RICH MAN

RICH MAN
RAHASIA



Damar bangun dari tidurnya saat mendengar suara


seseorang sedang berbicara dengan Luna. Setiap kali berkunjung, mereka selalu


tidur sekamar. Bahkan Damar selalu bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh


Luna. Tetapi tadi malam, ia hanya mencium kekasihnya tidak lebih . tetapi itu


sangat berdampak pada dirinya. Ada rasa bersalah dan juga  sesal yang ada di dalam hatinya. kepolosan


Luna membuatnya merasa sangat bersalah semalam.


“Lun, leher kamu? Ini siapa yang perbuat? Kalau


sampai Damar tahu, dia bakalan marah sama kamu.”


Damar langsung keluar dari kamar dan melihat adiknya


di sana yang mengguncangkan tubuh Luna.


“Apaan sih pagi-pagi ribut?”


“Brengsek. Gue kira lo nggak di sini, ini perbuatan


lo kan?” Teddy menyibak rambut Luna dan memperlihatkan itu pada Damar.


“Iyalah. Cupang gue nyasar ke leher dia,”


“Damar, lo itu ya. Cowok sialan yang nggak bisa


dikasih tahu, mau sampai kapan lo kayak gini? Lo mau rusak Luna? Terus lo


tinggalin,”


“Teddy, kakak kamu nggak gitu kok,”


“Kamu belain dia Luna? Kamu tahu kan dia itu


brengsek. Dia sama brengseknya kayak Azka,”


“Teddy, aku sama Luna bakalan nikah. Jadi apa yang


kamu khawatirkan,”


Damar melihat ekspresi adiknya yang langsung berubah


begitu saja. “Kamu nggak hamil kan, Lun?”


“Teddy, gue belum sampai berbuat kayak gitu, tenang


aja.”


Damar yang masih berdiri langsung tersadar seketika


saat adiknya melemparkan bantalan sofa dan langsung mengenai wajahnya.


“Bangke, lo itu bercanda gini amat sama kakak lo


sendiri,”


“Nagita, apa kabar dia?”


“Baik,”


“Rey?”


“Baik. Udah deh lo nggak usah tanyain,


ngomong-ngomong lo benar mau deketin Nagita?”


“Iya.”


“Lo tahu kan gimana masa lalu dia?”


“Gue tahu,”


“Lo nggak masalah dia punya anak?”


“Itu bukan kesalahan dia, tapi kesalahan sahabat lo


itu yang hanya mentingin nafsu. Rey ada atau nggaknya, gue tetap sayang sama


Nagita. Dan sekarang udah punya anak, itu artinya gue bakalan jadi ayah tiri,”


“PD amat lo. Belum juga deketin, udah ngomongin ayah


tiri,”


“Gue mau usaha,”


“Gue dengar lo mau kerja di sini ya?”


“Iya. Sepertinya begitu,”


“Nagita, lo nggak mau berjuang buat dia?”


“Gue bakalan pulang nanti waktu cuti, dan bakalan


ajak dia dan anaknya tinggal di sini. Gue nggak mau Nagita balik lagi sama


Azka,”


Damar tersenyum mendengar ucapan adiknya. Anak itu


benar, bahwa selama ini Nagita sudah terlalu banyak menderita. Tetapi Damar


sengaja tak memberitahukan bahwa Nagita sudah ada di Jepang sejak kemarin. Ia


ingin mempertemukan keduanya nanti, saat waktu di mana ia akan menceritakan


segala tentang Teddy, hingga perempuan itu mengingat siapa Teddy sebenarnya.


“Ayo Luna, kita mandi bareng!” ucapnya sambil


membuka satu kancing baju tidur Luna.


“Bisakah kalian itu menikah dulu baru melakukan


hal-hal yang seperti itu? Apakah kalian nggak punya otak? Mau mesum di sini?


Otak lo udah nggak waras, Mar.” Teriak Teddy yang melihat aksi keduanya.


