RICH MAN

RICH MAN
MUSUH YANG SEBENARNYA



“Marwa, Rey ada kabari kamu?” tanya Azka ketika melihat menantunya sedang duduk di ruang tamu. Pasalnya sudah tiga minggu ini anaknya belum juga pulang. Terlihat raut wajah cemas begitu nampak diwajah menantunya itu. Perempuan yang duduk di ruang tamu bersama dengan Nagita, yang tidak lain adalah istri Azka.


Perempuan itu menggeleng pelan. “Belum ada sama sekali, Pa. nomornya memang aktif, tapi nggak pernah dijawab. Pesan pun cuman dibaca aja, Pa. nggak pernah sama sekali dia luangin waktu untuk balas, mungkin Mas Rey sibuk Pa. makanya sampai lupa ngabarin,”


Azka tidak sanggup lagi melihat semua kenyataan itu. Kemudian dia teringat ucapan Nabila yang beberapa waktu lalu mengatakan bahwa dia melihat foto Rey bersama dengan perempuan lain.


“Marwa, ini sudah jam sebelas lebih. Kamu istirahat ya, besok rencananya Papa mau ke rumah Om Dimas, kita semua ke sana,” ucap Azka menenangkan menantunya. Kali ini dia berusaha memahami perasaan perempuan itu.


Azka dan Nagita berusaha saling menguatkan satu sama lain ketika Rey benar-benar tidak menghubungi istrinya sama sekali. “Kurang ajar memang tuh anak,” gerutu Azka begitu Marwa menghilang dari tangga.


“Pa, apa yang dilihat sama Nabila itu ada benarnya juga?”


“Papa juga mikirnya itu nggak mungkin bohong. Salsabila juga mungkin tahu perihal ini, ayo kita tanya mereka berdua, Ma,” ajak Azka kemudian pergi ke kamar anaknya. Mustahil jika anaknya tidur cepat. Karena Nabila dan Salsabila sering mengobrol hingga larut malam. Kadang dia dan istrinya ingin memisahkan kamar keduanya. Akan tetapi tidak pernah disetujui oleh anak-anak mereka.


Kemudian mereka masuk ke dalam kamar si kembar. Benar saja bahwa keduanya belum tidur dan masih bermain tentang putri dan kerajaan. Hal itu kadang membuat Azka dan Nagita tersenyum jika keduanya begitu akur.


“Kakak, Papa boleh tanya sesuatu?” tanya Azka kemudian duduk dipinggiran ranjang dekat putrinya yang sedang bermain boneka bersama si bontot.


Nabila langsung mendekati Azka dan duduk bersila. “Papa mau tanya apa?”


“Hmmm, mengenai beberapa waktu lalu kakak pernah bilang kalau kakak tuh lihat foto Kak Rey sama perempuan lain, kalau boleh Papa tahu kakak masih ingat nggak itu perempuan?” tanya Azka kepada Nabila yang akrab dengan panggilan kakak oleh Nagita dan Azka.


Nabila sejenak melihat ke arah mamanya. “Mama bilang waktu itu Nabila nggak boleh ikut campur urusan orang dewasa,”


“Ini Papa yang nanya sayang. Nabila jawab yang jujur!” perintah Nagita. Kemudian Nabila menarik Salsabila yang sedari tadi asyik sendiri. Kemudian Nabila memperagakan bagaimana pose keduanya yang begitu mesra waktu itu.


Nagita dan Azka percaya bahwa keduanya tidak mungkin berbohong. Dan mereka berdua saling tatap satu sama lain. “Kakak lihat nama perempuan yang foto sama Kak Rey?”


“Namanya, Alin, Pa,” bak disambar petir. Perasaan Azka yang baru saja berusaha ditenangkan akan tetapi kini kacau kembali setelah mendengar nama itu. Bukankah beberapa waktu lalu perempuan itu dijauhi oleh Rey hingga membuatnya harus memutuskan kontrak tersebut. Kemudian mengapa saat ini anaknya justru bermesraan dengan perempuan itu. Dan ada yang janggal lagi dengan Rey. Yaitu ketika dia mengikuti putranya beberapa waktu lalu. Namun, justru kehilangan jejak.


“Ya sudah, kalian istirahat ya. Besok kan mau sekolah, masa mau begadang terus, Papa nggak suka lihat kalian begadang,”


“Mama sih sering nyuruh kita tidur siang. Jadi susah tidur kalau malam,” protes Salsabila. Mereka berdua berpamitan dan mencium pipi keduanya bergiliran sebelum tidur. Ia dan istrinya keluar dari kamar si kembar dan kembali ke kamar mereka.


