RICH MAN

RICH MAN
AKHIR DARI.....



Pagi itu, setelah


berminggu-minggu berlalu. ia tak lagi mengunjungi anak dan istrinya. ia masih


sangat kesal dengan tingkah Nagita yang terus meminta untuk bercerai. Ia


sengaja tidak datang karena sangat malas jika berdebat lagi. Meskipun ia tahu


bahwa Reynand sangat merindukannya dan beberapa kali melakukan video call


dengan dirinya. tetapi Azka masih bisa menahan rindunya.


“Az, kita ke rumah


Nagita gimana? Mama kangen sama Rey dan Nagita. Naura juga nggak pernah datang


lagi kemari sama suami dan anaknya,”


“Aku antar, tapi nggak


bisa diam di sana,”


“Kenapa?”


“Aku sibuk kerja, Ma.”


“Ini hari minggu Azka,


masa kamu nggak ada waktu buat Rey? Kamu nggak sayang sama anak kamu sampai


segitu sibuknya dan lupa kalau kamu sekarang adalah seorang Ayah. Jangan lupakan


tanggung jawabmu Azka!”


“AKu ingat, Ma. Tapi


aku sibuk,”


“Ayolah, sudah berapa


minggu kamu nggak ke sana. Sama Mama, oke?”


“Nggak, Ma,”


“Terus kamu mau ke


mana?”


“Mau tidur. Aku butuh


istirahat,”


“Jangan panggil Mama


kalau kamu nggak mau ketemu sama Rey sekarang,”


“Papa juga nggak


bakalan anggap kamu sebagai anak,” ujar papanya.


Azka menjambak


rambutnya dan melirik ke arah kedua orang tuanya yang membatnya sedikit kesal


karena penyataan itu.


Azka mengembuskan napas


kasar. “Oke, aku ikut. Sebentar aku ganti baju dulu,”


“Gimana Nagita mau


balik kalau penampilan kamu acak-acakan gitu,” protes mamanya.


“Terserah.” Azka


berbalik dan menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Ia mengenakan celana


pendek selutut dan kaos hitam polos.


Ia keluar dari kamarnya


dan mengikuti perkataan orang tuanya. Dan tidak mungkin juga mereka akan


bertengkar lagi jika nantinya Nagita menolak kedatangannya.


Mereka tiba di rumah


Nagita.


“Omaaaa!” teriak


Reynand yang begitu bahagia kedatangan omanya.


“Ma, Pa.” Nagita


menghampiri kedua mertuanya dan bersalaman. “Silakan duduk, Ma, Pa!”


“Daddy nggak disuruh duduk, Mommy?”


Azka justru berbalik


hendak pergi, “Daddy mau ke mana?”


“Mau ngerokok bentar.


Tunggu di sini, nanti balik lagi kok!”


“Daddy, itu nggak baik untuk kesehatan,”


“Nggak apa-apa. daaah!”


Azka meninggalkan mereka


berempat di dalam. di dalam pikirannya berkecamuk memikirkan cara untuk tetap


kuat di samping Nagita. Sungguh ia tidak pernah ingin jauh dari istriya.


Batinnya sudah tersiksa sangat lama.


Setelah menghabiskan satu


batang rokok. Azka kembali lagi dan memakan permen mint sebagai selingan bau


rokok di mulutnya. melihat anaknya yang bermain dengan orang tuanya, Azka ikut


bergabung duduk di sofa paling ujung. Sangat jauh dari jangkauan Nagita.


“Daddy?”


“Ada apa, Rey?”


jawabnya.


“Kapan Mommy  dan Daddy ngasih adik buatm Rey. Kayak Leo dan Clara, anaknya aunty Naura?”


Naura sudah memiliki


dua orang anak, yang satunya berbeda beberapa bulan dari Rey, satunya lagi


masih kecil. mendengar permintaan putranya, Azka tersenyum.


“Sini sayang, Daddy mau ngomong sama Rey!” ucapnya


berusaha menenangkan.


Rey langsung duduk


dipangkuannya. ”Daddy, kalau sibuk


terus nggak bakalan bisa ngasih adik buat, Rey. Aku kesepian, Daddy sibuk,


Mommy juga sibuk di toko kuenya, kapan Rey punya teman main?”


Azka mengelus kepala


putranya, ‘andai kamu tahu Daddy juga menginginkan kebersamaan dengan Mommy.


Mendengar Rey seperti ini membuat Daddy sedih. Pernikahan Daddy dan Mommy sudah


diujung tanduk. Tidak ada lagiAzka mengelus kepala


putranya, ‘andai kamu tahu Daddy juga menginginkan kebersamaan dengan Mommy.


