RICH MAN

RICH MAN
ADA APA?



Rey mencium bau tubuhnya yang sangat menyengat karena membersihkan kamar mandi tadi. Dia sangat kesal terhadap Widya yang sudah menjebaknya dalam hukuman itu. Rey langsung bergegas menuju loker yang di mana dia menyimpan seragamnya yang lain di sana.


"Rey, sumpah lo bau banget," Fendi berdiri di belakangnya sambil menutup hidung karena tidak tahan dengan bau Rey yang sangat menyengat.


Rey justru memeluk Fendi agar bau badannya tertular kepada Fendi hingga lelaki itu kesal dan berusaha untuk melawan. "Biasa bawa sabun kan lo, ngomong-ngomong sekarang sabun lo mana? Kayaknya gue nular ke lo deh yang bakalan mandi di sekolah,"


"Iyalah lo harus mandi, sialan. Lo itu kan bau banget. Mana mungkin Bintang mau sama lo kalau lo bau kayak gitu,"


"Benar juga lo,"


Rey langsung menarik handuk kecil dan juga seragamnya dan berlalu ke kamar mandi begitu saja. Setelah mendapatkan sabun dan juga shampo Fendi, dia tak menunda untuk segera membersihkan tubuhnya.


Beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar mandi dan langsung mengeringkan rambutnya. Rey ke kelas sambil gerus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang dia bawa. Rey memasukkan seragam sekolahnya yang lain di kantong plastik hitam yang dia minta di kantin tadi.


"Gimana lo bisa dihukum sama tuh ular sih?"


Rey mengalungkan handuknya. "Gue tadi tuh lagi singkirin ulat di rok dia. Tapi dia bilang kalau bokongnya dipegang sama gue," jelas Rey pda Jenny dan juga Fendi.


Rey benar-benar kesal dengan tingkah Widya.


Rey keluar dari kelas dengan niat untuk menjemur handuk yang tadi dia gunakan untuk mengeringkaan rambutnya. beberapa meter dari tempatnya berdiri, dia menemukan Bintang sedang duduk sendirian di tempat biasa dia berkumpul bersama yang lain. Rey yang melihat gadis itu nampak sangat kesepian, tanpa ragu langsung menghampiri gadis bermata cokelat itu.


Bintang adalah teman yang begitu baik bagi Rey. Selain wajahnya yang cantik, gadis itu juga sangat ceria. Walaupun begitu banyak masalah keluarga yang dihadapi, Rey berusaha untuk menemani gadis itu, dia tahu bahwa malam itu dia salah karena mengusap luka yang ada di bahu Bintang. Dia duduk dan gadis itu langsung menoleh. "Sendirian aja?"


"Kamu tadi bukannya di hukum?"


Rey menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mereka berdua duduk di sana sambil terus mengobrol. Dengan senang hati, siapa pun juga akan betah mengobrol dengan gadis itu yang selalu nyaman jika diajak berbincang.


"Pulang bareng nanti, ya?"


"Aku di jemput, Rey," Rey mengangguk, ajakannya ditolak dengan alasan bahwa gadis itu dijemput oleh sopirnya. Padalah Rey tahu bahwa gadis itu selalu menggunakan kendaraan umum untuk pulang ke apartemennya.


"Nih!"


Rey mengernyitkan dahinya saat Bintang menyodorkan minuman. "Kamu haus, kan?"


Rey tersenyum dan menerima minuman itu.


Dia langsung meneguknya tanpa ada keraguan dan berterima kasih kepada Bintang yang sudah memberikannya minuman.


"Nanti sore, kamu sibuk enggak?"


"Enggak, emangnya kenapa?"


"Hehehe, mau ngajakin jalan,"


Bintang memiringkan kepalanya dan terlihat bingung, "Bukan kencan, kan?"


Rey gelagapan, entah apa itu yang dikatakan sebagai kencan saat dia mengajak Bintang untuk pergi berdua. Walau hanya sekadar makan di luar.


