
Damar bangun dari tidurnya saat mendengar suara
seseorang sedang berbicara dengan Luna. Setiap kali berkunjung, mereka selalu
tidur sekamar. Bahkan Damar selalu bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh
Luna. Tetapi tadi malam, ia hanya mencium kekasihnya tidak lebih . tetapi itu
sangat berdampak pada dirinya. Ada rasa bersalah dan juga sesal yang ada di dalam hatinya. kepolosan
Luna membuatnya merasa sangat bersalah semalam.
“Lun, leher kamu? Ini siapa yang perbuat? Kalau
sampai Damar tahu, dia bakalan marah sama kamu.”
Damar langsung keluar dari kamar dan melihat adiknya
di sana yang mengguncangkan tubuh Luna.
“Apaan sih pagi-pagi ribut?”
“Brengsek. Gue kira lo nggak di sini, ini perbuatan
lo kan?” Teddy menyibak rambut Luna dan memperlihatkan itu pada Damar.
“Iyalah. Cupang gue nyasar ke leher dia,”
“Damar, lo itu ya. Cowok sialan yang nggak bisa
dikasih tahu, mau sampai kapan lo kayak gini? Lo mau rusak Luna? Terus lo
tinggalin,”
“Teddy, kakak kamu nggak gitu kok,”
“Kamu belain dia Luna? Kamu tahu kan dia itu
brengsek. Dia sama brengseknya kayak Azka,”
“Teddy, aku sama Luna bakalan nikah. Jadi apa yang
kamu khawatirkan,”
Damar melihat ekspresi adiknya yang langsung berubah
begitu saja. “Kamu nggak hamil kan, Lun?”
“Teddy, gue belum sampai berbuat kayak gitu, tenang
aja.”
Damar yang masih berdiri langsung tersadar seketika
saat adiknya melemparkan bantalan sofa dan langsung mengenai wajahnya.
“Bangke, lo itu bercanda gini amat sama kakak lo
sendiri,”
“Nagita, apa kabar dia?”
“Baik,”
“Rey?”
“Baik. Udah deh lo nggak usah tanyain,
ngomong-ngomong lo benar mau deketin Nagita?”
“Iya.”
“Lo tahu kan gimana masa lalu dia?”
“Gue tahu,”
“Lo nggak masalah dia punya anak?”
“Itu bukan kesalahan dia, tapi kesalahan sahabat lo
itu yang hanya mentingin nafsu. Rey ada atau nggaknya, gue tetap sayang sama
Nagita. Dan sekarang udah punya anak, itu artinya gue bakalan jadi ayah tiri,”
“PD amat lo. Belum juga deketin, udah ngomongin ayah
tiri,”
“Gue mau usaha,”
“Gue dengar lo mau kerja di sini ya?”
“Iya. Sepertinya begitu,”
“Nagita, lo nggak mau berjuang buat dia?”
“Gue bakalan pulang nanti waktu cuti, dan bakalan
ajak dia dan anaknya tinggal di sini. Gue nggak mau Nagita balik lagi sama
Azka,”
Damar tersenyum mendengar ucapan adiknya. Anak itu
benar, bahwa selama ini Nagita sudah terlalu banyak menderita. Tetapi Damar
sengaja tak memberitahukan bahwa Nagita sudah ada di Jepang sejak kemarin. Ia
ingin mempertemukan keduanya nanti, saat waktu di mana ia akan menceritakan
segala tentang Teddy, hingga perempuan itu mengingat siapa Teddy sebenarnya.
“Ayo Luna, kita mandi bareng!” ucapnya sambil
membuka satu kancing baju tidur Luna.
“Bisakah kalian itu menikah dulu baru melakukan
hal-hal yang seperti itu? Apakah kalian nggak punya otak? Mau mesum di sini?
Otak lo udah nggak waras, Mar.” Teriak Teddy yang melihat aksi keduanya.
Damar tahu bahwa adiknya itu sangat sensitif melihat
orang-orang berpacaran sangat bebas seperti dirinya. “Gue bercanda, sialan.