Mendengar Rey seperti ini membuat Daddy sedih. Pernikahan Daddy dan Mommy sudah


diujung tanduk. Tidak ada lagiAzka mengelus kepala


putranya, ‘andai kamu tahu Daddy juga menginginkan kebersamaan dengan Mommy.


Mendengar Rey seperti ini membuat Daddy sedih. Pernikahan Daddy dan Mommy sudah


diujung tanduk. Tidak ada lagi  yang bisa


dipertahankan’ gumamnya.yang bisa


dipertahankan’ gumamnya. yang bisa


dipertahankan’ gumamnya.


Ia menarik napas dengan


sangat berat.


“Rey, jangan sedih ya.


Masih ada Mommy.” Nagita menimpali. Tetapi itu tidak membuat Azka merasa lega


karena bagaimanapun juga permintaan Reynand sangatlah sulit untuk dikabulkan.


“Ma, Pa. bawa Rey


sebentar, aku mau ngomong sama Nagita berdua.”


Novi dan suaminya


langsung keluar dari ruang tamu. Sementara itu Azka berusaha ingin memperbaiki


semuanya. Tetapi saat mendekat, Nagita menghindar.


“Kamu dengar apa yang


dibilang sama Rey?”


“Iya,”


“Bagaimana cara kamu


menanggapinya?”


“Aku bisa mengatasinya


sendiri. masih bisa menyekolahkan Rey sendirian tanpa ada kamu,”


“Apa pernah kamu


memikirkan bagaimana dia menjalani ini seorang diri? dia harus melihat orang


tuanya yang seperti ini, jika kita berpisah, apa yang akan kamu katakan saat


dia mencariku? Apa yang aku katakan saat dia menanyakan kenapa aku tidak pernah


denganmu?” suara Azka mulai meninggi.


“Lalu aku yang salah


atas semua ini, aku?” air mata Nagita menetes. Suaranya pun sudah tidak bisa


dikendalikan lagi. untuk pertama kalinya pertengkaran mereka terjadi selama ini


mereka selalu pura-pura agar terlihat tidak ada masalah di depan Rey. Tapi Azka


tidak bisa menahannya lagi, hingga akhirnya ia mendengar Nagita juga berteriak


saat menjawab pertanyaannya.


“Nagita, kamu jangan


pernah egois!”


“Aku tetap sama


pilihanku, aku tetap mau pisah, Mas,”


“Oke, aku turuti


keinginan kamu Nagita. Kamu mau kita pisah. Tapi jangan pernah berpikir bahwa


aku akan menarik ucapanku setelah ini, jangan menyesalinya suatu saat nanti.


Tentang Reynand, dia akan jatuh ke dalam tanganku, minggu depan silakan tunggu


surat dari pengadilan, kamu yang mau ini semua terjadi Nagita,” ucap Azka


dengan suaranya yang sedikit merendah. Hatinya tak karuan dengan hal yang ia


alami hari itu.


Nagita berbalik, Azka


pun ikut berbalik dan hendak keluar dari rumah.


Bruugh


Azka menoleh ke


belakang dan mendapati Nagita jatuh tergeletak di lantai. “Nagita, bangun!” ia


terus menggerakkan tubuh Nagita. Namun tidak ada respons, tubuh Nagita begitu


panas, “Mama, Pa,” teriaknya. Orang tuanya langsung masuk bersama dengan


Reynand.


“Nagita kenapa?”


“Dia tiba-tiba jatuh


pingsan, Ma,”


“Bawa ke kamar!”


perintah papanya.


Azka langsung


mengangkat tubuh Nagita dengan sangat enteng. Tiba di kamar ia langsung


menghubungi dokter pribadi agar segera memeriksakan keadaan Nagita.


Azka menemani Nagita di


dalam kamar saat diperiksa oleh dokter.


“Istri saya kenapa


dok?”


“Tensinya sangat


rendah. Dan lagi, ibu Nagita sedang kelelahan, bisa jadi dia juga sedang banyak


tekanan yang tidak bisa dia katakan,”


“Apa perlu dibawa ke


rumah sakit?”


“Tidak perlu, pak. Di


rawat di rumah dan biarkan dia istirahat, untuk obatnya silakan anda cari di


apotek saya sudah buatkan resepnya,” Azka mengambil selembar kertas yang di


sodorkan oleh dokter dan mengantar dokter itu keluar.


“Daddy, Mommy kenapa?”


“Mommy kelelahan, Rey,”


“Daddy kenapa bohong?”


“Bohong kenapa?”


