
Pagi itu, setelah
berminggu-minggu berlalu. ia tak lagi mengunjungi anak dan istrinya. ia masih
sangat kesal dengan tingkah Nagita yang terus meminta untuk bercerai. Ia
sengaja tidak datang karena sangat malas jika berdebat lagi. Meskipun ia tahu
bahwa Reynand sangat merindukannya dan beberapa kali melakukan video call
dengan dirinya. tetapi Azka masih bisa menahan rindunya.
“Az, kita ke rumah
Nagita gimana? Mama kangen sama Rey dan Nagita. Naura juga nggak pernah datang
lagi kemari sama suami dan anaknya,”
“Aku antar, tapi nggak
bisa diam di sana,”
“Kenapa?”
“Aku sibuk kerja, Ma.”
“Ini hari minggu Azka,
masa kamu nggak ada waktu buat Rey? Kamu nggak sayang sama anak kamu sampai
segitu sibuknya dan lupa kalau kamu sekarang adalah seorang Ayah. Jangan lupakan
tanggung jawabmu Azka!”
“AKu ingat, Ma. Tapi
aku sibuk,”
“Ayolah, sudah berapa
minggu kamu nggak ke sana. Sama Mama, oke?”
“Nggak, Ma,”
“Terus kamu mau ke
mana?”
“Mau tidur. Aku butuh
istirahat,”
“Jangan panggil Mama
kalau kamu nggak mau ketemu sama Rey sekarang,”
“Papa juga nggak
bakalan anggap kamu sebagai anak,” ujar papanya.
Azka menjambak
rambutnya dan melirik ke arah kedua orang tuanya yang membatnya sedikit kesal
karena penyataan itu.
Azka mengembuskan napas
kasar. “Oke, aku ikut. Sebentar aku ganti baju dulu,”
“Gimana Nagita mau
balik kalau penampilan kamu acak-acakan gitu,” protes mamanya.
“Terserah.” Azka
berbalik dan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Ia mengenakan celana
pendek selutut dan kaos hitam polos.
Ia keluar dari kamarnya
dan mengikuti perkataan orang tuanya. Dan tidak mungkin juga mereka akan
bertengkar lagi jika nantinya Nagita menolak kedatangannya.
Mereka tiba di rumah
Nagita.
“Omaaaa!” teriak
Reynand yang begitu bahagia kedatangan omanya.
“Ma, Pa.” Nagita
menghampiri kedua mertuanya dan bersalaman. “Silakan duduk, Ma, Pa!”
“Daddy nggak disuruh duduk, Mommy?”
Azka justru berbalik
hendak pergi, “Daddy mau ke mana?”
“Mau ngerokok bentar.
Tunggu di sini, nanti balik lagi kok!”
“Daddy, itu nggak baik untuk kesehatan,”
“Nggak apa-apa. daaah!”
Azka meninggalkan mereka
berempat di dalam. di dalam pikirannya berkecamuk memikirkan cara untuk tetap
kuat di samping Nagita. Sungguh ia tidak pernah ingin jauh dari istriya.
Batinnya sudah tersiksa sangat lama.
Setelah menghabiskan satu
batang rokok. Azka kembali lagi dan memakan permen mint sebagai selingan bau
rokok di mulutnya. melihat anaknya yang bermain dengan orang tuanya, Azka ikut
bergabung duduk di sofa paling ujung. Sangat jauh dari jangkauan Nagita.
“Daddy?”
“Ada apa, Rey?”
jawabnya.
“Kapan Mommy dan Daddy ngasih adik buatm Rey. Kayak Leo dan Clara, anaknya aunty Naura?”
Naura sudah memiliki
dua orang anak, yang satunya berbeda beberapa bulan dari Rey, satunya lagi
masih kecil. mendengar permintaan putranya, Azka tersenyum.
“Sini sayang, Daddy mau ngomong sama Rey!” ucapnya
berusaha menenangkan.
Rey langsung duduk
dipangkuannya. ”Daddy, kalau sibuk
terus nggak bakalan bisa ngasih adik buat, Rey. Aku kesepian, Daddy sibuk,
Mommy juga sibuk di toko kuenya, kapan Rey punya teman main?”
Azka mengelus kepala
putranya, ‘andai kamu tahu Daddy juga menginginkan kebersamaan dengan Mommy.
Mendengar Rey seperti ini membuat Daddy sedih. Pernikahan Daddy dan Mommy sudah
diujung tanduk. Tidak ada lagiAzka mengelus kepala
putranya, ‘andai kamu tahu Daddy juga menginginkan kebersamaan dengan Mommy.