Mana berani sih gue.”
“Gue keluar.” Adiknya langsung keluar dan menutup
pintu sangat keras. Damar dan Luna hanya tertawa melihat kelakukan Teddy yang
seperti itu.
“Kamu tuh ya, suka banget bikin dia marah. Eh tapi
sayang, dia itu ya tiap hari ke sini. Mastiin apakah aku bawa cowok atau
nggak,”
“Aku percaya dia bisa jagain kamu. Maka dari itu aku
titip kamu sama dia,”
“Uuuh so sweetnya si brengsek ini,”
“Luna, jangan bilang begitu lagi. Aku nggak suka,”
“Ya maaf,”
“Ya sudah. Aku mandi dulu.”
“Ikut!”
“Nih!” Damar mengangkat kepalan tangannya untuk
Luna. Ia tahu bahwa perempuan itu tengah menggodanya. Damar berbalik begitu
saja tanpa menoleh lagi.
Damar keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan
rambutnya. Aroma masakan sudah tercium dengan sangat menyengat di apartemen
Luna. Ia langsung menuju ke arah dapur dan menemukan perempuan itu memasak.
Damar hanya tersenyum dan mendekati kekasihnya. Perlahan ia memeluk perempuan
itu dan memeluknya dari belakang. “Masak apa?”
“Masak apa aja yang ada. Aku tahu kamu lebih suka
masakan kita,”
“Hmmm, iya.”
“Luna, hari ini jalan-jalan mau?”
“Kamu, kapan balik ke indonesia?”
“Aku bakalan balik setelah seminggu di sini,”
“Damar, apakah Azka nggak mecat kamu? Kamu bilang
waktu itu ngajakin Nagita jalan-jalan sama Rey. Sekarang kamu nemenin aku di
sini,”
“Walaupun Azka pecat aku, aku punya perusahaan
sendiri,”
“Masa sih?”
“Iya. Aku punya perusahaan sendiri. Tapi ya gitu,
aku masih merintis kecil-kecilan. Kadang dapat borongan. Kadang nggak, kalau
nggak gitu, aku bakalan jadi jongosnya si Azka terus-terusan,”
“Kamu mau berhenti kerja di sana?”
“Bisa jadi iya.”
“Terus gimana soal pernikahan kita?”
“Biaya pernikahan maksud kamu?”
“Iya,”
“Aku gini-gini nabung, Luna. Aku nabung lama buat
nikahin kamu, jadi jangan khawatir kalau aku itu nggak bisa ngasih kamu
pernikahan yang mewah,”
“Bukan begitu. Maksud aku, kamu nggak mau kerja di
sana itu alasannya apa?”
“Aku muak. Aku capek lihat sikap dia yang kaya itu.
Dia mengandalkan hartanya untuk kehidupannya. Sedangkan nggak semua itu bisa
dibeli dengang uang, lihat Rey sekarang! Waktu itu dia nyuruh Nagita nikah sama
aku,”
“Terus?”
“Aku jelasin, dan anak itu sangat mudah
mengerti. Dan kali ini Azka akan
benar-benar merasakan rasanya berpisah dari Nagita. Jangan harap dia bisa
kembali lagi,”
“Hmmm, semoga kamu bantuin dia itu ikhlas ya,”
“Aku bantuin dia ikhlas. Dan biar dia bisa bertemu
langsung sama, Teddy,”
“Yakin banget kamu?”
“Teddy udah cerita lama tentang Nagita,”
“Kalau Teddy di sakitin gimana? Gimana kalau
misalnya Nagita tetap cintanya sama Azka?”
“Aku akan tetap dukung Nagita, sekalipun dia nggak
bersatu sama Teddy,”
“Terserah kamu aja sih. Tapi ingat ya, gimanapun
juga Teddy adik kamu,”
“Ingat kok, aku bahkan dukung dia sama Nagita.