“Daddy selalu saja


bilang kalau Daddy itu sibuk, padahal Daddy nggak mau ketemu sama Mommy dan


Rey, iyakan Daddy?”


Azka merogoh ponselnya


dan merekam suara Rey yang terus saja mengomeli dirinya.


“Daddy, Rey nggak mau


Mommy sama Daddy pisah. Tadi Mommy pingsan karena Daddy bertengkar kan? Daddy,


Rey pengin Daddy sama Mommy di sini, sama Rey. Maaf kalau Daddy nggak bisa


ngasih adik buat Rey, nggak apa-apa. tapi Rey nggak mau Daddy sama Mommy sampai


pisah. Rey nggak mau punya mama tiri kayak teman Rey, nggak mau punya papa


tiri, yang terus mukulin kayak teman sekolah Rey,”


“Ma, Pa, bawa Rey ke


rumah ya! Aku jagain Nagita,”


“Daddy?” lirih Rey.


“Percaya sama Daddy,


semuanya akan baik-baik saja. mommy sama Daddy nggak akan pernah pisah sampai


kapan pun, Daddy sayang sama kalian berdua.”


“Jangan berantem lagi


ya Daddy?”


“Iya. Daddy janji.”


Azka mengulurkan kelingkingnya pada Rey dan disambut baik oleh putranya. Ia pun


menganggukkan kepalanya saat mamanya menatapnya.


“Jaga istri kamu


baik-baik, Azka. Jangan pernah kecewakan Rey, apalagi Nagita!” perintah


mamanya. Azka mengangguk dan mengantarkan mereka bertiga ke teras depan dan


mengunci pintu.


Ia kembali lagi ke


kamar Nagita. Kamar yang dulu tempat di mana semua kisah manis pernah tercipta.


Kamar saat Nagita sakit dan ia merawatnya dengan sangat baik.


Azka duduk di sofa, ia


memesan makanan untuk mengisi perutnya karena benar-benar merasa keroncongan saat


menunggu Nagita yang bahkan belum sadarkan diri.


“Perempuan bodoh. Kamu


selalu meminta pisah saat semuanya seperti ini, saat Rey mengerti bagaimana


rasa sakitnya perpisahan orang tua. Bagaimana pun juga, aku tidak akan


melepasmu. Tidak akan membiarkan Rey memanggil orang lain dengan sebuatan


papa.”


Azka memegang dahi


Nagita yang terasa sangat dingin. Suhu tubuh yang tadi siang begitu panas namun


kini dingin. Bahkan bibir Nagita terlihat pucat.


“Aku jadi ingat


bagaimana dulu waktu kamu demam saat hamil, Rey.” Ucapnya meski Nagita tak


menanggapi. Tetapi Azka mengingat kejadian dulu.


Ia meraih remote AC dan


mematikannya saat tubuh Nagita menggigil.


“Dingin,”


Azka langsung ikut


berbaring dan memeluk tubuh Nagita. Menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.


“Kamu sadar juga.”


“Dingin,”


Nagita menggigil. Dan


Azka semakin mengeratkan pelukannya.


Ia merasakan Nagita


terdiam di dalam pelukannya. Ini adalah momen yang sangat ia rindukan. Memeluk


tubuh Nagita saat tertidur. Hal yang sudah lama sekali ia inginkan.


Beberapa jam berlalu.


ia merasakan geli pada dadanya saat bulu mata Nagita menyentuh dadanya. Ia


membuka kaosnya sebelum tertidur tadi.


“Apa yang kamu lakukan


Nagita?”


“Mas, pergi. Sebelum


aku teriak!”


“Siapa yang akan marah?


Kita masih suami istri,”


Nagita tidak


memberontak lagi.


hal bodoh itu lagi,”


“Nggak, aku tetap mau


pisah,”


Azka meraih ponselnya


yang ada di atas meja dan memutarkan hasil rekaman saat Rey berbicara tadi.


Nagita berbalik


membelakangi dirinya.


“Nagita!”


Tak ada respons, justru


perempuan itu menutup kepalanya dengan selimut.


“Hadap sini, Nagita!”


Perlahan Azka


memberanikan diri membalikkan badan Nagita.


“Itu yang kamu mau kan?


Buat Rey merasa sendirian dan sedih,”


“Nggak,”


“Aku bahkan hingga saat


ini nggak tahu apa alasan kamu terus mau pisah. Aku sudah mempertahankan


hubungan kita selama ini agar Rey tidak merasakan apa yang kita rasakan, hingga


akhirnya dia tahu sendiri,”


“Aku sayang sama Rey.


Tapi aku sendiri bingung dengan perasaan aku sendiri,”


“Kenapa?”


