RICH MAN

RICH MAN
LIBUR



Rey mengerjapkan matanya perlahan setelah adiknya mendengar tangisan adiknya, setelah subuh tadi dia melanjutkan tidurnya sebentar, beberapa kali mama dan papanya sudah mengingatkan, tetapi Rey masih saja dengan kebiasaannya.


Rey menggendong Nabila yang terbangun terlebih dahulu, dengan kesadaran yang masih setengah-setengah. Rey mengucek matanya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.


Rey turun dari kamar dan membawa Nabila keluar, sedangkan Salsabila masih terlelap di sana. "Ma, Nabila bangun," Rey menyerahkan Nabila kepada Papanya yang sedang bersantai menikmati kopi di ruang tamu.


"Mama mana sih, Pa?"


"Mama belanja, Rey, beli kebutuhan dapur,"


"Kan ada asisten,"


"Mama mau belanja sendiri, Rey. Jadi ya sudah biarkan saja, Papa enggak masalah kok. Ngomong-ngomong, Salsabila masih tidur?"


"Masih, Pa,"


"Kamu tuh ya kebiasaan tidur setelah subuh, enggak baik tahu enggak. Jangan begadang makanya, Rey. Mama sama Papa udah sering ingatin, loh,"


"Enggak begadang, Pa,"


"Ponsel kamu bunyi terus tengah malam, kedengaran sampai kamar Papa sama Mama. Teleponan sama siapa? Kalau malam itu ponsel dimatiin, radiasi Rey. Ingat kamu juga tidur sama adik kamu, nanti malah bangunnya terus kepala pusing,"


"Itu teman aku, Pa. Dia nanyain tugas,"


"Itu jam dua loh, Rey. Mama yang bangunin Papa semalam dan ngasih tahu kalau kamu teleponan,"


Rey mengangguk pelan, dia teleponan bersama dengan Bintang setiap malam. Bahkan seringkali hingga subuh, orang tuanya benar. Bahwa itu berbahaya juga untuk dirinya dan juga adiknya.


"Aku ke kamar, Pa. Mau lihat Salsabila,"


"Oke,"


Di sana Nabila masih melanjutkan tidurnya dipangkuan papanya. Dengan langkah yang sangat malas, Rey kembali lagi ke kamarnya, tiba di sana dia langsung tidur di samping adiknya.


Rey merasa sudah cukup membaik, dia segera mandi dengan sangat cepat takut jika adiknya terbangun nantinya. Sebelum ke kamar mandi, dia telah meletakkan beberapa bantal untuk menjadi pembatas adiknya.


Dengan tubuh yang sudah segar, dia keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya dan baru saja dia melihat ke arah ranjang, adiknya sudah terbangun sambil tersenyum dan turun dari sana kemudian menghampiri Rey. Berbeda dengan Nabila yang selalu menangis ketika terbangun, "Bentar kakak pakai seragam dulu, ya," Rey menggendong adiknya dan duduk di atas ranjang sambil memutarkan video lagu anak-anak. Adiknya tidak kecanduan gadget, yang penting adiknya mendengar lagu anak-anak membuat keduanya semakin aktif.


Rey telah bersiap, dia mengambi ponselnya dan menggendong Salsabila ke ruang tamu.


Mamanya di sana sedang memberikan susu untuk Nabila, yang sedang berada dipangkuan papanya. Rey menghampiri mamanya dan menyerahkan Salsabila. "Rey, mau ke mana?"


"Sekolah, Ma,"


"Kalender di kamar kamu buang, Nak?"


"Maksud, Mama?"


"Hari ini sama besok kan tanggal merah, memangnya kamu mau sekolah?"


Rey melangkah menuju kalender kecil yang ada disebelah televisi dan melihat dua hari ada tanggal merah. Dia menepuk jidatnya karena ditertawai oleh Papa dan juga Mamanya.


"Makanya Mama tuh beli bahan masakan, karena kita bakalan ngadain makan siang sama makan malam nanti di sini, kita mau bakar-bakar ikan nanti malam,"


"Siapa aja, Ma?"


"Semua keluarga Papa dan juga Om Dimas bakalan datang, kok rey,"


Rey tersenyum mendengar nama Dimas. Pasalanya, sudah lama sekali dia merindukan Om yang satu itu, karena beberapa waktu yang lalu dia ke sana. Dia tidak menemukan pria itu di rumahnya. Rey bergegas ke kamarnya untuk mengganti seragam sekolah yang digunakan.


Setelah selesai sarapan, beberapa saat kemudian keluarga dari papanya datang ke rumah. Suasana rumah yang ramai begitu saja membuat Rey sangat senang saat dikunjungi oleh keluarganya. "Abang Rey," Clara yang selalu saja bermanja pada Rey tiba-tiba memeluk Rey. Rey yang sudah terbiasa dengan adiknya pun memeluk Clara juga.