Semoga aja sih tuh perempuan bisa peka,”
“Kalau dia peka. Kalau nggak, ya cuman jadiin Teddy
tumbal,”
“Nggak apa-apa,”
“Tega kamu?”
“Nggak. Cuman ya harus gimana?”
“Doakan aja semoga semuanya baik-baik aja, Mar.”
“Semoga.”
Damar melepaskan pelukannya. Ia sudah sangat lama
memacari Luna. Tetapi tetap saja belum mendapatkan restu hingga sekarang.
Karena Luna adalah perempuan yang sangat hebat. Itu artinya Damar harus menjadi
pria yang hebat pula untuk mendapatkan Luna dan pantas bersanding dengan gadis
itu.
*****
Dimas pulang bekerja seperti biasanya. Setelah
menikah, dia meminta istrinya untuk fokus menjaga Rey. Bukan lagi bekerja di toko
seperti dulu. Perempuan itu menuruti semua keinginannya. Dan sekarang, semenjak
Nagita pergi, ia harus memerankan dirinya menjadi orang tua untuk Rey.
Ia melangkah pelan memasuki rumahnya sambil
melonggarkan dasinya. Baru saja kakinya masuk beberapa langkah, ia sudah di
sambut oleh Viona, seperti biasa setelah pulang bekerja, Dimas selalu mencium
kening dan juga bibir Viona sekilas. Di sana ada Rey yang tak menghiraukannya.
“Rey, Om pulang nggak di sambut?” protesnya.
Seketika anak itu bangun dari tempat tidurnya saat menonton televisi dan
langsung berlari bersalaman pada dirinya.
“Tadi sekolah?”
“Sekolah. Om, bentar lagi Rey SD, terus Mama lama di
sana?”
“Lama sayang. Ohya, Om Damar belum pulang sampai
sekarang. Dia masih di sana nemenin, Mama.”
“Om Damar itu baik banget, ya? Coba aja Papa Azka
itu baiknya kayak Om Damar. Rey pasti senang banget, Om,”
hatinya terlalu beku untuk menjadi lebih baik lagi. Papa itu juga baik
sebenarnya, waktu Mama hamil kamu, Papa selalu saja nemenin ke mana aja Mama
pergi,”
“Terus kenapa Mama sama Papa pisah? Kenapa Papa
pukulin Mama?”
Dimas mengelus kepala keponakannya. “Nanti saat Rey
dewasa, kamu pasti mengerti tentang semua ini sayang. Sekarang Rey harus rajin
belajar, nggak boleh kecewakan Mama, di sana Mama juga pasti mikirin Rey. Dan
lagi, kalau ketemu Papa, Rey jangan benci ya!” Dimas ingat pesan Nagita bahwa
bagaimanapun juga Rey tidak boleh membenci Azka. Karena bagaimanapun juga pria
itu papa kandung Rey.
“Rey boleh ketemu sama Papa?”
“Boleh. Tapi nanti jangan pernah kasih tahu Papa
kalau Mama pergi ke Jepang untuk belajar,”
“Kenapa kalau Papa tahu?”
“Rey nggak mau buat Mama nangis kan?”
“Iya. Rey nggak mau lihat Mama nangis,”
“Nah, kalau Papa tanya Mama di mana. Bilang aja Mama
sibuk kerja,”
“Itu kan bohong, Om,”
“Mama di sana kerja juga sayang. Itu kan ngga
bohong,” Dimas berusahe menjelaskan hal itu kepada Rey agar anak itu tak
berpikir yang aneh-aneh.
Dimas menggandeng tangan Rey dan duduk di sofa.
‘Tega kamu Azka lihat anak kamu terlantar seperti sekarang. Tega kamu hancurkan
masa depannya demi perempuan lain. Jika memang tidak berniat tanggung jawab.
Lebih baik Rey tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya, daripada setelah lahir,
kamu sia-siakan dia dan Nagita’
“Kak Dimas, sabar.” Dimas menoleh ke arah istrinya
yang menyadari bahwa dirinya melamun sambil memangku Rey.
