RICH MAN

RICH MAN
MELINDUNGI MILIKNYA



Pagi itu, selesai sarapan berdua. Mereka sudah menyiapkan barang masing-masing untuk pulang ke apartemen Reynand.


Tadi, ketika sarapan, Rey pun mengerti dengan istrinya yang hanya menyingkap cadarnya ketika makan, akan tetapi tetap tidak memperlihatkan wajahnya.


"Sudah siap?"


Perempuan itu mengangguk, Rey pun membawa koper itu dan ketika keluar dari kamar. Istrinya berjalan di belakang, Rey mengembuskan napas dengan kasar dan berhenti begitu saja.


"Ada apa?" tanya istrinya.


Rey meraih tangan kanan istrinya dan menggenggamnya erat.


"Mana ada istri jalannya dibelakang sendirian, nanti dilirik pria lain," ucap Rey dengan nada yang datar. dia memang sangat jarang sekali bercanda, akan tetapi ucapan sederhana itu mampu membuat Marwa tersenyum dibalik cadarnya.


Mereka berdua bergandengan tangan hingga keluar dari hotel. Mereka masuk ke dalam mobil, selama diperjalanan baik Rey maupun Marwa tetap diam tanpa berkata apa-apa.


Setibanya di apartemen Rey. Mereka berdua turun dan langsung menuju kamar Rey.


"Marwa, cuman ada satu kamar,"


Perempuan itu terdiam dan membeku ketika pria itu berkata demikian.


"Disebelah ada ruang kerja, jadi aku jadikan kamar enggak apa-apa?"


"Terserah kamu, Mas,"


"Aku enggak bakalan maksa kamu ngapa-ngapain kok. Kamu bisa masak?"


"Bisa,"


Rey melihat ke arah dapurnya tidak ada alat untuk masak. Yang ada hanyalah kompor, dispenser dan juga beberapa gelas.


"Kamu capek enggak?"


"Enggak," jawab perempuan itu dengan cepat.


"Kalau kita beli peralatan masaknya sekarang, kamu mau?"


"Mau Mas,"


"Ya sudah, kamu siap-siap aja. Aku hubungi seseorang dulu untuk ubah ruang kerja di sebelah itu untuk jadi kamar,"


Marwa mengangguk pelan, "Mas, aku yang rapiin barang bawaan kita tadi ke kamar kamu enggak apa-apa?"


"Iya, silakan!" jawab Rey. Dia pun menghubungi seseorang untuk datang ke apartemennya mengubah ruang kerja menjadi kamar selama mereka berbelanja nanti.


Rey juga nampak tidak kesulitan ketika bersama dengan Marwa. Perempuan itu berusaha untuk mengimbangi Rey, begitupun dengan Rey yang juga berusaha untuk mengimbangi istrinya.


Beberapa menit kemudian, ada seseorang yang datang ke apartemen mereka. Rey yang waktu itu keluar hanya dengan menggunakan handuk kecil karena belum sempat mandi pagi, Marwa yang melihat itu langsung menutup matanya.


Rey juga merasa sangat malu, dia lupa dengan kebiasaannya yang kali ini harus berusaha membiasakan diri dengan hal yang berbeda karena sudah ada Marwa di dalam hidupnya. Bukan dia yang sendirian lagi.


Pria itu mengganti handuknya dengan baju santai. Dia pun mempersilakan tamunya untuk melihat keadaan ruangan yang akan diubah menjadi kamar.


"Marwa, kamu suka warna apa?"


"Biru tosca," jawab Marwa yang juga ikut ke dalam ruangan itu sesuai dengan permintaan Reynand untuk ikut.


"Ya sudah, nanti ini di cat dengan warna tosca aja ya. Mungkin kami berdua akan kembali lagi nanti sore, usahakan sudah selesai ya!" Rey menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar itu.


Semenjak menjadi suami, Rey seolah begitu baik menjaga istrinya. Entah itu sebagai suatu kebiasaan nanti atau sedang berusaha untuk baik-baik saja ketika hatinya dilanda dengan hal yang tidak diinginkannya sama sekali. Takut bila rindu masa lalu itu terulang lagi, Rey ingin lebih menghargai perempuan yang bersamanya kini, sebelum masa lalu menghancurkan semua yang ada di depan matanya dan membuatnya ditinggalkan lagi seperti dulu.


Rey menarik napasnya lalu membatin, "Ini istri kok nurut banget sih? Suami bilang ini, dia nurut. Marwa, seandainya kamu tahu bagaimana aku masih menyimpan masa lalu, apa kamu masih akan bertahan sebagai istri aku atau justru akan pergi ninggalin aku kalau kamu tahu bahwa aku masih mencintai perempuan lain, bukan kamu?" ucapnya dalam hati seraya meninggalkan apartemen untuk membeli perlengkapan yang akan digunakannya nanti.


"Mas, kamu suka makanan yang kayak gimana?"


