RICH MAN

RICH MAN
JANGAN BANDINGKAN



"Pa, baju Rey yang lain udah di bawa?"


Nagita menghampiri Azka yang tengah mempersiapkan pakaian mereka untuk menginap di rumah Dimas. Sudah beberapa minggu Rey memang ingin tinggal bersama dengan Dimas membantu mengasuh adik Erlangga yang perempuan. Nagita dan Azka memberikan izin dan menyetujui apa yang diminta oleh anaknya.


 


 


Keduanya mengubah panggilan dan lebih formal lagi. Nagita yang selalu memanggil Azka dengan panggilan Papa dan begitu sebaliknya. Bukan menyebut nama lagi, panggilan Rey pun berubah karena permintaan Reynand tanpa menyebut embel-embel Daddy lagi kepada Azka.


 


 


"Rumah sepi, Ma. Nggak betah kalau nggak ada saudara. Mending di rumah Om Dimas atau rumah Oma, di sana selalu ramai. Di rumah cuman ketemu asisten, Mama sama Papa kapan coba ngasih adik?"


 


 


Ucapan Reynand terngiang dikepalanya. Nagita pikir anaknya marah dengan kejadian di mana Dimas memberitahu tentang masa lalu itu. Nagita sempat terkejut dengan cerita Dimas mengenai masa lalu di mana Reynand tidak pernah diinginkan oleh Azka.


 


 


Nagita melihat suaminya yang tengah mengabsen barang-barang yang akan dibawa nanti ke rumah Dimas. Sesekali dirinya juga membantu mengingatkan barang yang dipesan oleh Rey.


 


 


"Sudah?"


 


 


Azka menoleh dan menarik resleting koper hingga tertutup rapat. Keduanya keluar dari kamar bergenggaman tangan. Nagita yang tak bisa jauh juga dari Azka beberapa hari terakhir. Niat kedatangan mereka adalah untuk melakukan syukuran di rumah Dimas tentang kehamilan Nagita yang baru diperiksa beberapa jam tadi. Awalnya keduanya nampak ragu dengan kehamilan itu, Nagita yang telat datang bulan akhirnya nekat memeriksakan ke dokter dan benar positif hamil yang usianya sudah memasuki usia ke-4 minggu.


 


 


Rencananya mereka akan menginap selama beberapa hari di sana dan mengadakan syukuran atas kehamilan Nagita.


Setelah melakukan perjalanan sekitar setengah jam. Keduanya tiba di rumah Dimas. Nagita baru saja masuk dan di sambut oleh Dimas dan Viona.


Sedangkan di sana ada Reynand yang tengah mengajarkan anak-anak mengaji. Melihat pemandangan itu, hati kecil Nagita merasa sangat terharu dengan apa yang dilakukan oleh anaknya. Ada beberapa anak yang diajarkan oleh Reynand.


"Ya Allah, Rey. Papa brengsek, kamu malah alim. Benar-benar beda banget," celetuk Azka setelah mendengarkan anaknya mengajar Iqro' pada anak muridnya.


 


 


"A, huruf a keluar dari pangkal tenggorokan. Jadi bacaannya a," Rey mempraktikan dengan memegang pangkal tenggorokan sambil mengucapkan huruf yang keluar dari pangkal tenggorokan.


"Terus kak, kan kemarin kita udah bahas ini. Sekarang cara pelafalan huruf Kho gimana?" Rey menujuk satu-satu anak muridnya. Semua menggeleng tidak tahu.


"Kho, Khi, Khu keluar dari ujung tenggorokan," ucapnya dengan irama.


Anak-anak murid Rey mulai mempraktikkan tempat jalan keluarnya huruf Hijaiyah.


"Sumpah, ini anak kok berbelok banget dari Papanya. Ya ampun, Dimas. Ini yang dilakukan Rey tiap hari?" Azka mulai penasaran dengan alasan Rey menolak pulang ke rumah.


"Ya gini, tuh dia sampai beli papan tulis buat ngajarin. Seenggaknya ya dia bisa ngajarin ilmunya ke orang lain,"


"Tapi kenapa dia nggak pernah respons kalau di hubungi,"


"Tuh hp jadi mainan di bawah meja televisi. Reynand selalu ngulang hafalannya kalau pulang sekolah. Ngajarin Erlangga sama adiknya ngaji dan sholat,"


"Aduh anak gue gitu amat ya. Alimnya, Papanya malah sesat gini hidupnya. Nilai Rey?"