“Jaga Rey dengan baik!”
“Pasti. Pasti aku bakalan jaga dia,”
“Terima kasih ya. Kita baru menikah, kamu sudah di
repotkan dengan hal ini, harus antar dan jemput Rey sekolah,”
“Nggak apa-apa. Lagian Rey itu seperti anak aku
sendiri, dia dekat sama aku,”
“Semoga cepat isi ya, biar Rey ada teman main,” ucap
Dimas sambil mengelus perut Viona.
“Tante hamil?”
“Nggak sayang. Tante belum hamil. Doain ya, biar
tante cepat hamil, biar Rey ada teman main,” jawab Viona. Dimas mengecup kening
istrinya.
“Kita usaha,” ucapnya sambil meraih bahu istrinya.
“Sabar ya! Semoga saja kita beneran di kasih, aku pengin punya anak juga,”
“Iya, semoga,”
“Aamiin, semoga tante Viona cepat hamil. Biar Rey
bisa jagain adiknya, Rey,” Dimas mencium pipi Rey. Tak terasa waktu begitu
cepat berlalu. Rey telah tumbuh menjadi anak yang sudah paham begitu banyak hal
tentang kehidupan. Jika dahulu anak itu selalu di manjakan oleh Azka. Kini ia
ingin mendidik Rey dengan kesederhanaan.
Tidak ada kemewahan dan mobil maha lagi yang selalu
membawa Rey ke mana-mana. Bahkan anak itu tidak pernah protes.
“Kalau Rey pengin ketemu, Azka. Bawa aja!”
“Bukannya kamu benci banget sama dia?”
“Nagita selalu berpesan, bahwa Rey nggak boleh benci
sama Papanya. Dan itu adalah benar, bahwa Rey nggak bisa benci sama Papa
kandungnya sendiri. Bagaimanapun juga nanti, Nagita punya hidup baru, dan Azka
punya, aku juga bakalan tetap biarin Rey ketemu,”
“Oke deh. Suamiku ini memang bijak,”
“Kamu bahagia sama pernikahan kita?”
“Aku bahagia. Meskipun ini hidup selalu saja rumit,
bahkan aku pertama kali menemukan kisah yang seperti ini, merawat anak, aku
nggak ada pengalaman sama sekali. Tapi Rey bukan anak yang rewel dan bandel.
Aku senang sama dia,”
“Pernikahan kita baru beberapa hari, aku harap kamu
betah ya,”
“Hmmm pasti. Apalagi nanti kalau punya anak,”
Dimas tersenyum. Ia memang sepakat bahwa Viona tidak
perlu menunda kehamilan. Ia menginginkan seorang bayi hadir dalam rumah
tangganya. Dimas sangat menyayangi Viona, meski baru beberapa hari bertemu dan
langsung melamar, tetapi ia yakin bahwa pilihannya untuk meminang Viona adalah
hal yang sangat benar.
Tangan kirinya memeluk Rey yang sedang duduk di
pangkuannya. Sementara tangan kanannya memeluk istrinya dan sesekali mencium
istrinya. Dimas sudah banyak sekali menghadapi kehidupan pahit bersama adiknya.
Pertama saat mengetahui Nagita hamil, itu adalah awal dari derita yang
sesungguhnya. Kemudian Viona meninggalkannya. Demi kebahagiaan adiknya, ia
harus menerima kehadiran Rey saat itu. Meski Nagita sempat frustrasi, tetapi
Dimas telah berjanji akan tetap merawat dan membesarkan kandungan adiknya waktu
itu.
‘Kamu sama Mama sudah banyak banget kesusahan, Rey.
Om nggak mau kamu ngerasain hal yang tidak menyenangkan. Nggak di anggap itu
adalah hal yang paling menyakitkan. Om tahu bahwa Azka hanya menginginkan kamu.
Tapi bagaimana dengan nasib Mamamu yang berjuang? Om di sini hanya bisa bantu
bahagiakan dia. Nenek pasti marah kalau Mama kamu menderita seperti sekarang’
gumamnya.