Mereka tak seperti pasangan yang lain, meski banyak teman-temannya yang terang-terangan memperlihatkan ikatan hubungan mereka, tidak dengan Rey dan juga Bintang yang masih tidak mengetahui status hubungan keduanya. Rey yang tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa, dia tidak berpengalaman untuk mengungkapkan perasaannya. Walaupun di dalam hatinya dia sangat nyaman berada di dekat Bintang. Tapi mengingat lagi pesan mamanya, bahwa dia tidak boleh untuk menjalin hubungan sekadar main-main. Tidak ingin menyakiti dan juga tidak ingin menghabiskan uang orang tua hanya untuk membahagiakan perempuan yang dia cintai.


Kadang, sikap diam Bintang membuat Rey menjadi penasaran. Banyak hal yang tidak bisa dia tebak dari sikap gadis itu. Banyak hal yang masih menjadi tugasnya untuk menebak gadis itu seperti apa, dan dia juga tidak lebih dekat dari sebatas teman dengan Bintang.


"Rey, nanti beneran ajak aku jalan, ya?"


Rey terkejut dengan ucapan Bintang yang tadinya dia pikir bahwa gadis itu akan menolak ajakannya, namun kini Bintang sendiri yang menawarkan diri untuk memastikan bahwa dia akan mengajak gadis itu atau tidak.


"Beneran mau?"


"Aku bosan, siapa tahu kamu bisa ajak aku ke tempat yang bagus buat refreshing gitu,"


Rey tersenyum sekilas dan mengangguk, "Hubungan kamu sama Widya gimana?" ucapan gadis itu mampu membuat Rey mengernyitkan dahi lagi. Pasalnya dia tidak suka dengan ucapan Bintang yang menanyakan perihal hubungannya dengan Bintang yang sebenarnya tidak ada apa-apa. Namun, justru gadis itu yang menganggap bahwa mereka berdua sedang berpacaran.


Tak ingin ada kesalahpahaman, Rey tak bisa terus pasrah dengan hal itu. Dia berusaha untuk tenang. "Bintang, kalau kamu cuman nanyain perihal hubungan aku sama Widya, aku rasa kamu salah paham sama semua ini. Kalau kamu dengar dia itu nyebut aku sama dia punya hubungan spesial, kamu salah. Orang tua aku enggak suka sama dia, aku enggak suka sama perempuan ganjen gitu,"


"Ya coba aja gitu kamu berusaha untuk dekat sama dia, siapa tahu dia berhenti ganjen setelah dekat sama kamu dan menjadi orang yang lebih baik lagi dari sebelumnya, minimal kamu bisa ubah sikap dia yang kekanakan gitu dan jadi lebih dewasa lagi, enggak mesti kita itu harus umur duluan yang dewasa terus cara berpikir dan tingkah kita enggak dewasa, kan?"


"Bintang, maksud kamu?"


"Ya, cobalah untuk dekat sama dia. Aku dukung kamu sama dia, Rey. Aku dukung kamu menjalin hubungan sama dia. Kalau memang dia lebih baik, maka kamu bisa lebih dekat dengan dia,"


"Sumpah aku enggak ngerti,"


"Kamu bilang enggak suka sama Widya, tapi kamu itu ngasih harapan ke dia, kamu bilang kalau kamu pengin punya istri yang begini, punya istri yang begitu. Sesuai sama yang kamu mau, padahal Tuhan itu menjodohkan kita sama orang yang cerminan diri kita sendiri, kalau memang dia yang kita doain enggak jadi jodoh kita, ya barangkali Tuhan ngasih kita orang yang biasa saja dan bisa kita bimbing untuk menjadi lebih baik lagi. Barangkali kamu yang baik, jodohnya memang Widya, kamu bisa bimbing dia, kamu bisa ajari dia salah dan benar, kamu bisa jadikan dia perempuan terbaik yang bisa berubah gitu aja,"


Rey berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Bintang. Pasalnya dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan itu kepada Bintang. Tentang hubungan dan juga tentang ucapannya yang waktu itu seolah memberikan harapan bagi Widya. Rey juga tidak bermaksud untuk membuka hati kepada gadis itu, mengingat bahwa Widya agak sedikit lebih egois dari Bintang. Apalagi setiap ada urusan apa pun, Widya selalu mengadu kepada orang tuanya dan ujung-ujungnya siapa pun yang bermasalah dengan Widya langsung diurus oleh orang tua Widya langsung.