"Terserah kamu bisanya masak apa, aku enggak masalah. Pedas juga boleh, tapi kalau bisa jangan menyengat gitu pedasnya,"


Rey ber-oh ria. "Aku enggak ada alergi apa-apa sih,"


"Aku takutnya nanti salah masak buat kamu. Makanya aku tanya,"


Rey mengangguk dan mengajak istrinya pergi jalan-jalan. Dia tidak masalah dengan cadar istrinya.


Tiba di salah satu pusat perbelanjaan, mereka masuk ke salah satu tempat peralatan masak. Istrinya mulai memilih dan Rey mengikuti dari belakang.


"Awas nanti dia bawa bom tuh," ucap seorang pria, salah satu karyawan yang ada di sana.


Rey mendengar itu langsung geram ketika melihat istrinya menunduk dan berbalik hendak pulang.


Rey melihat nama karyawan itu dan melihat nama toko yang mereka masuki tadi.


"Panggil Manager kalian!"


Rey menahan tangan istrinya yang hendak pergi, barangkali dia paham dengan perasaan istrinya yang dikatakan seperti itu oleh pria tadi.


Beberapa menit kemudian, Manager mereka keluar.


"Selamat siang Pak Reynand," sapa Manager tersebut.


"Pecat karyawan yang ada dipojokan sana, jangan pernah biarkan dia masuk ke toko kalian lagi," Rey geram karena istrinya seperti dikatakan sebagai orang jahat setelah karyawan itu menghina istrinya.


"Mas," panggil istrinya.


"Memangnya kenapa, Pak?" tanya manager itu.


"Dia mengatakan istrinya saya mungkin bawa bom,"


Manager itu langsung melirik ke salah satu karyawan yang tidak peduli dengan ucapan Reynand. Jika berurusan dengan pria yang ada dihadapannya itu, tentu saja karirnya akan habis. Pasalnya dia tahu bahwa pemilik tempat dia bekerja itu adalah salah satu sahabat dari dari direkturnya. Nama Rey tidak asing lagi bagi mereka, bahkan pemilik pusat perbelanjaan besar itu adalah Papa dari Rey sendiri. Namun untuk beberapa toko memang ditempati oleh orang lain.


"Kamu bilang apa sama dia?" ucap Manager itu mendekati karyawannya.


"Cuman bilang siapa tahu tuh perempuan yang milih-milih barusan bawa bom gitu,"


"Kamu tahu enggak, itu anaknya pemilik dari tempat ini. Yang kamu hina barusan itu adalah istrinya,"


"Hah?"


"Ngomong tuh dijaga, jangan sembarangan kalau ngomong. Ya gini akibatnya kalau kamu enggak bisa jaga mulut, saya enggak bisa pertahanin kamu. Kalau saya tetap ngotot yang ada saya dipecat, kamu mau minta maaf juga percuma. Orangnya udah pergi, kamu juga lain kali hargai pelanggan di mana pun kamu kerja,"


"Jadi, saya benar dipecat?"


"Iya. Mungkin ini juga pelajaran buat kamu, jangan pernah kamu menilai orang dari luarnya saja. Kamu baru dapat isu begini, semua orang jadi kamu hakimi dengan kejadian yang serupa. Kamu enggak bisa begitu, kalau kamu memang enggak suka, minimal kamu diam. Jangan pernah mikir hal yang bodoh begitu!" jelas manager itu.


Rey yang membawa istrinya ke salah satu restoran di sana.


"Masih marah?" tanyanya pada istrinya. Perempuan itu terus menunduk dan membaca istighfar.


"Kamu enggak malu jalan sama aku, Mas?"


"Kenapa harus malu?"


"Kamu dengar sendiri tadi dia bilang apa sama aku,"


"Marwa, aku justru senang kamu hanya akan memperlihatkan wajah kamu hanya untuk aku nanti. Biarin orang mau bilang kamu apa, aku akan belajar terima. Kamu mau pakai cadar, aku enggak masalah. Walaupun kamu lepas juga enggak masalah, tapi aku saranin sih jangan,"


Perempuan itu menatap ke arah suaminya. "Mas, kamu bakalan tetap dengar cemooh orang yang seperti itu, makanya waktu kamu tanya aku punya teman atau enggak, aku jawabnya enggak,"


"Jangan pikirkan hal itu, aku ngerti kok. Lagian jangan dimasukin ke hati ya! Kita kan enggak pernah maksa orang buat suka sama kita, jadi mereka bilang apa aja sama kamu, jangan dibalas dengan hal buruk seperti yang dia bilang sama kamu, contohnya tadi. Jadi, berusaha untuk terima. Aku enggak masalah kok kamu seperti itu, cuman aku minta sama kamu ya harus sabar aja sih,"


"Kalau kamu dengar orang ngomong buruk lagi?"


"Aku akan bertindak seperti tadi, aku enggak suka orang mudah banget nilai orang lain sejak baru pertama kali melihat."