“Rey udah mandi?”
“Sudah, Om.”
“Kapan?”
“Tadi, Rey mandi sendiri,”
“Teman-teman Rey nggak datang?”
“Nggak. Mungkin mereka lagi sibuk,”
“Hah, sibuk ngapain?”
“Jualan keliling,”
‘Itulah yang Om nggak mau. Om tetap mau kamu
menikmati masa kecil kamu dengan bahagia. Cukup Om sama Mama yang pernah
merasakan hal yang sama seperti teman-teman kamu itu’
“Kak Dimas, ngelamun melulu,”
“Nggak kok,”
“Viona!”
“Tetap di sisi aku, apa pun yang terjadi. Dalam keadaan
apa pun, aku ingin kamu di sini. Nagita jauh, Rey di sini butuh aku, dan aku
butuh kamu sebagai penguatku di kala aku
ingin menyerah,”
“Iya. Aku bakal di sini sama kamu, kak,”
“Na, kapan panggilan kita berubah?”
“Maksudnya?”
“Ya itu, panggilannya berubah jadi lebih baik lagi.
Kayak suami istribegitulah pokoknya,”
“Aku belum terbiasa, kak,”
“Takutnya Rey ikutan manggil gitu,”
“Terus dipanggil apa?”
“Apa aja, yang penting, mesra,”
Dimas merasakan Rey turun dari pangkuannya. “Om, Rey
pengin pipis,”
“Bisa sendiri kan?”
“Bisa dong. Kan Rey udah besar,”
“Anak pintar.”
Dimas memeluk Viona saat itu juga. Nagita benar,
bahwa dia harus mencari waktu yang tepat untuk bisa berduaan dengan Viona.
Mereka pengantin baru yang harusnya lebih banyak menghabiskan waktu berdua.
Tetapi justru disibukkan merawat Reynand. Tetapi Dimas tidak keberatan sama
sekali.
“Kak jangan usil, deh!” Dimas mencubit dan memainkan
pipi Viona. Dan sesekali menciumnya.
“Suka aja gitu mainin nih pipi. Gemas aku lihatnya,”
“Dasar!” Viona menarik hidungnya.
“Sakit tahu nggak,” Dimas mencium Viona saat itu
juga. Tetapi tubuhnya di dorong oleh istrinya.
“Kenapa?”
“Rey nanti lihat,”
“Hmm iya juga. Ohya, ada kabar dari Nagita?”
“Ada, dia telepon. Dan katanya sih udah di sana,”
“Terus Damar kenapa belum pulang?”
“Mampir ke apartemen pacarnya, sih. Itu kata
Nagita,”
“Hmmm,” Dimas mengangguk.
“Kamu tahu kalau Damar berencana buat adiknya
deketin, Nagita?”
“Tahu,”
“Tanggapan kamu?”
“Selama Nagita bahagia, aku nggak masalah,”
“Teddy emang baik sih,”
“Kamu kenal?”
“Dia udah ngejar Nagita dari dulu, Kak. Cuman Nagita
nggak tahu,”
“Kalian ini memang pemburu cowok kayaknya waktu
sekolah dulu,” protesnya.
“Kak, gini-gini aku ini istri kamu. Dan aku nggak
pernah loh ya nyariin cowok. Yang ada aku pacaran cuman sama kamu, Nagita tuh
beda. Dia yang selalu di kejar cowok, lupa kamu kalau adik kamu itu pandai
melukis?”
“Tahu, tapi dia pengin kuliah kedokteran dulu. Ya
aku belum ada biaya,”
“Sekarang dia lebih condong pada hobinya,”
“Malah itu lebih bagus. Karena selain mencintai
hobinya, dia juga bisa kembangin tuh.”
Dimas mendengarkan cerita-cerita tentang adiknya
melalui Viona. Meski begitu dekat, ia juga sadar bahwa Nagita menyembunyikan
banyak hal dari dirinya.