak pernah tahu siapa Papa kandungnya hingga usianya yang
sekarang,”
“Setidaknya, kamu telah
mampu menjadi ayah yang baik untuk dia,”
“Bagaimanapun juga,
Syakila tetap berhak mengetahui siapa papa kandungnya, Dee,”
Deana beranjak begitu
saja dari ruang makan. Atha, adalah pria yang sudah menikahinya beberapa tahun
yang lalu. Semenjak mengetahui hancurnya hubungan rumah tangga Azka dengan
Nagita, ia memilih untuk melanjutkan hidupnya bersama dengan Atha. Meski
begitu, ia tetap menyembunyikan Syakila dari Azka. Meski anak itu beberapa kali
meminta untuk dipertemukan dengan Papanya. Tetapi, Deana mempertemukannya
dengan Atha. Ia bahkan mengatakan bahwa Atha adalah papa kandung dari Syakila.
Salah memang tindakan
tersebut, karena anak yang ia kandung waktu itu adalah anak dari hubungan
terlarangnya dengan Azka semasih pria itu memiliki istri. Salah Deana adalah
merebut suami dari perempuan yang begitu baik.
Awalnya ia memilih
untuk menggugurkan kandungannya dengan cara minum obat yang begitu banyak
hingga ia overdosis, tetapi kandungannya tetap kuat. Kedua ia begitu banyak
meminum minuman keras, hanya untuk menyesali perbuatannya dahulu. Namun
seberapa hebatnya ia ingin membunuh janinnya, anak itu tetap sehat. Hingga saat
di mana ia memilih untuk merawat Syakila seorang diri. Kini usia anak itu sudah
delapan tahun. Namun ada suatu gejala di mana Deana ingin menyerah, anaknya
yang sudah puluhan kali masuk rumah sakit. itu akibat dirinya yang dahulu minum
alkohol dan merokok saat usia kandungannya beberapa minggu.
Ia menyesali
perbuatannya kini, baru beberapa hari Syakila keluar dari rumah sakit. Entah
sudah berapa kali anak itu tiba-tiba ditemukan pingsan di rumahnya sendiri.
Deana sendiri selalu waspada dengan kejadian itu, ia bahkan memberikan pengawal
untuk anaknya karena takut suatu waktu anak itu tiba-tiba pingsan di sekolah.
“Cepat sembuh
kesayangannya, Mama,” ucapnya pelan saat melihat anaknya tertidur di kamarnya.
Kamar yang didekorasi khusus dengan stiker-stiker khas perempuan dan anak itu
menyukai karakter frozen sebagai isi kamarnya. Deana sudah memberikan perawatan
yang baik untuk anaknya. Tetapi belum juga sembuh hingga sekarang. Jantung
anaknya yang mengalami kelainan semenjak lahir. Deana menyesali perbuatannya
hingga kini. Atha yang sudah memperingatinya dari dulu, seolah tak didengarkan.
Hingga sekarang, penyesalan itu tumbuh di dalam dirinya.
“Deana, ayo ke kamar!”
Perempuan dengan dress
hitam dan rambut pendek dan poni yang dijepit ke belakang. Ie menoleh ke arah
suaminya yang berdiri di pintu sambil menyaksikan dirinya yang tengah merenung
beberapa kali akibat penyesalan itu.
“Dee, ayo!” ia beranjak
dari tempat tidurnya. Di sana ada pengasuh Syakila yang siap menjaga anak itu
sepanjang hari selama berada di rumah. Bahkan Deana harus berhenti dari
pekerjaannya dan membuka restoran demi mengawasi pertumbuhan anaknya. Bukan
hanya itu, ia juga memiliki seorang anak laki-laki berusia dua tahun, buah dari
pernikahannya bersama dengan Atha.
“Bi, jaga Syakila ya!”
Bi Titin hanya mengangguk dan Deana langsung beranjak dari ranjang anaknya dan
langsung masuk ke dalam kamarnya. Deana sendiri mengakuikelemahannya kini,
yaitu akan merasakan sakit yang luar biasa jika Syakila jatuh sakit dan harus
kembali ke rumah sakit.
Seberapa seringnya di
obati, hasilnya tetap saja. Anak itu akan tetap lemah. Tetapi tetap ceria
setiap harinya. Sangat mirip dengan Azka, Deana memeluk suaminya yang saat itu
sedang berdiri di depannya.
“Jangan bersedih lagi,
Dee!”
“Syakila harus menerima
semuanya, aku nggak bisa berhenti salahin diri aku sendiri, Atha,”
“Mau gimana lagi?