Mendengar Rey seperti ini membuat Daddy sedih. Pernikahan Daddy dan Mommy sudah
diujung tanduk. Tidak ada lagiAzka mengelus kepala
putranya, ‘andai kamu tahu Daddy juga menginginkan kebersamaan dengan Mommy.
Mendengar Rey seperti ini membuat Daddy sedih. Pernikahan Daddy dan Mommy sudah
diujung tanduk. Tidak ada lagi yang bisa
dipertahankan’ gumamnya.yang bisa
dipertahankan’ gumamnya. yang bisa
dipertahankan’ gumamnya.
Ia menarik napas dengan
sangat berat.
“Rey, jangan sedih ya.
Masih ada Mommy.” Nagita menimpali. Tetapi itu tidak membuat Azka merasa lega
karena bagaimanapun juga permintaan Reynand sangatlah sulit untuk dikabulkan.
“Ma, Pa. bawa Rey
sebentar, aku mau ngomong sama Nagita berdua.”
Novi dan suaminya
langsung keluar dari ruang tamu. Sementara itu Azka berusaha ingin memperbaiki
semuanya. Tetapi saat mendekat, Nagita menghindar.
“Kamu dengar apa yang
dibilang sama Rey?”
“Iya,”
“Bagaimana cara kamu
menanggapinya?”
“Aku bisa mengatasinya
sendiri. masih bisa menyekolahkan Rey sendirian tanpa ada kamu,”
“Apa pernah kamu
memikirkan bagaimana dia menjalani ini seorang diri? dia harus melihat orang
tuanya yang seperti ini, jika kita berpisah, apa yang akan kamu katakan saat
dia mencariku? Apa yang aku katakan saat dia menanyakan kenapa aku tidak pernah
denganmu?” suara Azka mulai meninggi.
“Lalu aku yang salah
atas semua ini, aku?” air mata Nagita menetes. Suaranya pun sudah tidak bisa
dikendalikan lagi. untuk pertama kalinya pertengkaran mereka terjadi selama ini
mereka selalu pura-pura agar terlihat tidak ada masalah di depan Rey. Tapi Azka
tidak bisa menahannya lagi, hingga akhirnya ia mendengar Nagita juga berteriak
saat menjawab pertanyaannya.
“Nagita, kamu jangan
pernah egois!”
“Aku tetap sama
pilihanku, aku tetap mau pisah, Mas,”
“Oke, aku turuti
keinginan kamu Nagita. Kamu mau kita pisah. Tapi jangan pernah berpikir bahwa
aku akan menarik ucapanku setelah ini, jangan menyesalinya suatu saat nanti.
Tentang Reynand, dia akan jatuh ke dalam tanganku, minggu depan silakan tunggu
surat dari pengadilan, kamu yang mau ini semua terjadi Nagita,” ucap Azka
dengan suaranya yang sedikit merendah. Hatinya tak karuan dengan hal yang ia
alami hari itu.
Nagita berbalik, Azka
pun ikut berbalik dan hendak keluar dari rumah.
Bruugh
Azka menoleh ke
belakang dan mendapati Nagita jatuh tergeletak di lantai. “Nagita, bangun!” ia
terus menggerakkan tubuh Nagita. Namun tidak ada respons, tubuh Nagita begitu
panas, “Mama, Pa,” teriaknya. Orang tuanya langsung masuk bersama dengan
Reynand.
“Nagita kenapa?”
“Dia tiba-tiba jatuh
pingsan, Ma,”
“Bawa ke kamar!”
perintah papanya.
Azka langsung
mengangkat tubuh Nagita dengan sangat enteng. Tiba di kamar ia langsung
menghubungi dokter pribadi agar segera memeriksakan keadaan Nagita.
Azka menemani Nagita di
dalam kamar saat diperiksa oleh dokter.
“Istri saya kenapa
dok?”
“Tensinya sangat
rendah. Dan lagi, ibu Nagita sedang kelelahan, bisa jadi dia juga sedang banyak
tekanan yang tidak bisa dia katakan,”
“Apa perlu dibawa ke
rumah sakit?”
“Tidak perlu, pak. Di
rawat di rumah dan biarkan dia istirahat, untuk obatnya silakan anda cari di
apotek saya sudah buatkan resepnya,” Azka mengambil selembar kertas yang di
sodorkan oleh dokter dan mengantar dokter itu keluar.
“Daddy, Mommy kenapa?”
“Mommy kelelahan, Rey,”
“Daddy kenapa bohong?”
“Bohong kenapa?”
“Daddy selalu saja
bilang kalau Daddy itu sibuk, padahal Daddy nggak mau ketemu sama Mommy dan
Rey, iyakan Daddy?”