“Tuh, apa yang dibilang sama Nabila itu berarti benar, Pa,” ucap Nagita dengan berusaha meyakinkan bahwa anaknya tidak mungkin berbohong.


“Mama tahu kan kenapa Rey dulu batalin kontrak itu? Semuanya karena perempuan itu yang dekati Rey. Dan pada saat dia berusaha untuk menghindar, kenapa sekarang Rey justru mendekati perempuan itu,”


“Perempuan siapa?”


“Alin, Ma. Papa masih ingat dengan baik nama perempuan itu, karena Rey pernah bilang kalau perempuan itu pernah nyatain cinta sama dia,”


Bahwa sesungguhnya perasaan Azka kali ini benar-benar kecewa terhadap anaknya yang berlaku sudah sangat kurang ajar itu. Bagaimanapun caranya mendidik Rey, tetap saja bahwa pria itu terkena rayuan dari perempuan yang bernama Alin. Bukan bermaksud ingin menggurui, akan tetapi dia pernah merasakan bagaimana rasa penyesalan itu pernah melekat di dalam dirinya hingga saat ini.


“Papa bisa telepon, Rey?” pinta Nagita dan ia langsung menuruti perintah istrinya. Karena dia juga kasihan melihat Marwa yang sepertinya khawatir setiap hari. Menunggu kabar dari Rey. Akan tetapi pria itu sama sekali tidak memberi kabar kepada istrinya.


Satu kali


Hingga keempat kalinya, barulah Rey mau menjawab teleponnya. “Kamu ke mana aja sih?”


“Ya ampun, Pa. Aku lagi banyak urusan,”


“Besok pulang!”


“Pa, nggak bisa,”


“Sebelum kamu kehilangan semua yang kamu miliki. Ikuti apa yang dikatakan sama Papa,” perintah Nagita. Jika dia yang meminta, tentu saja Rey akan menurutinya.


“Iya, besok aku pulang kalau udah kelar,”


Nagita geram dengan ucapan anak tertuanya itu.


Mereka berdua pun berdiskusi dan akan membiarkan Marwa pulang ke rumah orang tuanya untuk beberapa hari. Menenangkan dirinya di sana.


Keesokan paginya ketika mereka sedang sarapan dan sebelum Azka mengantar di kembar ke sekolah. “Marwa, kamu nggak mau pulang ke rumah orang tua kamu?”


“Hmmm, bukannya kita mau ke rumah Om Dimas?”


“Papa nggak masalah sih kalau kamu mau pulang, tapi kalau mau ikut juga boleh,”


“Aku ikut ke rumah Om Dimas aja, Pa,” jawabnya dengan mantap. Ia dan istrinya langsung saling tatap kemudian saling mengangguki, begitu sabarnya Marwa selama ini. Bahkan tidak pernah sekalipun dia mengeluhkan sikap yang telah ditunjukkan oleh REynand itu. Justru semua hal-hal baik diucapkan oleh Marwa mengenai Reynand.


Mereka berdua malu atas apa yang dilakukan oleh anaknya itu sungguh memalukan. Akan tetapi Marwa yang sabarnya tiada batas itu membuat Azka kasihan terhadap menantunya.


Setelah beberapa saat kemudian Azka dan anak-anak berpamitan pergi untuk mengantarkan keduanya sekolah.


***


Marwa sendirian di rumah karena mama mertuanya sedang pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan masakan yang akan dibawa nanti ke rumah Om Dimas. Baru saja dia hendak mengambil ponsel yang sedang di charge, notifikasi ponselnya sedari tadi berbunyi.


Hatinya begitu riang barangkali itu adalah dari suaminya yang semenjak pergi tidak memberinya kabar. Ia langsung melangkah dengan begitu cepat mengambil ponselnya di atas kasur. Dia langsung membuka pesan.


 


 


“Astagfirullah,” ucapnya dan menekan dadanya saat ponsel itu langsung terjatuh dari genggamannya. Begitu banyak foto yang masuk ke dalam pesannya. Semua itu adalah foto dari suaminya yang bahkan ada menampakkan foto suaminya sedang berciuman yang Marwa yakini itu ada di dalam kamar hotel. “Ini kelakuan kamu dan ini alasan kamu yang bilang kalaau kamu mau pergi ngurus pekerjaan?” ucapnya lirih. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Rasa sakit hatinya begitu membuncah kala mengetahui bahwa selama ini apa yang di dalam pikirannya itu benar terjadi.