Damar tahu bahwa adiknya itu sangat sensitif melihat


orang-orang berpacaran sangat bebas seperti dirinya. “Gue bercanda, sialan.


Mana berani sih gue.”


“Gue keluar.” Adiknya langsung keluar dan menutup


pintu sangat keras. Damar dan Luna hanya tertawa melihat kelakukan Teddy yang


seperti itu.


“Kamu tuh ya, suka banget bikin dia marah. Eh tapi


sayang, dia itu ya tiap hari ke sini. Mastiin apakah aku bawa cowok atau


nggak,”


“Aku percaya dia bisa jagain kamu. Maka dari itu aku


titip kamu sama dia,”


“Uuuh so sweetnya si brengsek ini,”


“Luna, jangan bilang begitu lagi. Aku nggak suka,”


“Ya maaf,”


“Ya sudah. Aku mandi dulu.”


“Ikut!”


“Nih!” Damar mengangkat kepalan tangannya untuk


Luna. Ia tahu bahwa perempuan itu tengah menggodanya. Damar berbalik begitu


saja tanpa menoleh lagi.


Damar keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan


rambutnya. Aroma masakan sudah tercium dengan sangat menyengat di apartemen


Luna. Ia langsung menuju ke arah dapur dan menemukan perempuan itu memasak.


Damar hanya tersenyum dan mendekati kekasihnya. Perlahan ia memeluk perempuan


itu dan memeluknya dari belakang. “Masak apa?”


“Masak apa aja yang ada. Aku tahu kamu lebih suka


masakan kita,”


“Hmmm, iya.”


“Luna, hari ini jalan-jalan mau?”


“Kamu, kapan balik ke indonesia?”


“Aku bakalan balik setelah seminggu di sini,”


“Damar, apakah Azka nggak mecat kamu? Kamu bilang


waktu itu ngajakin Nagita jalan-jalan sama Rey. Sekarang kamu nemenin aku di


sini,”


“Walaupun Azka pecat aku, aku punya perusahaan


sendiri,”


“Masa sih?”


“Iya. Aku punya perusahaan sendiri. Tapi ya gitu,


aku masih merintis kecil-kecilan. Kadang dapat borongan. Kadang nggak, kalau


nggak gitu, aku bakalan jadi jongosnya si Azka terus-terusan,”


“Kamu mau berhenti kerja di sana?”


“Bisa jadi iya.”


“Terus gimana soal pernikahan kita?”


“Biaya pernikahan maksud kamu?”


“Iya,”


“Aku gini-gini nabung, Luna. Aku nabung lama buat


nikahin kamu, jadi jangan khawatir kalau aku itu nggak bisa ngasih kamu


pernikahan yang mewah,”


“Bukan begitu. Maksud aku, kamu nggak mau kerja di


sana itu alasannya apa?”


“Aku muak. Aku capek lihat sikap dia yang kaya itu.


Dia mengandalkan hartanya untuk kehidupannya. Sedangkan nggak semua itu bisa


dibeli dengang uang, lihat Rey sekarang! Waktu itu dia nyuruh Nagita nikah sama


aku,”


“Terus?”


“Aku jelasin, dan anak itu sangat mudah


mengerti.  Dan kali ini Azka akan


benar-benar merasakan rasanya berpisah dari Nagita. Jangan harap dia bisa


kembali lagi,”


“Hmmm, semoga kamu bantuin dia itu ikhlas ya,”


“Aku bantuin dia ikhlas. Dan biar dia bisa bertemu


langsung sama, Teddy,”


“Yakin banget kamu?”


“Teddy udah cerita lama tentang Nagita,”


“Kalau Teddy di sakitin gimana? Gimana kalau


misalnya Nagita tetap cintanya sama Azka?”


“Aku akan tetap dukung Nagita, sekalipun dia nggak


bersatu sama Teddy,”


“Terserah kamu aja sih. Tapi ingat ya, gimanapun


juga Teddy adik kamu,”


“Ingat kok, aku bahkan dukung dia sama Nagita.