Azka merogoh ponselnya
dan merekam suara Rey yang terus saja mengomeli dirinya.
“Daddy, Rey nggak mau
Mommy sama Daddy pisah. Tadi Mommy pingsan karena Daddy bertengkar kan? Daddy,
Rey pengin Daddy sama Mommy di sini, sama Rey. Maaf kalau Daddy nggak bisa
ngasih adik buat Rey, nggak apa-apa. tapi Rey nggak mau Daddy sama Mommy sampai
pisah. Rey nggak mau punya mama tiri kayak teman Rey, nggak mau punya papa
tiri, yang terus mukulin kayak teman sekolah Rey,”
“Ma, Pa, bawa Rey ke
rumah ya! Aku jagain Nagita,”
“Daddy?” lirih Rey.
“Percaya sama Daddy,
semuanya akan baik-baik saja. mommy sama Daddy nggak akan pernah pisah sampai
kapan pun, Daddy sayang sama kalian berdua.”
“Jangan berantem lagi
ya Daddy?”
“Iya. Daddy janji.”
Azka mengulurkan kelingkingnya pada Rey dan disambut baik oleh putranya. Ia pun
menganggukkan kepalanya saat mamanya menatapnya.
“Jaga istri kamu
baik-baik, Azka. Jangan pernah kecewakan Rey, apalagi Nagita!” perintah
mamanya. Azka mengangguk dan mengantarkan mereka bertiga ke teras depan dan
mengunci pintu.
Ia kembali lagi ke
kamar Nagita. Kamar yang dulu tempat di mana semua kisah manis pernah tercipta.
Kamar saat Nagita sakit dan ia merawatnya dengan sangat baik.
Azka duduk di sofa, ia
memesan makanan untuk mengisi perutnya karena benar-benar merasa keroncongan saat
menunggu Nagita yang bahkan belum sadarkan diri.
“Perempuan bodoh. Kamu
selalu meminta pisah saat semuanya seperti ini, saat Rey mengerti bagaimana
rasa sakitnya perpisahan orang tua. Bagaimana pun juga, aku tidak akan
melepasmu. Tidak akan membiarkan Rey memanggil orang lain dengan sebuatan
papa.”
Azka memegang dahi
Nagita yang terasa sangat dingin. Suhu tubuh yang tadi siang begitu panas namun
kini dingin. Bahkan bibir Nagita terlihat pucat.
“Aku jadi ingat
bagaimana dulu waktu kamu demam saat hamil, Rey.” Ucapnya meski Nagita tak
menanggapi. Tetapi Azka mengingat kejadian dulu.
Ia meraih remote AC dan
mematikannya saat tubuh Nagita menggigil.
“Dingin,”
Azka langsung ikut
berbaring dan memeluk tubuh Nagita. Menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
“Kamu sadar juga.”
“Dingin,”
Nagita menggigil. Dan
Azka semakin mengeratkan pelukannya.
Ia merasakan Nagita
terdiam di dalam pelukannya. Ini adalah momen yang sangat ia rindukan. Memeluk
tubuh Nagita saat tertidur. Hal yang sudah lama sekali ia inginkan.
Beberapa jam berlalu.
ia merasakan geli pada dadanya saat bulu mata Nagita menyentuh dadanya. Ia
membuka kaosnya sebelum tertidur tadi.
“Apa yang kamu lakukan
Nagita?”
“Mas, pergi. Sebelum
aku teriak!”
“Siapa yang akan marah?
Kita masih suami istri,”
Nagita tidak
memberontak lagi.
hal bodoh itu lagi,”
“Nggak, aku tetap mau
pisah,”
Azka meraih ponselnya
yang ada di atas meja dan memutarkan hasil rekaman saat Rey berbicara tadi.
Nagita berbalik
membelakangi dirinya.
“Nagita!”
Tak ada respons, justru
perempuan itu menutup kepalanya dengan selimut.
“Hadap sini, Nagita!”
Perlahan Azka
memberanikan diri membalikkan badan Nagita.
“Itu yang kamu mau kan?
Buat Rey merasa sendirian dan sedih,”
“Nggak,”
“Aku bahkan hingga saat
ini nggak tahu apa alasan kamu terus mau pisah. Aku sudah mempertahankan
hubungan kita selama ini agar Rey tidak merasakan apa yang kita rasakan, hingga
akhirnya dia tahu sendiri,”
“Aku sayang sama Rey.
Tapi aku sendiri bingung dengan perasaan aku sendiri,”
“Kenapa?”