"Tahu enggak tadi, Clara. Rey pakai seragam sekolah, dia mau sekolah di tanggal merah,"


"Iyalah tante, kan Kak Rey itu semangat banget mau ketemu sama pujaan hati dia di sekolah," ucap Leo dengan nada yang menyinggung. Rey mendengar ucapan Leo seolah sedang ingin memberikan kode kepada mama dan juga papa Rey.


"Memangnya cucu Mama sudah mulai dekat sama perempuan di sekolah, Azka?"


"Kayaknya sih begitu, Ma. Buktinya dia selalu pergi setiap sore, entah pergi ke mana. Kemarin juga dia dilihat sama orang kantor lagi jalan sama perempuan di kafe, Ma,"


"Papa, ish apaan sih," papanya seolah tak peduli dan terus menceritakan dirinya yang kemarin jalan bersama dengan Bintang.


"Abang enggak boleh pacaran, nanti Clara enggak ngfans lagi sama Abang,"


"Siapa juga yang pacaran, Abang enggak kayak Leo, Clara,"


"Aku mulu deh, padahal emang benar kan Kak Rey dekat sama murid baru itu,"


"Siapa bilang coba?"


"Siapa yang enggak tahu sih? Kalian sering duduk berdua di taman, menghafal pelajaran pun kadang di taman berduaan, atau enggak di perpustakaan,"


"Duh, Nagita. Anak kita udah sama-sama besar, harus disita semua ini fasilitasnya biar enggak keluyuran," ucap tante Naura. Rey langsung menatap Leo dengan tatapan tidak suka karena apa yang dikatakan oleh Leo memang kejadian yang sebenarnya.


"Enggak apa-apa. Yang penting mereka masih tahu batas,"


"Tuh, Mama doang yang lebay. Malah main sita-sita, jajan juga dipotong," protes Leo terhadap mamanya. Padahal kasusnya tentu saja berbeda, kalau Leo lebih condong pacaran dan menghabiskan uangnya untuk membelikan barang-barang kepada perempuan yang dekat dengannya. Berbeda dengan Rey yang hanya jalan bareng dengan Bintang.


"Itu karena beda, Leo. Mama udah baik banget ngasih kamu kartu debit Mama, malah tersisa beberapa doang, itu kamu beli apa? Kamu beliin pacar kamu mobil?"


"Mama, kenapa Mama tuh enggak percaya banget sama anak Mama sendiri, kalau selama ini aku enggak macam-macam seperti apa yang ada di pikiran, Mama. Aku tuh lagi buat usaha,"


"Iya, usaha buat pacari anak orang sana sini? Itu yang dibilang usaha, Leo?"


"Iyalah, Mama Nagita sama Mama kita beda kak. Mama kita kan lebih hati-hati sama Kakak yang keterlaluan, kakak sih sering banget habisin duit, Mama."


Rey tak menimpali apa pun. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Leo, dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Leo hingga jatah bulanan yang nilainya sangat fantastis itu habis dan keuangannya mulai diawasi oleh mamanya. Rey sendiri memiliki tabungan pribadi yang diberikan oleh mamanya, hasil dari semua butik. Jika untuk keperluan sekolah dan uang jajan sekolahnya, dia diberikan oleh Papanya. Rey sendiri memang beruntung memiliki orang tua yang dapat memahaminya. Rey juga tahu bahwa sekian persen harta papanya disumbangkan untuk beberapa yayasan, namun Rey tidak pernah mempermasalahkan itu karena dia tahu bahwa kini perusahaan Papanya berjalan lancar barangkali karena memang keikhlasan hati papanya yang menyisihkan rezekinya untuk orang lain. Rey belajar dari papanya yang selalu berbagi.


'Papa tahu kalau Papa enggak bakalan bisa ngasih kamu yang terbaik, Rey. Papa mungkin cuman bisa bagi sedikit rezeki Papa untuk yang membutuhkan, berharap jika kelak kamu sudah dewasa, kamu bisa melanjutkan ini. Papa mau kamu menjadi Rey yang dahulu, Rey yang sudah membuka hati Papa untuk berbagi. Dahulu kamu mau jadi dokter dan meminta Papa bangun rumah sakit untuk orang yang enggak mampu, maka karena Rey sudah tidak mau menjadi dokter lagi, Papa berikan sedikit rezeki Papa kepada yayasan. Semoga kelak, kamu bisa melanjutkan itu semua jika Papa sudah tidak ada'


Ucapan Papanya membuat Rey tersadar pentingnya berbagi. Dan kini, dia juga bersikap seperti itu karena papanya juga, peduli terhadap Fendi adalah salah satu bentuk di mana dia bisa membantu sahabatnya walaupun itu semua adalah usaha papanya. Setidaknya sahabat Rey mampu melanjutkan sekolahnya hingga ke jenjang yang lebih baik lagi.