RICH MAN

RICH MAN
Tidak Lagi



Selamat malam semuanya. Malam ini author crazy up ya. Dan untuk chapter berikutnya akan diupload tanggal 28 dan itu adalah ending untuk cerita RM dan With You. Terima kasih sudah menemani selama beberapa bulan ini.


 


Rey masih terpaku di dalam ruangannya setelah membaca beberapa dokumen yang masih sangat sulit dia percayai. Beberapa proyek besar kali ini diberikan untuk dirinya. Papanya memang selalu membantunya sekalipun itu dengan memberikan proyek. Dan kali ini adalah hasilnya, dia melihat berkas kerjasama antara perusahaannya dan juga perusahaan papanya. Bahagia adalah ketika dia hari ini akan membelikan mobil itu kepada istrinya. Kemudian, rezeki baru datang lagi. Benar apa yang dikatakan oleh papanya waktu itu, bahwa selama apa pun dia tidak pelit terhadap istrinya. Maka, rezeki akan mengikuti juga. Dan tidak akan berkurang rezeki suami ketika membahagiakan anak dan juga istri. Rey sadar kali ini yang dia lakukan itu memang benar untuk membahagiakan istrinya. Sekalipun harga mobil yang diinginkan oleh istrinya masih dalam harga wajar.


Pria itu mengambil ponselnya yang berada di atas meja dekat dengan komputer. Ia berencana menghubungi sang papa untuk menanyakan proyek yang diberikan itu untuk dirinya oleh sang papa. Terdengar beberapa kali suara sambungan telepon hingga pada akhirinya papanya menjawab telepon itu.


“Assalamu’alaikum, Nak,”


“Wa’alaikumussalam, Pa. Papa, ini benar proyeknya buat aku?”


“Iya, Rey. Itu proyek buat kamu. Papa sudah siapin itu buat kamu kok. Jadi Papa cuman bisa bantu itu buat kamu. Karena Papa tahu mungkin kamu butuh uang yang lumayan besar untuk hadiah ulang tahun istri kamu. Jadi karena kamu nolak Papa yang belikan mobil buat dia, jadi Papa kasih itu buat kamu. Biar kamu tambah semangat kerjanya. Jadi beliin istri kamu mobil ya! Ingat pesan Papa waktu itu kalau kamu nggak boleh pelit sama istri selama apa yang kamu bisa, ohya, Papa lagi sibuk banget. Kalau nggak ada yang mau dibicarakan, Papa tutup ya? Nanti sore kamu pulang ke rumah. Biar kita omongin lagi, Assalamu’alaikum,”


“Wa’alaikumussalam, Pa,” papanya menutup telepon karena sangat sibuk dengan pekerjaanya. Rey tahu bahwa dari dulu papanya memang gila bekerja dan juga waktu itu dia yang tidak ada waktu bersama dengan papanya waktu kecil. Dia memang begitu dekat dengan papanya sedari dulu. Rey memang dimanja dengan sangat baik oleh papanya waktu kecil dan sampai sekarang ini papanya masih bersikap seperti dulu dan tidak pernah membedakan kasih sayang untuk dirinya dan juga adiknya. Rey begitu paham bahwa orang tuanya memang ingin memberikan yang terbaik untuk semua anak-anaknya.


“Rezekinya Audri sama Marwa,” ucapnya pelan dan langsung menandatangani surat perjanjian proyek yang waktu itu ia inginkan justru tiba-tiba papanya memberikan proyek itu kepada dirinya. Rey sangat bahagia dengan apa yang diberikan oleh papanya. “Alhamdulillah buat kalian sayang,” ucapnya dengan semangat karena dia tidak pernah menyangka bahwa ini akan benar-benar dia kerjakan. Proyek besar untuk pembangunan apartemen yang mungkin akan butuh waktu sangat lama untuk membuatnya. Tapi, tentu saja keuntungannya sangat besar karena dia yang akan menanganinya langsung nanti.


Sebelum berangkat bekerja tadi, dia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memberikan mobil itu kepada istrinya nanti siang.


Pukul sepuluh, dia bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan meminta izin kepada sekretarisnya jika nanti ada yang mencarinya, agar perempuan itu yang menjelaskan nanti.