“Satu sisi aku benci
kamu. takut kalau suatu waktu aku tidak bisa percaya lagi sama kamu, sisi
lainnya, aku nggak mau nyiksa Rey hanya karena kebodohanku,” Nagita meneteskan
air mata.
“Jangan menangis! apa
yang kamu khawatirkan? Jika kamu berpikir aku akan pergi lagi, kamu salah.
justru aku sayang kamu dan juga Rey, saat kamu khawatir yang lalu akan
terulang, tidak Gita. Ingat bahwa aku bertahan dan tidak mau mengabulkan
permintaan kamu karena aku sayang sama kalian berdua,”
“Aku capek, Mas. Aku
akan usahakan untuk bahagiain Rey sendirian,”
Azka geram dengan
ucapan Nagita. Ia langsung bangun dari tempat tidurnya dan menindih Nagita.
“Ap-apa yang kamu
lakukan Mas?”
“Ini tidak akan salah,
Nagita. Aku masih berhak atas kamu, bahkan kamu mau atau tidak, aku akan tetap
melakukannya,”
“Lepasin!” Nagita
memberontak.
Azka terus menekan
kedua tangan Nagita dan mengunci tubuh istrinya di bawahnya.
“Sekali lagi aku
bertanya, kamu yakin dengan perpisahan kita? Kalau kamu yakin, bilang saat ini
juga. Kalau benar, hari ini juga akan aku turuti tanpa menunggu seminggu lagi.
Aku akan pindah ke luar negeri,”
Nagita terdiam di
bawahnya tak menanggapi apa pun.
“Jawab!”
Nagita menggigit bibir
bawahnya.
“Sekali lagi, kamu
beneran mau kita pisah? Ini terakhir kalinya aku bertanya, Nagita,”
Azka melihat air mata
Nagita menetes lagi, ia melepaskan cekalannya. Namun ia tak beranjak dari atas
tubuh Nagita.
“Jawab! Nagita, aku mau
dengar kamu yakin dengan keputusan kamu mau berpisah?”
“A-a-aku---“
Nagita mengalungkan
kedua tangannya di leher Azka.
“Aku benci harus
mengakui ini, Mas. Aku benci saat mengakui bahwa aku sayang sama kamu, aku
menghindar karena terus merasa sangat sakit saat di dekat kamu,”
Azka membalas pelukan
Nagita. Ia menenggelamkan kepalanya di leher Nagita. Air matanya pun sudah
tidak terbendung lagi saat melihat aksi Nagita yang memeluknya saat semuanya
benar-benar diujung tanduk.
“Nagita, kamu tahu kan
bagaimana tersiksanya aku gara-gara kamu?”
“Kita saling menyiksa
perasaan, Mas,”
“Jangan pernah pergi
dari sisi aku, Nagita!”
Nagita mengeratkan
pelukannya.
Rasa nyaman yang ia
rasakan saat berada di pelukan Nagita. Hingga perempuan itu melepaskan
pelukannya.
“Jadi, kamu tetap
memilih menetap?”
Nagita mengangguk.
“Kita nggak akan
pisah?”
“Nggak akan,”
“Bodoh, kamu terus
membuat aku merasa seperti orang gila setiap harinya. Memikirkanmu dengan Rey,
rasa sakit itu menyiksa aku, Nagita.” Azka mencium kening Nagita.
“Harusnya kamu cerita
dari awal bahwa kamu takut kesalahan dulu terjadi,”
“Kalau aku cerita
percuma. Waktu itu juga kamu bersikap manis, tetapi main busuk dibelakang,”
“Tapi aku tersiksa
selama lima tahun gara-gara kamu,”
“Rasain, siapa suruh
jadi brengsek?”
“Udah nggak lagi,”
Azka kembali menindih
tubuh Nagita. Saat ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Nagita, perempuan itu
menahannya dengan tangan.
“Mau ngapain?”
“Cium, kangen banget,”
“Nggak ada cium-cium.
Sebelum kamu berhenti ngerokok,”
“Aku nggak ngerokok,”
“Ingat waktu Rey sakit?
Terus tadi juga kamu ngerokok, masih kecium,”
“Nggak lagi,”
“Nggak ada cium-cium
sebelum kamu berhenti total,”
“What? Kamu bercanda?”
“Nggak, aku serius.
Kamu nggak boleh cium sampai kamu berhenti ngerokok,”
“Ingat Rey tadi minta
adik, Nagita.” Azka mengingatkan.