"Dia mau ikut lomba hafalan Qur'an. Jadi untuk beberapa hari aku saranin dia di sini dulu kayaknya. Rey, nggak pernah nanya-nanya tentang masa lalu lagi. Di sini aku didik dia benar-benar dengan cara aku sendiri. Pernah Viona iseng nanya ke dia, kenapa Rey pengin banget jadi penghafal? Terus dia jawab kalau ingin bawa Mama sama Papa ke surga. Cukup Papanya pernah berzina dahulu, sampai ada Syakila, dia cerita dan selalu berdoa biar Papanya panjang umur dan mau berubah. Aku bukan nyindir, jika kita bicara tentang dosa, kita semua adalah pendosa yang paling luar biasa. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki dosa. Dia berharap bahwa suatu waktu dia bisa hadiahkan Papanya surga dengan cara dia mengajar seperti ini. Mungkin sifat Reynand bukan nurun dari kamu, Az. Dia lebih condong ke aku atau Almarhum kakeknya. Waktu pindah pertama kali ke sini, dia curhat juga mengenai statusnya yang hadir di luar nikah. Azka, bukan berarti aku berniat menggurui atau apalah sama kamu. Semua adalah masa lalu yang harus dikubur. Aku bangga sama Rey waktu itu dia pernah bilang, bahwa ingin menjadi anak yang bisa membawa orang tuanya ke surga walaupun statusnya seperti sekarang. Tidak ada anak yang mau lahir secara tidak baik, tapi posisinya sekarang adalah semua itu masa lalu. Jika memang benar kalian akan mengambil Rey kembali, didik dia dengan Agama yang baik. Jangan cekoki dia dengan barang-barang mahal. Apalah artinya harta jika kita jauh dari agama? Harta yang paling baik adalah memiliki anak shalih dan shalihah yang di mana bisa menuntun kita ke surga. Dan sekarang kamu punya itu, Az. Kamu punya anak yang benar-benar luar biasa. Anak yang dahulu enggak diharapin, justru kini bermanfaat bagi orang lain,"


Azka menunduk dan Nagita sambil meneteskan air matanya. Tidak pernah tahu anaknya yang seperti ini dan selalu mengabaikannya setiap kali menghubunginya. Mereka hanya tahu kabar anaknya dari Dimas.


"Didik dia, maka tugasku selesai. Tugasku mendidik Erlangga dan adiknya. Rey adalah tugas kalian! Jangan pernah menilai seorang anak dari statusnya. Barangkali dia tidak bisa memilih harus lahir dari rahim yang mana. Harus punya Papa yang seperti apa. Hidup adalah perjalanan, sanggupkah kita menapaki, sanggupkah kita berjalan. Cemooh orang lain adalah hal yang biasa baginya. Yang ia tanamkan saat ini adalah, dia mencintai kalian berdua. Nagita, tutup aurat! Nggak sayang kamu sama Azka? Waktunya taat jika memang ada waktu. Jangan tunda, tutup aurat itu wajib, dek. Semua punya masa lalu, semua buruk. Lebih baik menjadi yang buruk di awal, kemudian menjadi lebih baik kemudian. Daripada sebaliknya. Azka, sebagai pemimpin rumah tangga, didik Rey, Nagita! Dia milikmu. Hartamu yang sesungguhnya, jadilah tameng saat orang lain ingin menghancurkan keluargamu. Lindungi dan didik Reynand, dia adalah anak istimewa yang barangkali kamu sendiri tidak akan menduganya. Dia selalu cerita sama aku. Jadi jangan pernah kamu sibukkan diri lagi, kita sebagai kepala keluarga harus meluangkan waktu. Satu kesalahan bagi orang tua dalam mendidik anak adalah, tidak mendidiknya taat dengan agama. Justru sibuk dalam mencari uang dan merasa cukup hanya dengan menyekolahkan anak di tempat mewah. Bertaraf internasional, lalu bangga,"


Nagita mengangguk memegang tangan kiri Azka begitu erat. Yang dikatakan oleh Dimas adalah hal yang membuatnya takjub. Perihal didikan Dimas yang memang luar biasa membuat Reynand menjadi anak yang justru memikirkan kedua orang tuanya saat tiada nanti. Bukan justru membenci walaupun tahu bahwa statusnya anak yang hadir di luar pernikahan.


"Assalamu'alaikum. Ma, Pa, kapan datangnya?"