“Lin, kalau ada yang nyari nanti telepon aja ya!”


Perempuan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya langsung mengangkat kepalanya, “Bapak mau ke mana?”


“Hehehe, ada deh. Bilang aja kalau aku pulang,” Rey begitu antusias ketika dia ingin membahagiakan istrinya. Hari ini juga adalah hari ulang tahun istrinya. Seharusnya dia tidak bekerja untuk beberapa hari kedepan. Tapi justru memilih bekerja dan menyibukkan diri dengan pekerjaan di kantor. Sedangkan istrinya sedari kemarin berekspresi yang sangat buruk. Rey tahu bahwa dia berjanji beberapa har yang lalu. Tapi karena dia ingin agar istrinya menganggap semua itu tidak pernah dituruti, Rey sengaja bekerja untuk mengelebui istrinya.


Baru saja dia keluar dari kantor, dia bertemu dengan mamanya ketika dia hendak masuk ke dalam mobil. “Mama,”


Perempuan itu mendekatinya, “Kamu mau ke mana? Kok buru-buru banget?”


“Itu, Ma. Aku mau pergi beliin Marwa hadiah ulang tahun,”


“Kapan memangnya?”


Rey menyeringai, “Hari ini, Ma. Tapi aku sengaja pergi ke kantor biar dia mikir kalau aku nggak jadi beliin dia hadiah ulang tahun,”


Mamanya menggeleng pelan. “Kamu tuh ya, bisa aja gangguin istri kayak gitu. Ngomong-ngomong, Papa disuruh ke sini sama Papa,”


“Penting banget, Ma?”


“Disuruh ke rumah nanti malam. Kamu nggak pernah ajakin istri kamu, jadi Mama pengin aja samperin kamu ke kantor karena suruhan Papa juga sih.”


Dia mengajak mamanya untuk ikut membelikan istrinya hadiah ulang tahun. Ia menjelaskan bahwa dia ingin membelikan mobil kepada istrinya, kemudian respon mamanya pun tak terlalu buruk. Itu artinya dia diperbolehkan untuk membelikan istrinya hadiah itu. Apalagi terlihat dengan jelas bahwa ekspresi mamanya pun ikut bahagia ketika dia ingin membahagiakan istri dan anaknya. Sekalipun dia belum bisa memberikan barang apa pun untuk Audri.


“Mama kangen Audri tahu,”


“Dia baru beberapa hari lalu pulang dari rumah neneknya, Ma. Jadi aku nggak ajak ke rumah Mama, maunya sih minggu ini. Nginap di sana seminggu, terus di rumah Nenek aku juga,”


“Uh anak Mama. Padahal dulu manggilnya, Oma,”


“Heheh, pengin aja gitu panggil nenek,”


Mamanya tersenyum dan tidak menyangka bahwa rasanya baru beberapa hari lalu anak itu dia rawat. Tapi sekarang sudah punya anak juga dan waktu bergulir dengan sangat cepat. Kebahagiaan Rey juga merupakan kebahagiaannya. Tidak bisa dia sangkal bahwa dia menderita dulu karena suaminya itu. Tapi jika rasa sakit itu menuju kebahagiaan, Nagita bisa menerima itu semua. Apalagi ketiak mereka bisa berkumpul kembali.


Mereka kembali juga bukan karena Nagita melihat Azka yang semakin kaya. Tapi karena dia juga mencintai pria itu dan benar-benar tidak bisa lupa dengan perasaannya yang selama ini bisa dia bohongi. Tambahan, Salsabila dan juga Nabila adalah bukti cinta keduanya yang di mana Nagita tidak akan pernah lagi mau berpisah dengan pria itu.