“Nggak, pokoknya
nggak,”
“Nagita, kamu nggak
kasihan? Aku sudah menegang gara-gara kamu peluk tadi,”
“Bodo amat. Aku nggak
peduli,”
Tubuh Azka di dorong
begitu saja dan Nagita menutup kepalanya dengan selimut. Azka memeluk Nagita
dari belakang. “Oke, aku tahan. Tapi jangan menghindar lagi, ya sudah kita
tidur. Kata dokter kamu harus istirahat dengan baik,”
“Ini jam berapa? Aku
pingsan tadi siang kan?”
“Ini sudah larut
Nagita. Kamu pingsan lama banget,”
“Gara-gara kamu juga,”
“Kamu yang ngotot, aku
juga yang salah,”
“Ya sudah, tidur!
Jangan bawel, Mas,”
“Hadap sini dong,
peluk!”
“Azka, kamu kenapa
selalu saja nyebelin dari dulu?”
“AKu kan kangen,
salah?”
“Salah,”
“Kenapa bisa?”
“Kamu kemana aja? waktu
Rey sakit kamu nggak pernah kemari lagi?” Nagita berbalik dan menunjuk Azka.
“Aku sibuk, Nagita.”
“Bohong.”
Azka menarik napas. “Oke,
aku hindari kamu, puas?”
“Oke, kamu nggak kemari
selama berminggu-minggu. Jadi nggak boleh nyentuh selama itu juga!”
“Nagita? Aku puasa
lagi?”
“Iya,”
“Ya ampun. Suruh aku
ngepel. Nyapu, ngasih Rey, apalah pokoknya. Bersihin kolam renang, kolam
ikannya Rey, aku sanggup. Asal jangan libur itu Nagita,” rengeknya. Sikapnya masih
saja manja jika sudah berbaikan.
“Dua minggu aja,”
“Selama itu mau
ngapain?”
“Mau persiapkan diri,”
“Buat?”
“Kan Rey minta adik. Jadi
harus di turuti,”
Azka melotot. “Serius?”
“Iya. konsultasi dulu,
dan aku mau buka KB implant, kamu yang masang waktu aku lahirin Rey,”
“Bentar? Itu apaan?”
“Pencegah kehamilan,”
“Hah? Kita kan nggak
pernah ngelakuin itu Nagita, kenapa harus pasang sih?”
“Sudah aku bilang, yang
masang itu kamu, kenapa kamu setuju aku make?”
“Aku mana tahu,”
“Tanda tangan seenaknya
aja,”
“Dokter cuman bilang
waktu itu setelah operasi kamu harus dipakaiin itu, aku mana tahu kalau itu
pencegah kehamilan. Soalnya waktu itu aku cuman mikirin gimana keadaan kamu di
rumah sakit,”
“Aku nggak mau
buru-buru. Jadi tolong sepakat ya. Setahuku ada yang tiga tahun, tapi kamu
justru setuju yang lima tahun. aku belum buka, Mas. Sudah waktunya juga kan,
ngasih Rey adik?”
“Aku janji bakalan
nemenin kamu untuk masa ngidam dan hamil kamu, Nagita. Tapi kalau boleh cukup
kamu yang ngidam, aku jangan,”
“Memangnya pernah?”
“Aku pernah ngidam
waktu kamu hamil Rey, aku muntah-muntah sampai ngesot mau balik ke kamar karena
nggak ada tenaga,”
“Enak nggak?”
“Nggak.”
“Oke, jadi nggak usah
buat. Jangan cuman pas buatnya enak, pas ngalamin ngeluh,”
“Nggak, aku bercanda. Oke
aku rela ngidam, asal kamu mau hamil lagi,” bujuk Azka.
“Semoga saja kamu yang
ngidam, Mas. Aku nggak mau muntah pagi-pagi, nggak bisa nyium bau nasi yang di
masak. Terus nggak bisa nyium bau aku sendiri, aku sehari bisa mandi hampir
sepuluh kali,”
“Ngidam kita sama
kayaknya,”
“Semoga kamu yang
ngidam.”
“Kamu juga yang repot,”
“Nggak. Biar kamu tahu
rasa, emang enak? Kamu dapat enaknya, aku yang sakit-sakitan,”
“Heeeeh? Ya udah tidur!
Besok kita langsung ke dokter, jangan tunda-tunda lagi. aku mau tidur, tapi
kamu yang peluk,”
“Puasa pelukannya, Mas,”
“Nggak mau,”
Nagita memeluk Azka dan
ia membalas pelukan istrinya.
“Selamat tidur, Mas.”
“Selamat tidur, Nagita.
Semoga ini bukan mimpi.”
Hayoooo Azka ngajak
Nagita bercanda sebelum tidur. Ada yang ngalamin hal yang sama? wkwkwk, Jomblo
halu dulu, (kita sama)