Syakila bakalan sedih kalau lihat kamu sedih, dia itu kuat,”
“Hati aku sakit, kenapa
harus dia yang ngalamin hal yang seperti ini? Apa ini adalah karma dari aku
yang merebut suami orang dulu? Karma dari aku yang sudah menyakiti hati Nagita?
Karma untukku karena pernah membuat seseorang benci terhadap istrinya sendiri
dan melupakan anaknya?”
“Semua sudah berlalu.
Setidaknya kamu berhenti melakukan itu dan tidak lagi menggoda suami orang.
Mungkin kesalahan di masa lalu memang mengakibatkan seseorang itu menyadari
kesalahannya di masa mendatang. Seperti halnya kamu, kamu yang sekarang sudah
lebih baik dari yang dulu. Aku menerimamu, karena aku adalah dalang dari semua
ini. Aku yang merusakmu dulu, bahkan aku yang menidurimu untuk pertama kalinya,
aku pula yang membiarkanmu menjadi jalangnya, Azka dulu karena meninggalkanmu
begitu saja,”
Deana merasakan pelukan
Atha semakin erat. Itu adalah kekuatan baginya. selama ini ia sudah merasakan
duka yang begitu mendalam untuk anaknya. Deana sudah menyesali perbuatannya,
tetapi tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena dirinya adalah penyebab dari
sakitnya Syakila.
Bahkan Atha, pria itu
telah menjadi lebih baik sekarang semenjak menikah. Mereka adalah dua orang
yang memiliki kesalahan yang sama dimasa lampau. Yaitu menghancurkan masa depan
sendiri tanpa memikirkan risiko yang akan terjadi. Atha yang selalu menjadikan
Deana pelampiasan nafsu, dan kini harus menerima Deana yang sudah rapuh dan
berniat untuk mengembalikan kekuatan yang pernah membuat Deana hancur.
“Jangan pikirkan lagi,
aku akan tetap membiayai Syakila hingga sembuh. Jangan pernah khawatir, aku
akan mencarikan dokter terbaik untuk mengobati Syakila,”
“Atha, apa semuanya
sudah terlambat sekarang?”
“Untuk apa?”
“Untukku meminta maaf
pada Nagita atas kesalahan yang telah lalu, atas semua yang pernah aku perbuat
sama dia, atas kelakuanku yang sama sekali sudah kurang ajar padanya,”
“Nagita, dia adalah
perempuan yang sangat baik. Kamu mungkin dulu buta karena Azka memberikan
segalanya untukmu, hingga akhirnya kamu menghancurkan rumah tangga seseorang
hanya karena kemewahan duniawi, kita pernah sama-sama salah, Deana. Waktunya
memang untuk memperbaiki diri, tetapi lihat keadaan Syakila semakin memburuk,
apa sebaiknya kamu beritahu ini kepada Azka?”
Deana menggeleng, air
matanya tak berhenti keluar semenjak tahu bahwa penyakit Syakila kambuh. Ia
harus berusaha tegar tanpa ada orang yang memberinya kekuatan lagi selain Atha.
“Aku capek,” ucapnya
lirih. Atha memeluknya semakin erat.
“Ayo istirahat, besok
kita ke rumah sakit dan mencari dokter terbaik untuk dia. Kita sudah hampir
keliling dunia untuk menyebuhkannya, Deana. Tetapi hasilnya tetap saja, hanya
Syakila yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan kekuatan yang ada pada
hatinya untuk tetap bertahan hidup,”
“Aku nggak mau dia
meninggal, aku takut dia pergi ninggalin aku,”
“Maka dari itu,
pertemukan dia dengan Azka. Aku akan mengantarmu dan jika dia tidak percaya,
minta dia untuk melakukan DNA terhadap Syakila. Itu hanya untuk memberitahunya,
jangan pernah meminta biaya untuk mengobati Syakila. Di sini, aku mampu untuk memberikan segalanya
untuk Syakila, hanya saja beritahu Azka!”
“Aku akan berusaha
untuk memberitahunya nanti.”
Deana semakin hari
hanya mampu menumpahkan rasa sedihnya pada suaminya yang selalu menguatkannya
jika menghadapi Syakila yang lemah. Bahkan setiap kali masuk rumah sakit,
Syakila masih mampu tersenyum dan mengajak adiknya bercanda. Deana tahu, bahwa
di sana Syakila memiliki seorang kakak, yaitu anaknya Nagita. Hingga saat ini
ia ingin sekali bertemu dengan anak itu dan mempertemukan keduanya.