Mereka semua menjawab salam dari Reynand. Anak itu bersalaman dan Nagita mencium anaknya kemudian dipersilakan duduk ditengah-tengah mereka.


"Nagita, jangan pernah bangga jika orang lain mengatakanmu cantik. Azka, jangan pernah bangga dengan harta yang kamu miliki. Semua adalah titipan, sebaik-baiknya harta adalah istri yang shalihah. Perhiasan dunia yang sesungguhnya, dan anak shalih dan shalihah. Sekarang lanjutkan didikanmu sebagai orang tua. Nagita, jadilah ibu sekaligus istri yang membuat bidadari iri terhadapmu kelak. Aku bukan manusia suci bersama dengan Viona, kami berdua dulu pernah ciuman sebelum menikah. Dan benar, aku menyesalinya. Kenapa tidak menahan diri dulu baru melakukannya,"


Dimas mengelus punggung Viona yang hampir menangis. Dimas menatap mata Viona berkaca-kaca.


Nagita mengelus kepala anaknya berkali-kali.


"Ma, Pa. Aku izin untuk tinggal di sini dulu ya? Soalnya aku harus belajar dulu,"


"Silakan, nak. Maafin Papa selama ini yang jauh dan tidak pernah mendidik kamu,"


"Jangan bilang gitu, Pa. Papa sayang aja udah buat aku bahagia,"


"Rey, Mama mau cerita," Reynand berbalik dan menghadap ke arah Nagita.


"Cerita?"


"Mama, hamil,"


"Alhamdulillah, berarti sebentar lagi aku jadi kakak?"


Nagita mengangguk ia juga menatap ke arah Dimas sekilas. Kakaknya tersenyum dan dia melihat anaknya langsung berjongkok sambil mengumandangkan adzan di perut Nagita.


"Kenapa di Adzanin?"


"Karena dia akan jadi calon anak yang taat Agama, bisa nolongin kita semua jika tidak menemukan kita di surga. Semoga saja adik aku kelak jadi adik yang berbakti,"


"Anak Mama tambah pintar," Nagita memeluk Reynand dan menciumnya berkali-kali. Sungguh Nagita sangat menyayangi Reynand karena anaknya tak mengecewakannya. Justru sekarang membuatnya semakin bangga.


"Ma, Pa, Om Dimas juga sama tante Viona. Minggu depan Rey lomba di sekolah, datang ya! Aku pengin semuanya ikut, Oma juga, Pa,"


"Nanti Papa kasih tahu semuanya. Tante Naura, Om Reno sama Leo juga. Semangat belajarnya ya!" Azka pun tak kalah bangganya dengan didikan Dimas mengenai Reynand. Seburuk apa pun seorang anak lahir ke dunia. Biarlah dosa masa lalu orang tuanya yang menanggung, jangan pernah menyinggungnya apalagi dengan sebutan 'anak haram' yang haram bukan anaknya. Melainkan orang tuanya yang menghalalkan hal haram menjadi halal bukan pada waktunya tanpa memikirkan risiko ke depan bagi sang anak atau keluarganya sendiri.


Azka dan Nagita pamit ke ke kamar untuk sekadar bercengkrama mengenai apa yang akan direncanakan nantinya setelah anaknya berhasil mereka bawa pulang. Mengenai kabar kehamilannya, dia sudah memberitahukan kepada mertuanya, dan hal itu disambut baik oleh mertua dan iparnya. Nagita juga merasa sangat bersyukur karena dikaruniai mertua dan ipar yang teramat baik. Bahkan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. '


"Gimana sama, Rey?"


"Maksudnya?"


"Gimana kalau nanti dia ikut sama kita, apakah Papa bakalan bisa didik dia sebaik mungkin?"


"Papa bakalan belajar, menjadi pemimpin dan kepala keluarga di keuarga kita. Nagita, aku bahagia punya anak seperti dia. Kamu tahu tidak, kenapa dahulu aku itu batalin mau gugurin, Reynand?"