Nagita menoleh karena pertanyaan Rey barusan membuat dia tersadar dari lamunannya. “Mama cuman teringat perjuangan Papa kamu dulu. Teringat bagaimana dia juga berusaha untuk bahagiain, Mama. Rasanya baru kemarin Mama bawa kamu ke mana-mana,”


“Iya, Ma. Aku juga nggak nyangka banget kalau Mama sama Papa balik lagi. Teringat dulu bagaimana Om Dimas selalu pisahin aku sama, Papa. Setiap kali aku cari Mama sama Papa, dia selalu bilang kalau Papa itu sibuk kerja. Om Dimas nggak pernah bilang kalau Papa punya kesalahan sama, Mama,”


“Dia memang luar biasa, Nak. Dia selalu berusaha bahagiakan kamu. Menanggung beban yang pernah dirasakan oleh Mama selama itu juga,”


“Hmm, tapi bersyukurnya aku ketika kalian nggak pernah pisah lagi. Terlebih Papa yang cemburuan kalau Mama keluar ke mana-mana pasti nanya kayak remaja yang mau ditinggal nongkrong gitu sama pacarnya. Beruntung yang dua itu nggak ngerasain apa yang aku rasain dulu,”


“Rey, maafin Mama ya!”


“Kenapa minta maaf, Ma?”


“Karena dulu Mama selalu buat hidup kamu menderita dan nggak pernah ada kata bahagia. Ketika Mama pikir dulu Om Tedy yang terbaik, justru dia nggak terima kamu,”


“Aku sadar waktu itu, Ma. Kalau Papa memang dianggap buruk sama orang. Tapi, orang yang dianggap buruk oleh orang lain itu bukan seperti yang mereka lihat. Buktinya, aku bahagia sama Papa. Nggak seperti yang dikatakan oleh orang lain kalau Papa itu buruk. Mungkin dulu Papa memang salah, tapi sekarang jauh lebih baik dan bisa terima kenyataan dengan begitu baik juga. Aku kadang miris dengan orang-orang yang bilang kalau Papa itu salahnya nggak bisa dimaafin, tapi apa yang orang lain bilang itu adalah salah. Makanya aku nggak terlalu peduli dengan penilaian buruk orang lain. Yang hanya bisa menilai kita itu cuman Tuhan,”


“Dewasa anaknya si Azka ya,”


Rey menoleh sejenak, “Mama,” Rey kesal jika dia diledek dengan sebutan nama papanya. Sedari dulu dia paling tidak suka jika mamanya mengatakan dirinya merupakan anak dari papanya. Tapi dengan sebutan nama. Dia memang benci dengan sebutan itu.


Nagita terkekeh dengan tingkah anaknya. “Kamu masih aja nggak suka diledekin. Kamu nggak pernah ketemu sama teman-teman kamu di rumahnya Om Dimas? Teman-teman kamu yang dulu itu, siapa tahu kamu bisa ajakin mereka kerja kalau mereka nganggur,”


“Nanti, Ma. Aku pasti nanti ke sana kok. Tapi kalau di rumah Om Dimas mungkin butuh waktu dua sampai tiga hari nginap di sana. Marwa nggak mungkin nginap sendirian di sana. Jadi aku usahain nanti untuk pulang ke rumah Om Dimas,”


“Adik kamu di sana nggak pernah kamu ajakin ke rumah Mama,”


“Si Angga kan sibuk, Ma,”


“Iya, kata Om kamu juga begitu. Dia sibuk sama kuliahnya. Hebat ya, dia nurun banget dari kamu. Om kamu malah nurun banget ke kamu, tapi ya gitu,”


“Apanya?” tanya Rey mulai kesal.


“Ya itulah pokoknya,”


“Udah nggak lagi, Ma. Aku nggak lagi berani sakiti hati istri aku,”


“Lebih baik begitu. Lebih baik kamu memang takut untuk sakiti hati istri kamu dibandingkan kamu tuh nggak bisa lihat perempuan bening kayak yang dulu,”


“Ish, Mama. Aku nyesel tahu,”


“Yang penting kamu sadar apa yang kamu lakukan itu adalah hal yang salah. Jadi nggak ada salahnya kalau kamu itu sadar atas apa yang kamu lakukan itu adalah hal yang benar-benar nggak bisa kamu lakukan seenaknya,”


 


 


Mamanya memang paling keras kepala dulu ketika mengingatkan dirinya jika dia tidak boleh berselingkuh dan menyakiti hati istrinya dengan alasan apa pun. Rey juga sadar jika dulu mungkin dia buta dengan cintanya. Maka dari itu, untuk saat ini juga dia tidak akan pernah melakukan hal yang buruk lagi.