Semoga aja sih tuh perempuan bisa peka,”


“Kalau dia peka. Kalau nggak, ya cuman jadiin Teddy


tumbal,”


“Nggak apa-apa,”


“Tega kamu?”


“Nggak. Cuman ya harus gimana?”


“Doakan aja semoga semuanya baik-baik aja, Mar.”


“Semoga.”


Damar melepaskan pelukannya. Ia sudah sangat lama


memacari Luna. Tetapi tetap saja belum mendapatkan restu hingga sekarang.


Karena Luna adalah perempuan yang sangat hebat. Itu artinya Damar harus menjadi


pria yang hebat pula untuk mendapatkan Luna dan pantas bersanding dengan gadis


itu.


*****


Dimas pulang bekerja seperti biasanya. Setelah


menikah, dia meminta istrinya untuk fokus menjaga Rey. Bukan lagi bekerja di toko


seperti dulu. Perempuan itu menuruti semua keinginannya. Dan sekarang, semenjak


Nagita pergi, ia harus memerankan dirinya menjadi orang tua untuk Rey.


Ia melangkah pelan memasuki rumahnya sambil


melonggarkan dasinya. Baru saja kakinya masuk beberapa langkah, ia sudah di


sambut oleh Viona, seperti biasa setelah pulang bekerja, Dimas selalu mencium


kening dan juga bibir Viona sekilas. Di sana ada Rey yang tak menghiraukannya.


“Rey, Om pulang nggak di sambut?” protesnya.


Seketika anak itu bangun dari tempat tidurnya saat menonton televisi dan


langsung berlari bersalaman pada dirinya.


“Tadi sekolah?”


“Sekolah. Om, bentar lagi Rey SD, terus Mama lama di


sana?”


“Lama sayang. Ohya, Om Damar belum pulang sampai


sekarang. Dia masih di sana nemenin, Mama.”


“Om Damar itu baik banget, ya? Coba aja Papa Azka


itu baiknya kayak Om Damar. Rey pasti senang banget, Om,”


hatinya terlalu beku untuk menjadi lebih baik lagi. Papa itu juga baik


sebenarnya, waktu Mama hamil kamu, Papa selalu saja nemenin ke mana aja Mama


pergi,”


“Terus kenapa Mama sama Papa pisah? Kenapa Papa


pukulin Mama?”


Dimas mengelus kepala keponakannya. “Nanti saat Rey


dewasa, kamu pasti mengerti tentang semua ini sayang. Sekarang Rey harus rajin


belajar, nggak boleh kecewakan Mama, di sana Mama juga pasti mikirin Rey. Dan


lagi, kalau ketemu Papa, Rey jangan benci ya!” Dimas ingat pesan Nagita bahwa


bagaimanapun juga Rey tidak boleh membenci Azka. Karena bagaimanapun juga pria


itu papa kandung Rey.


“Rey boleh ketemu sama Papa?”


“Boleh. Tapi nanti jangan pernah kasih tahu Papa


kalau Mama pergi ke Jepang untuk belajar,”


“Kenapa kalau Papa tahu?”


“Rey nggak mau buat Mama nangis kan?”


“Iya. Rey nggak mau lihat Mama nangis,”


“Nah, kalau Papa tanya Mama di mana. Bilang aja Mama


sibuk kerja,”


“Itu kan bohong, Om,”


“Mama di sana kerja juga sayang. Itu kan ngga


bohong,” Dimas berusahe menjelaskan hal itu kepada Rey agar anak itu tak


berpikir yang aneh-aneh.


Dimas menggandeng tangan Rey dan duduk di sofa.


‘Tega kamu Azka lihat anak kamu terlantar seperti sekarang. Tega kamu hancurkan


masa depannya demi perempuan lain. Jika memang tidak berniat tanggung jawab.


Lebih baik Rey tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya, daripada setelah lahir,


kamu sia-siakan dia dan Nagita’


“Kak Dimas, sabar.” Dimas menoleh ke arah istrinya


yang menyadari bahwa dirinya melamun sambil memangku Rey.


