RICH MAN

RICH MAN
LEBIH BAIK DIKATAKAN!



Gadis berambut panjang dengan poni yang menggantung. Mata cokelat yang indah, dan raut wajah yang cantik. Gadis itu tengah duduk di tangga sebelah kelasnya sambil memegang sebotol air mineral dan terus menjadi penonton untuk permainan basket seorang lelaki yang sedang bermain di lapangan dengan sangat cantik.


Jam olahraga yang sudah memasuki waktu istirahat dan jam bebas pun berlangsung. Dia memilih istirahat dan menonton lelaki yang beberapa waktu terakhir membuatnya tidak tenang. Lelaki itu adalah Reynand, namun lelaki itu nampak seolah tidak mengerti dengan kode yang diberikan hingga saat ini. Rasa suka yang hanya ia rasakan, jika untuk menyampaikan rasa. Maka, semua orang bisa. Akan tetapi risiko untuk ditolak pun ada kemungkinan besar. Dan juga kedekatan yang barangkali pernah terjadi akan menjadi sedikit lebih canggung lagi nanti


Teriakan dari beberapa siswi karena permainan laki-laki itu memang sangat bagus. Gadis bernama Bintang itu tersenyum dan juga merasa janggal di hatinya ketika melihat lelaki yang ingin dia miliki itu di dekati oleh gadis lain.


Lelaki itu sesekali menatap ke arahnya dan memberikan senyuman. Tapi apa gunanya jika senyum itu diberikan kepada orang lain juga? Senyum yang bukan dikhususkan untuk Bintang seorang.


"Bintang, lo sendirian aja?" Ucap Jenny yang datang sambil membawa makanan ringan dan duduk disebelah kirinya. Gadis itu menguncir rambutnya dan mulai mengipas dengan buku catatannya.


"Iya, istirahat bentar aja. Terus bentar lagi kita kan mau ganti,"


"Panas banget, gue lupa bawa kipas gue lagi,"


"Itu kan kamu pakai buku, Jenny,"


"Tetap aja enggak ngaruh, Bintang. Masih aja terasa panas banget," ucap gadis itu sambil mengoceh karena gerah dengan cuaca yang panas. "Kalau naksir ya tinggal bilang. Jangan dipendam sendirian, sakit banget loh,"


Gadis itu menoleh sesaat ketika teman sekelasnya berkata demikian. "Maksud kamu?" Bintang fokus lagi pada tatapannya yang seketika terlihat sedang tidak suka saat Reynand duduk bersama dengan gadis lain di lapangan sana. Apalagi menerima minuman dari gadis lain.


"Kelihatan banget kali kalau lo itu cemburu sama tuh anak. Lagian ya kalau lo sama Rey saling suka, kenapa lo tuh enggak nyoba buat pacaran? Kalau lo sama dia sama-sama nyaman, kenapa harus bohongi perasaan diri sendiri coba? Yang gue lihat dari lo sama dia, kalian berdua itu sebenarnya saling suka. Cuman lo sama dia gengsi mau mulai, lo enggak suka sama Rey yang dekat sama orang lain. Rey enggak suka lihat lo ngobrol sama orang lain, makanya dia selalu luangin waktu dia buat lo,"


Gadis itu nampak mencerna kata yang dikeluarkan oleh teman sekelasnya. Dia tetap berusaha untuk fokus dengan apa yang sedang dia lakukan saat ini. Bintang bersandar di tembok dan meremas botol air mineralnya. "Aku sama dia enggak ada apa-apa,"


"Saat lo dan dia bilang enggak ada apa-apa. Lo sama dia enggak bakalan bisa bohongi perasaan diri lo sendiri. Mungkin lo itu bisa bohongi orang lain dengan cara sembunyikan perasaan kalian berdua, tapi ingat. Kalian berdua yang bakalan tersiksa, sekarang gue tanya deh ke lo. Yang lo rasain sama Rey itu apa?"