*****
Setibanya di rumah
sakit, Deana tetap berdoa agar Syakila kali ini bisa disembuhkan. Dokter khusus
yang akan merawat Syakila adalah dokter Teddy, meski baru tetapi pria itu sudah
berhasil melakukan operasi berkali-kali dan menjadi ahli bedah yang sangat
dibanggakan di rumah sakit tersebut.
“Untuk sementara waktu,
Syakila biarkan di rawat di rumah sakit. kita lihat seberapa parahnya
penyakitnya,”
“Dia seringkali kambuh
dan memegang dadanya, setelah itu dia sering pingsan,”
“Sejak kapan ini
terjadi?”
Bahkan dulu dokter pernah bilang bahwa dia tidak bisa bertahan lama lagi karena
kelainan pada jantungnya,”
“Serahkan semuanya pada
Tuhan. Manusia boleh memberikan pendapatnya, tetapi Tuhan yang menentukan hidup
dan mati seseorang. Janganlah berpikiran seperti itu, kita lihat perkembangan
yang akan dialami oleh, Syakila. Serahkan semuanya pada, Tuhan,”
Dokter langsung
berbalik dan hendak pergi begitu saja, Deana melihat anaknya yang sudah selesai
diperiksa berdoa agar Syakila tetap diberikan kesehatan.
“Dokter, apa anda
memiliki anak?”
“Hmm, tentu. Anakku
sekarang sedang sekolah,”
“Anda pasti bahagia
karena istri anda hebat dalam menjaga anak, anda,”
“Ah tentang itu, aku
bersyukur istriku adalah perempuan yang paling kuat menjaga anak dan
perasaannya. Aku sangat mencintai istri dan anakku,”
“Dokter, apa yang akan
kau lakukan jika anakmu mengalami hal yang sama seperti saya?”
“Selalu menemaninya
setiap waktu, memberinya kekuatan dalam dirinya. Dia berhak bahagia, meski
tidak ada yang bisa dilakukan lagi, setidaknya kali ini, Syakila berhak untuk
tetap hidup,”
“Maksud anda?”
“Di operasi atau tidak,
bukan hanya jantungnya yang bermasalah. Tapi bagian hatinya juga, semuanya akan
tetap sama. Hasilnya tak akan berubah, jangan dipaksakan. Dia sudah terlalu
banyak di suntik, dia juga pasti menahan dirinya,”
“Saya harus menyerah?”
“Jangan, tetapi
berdoalah pada Tuhan! Tidak ada yang mampu memberikan kekuatan selain Tuhan.
Dokter hanya perantara saja, jangan menggantungkan hidupnya terhadap dokter.
Beberapa kali dilakukan operasi, hasilnya tetap sama bukan? Cobalah untuk
meminta izin dan memohon pada Tuhan agar Syakila tetap bertahan hidup. Usianya
terlalu kecil jika mengalami hal seperti ini, saya permisi dulu.”
Deana tak menahan
dokter itu lagi. Atha memeluknya begitu saja. Semenjak memutuskan mengajak
Syakila ke rumah sakit. justru anak itu untuk bernapas pun harus menggunakan
alat bantu untuk pernapasan. Deana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Melihat lengan kanan Syakila yang penuh bekas suntikan, hatinya begitu teriris.
“Yang kuat, kamu lemah,
Syakila juga akan lemah! Deana, apa yang harus kita lakukan?”
“Aku sendiri tidak
tahu,”
“Bibir Syakila mulai
pucat. Lingkar matanya mulai menghitam, apa yang kamu rasakan juga sedang aku
rasakan, Deana. Hatiku, bahkan pikiranku perlahan seolah dibunuh oleh Syakila,
meski seringkali anak itu tertawa riang. Dia sedang menyembunyikan rasa
sakitnya,”
“Mama akan tetap di
sini sama Syakila. Jangan pernah buat Mama semakin melemah!”
Awalnya Deana hanya
membawa Syakila untuk diperiksa. Tetapi saat tiba di rumah sakit. anak itu
mulai sesak, ia pernah menjalani operasi. Tetapi hanya satu tahun berlangsung
normal. Anak itu kembali lagi mengalami gejala yang sama.
“Mama!” anak itu
membuka mata. Deana mengusap air matanya.
“Mama di sini sayang,”
“Kila lihat kakak,”
“Kakak siapa sayang?”
“Kakak, dia ajak Kila
main. Setelah itu kakak nggak tahu pergi ke mana,”
Deana menatap ke arah
suaminya. tangannya di genggam erat oleh Atha. Rasanya Deana sudah ingin
tumbang jika tidak ditahan oleh suaminya. kini Deana paham bahwa apa yang
pernah ia perbuat akan ia dapatkan juga di masa yang akan mendatang. Seperti
sekarang ini, ia sudah bertemu dengan suatu masalah yang sangat besar. Bahkan
anaknya sudah tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Bahkan setiap harinya akan
bernapas dengan alat bantu.