“Jaga Rey dengan baik!”


“Pasti. Pasti aku bakalan jaga dia,”


“Terima kasih ya. Kita baru menikah, kamu sudah di


repotkan dengan hal ini, harus antar dan jemput Rey sekolah,”


“Nggak apa-apa. Lagian Rey itu seperti anak aku


sendiri, dia dekat sama aku,”


“Semoga cepat isi ya, biar Rey ada teman main,” ucap


Dimas sambil mengelus perut Viona.


“Tante hamil?”


“Nggak sayang. Tante belum hamil. Doain ya, biar


tante cepat hamil, biar Rey ada teman main,” jawab Viona. Dimas mengecup kening


istrinya.


“Kita usaha,” ucapnya sambil meraih bahu istrinya.


“Sabar ya! Semoga saja kita beneran di kasih, aku pengin punya anak juga,”


“Iya, semoga,”


“Aamiin, semoga tante Viona cepat hamil. Biar Rey


bisa jagain adiknya, Rey,” Dimas mencium pipi Rey. Tak terasa waktu begitu


cepat berlalu. Rey telah tumbuh menjadi anak yang sudah paham begitu banyak hal


tentang kehidupan. Jika dahulu anak itu selalu di manjakan oleh Azka. Kini ia


ingin mendidik Rey dengan kesederhanaan.


Tidak ada kemewahan dan mobil maha lagi yang selalu


membawa Rey ke mana-mana. Bahkan anak itu tidak pernah protes.


“Kalau Rey pengin ketemu, Azka. Bawa aja!”


“Bukannya kamu benci banget sama dia?”


“Nagita selalu berpesan, bahwa Rey nggak boleh benci


sama Papanya. Dan itu adalah benar, bahwa Rey nggak bisa benci sama Papa


kandungnya sendiri. Bagaimanapun juga nanti, Nagita punya hidup baru, dan Azka


punya, aku juga bakalan tetap biarin Rey ketemu,”


“Oke deh. Suamiku ini memang bijak,”


“Kamu bahagia sama pernikahan kita?”


“Aku bahagia. Meskipun ini hidup selalu saja rumit,


bahkan aku pertama kali menemukan kisah yang seperti ini, merawat anak, aku


nggak ada pengalaman sama sekali. Tapi Rey bukan anak yang rewel dan bandel.


Aku senang sama dia,”


“Pernikahan kita baru beberapa hari, aku harap kamu


betah ya,”


“Hmmm pasti. Apalagi nanti kalau punya anak,”


Dimas tersenyum. Ia memang sepakat bahwa Viona tidak


perlu menunda kehamilan. Ia menginginkan seorang bayi hadir dalam rumah


tangganya. Dimas sangat menyayangi Viona, meski baru beberapa hari bertemu dan


langsung melamar, tetapi ia yakin bahwa pilihannya untuk meminang Viona adalah


hal yang sangat benar.


Tangan kirinya memeluk Rey yang sedang duduk di


pangkuannya. Sementara tangan kanannya memeluk istrinya dan sesekali mencium


istrinya. Dimas sudah banyak sekali menghadapi kehidupan pahit bersama adiknya.


Pertama saat mengetahui Nagita hamil, itu adalah awal dari derita yang


sesungguhnya. Kemudian Viona meninggalkannya. Demi kebahagiaan adiknya, ia


harus menerima kehadiran Rey saat itu. Meski Nagita sempat frustrasi, tetapi


Dimas telah berjanji akan tetap merawat dan membesarkan kandungan adiknya waktu


itu.


‘Kamu sama Mama sudah banyak banget kesusahan, Rey.


Om nggak mau kamu ngerasain hal yang tidak menyenangkan. Nggak di anggap itu


adalah hal yang paling menyakitkan. Om tahu bahwa Azka hanya menginginkan kamu.