“Satu sisi aku benci


kamu. takut kalau suatu waktu aku tidak bisa percaya lagi sama kamu, sisi


lainnya, aku nggak mau nyiksa Rey hanya karena kebodohanku,” Nagita meneteskan


air mata.


“Jangan menangis! apa


yang kamu khawatirkan? Jika kamu berpikir aku akan pergi lagi, kamu salah.


justru aku sayang kamu dan juga Rey, saat kamu khawatir yang lalu akan


terulang, tidak Gita. Ingat bahwa aku bertahan dan tidak mau mengabulkan


permintaan kamu karena aku sayang sama kalian berdua,”


“Aku capek, Mas. Aku


akan usahakan untuk bahagiain Rey sendirian,”


Azka geram dengan


ucapan Nagita. Ia langsung bangun dari tempat tidurnya dan menindih Nagita.


“Ap-apa yang kamu


lakukan Mas?”


“Ini tidak akan salah,


Nagita. Aku masih berhak atas kamu, bahkan kamu mau atau tidak, aku akan tetap


melakukannya,”


“Lepasin!” Nagita


memberontak.


Azka terus menekan


kedua tangan Nagita dan mengunci tubuh istrinya di bawahnya.


“Sekali lagi aku


bertanya, kamu yakin dengan perpisahan kita? Kalau kamu yakin, bilang saat ini


juga. Kalau benar, hari ini juga akan aku turuti tanpa menunggu seminggu lagi.


Aku akan pindah ke luar negeri,”


Nagita terdiam di


bawahnya tak menanggapi apa pun.


“Jawab!”


Nagita menggigit bibir


bawahnya.


“Sekali lagi, kamu


beneran mau kita pisah? Ini terakhir kalinya aku bertanya, Nagita,”


Azka melihat air mata


Nagita menetes lagi, ia melepaskan cekalannya. Namun ia tak beranjak dari atas


tubuh Nagita.


“Jawab! Nagita, aku mau


dengar kamu yakin dengan keputusan kamu mau berpisah?”


“A-a-aku---“


Nagita mengalungkan


kedua tangannya di leher Azka.


“Aku benci harus


mengakui ini, Mas. Aku benci saat mengakui bahwa aku sayang sama kamu, aku


menghindar karena terus merasa sangat sakit saat di dekat kamu,”


Azka membalas pelukan


Nagita. Ia menenggelamkan kepalanya di leher Nagita. Air matanya pun sudah


tidak terbendung lagi saat melihat aksi Nagita yang memeluknya saat semuanya


benar-benar diujung tanduk.


“Nagita, kamu tahu kan


bagaimana tersiksanya aku gara-gara kamu?”


“Kita saling menyiksa


perasaan, Mas,”


“Jangan pernah pergi


dari sisi aku, Nagita!”


Nagita mengeratkan


pelukannya.


Rasa nyaman yang ia


rasakan saat berada di pelukan Nagita. Hingga perempuan itu melepaskan


pelukannya.


“Jadi, kamu tetap


memilih menetap?”


Nagita mengangguk.


“Kita nggak akan


pisah?”


“Nggak akan,”


“Bodoh, kamu terus


membuat aku merasa seperti orang gila setiap harinya. Memikirkanmu dengan Rey,


rasa sakit itu menyiksa aku, Nagita.” Azka mencium kening Nagita.


“Harusnya kamu cerita


dari awal bahwa kamu takut kesalahan dulu terjadi,”


“Kalau aku cerita


percuma. Waktu itu juga kamu bersikap manis, tetapi main busuk dibelakang,”


“Tapi aku tersiksa


selama lima tahun gara-gara kamu,”


“Rasain, siapa suruh


jadi brengsek?”


“Udah nggak lagi,”


Azka kembali menindih


tubuh Nagita. Saat ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Nagita, perempuan itu


menahannya dengan tangan.


“Mau ngapain?”


“Cium, kangen banget,”


“Nggak ada cium-cium.


Sebelum kamu berhenti ngerokok,”


“Aku nggak ngerokok,”


“Ingat waktu Rey sakit?


Terus tadi juga kamu ngerokok, masih kecium,”


“Nggak lagi,”


“Nggak ada cium-cium


sebelum kamu berhenti total,”


“What? Kamu bercanda?”


“Nggak, aku serius.


Kamu nggak boleh cium sampai kamu berhenti ngerokok,”


“Ingat Rey tadi minta


adik, Nagita.” Azka mengingatkan.