Gadis itu tetap diam. Perasaan yang ia rasakan selama dengan Rey adalah perasaan nyaman yang barangkali tidak bisa dijelaskan dengan lebih rinci lagi. Mengingat bahwa dia tidak mau jika suatu waktu dia mengungkapkan rasa yang ada pada hatinya. Pertemanannya dengan Reynand menjadi canggung atau barangkali lelaki itu menjauh darinya karena pernah ada rasa suka yang menghancurkan ikatan teman menjadi asing.


Mengenal Reynand hanya beberapa bulan, itu mampu membuatnya mengenal dunia baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Mulai dari merasakan kenyamanan yang teramat membahagiakan, mulai mengenal hal-hal sederhana. Kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama dengan lelaki itu juga bisa dibilang tidak terlalu singkat dan juga tidak terlalu lama. Bintang akui sendiri bahwa selama dekat dengan Reynand, dia seolah menemukan kebahagiaan baru yang ada di dalam ruang hatinya. Rasa bahagia yang hampir saja padam dari dalam dirinya kemudian dia temukan lagi saat ini. Tidak bisa dia pungkiri bahwa rasa bahagia itu menjalar ke seluruh tubuh dan membuat kinerja otaknya menjadi lebih keras lagi dalam bekerja. Apalagi dia tidak bisa jauh dari lelaki itu.


Dari luka yang pernah dia rasakan karena perpisahan orang tua. Kebahagiaan baru yang dia dapatkan dari Reynand cukup membuat hatinya membaik, tentang rasa luka yang pernah dirasakan. Tentu akan ada obat baru yang bisa mengobati itu semua walaupun tidak secara keseluruhan terobati. Apalagi mengingat bagaimana ibu tirinya selalu bermain kasar. Semenjak tinggal di apartemen, Bintang memiliki niat tersendiri untuk mencari keberadaan mama kandungnya suatu saat nanti.


Memiliki keluarga yang utuh adalah impian setiap anak. Tidak ada anak yang mau melihat keretakan keluarganya yang hancur oleh orang ketiga. Barangkali suatu rumah akan berdiri kokoh jika dasar dan juga tiangnya begitu kuat. Kasih sayang itu merupakan tembok dan atap yang siap melindungi dari dingin dan panas. Namun, saat itu juga tiang yang berharap bisa kuat tiba-tiba roboh seketika dan membuat Bintang menjadi anak yang menyendiri. Bertemu Reynand merupakan warna yang baru di dalam hidupnya.


Jenny menyikutnya begitu saja ketika dirinya sibuk melamun. "Rey, mendekat. Gue kasih waktu deh buat lo, gue pergi dulu ya, daaah Bintang,"


Jenny meninggalkannya sendirian di tangga samping kelasnya. Tidak terlalu banyak yang berlalu lalang di sana karena jam pelajaran masih berlangsung. Mereka ada di sana karena jam penjaskes.


"Kenapa belum ganti?" tanya Reynand yang duduk di sebelahnya.


Bintang gelagapan, "Kenapa selalu gugup sama aku?"


BIntang menatap lelaki itu sejenak. Lelaki itu sadar bahwa selama ini Bintang mulai bersikap aneh karena tingkahnya yang sedikit lebih malu-malu terhadap Reynand. Dia ingat ucapan Jenny tadi, perihal dirinya yang cemburu. Akan tetapi dia tidak bisa berbicara seperti itu kepada Reynand langsung mengingat status hubungan mereka tidak ada apa-apa.


Bintang masih terdiam hingga akhirnya Reynand mengambil botol air mineral itu dari tangannya. "Boleh, kan?" ucap lelaki itu. Bintang mengangguk dan membiarkan lelaki itu meneguk minumannya.


"Bintang,"


Gadis itu menoleh. "Kenapa?"


Rey meraih tangan gadis itu dan mengusap keringat yang ada di dahinya. Bintang yang merasa tangannya basah karena keringat Reynand menarik tangannya dan lelaki itu melepas tangannya kemudian berlari begitu saja.


"Reynand!!"