Tapi bagaimana dengan nasib Mamamu yang berjuang? Om di sini hanya bisa bantu


bahagiakan dia. Nenek pasti marah kalau Mama kamu menderita seperti sekarang’


gumamnya.


“Rey udah mandi?”


“Sudah, Om.”


“Kapan?”


“Tadi, Rey mandi sendiri,”


“Teman-teman Rey nggak datang?”


“Nggak. Mungkin mereka lagi sibuk,”


“Hah, sibuk ngapain?”


“Jualan keliling,”


‘Itulah yang Om nggak mau. Om tetap mau kamu


menikmati masa kecil kamu dengan bahagia. Cukup Om sama Mama yang pernah


merasakan hal yang sama seperti teman-teman kamu itu’


“Kak Dimas, ngelamun melulu,”


“Nggak kok,”


“Viona!”


“Tetap di sisi aku, apa pun yang terjadi. Dalam keadaan


apa pun, aku ingin kamu di sini. Nagita jauh, Rey di sini butuh aku, dan aku


butuh kamu sebagai penguatku di kala  aku


ingin menyerah,”


“Iya. Aku bakal di sini sama kamu, kak,”


“Na, kapan panggilan kita berubah?”


“Maksudnya?”


“Ya itu, panggilannya berubah jadi lebih baik lagi.


Kayak suami istribegitulah pokoknya,”


“Aku belum terbiasa, kak,”


“Takutnya Rey ikutan manggil gitu,”


“Terus dipanggil apa?”


“Apa aja, yang penting, mesra,”


Dimas merasakan Rey turun dari pangkuannya. “Om, Rey


pengin pipis,”


“Bisa sendiri kan?”


“Bisa dong. Kan Rey udah besar,”


“Anak pintar.”


Dimas memeluk Viona saat itu juga. Nagita benar,


bahwa dia harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berduaan dengan Viona.


Mereka pengantin baru yang harusnya lebih banyak menghabiskan waktu berdua.


Tetapi justru disibukkan merawat Reynand. Tetapi Dimas tidak keberatan sama


sekali.


“Kak jangan usil, deh!” Dimas mencubit dan memainkan


pipi Viona. Dan sesekali menciumnya.


“Suka aja gitu mainin nih pipi. Gemas aku lihatnya,”


“Dasar!” Viona menarik hidungnya.


“Sakit tahu nggak,” Dimas mencium Viona saat itu


juga. Tetapi tubuhnya di dorong oleh istrinya.


“Kenapa?”


“Rey nanti lihat,”


“Hmm iya juga. Ohya, ada kabar dari Nagita?”


“Ada, dia telepon. Dan katanya sih udah di sana,”


“Terus Damar kenapa belum pulang?”


“Mampir ke apartemen pacarnya, sih. Itu kata


Nagita,”


“Hmmm,” Dimas mengangguk.


“Kamu tahu kalau Damar berencana buat adiknya


deketin, Nagita?”


“Tahu,”


“Tanggapan kamu?”


“Selama Nagita bahagia, aku nggak masalah,”


“Teddy emang baik sih,”


“Kamu kenal?”


“Dia udah ngejar Nagita dari dulu, Kak. Cuman Nagita


nggak tahu,”


“Kalian ini memang pemburu cowok kayaknya waktu


sekolah dulu,” protesnya.


“Kak, gini-gini aku ini istri kamu. Dan aku nggak


pernah loh ya nyariin cowok. Yang ada aku pacaran cuman sama kamu, Nagita tuh


beda. Dia yang selalu di kejar cowok, lupa kamu kalau adik kamu itu pandai


melukis?”


“Tahu, tapi dia pengin kuliah kedokteran dulu. Ya


aku belum ada biaya,”


“Sekarang dia lebih condong pada hobinya,”


“Malah itu lebih bagus. Karena selain mencintai


hobinya, dia juga bisa kembangin tuh.”


Dimas mendengarkan cerita-cerita tentang adiknya


melalui Viona. Meski begitu dekat, ia juga sadar bahwa Nagita menyembunyikan


banyak hal dari dirinya.