“Nggak, pokoknya


nggak,”


“Nagita, kamu nggak


kasihan? Aku sudah menegang gara-gara kamu peluk tadi,”


“Bodo amat. Aku nggak


peduli,”


Tubuh Azka di dorong


begitu saja dan Nagita menutup kepalanya dengan selimut. Azka memeluk Nagita


dari belakang. “Oke, aku tahan. Tapi jangan menghindar lagi, ya sudah kita


tidur. Kata dokter kamu harus istirahat dengan baik,”


“Ini jam berapa? Aku


pingsan tadi siang kan?”


“Ini sudah larut


Nagita. Kamu pingsan lama banget,”


“Gara-gara kamu juga,”


“Kamu yang ngotot, aku


juga yang salah,”


“Ya sudah, tidur!


Jangan bawel, Mas,”


“Hadap sini dong,


peluk!”


“Azka, kamu kenapa


selalu saja nyebelin dari dulu?”


“AKu kan kangen,


salah?”


“Salah,”


“Kenapa bisa?”


“Kamu kemana aja? waktu


Rey sakit kamu nggak pernah kemari lagi?” Nagita berbalik dan menunjuk Azka.


“Aku sibuk, Nagita.”


“Bohong.”


Azka menarik napas. “Oke,


aku hindari kamu, puas?”


“Oke, kamu nggak kemari


selama berminggu-minggu. Jadi nggak boleh nyentuh selama itu juga!”


“Nagita? Aku puasa


lagi?”


“Iya,”


“Ya ampun. Suruh aku


ngepel. Nyapu, ngasih Rey, apalah pokoknya. Bersihin kolam renang, kolam


ikannya Rey, aku sanggup. Asal jangan libur itu Nagita,” rengeknya. Sikapnya masih


saja manja jika sudah berbaikan.


“Dua minggu aja,”


“Selama itu mau


ngapain?”


“Mau persiapkan diri,”


“Buat?”


“Kan Rey minta adik. Jadi


harus di turuti,”


Azka melotot. “Serius?”


“Iya. konsultasi dulu,


dan aku mau buka KB implant, kamu yang masang waktu aku lahirin Rey,”


“Bentar? Itu apaan?”


“Pencegah kehamilan,”


“Hah? Kita kan nggak


pernah ngelakuin itu Nagita, kenapa harus pasang sih?”


“Sudah aku bilang, yang


masang itu kamu, kenapa kamu setuju aku make?”


“Aku mana tahu,”


“Tanda tangan seenaknya


aja,”


“Dokter cuman bilang


waktu itu setelah operasi kamu harus dipakaiin itu, aku mana tahu kalau itu


pencegah kehamilan. Soalnya waktu itu aku cuman mikirin gimana keadaan kamu di


rumah sakit,”


“Aku nggak mau


buru-buru. Jadi tolong sepakat ya. Setahuku ada yang tiga tahun, tapi kamu


justru setuju yang lima tahun. aku belum buka, Mas. Sudah waktunya juga kan,


ngasih Rey adik?”


“Aku janji bakalan


nemenin kamu untuk masa ngidam dan hamil kamu, Nagita. Tapi kalau boleh cukup


kamu yang ngidam, aku jangan,”


“Memangnya pernah?”


“Aku pernah ngidam


waktu kamu hamil Rey, aku muntah-muntah sampai ngesot mau balik ke kamar karena


nggak ada tenaga,”


“Enak nggak?”


“Nggak.”


“Oke, jadi nggak usah


buat. Jangan cuman pas buatnya enak, pas ngalamin ngeluh,”


“Nggak, aku bercanda. Oke


aku rela ngidam, asal kamu mau hamil lagi,” bujuk Azka.


“Semoga saja kamu yang


ngidam, Mas. Aku nggak mau muntah pagi-pagi, nggak bisa nyium bau nasi yang di


masak. Terus nggak bisa nyium bau aku sendiri, aku sehari bisa mandi hampir


sepuluh kali,”


“Ngidam kita sama


kayaknya,”


“Semoga kamu yang


ngidam.”


“Kamu juga yang repot,”


“Nggak. Biar kamu tahu


rasa, emang enak? Kamu dapat enaknya, aku yang sakit-sakitan,”


“Heeeeh? Ya udah tidur!


Besok kita langsung ke dokter, jangan tunda-tunda lagi. aku mau tidur, tapi


kamu yang peluk,”


“Puasa pelukannya, Mas,”


“Nggak mau,”


Nagita memeluk Azka dan


ia membalas pelukan istrinya.


“Selamat tidur, Mas.”


“Selamat tidur, Nagita.


Semoga ini bukan mimpi.”


 


 


Hayoooo Azka ngajak


Nagita bercanda sebelum tidur. Ada yang ngalamin hal yang sama? wkwkwk, Jomblo


halu dulu, (kita sama)