Nagita menggeleng, dan hingga saat ini ia juga ingin bertanya. Tetapi menunggu suaminya becerita adalah hal yang baik, meski sudah sempat diceritakan, tetapi Nagita ingin terus mendengarkan hal itu, walaupun untuk yang kedua kalinya,"


"Semua itu karena Rey yang datang ke mimpi aku. Dia mohong-mohon sama aku biar enggak gugurin dia, wajahnya enggak kelihatan, tapi suaranya begitu jelas. Itu adalah suara Reynand waktu usia lima tahun. Saat malam dan besoknya kita mau aborsi, justru aku nangis Nagita. Aku sudah sejahat itu, tapi ada saja cara Tuhan buat negur, akhirnya anak itu aku biarin. Awalnya aku enggak pernah ada niat buat menikah, mau lajang aja, tapi karena aku ini adalah pria yang enggak diragukan lagi sayang. Sekali main, eh jadi,"


Nagita mendorong kepada suaminya yang tadinya ingin berbicara serius justru di ajak bercanda oleh suaminya. Memang terkadang Azka seperti itu untuk menghilangkan bosan di antara mereka berdua, hingga saat ini, Nagita tersenyum juga karena Azka yang tiba-tiba saja berubah drastis semenjak mereka berpacaran. Bahkan rasa itu juga dirasakan semenjak dia memeluk Azka di kantor, ketika mengantarkan barang Reynand ketika ingin menitipkan anaknya pada Azka dulu.


"Sayang, kenapa ya ada rasa gimana gitu saat sekarang ini. Apalagi kamu hamil, aku jadi tambah sayang sama kalian berdua,"


"Berdua? Itu artinya aku sama calon anak kita, Rey gimana?"


"Bertiga maksudnya, salah sebut, Mama itu ih. Mana mungkin lupa sama anak pertama sih,"


"Sekarang apa yang kamu rasakan setelah Reynand ada, Pa?"


"Ingin mencintai kalian, sampai batas usia ini. Menebus dosa masa lalu, dan ingin berkumpul setelah tiada nanti di alam berbeda. Seperti yang dikatakan oleh anak kita, Nagita apa yang kamu rasakan setelah nikah?"


"Bahagia,"


"Alasannya?"


"Karena mencintai kamu tidak perlu pakai alasan, sayang," Nagita melihat Azka yang tadinya duduk dipinggiran ranjang langsung berlalu begitu saja, "Kenapa menghindar, sayang?"


"Mau bikin aku meleleh, hm?"


"Kok gitu?"


"Karena kamu gombal,"


"Aku serius, aku enggak ada alasan khusus untuk nerima kamu lagi. Selain karena aku mencintai kamu, enggak ada alasan yang bisa aku lakukan, Mas,"


"Oh istri, kenapa aku baru tersadar sekarang ya, kenapa baru nyadar gitu dapat istri yang semenarik ini, cantik, sabar, dan selama ini Azka ke mana? Terlalu lama tidur bagaikan putri tidur yang enggak sadarkan diri,"


"Karena kamu melihat ke arah jauh, jadi enggak sadar aja kalau ada perempuan secantik aku,"


"Baiklah istri, jangan bercanda. Aku enggak kuat bercanda,"


"Jangan pakai aku, kamu. Pakai sebutan Mama sama Papa. Itu lebih seru, tapi kalau lupa, enggak masalah,"


"Baik, Mama. Mamanya Reynand ini cantik banget sih, duh,"


"Mama mau ke toilet dulu, Pa,"


"Lah, ngapain?"


"Muntahin gombalan Papa. Biar enggak kemakan sama anaknya,"


"Mama ada-ada aja, dasar."


Nagita tersenyum dan menarik hidung Azka. Semenjak hamil, Nagita lebih suka bermanja dengan suaminya dan mengerjai Azka.


***Semoga kisah RICH MAN bisa membawa dampak baik bagi kita semua. Kurang lebihnya saya pribadi mohon maaf. Bila ada salah


NB : Tentang agama, saya juga masih belajar. Bukan untuk mengajari, melainkan mari untuk tidak pernah mencela anak yang bernasib seperti Reynand, mereka punya hak untuk hidup bahagia tanpa dicela. Biarlah aib orang tuanya yang tanggung. Kita hanya manusia biasa yang bahkan tidak tahu derajat kita dihadapan Allah. Stop bully anak-anak yang bernasib seperti Reynand, jangan sampai omongan menjadi bumerang dan justru terjadi pada anak cucu. Simpanlah aib saudara-saudari kita. Jangan mengumbarnya dan seolah kita menjadi paling suci.


Kita semua manusiaa kotor. Pasti memiliki dosa.


 


 


Karena sebentar lagi part akan selesai. Saya ucapkan terima kasih bagi yang selalu menunggu cerita ini.


Bagi yang ada rezeki\, barangkali bisa memberikan tip untuk cerita ini (nggak maksa\, yang ikhlas saja\, hehehe)***