“Nanti kita temui
kakak, sayang,” ucapnya pelan.
‘Itu bukan mimpi. Kila
benar punya kakak, hanya saja Mama belum pernah bertemu dengan kakaknya,
Syakila. Mama akan berusaha untuk mempertemukan Kila dengan dia nanti’ ucapnya
dalam hati berusaha untuk membuat anaknya tenang. Mau bagaimanapun juga,
hatinya tetap merasa tidak pernah tenang.
“Tunggu Syakila di
sini, aku cari makan siang untuk kita!”
Ia mengangguk.
Beruntunglah anaknya yang masih kecil tidak rewel saat digendong oleh
pengasuhnya. Perhatian Deana kini terfokus pada Syakila. “Mama nggak boleh
sedih ya, Syakila bakalan sembuh kok. Kila janji, Ma!”
Deana tersenyum dan
mengelus kepala anaknya. Tiba-tiba seorang anak kecil laki-laki masuk ke dalam
ruangan Syakila membawa boneka teddy bear dengan warna khasnya yaitu coklat.
“Hay, Syakila. Kenalin
aku Rey, kata Papa Syakila lagi sakit sampai nggak bisa sekolah ya?”
Deana menatap anak itu
intens, ia menatap bahwa mata dan hidung anaknya mirip dengan Rey.
“Rey anaknya dokter
Teddy?”
“Iya tante. Tadi Papa
jemput aku ke sekolah. Terus dia cerita kalau ada anak yang sekolah di tempat
aku, terus pakai seragam ke rumah sakit, seragamnya sama kayak aku. Jadi Papa
bilang nggak salah kalau Rey jengukin,”
“Kakak, terima kasih
ya,”
“Syakila harus sembuh.
Sebentar lagi akan ada pameran di sekolah. Syakila nggak boleh lama-lama di
sini ya!”
“Iya, Syakila janji
bakalan sembuh. Kila boleh panggil Rey itu Kakak? soalnya Kila pengin banget
punya kakak,”
“Boleh. Rey juga pengin
punya adik perempuan kayak, Kila. Ohya ini bonekanya namanya dokter Teddy ya,
ini Papa. Dokter yang paling baik bakalan selalu nemenin, Kila di sini, jadi
Kila nggak bakalan ngerasa sendirian lagi,”
Deana membiarkan
anaknya bercengkarama dengan Rey. sungguh ia tidak pernah melihat anaknya
seceria itu selama ini. Setidaknya anak itu berhasil membuat Syakila tertawa.
“Kila makan ya!” ucap
Rey saat makanan di antar oleh perawat.
“Nggak mau. makanan
rumah sakit nggak ada yang enak,”
“Katanya pengin sembuh
dan sekolah. Jadi bagaimanapun juga harus tetap makan dan minum obat, kakak
suapin mau?”
“Nggak,”
“Ya udah kalau gitu
jangan panggil Rey dengan sebutan kakak lagi. Dan aku nggak mau kunjungi
Syakila lagi,”
Anak itu langsung
cemberut, “Iya, Kila mau makan. Tapi Kakak suapi, sambil main boneka ya,”
“Oke.” Ucapnya. Deana
langsung memposisikan Syakila untuk duduk karena akan di suapi oleh Rey.
setidaknya anaknya itu berusaha untuk makan. Kedatangan Rey adalah hal yang
paling baik, karena anaknya sangat sulit dibujuk untuk makan jika dalam keadaan
seperti ini.
“Setiap hari Kakak
bakalan temani, Kila di sini. Bakalan temani Kila sampai sembuh, mau?”
“Mau banget, Kakak.”
“Semangat sembuh,
Syakila!”
“Siap sembuh.” Ucap
anaknya antusias. Tak terasa air mata Deana menetes saat melihat semangat
anaknya untuk segera sembuh.
“Mama nangis?”
“Nggak sayang. Mama
bahagia karena Syakila mau makan lagi,”
Deana merasa sempat
tenang karena pasalnya beberapa hari lalu Syakila di bawa pulang dari rumah
sakit. niatnya memang hanya untuk pemeriksaan, tetapi karena keadaan Syakila
yang semakin memburuk, anak itu terpaksa di rawat lagi. Sudah enggan Deana
melihat lengan kanan anaknya yang penuh dengan bekas jarum suntik.
‘Azka, haruskah aku
mencarimu agar bisa bertemu dengan, Syakila?’